Langit Biru Love Story

Langit Biru Love Story
Part 19


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Langit sudah bangun dan meninggalkan rumah sakit, dia tidak sempat berpamitan dengan Biru karena Biru masih terlelap tidur, Langit tidak tega untuk membangunkannya.


Langit memasuki halaman rumahnya, memarkir mobil di sana. Berhenti sejenak melihat sekeliling halaman rumahnya yang luas, banyak daun kering berguguran. Biasanya Biru yang membersihkan semua. Ada rasa bersalah di benaknya, harusnya bukan seperti itu.


Langit masuk ke dalam rumah, seperti biasa, dia memilih melewati pintu dapur untuk menuju kamarnya. Kembali dia berhenti, mengamati Susana dapur yang sepi. Biasanya jika pagi, Biru nampak sibuk di dapur, dia akan mendengar suara sesuatu yang digoreng, mendengar suara pisau yang beradu dengan berbagai macam masakan. Kini yang dia lihat hanya barang-barang yang tertata rapi di tempatnya.


Tadi malam dia sempat bertemu dengan dokter yang merawat Biru, sedikit lega karena Biru hanya mengalami kelelahan. Keterangan ini yang sedikit mengganggu pikirannya. Dia sudah mengambil keputusan, nanti siang akan


menyempatkan datang ke agen ART, dia akan mempekerjakan 1 ART di rumah.


***


Langit sibuk menandatangani berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya, ini dikarenakan kemarin dia tidak masuk kerja. Pintu ruangannya terbuka, Langit tidak menoleh dan masih sibuk dengan berkas-berkasnya.


Demian meletakkan makanan di dekat berkas, kemudian dia duduk di kursi depan meja Langit seperti biasa.


“Gimana kabar…?” Demian berhenti sejenak, berfikir, mana dahulu yang harus ditanyakan. Langit melirik ke arah Demian, lalu kembali lagi dengan berkasnya.


“Biru?” Demian melanjutkan. Langit menutup map berkasnya, kini tangannya meraih makanan yang tadi Demian bawa, menatanya dan bersiap untuk menyuapkan ke mulutnya.


“Baik, tapi masih di rumah sakit” Langit mengunyah makanannya.


“Kalau Tania?”


Langit masih mengunyah dan tidak mengindahkan pertanyaan Demian. Dia yakin Demian jauh lebih tahu tentang Tania daripada dia.


Sarapannya sudah habis, Demian mengambil bekas piring dan menyingkirkannya dari meja Langit.


“Kamu jauh lebih tahu tentang Tania, harusnya kamu tidak usah tanya” Langit melirik Demian.


“Maaf Bro, aku nggak maksud, dia sendiri yang minta untuk tidak memberitahumu, tapi apakah sekarang dia sudah kembali ke Paris?”


“Sudah tadi malam” Jawaban Langit singkat, rasanya malas untuk membahas Tania saat ini. “Oh ya, ini!” Langit merogoh saku celananya, mengeluarkan jam tangan kado ulang tahunnya dan meletakkan di meja. Demian


melihat benda tersebut. “Itu bukan dari Tania kan? Bahkan dia tidak ingat ulang tahunku, aku terlalu percaya diri”

__ADS_1


“Ayolah, dia sibuk jadi aku membantunya” Demian membela diri, secara tidak langsung dia mengakui jika kado tersebut adalah darinya, hanya ucapannya diganti dari Tania. Dia tidak ingin sahabatnya merasa terabaikan oleh Tania.


“Kamu tidak usah repot-repot, kenapa kamu seolah-olah berada di pihak dia?” Langit kesal.


“Aku hanya membantunya Bro, aku nggak mau kalian ada masalah, itu saja, dia sibuk, kamu juga sibuk, apalagi kamu yang sudah menikah” Demian membela dirinya lagi. Langit tidak bisa membantah kali ini, dia menyadari


posisinya.


“Jangan sekali-kali menyembunyikan kedatangan dia jika dia pulang kembali” Langit menggertak pelan.


“Iya” Demian menjawab singkat.


“Bagaimana perkembangan proyek di bekas gedung tua itu” Langit menanyakan perihal proyek gedung bekas tempat Biru tinggal.


“Sudah ada pengembang yang siap menangani”


“Sesuai perjanjian awal deangan Biru, tetap kita harus memasukkan tempat tinggal untuk mereka yang membutuhkan, buat saja ini yayasan kita yang terbaru untuk orang yang membutuhkan”


“Baik”


***


Biru menikmati suapan nasi padang dari Nina, sudah dari siang tadi Nina datang menemaninya. Tak lupa Nina bercerita tentang pembukaan butiknya yang meriah tadi malam.


“Masa sih Nin?” tanya Biru.


“Iya Bi, bersyukur banget banyak yang datang, mudah-mudahan ini awal yang baik”


“Amin” balas Biru.


“Kita memberikan diskon gede di awal pembukaan, mereka juga bisa mengajukan jasa designer sama Mita kalau mereka mau”


“Kenapa nggak dari dulu kepikiran buat bisnis ini sih kamu?”


“Ya kali Bi, modal nggak ada. Aku juga nggak tahu kalau Mita punya keahlian membuat baju, itu bocah memang nggak tahu lah” Nina meletakkan piring makan Biru, dan mengambilkan air untuk Biru.

__ADS_1


“Makasih Nin” ucap Biru sambil menerima gelas berisi air, meneguknya setengah dan memberikannya kembali ke Nina. “Oya, jangan sampai dia labil lagi Nin, jaga dia baik-baik”


“Iya lah pasti, kamu ngomongnya seperti nggak akan ketemu kita lagi ih, kamu juga bisa mengingatkan dia" balas Nina, Biru terkekeh. Dia hanya merasa sekarang orang yang paling dekat dengan Mita adalah Nina, sehingga dia


ingin Nina benar-benar menjaga Mita.


“Oya, Langit kesini nggak?”


“Oh, iya dia kesini tadi malam kok, mana mungkin dia berani pulang ke rumah” Biru manyun, mengingat kekonyolan Langit saat melihat dia memakai mukena yang dikira hantu.


“Memangnya kenapa?” Nina penasaran, Biru terkikik. Tangan kirinya menutupi mulutnya. Nina semakin penasaran.


“Dia yang katanya sempurna, cowok sombong nan konyol itu, dia takut hantu” Biru tidak bisa menahan tawanya lagi.


“Masa sih?” Nina ikutan tertawa tidak percaya. Biru menceritakan kejadian saat dia memakai selimut dan mukena, Nina semakin terbahak-bahak. “Gila tuh cowok, tampang oke kece lah ya Bi, nggak nyangka kalau takut hantu”


“Makanya, awal-awal nggak percaya aku, malah waktu itu dia tidur di kamarku Nin”


“What?” Nina menganga, ini lebih mengejutkan. “Jadi kalian…?” Nina tidak melanjutkan.


“Jangan berfikiran jorok, nggak lah, ya gimana lagi, dia capek banget terus nggak bisa tidur karena ketakutan, aku mau tidur di kamar lain nggak boleh, akhirnya ya cuma tidur aja, jangan kotor pikiranmu” Biru berbegas menjelaskan.


“Ya kali lah Bi, kalian kan sudah sah, ya kan?” Nina menggoda.


“Hih ogah” Biru memanyunkan bibirnya, tidak ada sedikitpun dalam pikirannya untuk dekat dengan Langit.


“Hati-hati lho Bi, kalian tinggal bersama, menghabiskan waktu bersama di dalam rumah, sering ngobrol. Masa sih nggak ada perasaan gimana gitu?” Nina memastikan. “Secara dia ganteng, mapan”


“Apaan sih Nin, enggak, nggak ada, mimpiku masih panjang, terutama tentang cowok, nomor berapa ratus itu” Biru mengibaskan tangannya. “Setelah perjanjianku dengan dia selesai, aku juga ingin punya usaha seperti kalian, aku


juga ingin menata masa depan. Langit hanya orang yang lewat, dan tidak sengaja membawaku ke tempat yang seperti ini, menjadikan takdirku seperti ini” mata Biru menerawang, bibirnya menyunggingkan senyum.


“Kamu tidak menyesal kan Bi?” Nina meraih tangan Biru.


“Ya…gimana ya, enggak lah Nin, sudah jalannya memang harus begini. Eh tapi kenapa kita membahas jadi dalam gini sih?” Biru tersenyum, menggenggam erat tangan Nina.

__ADS_1


Mereka tertawa dan bercanda seperti biasa, keadaan Biru jauh lebih baik hari ini. Hari sudah hampir petang, Nina pamit untuk pulang. Kini Biru kembali sendirian. Rasa bosan tidak tertahankan dia rasakan.


__ADS_2