
Langit beberapa kali melakukan panggilan telepon, namun tidak ada jawaban sekalipun. Pesan juga tidak dibalas oleh sang tujuan. Kemarin mereka berjanji akan bertemu di tempat dia sekarang. Wajahnya mulai menunjukkan rasa sebal, akhirnya dia keluar dari mobil, menoleh beberapa kali di setikarnya, mungkin saja orang yang dituju ada di sekitarnya. Namun nihil, Langit memasukkan HP ke dalam saku celananya lalu pergi ke dalam kedai ayam goreng.
“Selamat datang, silahkan duduk” Ujar Manda sambil tersenyum manis, dalam hatinya merutuk karena Biru belum datang juga untuk bekerja. Langit tidak menghiraukan sapaan dari Manda dan memilih duduk di bangku yang kosong. Kedai siang ini ramai, itu sebabnya Manda menjadi sewot karena harus bekerja lebih keras tanpa Biru.
Langit memesan ayam goreng dan minuman bersoda, beberapa kali dia melihat ke luar. Kali saja orang yang dimaksud datang.
“Dasar, sejak kapan aku harus menyelesaikan masalah sepele ini berlarut larut?” gerutu Langit.
“Silahkan, selamat menikmati, jika ada pesanan tambahan anda bisa memanggil saya” Ujar Manda dengan ramahnya, namun sama tidak ada tanggapan dari Langit.
Biru membuka pintu kedai dan segera berlari ke ruang belakang untuk berganti baju, dengan sigap dia sudah berganti seragam. Manda menarik keluar.
“Sudah, nggak perlu marah. Nanti aku jelasin” Ujar Biru sambil mengambil pesanan yang sudah siap untuk diberikan kepada pemesan. Manda menyerah dan akhirnya dia diam, tapi dia bersyukur akhirnya ada bala bantuan,
dia sudah kelelahan sejak kedai buka tadi.
Biru menuju meja yang tertera di pesanan yang dia bawa, setelah meletakkan dan mempersilahkan kepada pemesan, Biru kembali lagi. Matanya tertuju pada orang berjas yang sedang makan dengan wajah juteknya. Biru
berhenti tepat di dekat meja orang tersebut, diam sejenak sambil memperhatikan
Langit berhenti makan karena merasa terganggu, dia sadar jika sedang ada yang memperhatikan. Langit mengelap mulutnya dengan tisu, kemudian menatap cewek yang sedang ada di depannya. Cewek itu melipat kedua tangannya di depan, matanya tajam. Dia yakin, dia cowok yang sedang ngobrol dengan Mita kemarin. Biru menarik kursi dan duduk di depan cowok itu.
“Ada apa? Aku tidak memesan apa-apa lagi” Ujar Langit sambil meletakkan gelas setelah minum.
“Sini ikut aku” Biru menarik tangan Langit dan mengajaknya keluar, Langit dibuat bingung dengan perlakuan Biru. Manda ingin berteriak melihat apa yang dilakukan Biru, namun diurungkannya karena sedang banyak pelanggan.
“Heh kamu…tidak salah lagi, kamu cowok yang kemarin datang kesini kan?” Tanya Biru sambil menunjuk wajah cowok itu. Langit menarik tangannya dari cengkraman Biru, kedua tangannya berkacak pinggang sekarang. Cewek di depannya begitu menyebalkan.
“Kamu kenal sama dia? Di mana dia sekarang?” Langit malah balik bertanya.
“Kamu jahat, kamu menipu dia, jangan hanya bangga memakai jas terus kamu mengaku sebagai orang kaya dan menipu dia. Kamu tahu? Sekarang dia ada di rumah sakit, dia belum sadarkan diri karena ulah kamu”
__ADS_1
“Apa?” Langit semakin bingung dengan ocehan Biru.
“Iya, kamu kan pacarnya Mita, kamu cowok kemarin yang aku lihat di sekitar situ” Biru menunjuk jalan beberapa meter dari mereka berdiri sekarang.
“Apa maksud kamu?” Langit geleng-geleng kepala, ini hari sialnya karena ditipu oleh Mita dan kesialan kedua adalah bertemu cewek aneh di depannya.
“Ikut aku sekarang” Biru menatap Langit tajam, dia benar-benar marah. “Oh sebentar, tunggu di sini jangan kemana mana” Biru mengancam. Biri berlari ke dalam, Manda melotot ingin marah. Namun Biru cepat-cepat membungkamnya.
