Langit Biru Love Story

Langit Biru Love Story
Part 18


__ADS_3

Nina dan Mita sore tadi pamit pulang untuk persiapan grand opening butik mereka, keadaan Biru sudah semakin membaik, meskipun demamnya belum sepenuhnya hilang. Biru mengganti channel televisi beberapa kali, tidak


ada yang menarik. Ingin tidur tapi tidak mengantuk karena seharian dia tidur. Biru melihat jam dinding di atas televisi, menunjukkan pukul 19.15. Biru mengecek HPnya, tidak ada telepon masuk, hanya sebuah pesan dari Nina,


mengingatkannya untuk makan. Biru pun membalasnya jika dia sudah makan, tak lupa dia mengucapkan selamat atas pembukaan butik Nina dan Mita, dia turut berbahagia. Sayang sekali dia tidak bisa ikut berada di tengah kebagahagian tersebut.


Biru menoleh ke kanan dan kiri, mengamati kamar perawatannya yang mirip kamar hotel. Televisi ukuran besar, ada jam dinding yang berada di atasnya. Sofa dan ranjang untuk penunggu pasien. Meskipun demikian, tak ada rasa senang sekalipun untuk tinggal di sini, belum genap sehari Biru berada di sini, dia sudah ingin pulang. Sesepinya rumah Langit, setidaknya itu jauh lebih menyenangkan daripada di rumah sakit.


Sejak dia sadar, belum sekalipun dia melihat Langit. “Apakah dia lembur lagi? Kalau dia pulang ke rumah, apa dia akan ketakutan karena di rumah sendirian?” gumamnya. “Cowok itu, selalu bilang sempurna, tapi takut hantu. Dasar konyol” Biru tersenyum tipis.


Sementara itu di tempat lain, Langit pergi ke hotel tempat Tania tinggal setelah pulang dari rumah sakit sore tadi. Langit menemani dari pagi hingga Tania pulang dari rumah sakit dan bersiap untuk kembali ke Paris.


“Kapan kamu akan pulang lagi?” tanya Langit, mereka berbincang di lobby hotel.


“Aku belum tahu” Tania membenahi rambutnya, dia nampak sangat cantik malam ini. Tak bosan mata Lagit menatap paras wajahnya, hingga Tania memerah pipinya.


“Aku merindukanmu” ujar Langit. Tania mendongak, kembali menatap tatapan Langit.


“Aku akan tinggal di sana” kalimat Tania membuyarkan senyum Langit seketika.


“Apa di sana menyenangkan?”


“Iya, di sana karirku bagus, aku rasa aku akan menetap di sana?” jawaban Tania membuat Langit sedikit frustasi, bagaimana mungkin Tania tinggal di sana sementara dia akan berada di sini.

__ADS_1


“Tahun depan kita menikah” Langit memutuskan. Tania terdiam sejenak, baginya, menikah itu nomer sekian dalam hidupnya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berkarirnya yang sedang berada di puncak.


“Aku belum memikirkannya, aku masih muda. Kita sama-sama masih muda”


“Kenapa? Kita bisa, dan kamu tetap bisa mengejar karirmu”


“Apa kamu mau tinggal di Paris bersamaku dan meninggalkan semua kerajaan bisnismu di sini?” pertanyaan balik Tania menampar hati Langit, bagaimana bisa dia akan meninggalkan apa yang sekarang dia perjuangankan?.


Sepanjang perjalanan mengantar Tania ke bandara, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mereka. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, terlebih Langit, dia nampak tidak bisa membayangkan bagaimana dia tanpa Tania. Langit sudah merencanakan dengan baik, selepas semua hak waris perusahaan telah selesai dan sah menjadi miliknya, dan dia bercerai dari Biru. Dia ingin Tania kembali dan menikah dengannya. Sepertinya impian besar itu akan sedikit sulit terwujud dengan keinginan Tania saat ini.


Tania sibuk dengan HPnya, gadis lugu dan baik hati yang dia kenal 6 tahun lalu itu berubah menjadi seorang yang sangat mencintai karirnya lebih dari apapun. Gadis itu sekarang tidak menampakkan keluguannya, tapi tidak masalah bagi Langit. Yang menjadi masalahnya adalah ketika Tania seolah lupa jika dialah orang yang istimewa di hati Langit hingga saat ini.


***


Langit berjalan perlahan, dia tidak ingin membangunkan Biru yang sedang istirahat. Sejak membawanya ke rumah sakit ini, dia belum sempat melihat Biru sadar dan bicara.


“Kamu lembur lagi?” tanya Biru, Langit tidak sadar jika daritadi Biru masih terjaga.


“Kamu belum tidur? Maaf kalau aku membangunkanmu, padahal aku sudah berjalan pelan agar kamu tidak terganggu” Langit tidak jadi duduk di sofa, diletakkannya jaket tersebut sembarangan di sofa, lalu mendekat ke ranjang Biru, kini dia duduk di ranjang Biru.


“Enggak, aku belum tidur, tidak bisa tidur karena seharian sudah terlalu banyak tidur” Biru menjelaskan, agar Langit tidak merasa bersalah. Langit tersenyum kecil lalu kembali menampakkan wajah lelahnya.


“Kamu tidur saja, sepertinya kamu lelah” Biru memerintah. Wajah Langit tidak seperti biasanya, secapeknya dia lembur kerja, wajahnya tidak pernah sesuram malam ini. “Atau kamu sakit?”

__ADS_1


“Oh enggak, aku nggak apa-apa, hanya lelah saja” dalih Langit.


“Terima kasih sudah membawaku kesini, aku nggak tahu kalau saja kamu nggak bawa aku kesini” Biru tersenyum, dia menyadari jika Langit adalah laki-laki yang baik, setidaknya saat ini. “Kamu harusnya di rumah saja, nggak


harus kesini, kamu butuh istirahat sebelum besok ke kantor” perintah Biru lagi. Langit bangkit dari duduknya, kembali ke sofa, melepas sepatunya dan menyelonjorkan kaki ke sofa.


Mengapa akhir-akhir ini dia merasa aneh, gadis yang dia cintai tidak peduli padanya lagi, mengapa justru Biru yang seolah mengerti semua yang dia rasakan saat ini. Langit memandang jam tangan kado ulang tahun dari Tania.


Lalu melepas jam tersebut, tiba-tiba saja dia tidak yakin jika tersebut adalah pemberian Tania.


“Apa kamu takut hantu? Kamu bisa tidur di apartemenmu kalau kamu mau” Biru kembali menawarkan.


Langit tertawa kecil, Biru tahu kelemahannya. Tapi bukan itu yang menyebabkan dia tidak pulang malam ini.


“Aku tidak takut sendirian sekarang, ada musik di pinggir ranjangku” Langit tersenyum. Ada banyak hal sepele yang dilakukan Biru untuknya tapi membuat hidupnya jadi lebih terasa mudah sekarang. “Terima kasih”


“Oh itu…ha ha, aku hanya mencoba siapa tahu bisa membuat rasa takutmu berkurang, bagus lah kalau memang ada manfaatnya”


“Oh ya, bagaimana keadaanmu? Maaf aku meninggalkan kamu, ada urusan penting” Langit masih berbicara dari sofa.


“Lebih baik daripada pagi tadi, tadi Nina sama Mita kesini kok menemani aku. Karena ada pembukaan butik, jadi mereka aku suruh pulang”


“Bagus lah, cepatlah pulang, kamu ditungguin sama daun-daun kering sekitar rumah minta dibersihin sama kamu” Langit tertawa, Biru ikut tertawa.

__ADS_1


Waktu hampir tengah malam, mereka bercanda hingga Biru lupa kalau dia sedang sakit, pun demikian dengan Langit, dia lupa sejenak akan masalahnya dengan Tania.


__ADS_2