Langit Biru Love Story

Langit Biru Love Story
Part 9


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertama Biru berada di rumah Langit, Biru menata baju-bajunya ke dalam lemari. Mereka memutuskan untuk memakai kamar yang berbeda, tetapi kamar mereka berhadap-hadapan satu sama lain. Terasa aneh baginya berada di kamar yang mewah, rumah yang begitu megah.


Biasanya malam begini Biru harus bekerja berjualan singkong goreng hingga tengah malam, malam ini dia berada di tempat yang tidak pernah dia mimpikan sebelumnya. Mulai sekarang dia tidak diperbolehkan bekerja, makan pun


telah tersedia, dimanjakan walau sebenarnya dia tidak mau.


Selesai menata pakaian, Biru menghempaskan diri ke atas kasur yang sangat empuk. Kedua tangannya mengelus permukaan kasur. Ingin dia segera memejamkan mata karena hari ini terlalu melelahkan, tapi perutnya terasa sangat lapar.


Baru saja dia melangkahkan kakinya keluar dari pintu kamarnya, di waktu yang sama Langit juga keluar kamarnya hanya dengan mengenakan kaos pendek dan celana pendek.


“Haaaa…” Biru menutup mukanya dengan kedua tepalak tangannya. Langit terkejut mendengar jeritan Biru. “Kembali ke kamarmu, dasar cowok cabul” teriak Biru.


Langit memandang Biru dengan tatapan heran, “Cabul darimana? Aku pakai baju lengkap” Urai Langit. Perlahan Biru menurunkan tangan dari wajahnya, lalu membuang muka dan meninggalkan Langit, dia menuju dapur untuk mencari makanan. Langit mengikutinya.


Langit membuka kulkas dan mengambil air minum, dia duduk di kursi makan. Sedangkan Biru mengambil makanan dan juga makan di tempat yang sama, tapi tempat duduk mereka berjauhan. Biru tak menggubris keberadaan Langit, dia makan dengan lahapnya.


 “Heh…Mawar”


“Apa? Kenapa memanggilku Mawar?”


“Kenapa tidak Mawar saja panggilanmu, bahkan aku baru tahu kalau namamu Mawar Biru, sungguh nama yang unik” Langit tersenyum, Biru tidak peduli, dia sibuk menghabiskan makanannya.


“Ini adalah malam pertama kita” