
Mobil Langit berhenti di tepi jalan, Biru senang akhirnya menemukan tempat yang dia inginkan. Dia bersemangat turun dari mobil dan segera menghampiri gerobak bakso, Langit mengikutinya.
Ada beberapa macam gerobak di sana, ada soto, sate, bakso, dan lainnya. Biru duduk di kursi plastik warna hijau, Langit masih ragu untuk mengikutinya, tapi akhirnya dia duduk juga di sebelah Biru.
Abang bakso menyerahkan bakso pesanan Biru, Biru memberikan mangkok tersebut untuk Langit. Langit memandang mangkok tersebut, agak ragu dia menerimanya. Biru mengangguk, memberikan perintah untuk menerima mangkok darinya. Ahirnya Langit menerimanya, lalu mencicipi bakso tersebut.
Biru menerima mangkok kedua dari abang baksonya, tak butuh waktu lama, Biru menikmati bakso tersebut hingga habis.
Langit juga akhirnya menikmati bakso pinggir jalan hingga habis, “Tadi ada yang bilang tidak lapar, tapi habis juga!” Langit meledek.
“Ada yang bilang tidak doyan, tapi juga habis, enak kan?” Biru membalas.
“Ya…lumayan lah, karena aku dari siang belum makan sama sekali, jadi lapar”
“Mengapa tidak pesan saja?”
“Kan aplikasi error” Langit membela diri, sebenarnya dia tidak memesan makanan, selepas bangun tidur, dia sibuk memikirkan kemana perginya Biru.
“Oh iya, aku lupa” Biru menyeringai. “Adakalanya kita membeli di tempat seperti ini bukan karena apa-apa, jadikan mereka sebagai objek rejeki juga” Biru tersenyum, mendekati abang bakso dan membayarnya.
“Malam ini aku yang traktir” Ujar Biru senang.
***
“Kemana saja kamu Bi? HP dihubungi juga nggak pernah bisa, gitu ya sekarang? Mentang-mentang sudah punya suami presiden direktur. Kita dilupain” Mita protes.
Biru baru saja sampai di toko Nina dan Mita, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membuat butik. Biru sengaja datang untuk bertemu Nina dan Mita yang baru saja membuka usahanya.
“HPku hilang, aku kecopetan kemarin itu” Biru duduk di sofa warna Biru yang sedianya disediakan untuk pelanggan butik tersebut.
“Kok bisa sih?” tanya Nina.
“Ya mana aku tahu, sudah nasib aja, dan yang paling parah tuh ya, aku harus jalan dari pasar sampai rumahnya dia, bayangin, angkot pun nggak ada sama sekali. Emang kalua lagi apes, semua mendukung keapesanku” Biru memijit kakinya yang dirasa masih pegal-pegal.
“Kamu nggak ada HP sekarang?” tanya Nina.
__ADS_1
“Kenapa? Mau beliin?” Biru menantang.
“Ada lah uang yang kemarin kompensasi itu, ada sisa setelah kita sewa tempat ini” balas Nina.
“Terima kasih”
Mita membongkar tas Biru yang tergeletak di sampingnya, tangannya mengeluarkan HP dari dalam tas. Matanya terbelalak melihat apa yang dipegangnya.
“Nggak perlu Nin, nyonya ini sudah punya, harganya pasti jauh lebih mahal daripada harga sewa kontrakan rumah kita” Mita memperlihatkan HP yang dibawanya kepada Nina.
“Gila, mahal ini” Nina ikut berkomentar. “Kamu dimanjakan banget sama Langit?”
“Tadi kamu kesini naik apa?” Mita penasaran. Tidak menunggu jawaban Biru, Mita keluar butik dan memeriksa kendaraan yang dikendarai Biru. Sesaat setelah melihat motor di depan butiknya, dia kembali.
“Kamu habis beli motor juga?”
“Itu semua kan milik Langit, nggak usah heran ah kalian” Biru merebut HPnya dan mengembalikan ke dalam tasnya.
“Tahu bakalan gini, akum au dijadikan istrinya” Mita berandai-andai.
“Amit-amit Nin” Biru menepuk dahinya.
