Langit Biru Love Story

Langit Biru Love Story
Part 10


__ADS_3

“Hai Bi” teriak Mita kegirangan melihat Biru sudah ada di depan pintu kontrakannya. Hari ini Nina akan pindah ke kontrakan Mita. Gedung yang dulunya tempat mereka tinggal akan segera dirobohkan dan diganti dengan


pembangunan gedung yang baru. Semua penghuni telah pindah ke tempat yang baru.


“Idih pengantin baru datang, silahkan duduk nyonya Langit” Nina menggoda, mempersilahkan duduk di lantai karena kontrakan mereka hanya ada kasur bawah dan tikar saja untuk duduk.


“Kalian jangan usil ya” Biru memperingatkan.


“Sudah makan belum?” tanya Mita. Biru menggeleng, Mita menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Biru melahapnya hingga habis.


Nina sudah selesai menata barang-barangnya yang tidak seberapa ke dalam lemari yang ada di kontrakan Nina. Lalu ikut bergabung dengan Mita dan Biru yang asyik tiduran di atas tikar.


“Gimana kalau kita buat usaha baru aja Nin?” usul Mita


“Nah setuju tuh aku” Biru ikut menyahut.”Sudah aku katakan kemarin, kalian berbakat dalam hal make up dan fashion, jadi kenapa enggak kalian coba buka usaha salon atau butik gitu?”


“Aku nggak yakin Bi, aku buat gaunmu hanya modal nekat itu” Mita merendah.


“Eh ngomong-ngomong, kamu sudah putus kan sama penipu itu?” tiba-tiba Biru teringat dengan penipu yang sampai sekarang dia tidak tahu wajahnya, karena Mita tidak pernah mau memperlihatkan fotonya. Mita manyun


mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Biru tentang penipu itu.


“Aku sudah move on, jangan ingatkan lagi” Mita bersungut-sungut.


“Iya iya…bagus itu, Nin jaga dia baik-baik, dia umurnya tua tapi pemikirannya jauh di bawahnya” Biru tergelak, Mita semakin manyun. Sejak kejadian percobaan bunuh dirinya, kini dia sadar bahwa kehidupan itu sangatlah berharga, kini dia tidak mau mengulangi kesalahannya. Dan dia sangat bersyukur memiliki sahabat yang baik seperti Nina dan Biru.


“Eh Bi…gimana?” tanya Nina


“Apanya yang gimana?”

__ADS_1


“Malam pertamanya?” Nina terkikik.


“Kalian jangan ngawur, kita sudah buat perjanjian, bahwa kita tidak saling peduli. Intinya kita bersama tapi terserah masing-masing mau ngapain” Biru menjelaskan agar sahabatnya tidak lagi menggodanya tentang malam pertama


atau pengantin baru.


“Kalau seperti itu, harusnya kalian bisa tinggal terpisah” Ujar Mita.


“Nggak bisa, nggak tahu alasannya apa. Hanya dia mengatakan aku boleh pergi kemanapun tapi aku harus pulang ke rumah”


“Kenapa aku jadi yakin ini bakalan seru sih” Nina melihat Biru sambil tersenyum, Biru menepuk pundaknya. Dia tahu arah pembicaraan Nina.


“Nggak, nggak bakalan aku jatuh cinta dengan cowok sombong itu. Dia sudah punya pacar dan mereka akan menikah nantinya setelah kita pisah” Biru menegaskan, sampai detik ini dia hanya menganggap Langit orang asing yang tiba-tiba mendarat dalam hidupnya.


***


Meskipun Langit membuat peraturan Biru bisa pulang kapanpun, tapi dia sadar diri jika tinggal di rumah tersebut, apalagi dia ingat jika tidak ada bahan makanan apapun di dalam kulkas. Sebelum pulang, Biru mampir ke pasar


Biru menata bahan makanan yang baru dibelinya dari pasar, selepas itu Biru membersihkan rumah. Rumah yang besar ini membuat Biru begitu kelelahan meskipun belum selesai membereskan semuanya.


Biru menyeka keringatnya dan masuk kamar, diciumnya kanan dan kiri ketiaknya. Biru memanyunkan bibirnya. Diambilnya handuk lalu dia menimati mandi sore hingga hampir setengah jam.


Setelah selesai mandi dan berganti baju, tenaga Biru seolah pulih. Dia bersiap masak untuk makan malamnya. Langit di luar nampak mendung, awan gelap siap menumpahkan airnya dengan deras. Biru memasak sambil sesekali melihat ke arah jendela.


Sudah jam 5 sore, Biru menghidangkan masakan yang siap dia santap selepas maghrib nanti. Hujan turun dengan derasnya, rumah besar itu nampak seram karena hanya dia sendiri yang ada di sana.


Mobil langit memasuki garasi, dia mengambil tas lalu keluar dari mobil. Hujan masih saja turun dengan derasnya, Langit segera masuk ke dalam. Lampu sudah menyala semua, dia sangat yakin jika Biru sudah pulang ke rumah.


“Kamu tidak keluar hari ini?” Tanya Langit menghentikan langkahnya ketika hendak menuju kamarnya untuk mandi. Biru sedang berada di meja makan sambil menikmati menu makan malamnya.

__ADS_1


“Tadi keluar sebentar ke kontrakan Nina dan Mita, sekalian mengambil barangku yang masih ada di sana. Kamu sudah makan?” Tanya Biru berbaik hati, tapi dia masih tidak menoleh ke arah Langit. Dia sibuk menikmati makanannya.


“Belum, aku mau mandi dulu setelah itu baru mau pesan makanan”


“Aku masak nggak hanya sepiring, setelah mandi kamu bisa makan” Biru masak agak banyak, agar kejadian tadi pagi tidak terulang, nasi goreng yang hanya sepiring tandas seketika dilahap Langit.


“Kamu tetap di situ sampai aku selesai mandi, temani aku makan” Langit menuju kamarnya sebelum Biru protes.


Setelah mandi dan berganti baju, Langit duduk di ujung meja makan. Dia makan dengan lahap, Biru masih di sana melihat Langit makan. Hujan di luar masih turun dengan derasnya, sesekali diiringi suara petir dan guntur.


Biru membereskan piring makannya dan sekalian piring makan Langit, Langit masih duduk di sana. Padahal Biru berharap Langit segera pergi setelah makan.


“Jangan harap aku berbaik hati karena hal lain, aku berbaik hati karena kamu meninggalkan uang belanja, jadi aku juga memasak buat kamu” ucap Biru jujur, gadis aneh itu tetap saja masih angkuh.


“Terserah, aku mau tidur” Langit meninggalkan Biru yang masih sibuk dengan cucian piring kotornya. Dia lega akhirnya Langit meninggalkannya.


Setelah selesai membereskan dapur, Biru masuk ke dalam kamarnya dan menyalakan televisi. Tidak ada hal menarik yang bisa dia lakukan. Biru menghempaskan dirinya ke atas kasur sambil melihat langit-langit kamar, dibiarkannya televisi masih menyala.


Sementara Langit sudah selesai mandi, tak ada 10 menit dia berada di kamar mandi, setelah mandi dia berganti kaos dan celana pendek. Dibaringkannya tubuhnya di atas ranjang, mata ngantuk dan rasa lelahnya tidak


berhasil membuatnya terlelap. Suara Guntur dan petir saling bersahutan membuatnya ngeri. Beberapa kali dia menutup telinganya dengan bantal, 2 jam sudah dia sama sekali tidak bisa tidur.


“Bisa gila aku lama-lama di rumah ini kalau begini” Gumam Langit membuka selimutnya, lalu duduk di tepi ranjang. “Haruskah aku mengajak Biru pindah ke apartement saja? Rumah ini terlalu seram, ditambah hujan seperti ini” Gumam Langit lagi.


Langit mondar mandir di kamarnya, lalu mengambil inisiatif keluar kamar. Dia berada di depan pintu Biru saat ini. Tangannya bersiap mengetuk pintu kamar Biru, namun diurungkan.


Tok….tok….


Biru menoleh ke arah pintu kamarnya, dia sedang asyik menonton acara televisi. Beberapa saat dia membiarkan pintu diketok, tidak ada suara ketokan lagi. Biru kembali memperhatikan televisi, namun suara pintu diketok

__ADS_1


terdengar lagi. Biru beringsut sambil memakai selimut dari ujung kepala hingga membungkus tubuhnya sampai kaki. Biru membuka pintu kamarnya perlahan.


__ADS_2