“Ok Man, aku pergi dulu, Mita bunuh diri dan aku mau menyelesaikan masalah ini dulu” Biru melepas tangannya yang membekap Manda, Manda terkejut. Belum sempat dia mengatakan sesuatu, Biru sudah pergi.
Biru kembali ke halaman kedai dan menarik tangan Langit kembali, mereka naik taksi online menuju rumah sakit di mana Mita di rawat. Lagi-lagi Biru menarik tangan Langit dengan sangat kuat hingga sampai di ruang Mita di rawat.
“Siapa Bi?” Tanya Nina, Nina yang berjaga hari ini. Tiba-tiba melihat Biru datang membawa seorang cowok.
“Nih Nin, cowoknya Mita. Aku lihat dia kemarin bersama Mita di dekat gang kontrakan kita. Mereka ngobrol, aku sangat yakin mereka pacaran” Ujar Biru.
“Lihat ya yang kamu lakukan” Nina menambahi.
“Kalian salah paham, aku bukan…”
“Kalian salah paham, aku bukan pacar dia” Langit masih saja mengelak, tangannya memegang kepalanya. Ini adalah kesialan ketiga dia hari ini. Dituduh menjadi penyebab Mita bunuh diri.
“Oh bukan? Bukan pacar?” Biru masih emosional. “Mana ada maling ngaku, mana ada penipu mau ngaku”
“Betul” Nina manggut-manggut.
Cekleeeek…..
Pintu terbuka, seorang dokter dan perawat masuk ruangan. Mereka geleng-geleng
__ADS_1
kepala dengan apa yang dilihatnya.
“Ini rumah sakit, dan lihatlah dia belum sadar, mengapa kalian
ribut?” ujar perawat perempuan.
Suasana mendadak hening, sejenak Langit tertolong dengan kedatangan dokter dan perawat tersebut. Setelah dokter memeriksa keadaan pasien, dokter menyarankan agar hanya satu orang saja yang menjaga pasien, dan mereka tidak boleh membuat kegaduhan apapun di kamar pasien.
“Baik dokter, maaf” Ujar Nina mewakili.
Selepas dokter dan perawat pergi, Biru kembali menarik tangan Langit dan mengajaknya keluar dari kamar Mita. Mereka sudah berada di halaman rumah sakit sekarang.
“Ok, masalah kita belum, kamu harus tetap tanggung jawab. Kembalikan semua uang Mita, kamu wajib menemani dia hingga siuman, dan kamu harus minta maaf ke dia, tidak hanya dia, tapi juga orang tuanya, kalau tidak, kamu akan aku laporkan ke polisi” Biru mengancam, Langit mendelik, menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.
“Sudah aku bilang kalau aku bukan pacar dia” Langit mencoba meyakinkan kembali, tapi Biru masih tidak percaya. Langit mengeluarkan dompetnya.
“Tidak, jangan sogok aku. Aku nggak akan mempan, pertemanan kami jauh lebih penting dari uang sogokan kamu” Biru melengos.
Langit menyodorkan KTP yang bertuliskan namanya lengkap dengan pekerjaannya. Biru melirik sebentar, dibacanya dengan jelas. Nama cowok itu Langit Gala Mahendra.
“Namanya penipu bisa saja memiliki apapun, bahkan identitas bisa dipalsukan” Biru masih melipat kedua tangannya di depan.
Sebuah mobil menghampiri mereka, tepat di samping mereka. Demian keluar dari mobil dan menghampiri Langit dan Biru.
“Pasti itu teman persengkongkolan kamu” Biru tersenyum sinis. Diam-diam Langit menulis pesan untuk Demian agar mengambil mobilnya dan menjemputnya di rumah sakit tersebut. Langit bernafas lega akhirnya Demian datang.
“Kenapa sih harus meninggalkan mobil di depan kedai?” Tanya Demian heran, dia melihat Biru dengan tatapan penasaran.
“Siapa?” Tanya Demian. Biru hanya diam mengamati tampilan kedua cowok di depannya. Sama-sama rapi memakai jas.
“Sekertaris Pak Langit” Demian mengulurkan tangannya. “Kita pergi” pinta Demian.
__ADS_1
“Heh kalian!” Biru berteriak.
Langit dan Demian sudah berada di mobil dan bersiap pergi, Demian mengeluarkan kartu nama dan menyerahkan untuk Biru melalui jendela mobilnya. Kalau ada perlu silahkan besok datang ke kantor, maaf bos gue mau ada meeting penting” Demian tersenyum, lalu mobil meninggalkan Biru. Biru membaca kartu nama yang baru saja dia terima dan menyimpannya dalam saku.