“Kamu nggak bosen di rumah melulu Bi?” Mita penasaran dengan kegiatan Biru selama berada di rumah Langit, Biru yang dia kenal selalu bekerja keras dan jarang sekali berada di rumah. Tiba-tiba saja harus anteng berada di rumah gedongan.
“Nggak sih, aku menyibukkan diri, karena memang nggak ada pembantu, jadi aku bersih-bersih rumah, halaman, masak” Biru menceritakan aktivitasnya, Mita dan Nina melongo.
“Kamu istri presdir atau pembokat sih Bi?” Mita seolah tidak terima jika hal tersebut benar dilakukan oleh Biru.
“Apa yang salah, lagian nggak ada yang salah, nggak dosa kan?”
“Iya emang, tapi misal kalau aku jadi kamu, aku bakalan minta pembantu terus aku seneng-seneng sesukaku”
“Tuh kan kamu ngayal lagi, itu kamu kebanyakan minum oli” Nina mengejek lagi, Biru kembali tertawa terbahak-bahak. Mita hanya manyun saat mendengar mereka tertawa, tapi dia tidak pernah sakit hati dengan ejekan dia dan Nina.
Sementara itu, Langit kembali disibukkan dengan aktivitas di kantornya, Demian baru saja memberikan jadwal untuk hari ini. Jika semua terlaksana, maka bisa dipastikan dia akan pulang hingga larut malam lagi.
__ADS_1
“Ada yang kelupaan nih” Demian membawa kotak terbungkus kertas warna abu-abu. Langit masih belum berpaling dari laptopnya.
“Apa lagi?” tanya Langit, Demian meletakkan kotak tersebut di sela-sela tumpukan berkas di dalam map.
“Buka saja sendiri, nggak sopan kalua aku yang buka”
Langit menghentikan aktivitasnya sejenak, beralih pandangan ke kotak yang baru saja diletakkan oleh Demian. Langit menaikkan kedua alisnya.
“Dari Tania”
“Iya kah?” Langit sedikit terkejut, hatinya girang. “Aku menunggu telpon darinya, sesibuk apakah dia sampai tidak mengucapkan selamat ulang tahun untukku?”
Langit membuka kado perlahan, ada secarik kertas ucapan yang tertulis, namun bukan tulisan tangan. Sebuah jam tangan mewah ada di bawahnya.
“Ternyata dia tidak melupakan ulang tahunku” Langit tersenyum girang, Demian melebarkan matanya, ikut senang dengan apa yang dilihatnya.
“Lalu dapat kado apa dari istrimu?” Demian memecah kebahagiaan Langit saat bertanya dan menekankan kata “istri” di dalam pertanyaannya.
“Istri yang mana?”
“Elah…pura-puramu nggak lucu, aku penasaran dengan gadis itu, pasti dia punya sesuatu yang tidak kamu duga sebelumnya” Demian menebak.
“Nggak ada, pas itu kan aku lembur, cuma ucapan selamat ulang tahun sama ada nasi goreng di atas meja makan yang sudah dingin, itu saja” Langit mengingat kejadian malam itu.
“Wah itu pasti romantis banget sih Bro” Demian tertawa renyah sambal membetulkan kacamatanya. “Eh dia takut nggak sih tinggal di rumah kamu?”
“Boro-boro, bener kata kamu, yang ada itu hantu yang takut sama dia” Demian semakin tertawa ngakak mendengar cerita Langit tentang Biru. Benar tebakannya, bahwa Biru bukan gadis main-main, dari perawakannya, dia tidak mudah dikalahkan.
“Sudah, keluar sana, kenapa jadi membahas dia sih?”
“Oke, aku keluar dulu, jangan lupa meeting setelah ini, jangan dilihatin melulu jamnya, dipake sana” Perintah Demian.
Langit tersenyum senyum sendiri sambil terus memegangi jam tangan pemberian Tania, tangannya mencari HP yang tergeletak di mejanya. Memencet nomer yang diberi nama Love, beberapa kali dia memanggil, tapi tetap sama tidak ada jawaban. Akhirnya Langit hanya mengirim pesan kepada nomer tersebut.
“Thanks love”
__ADS_1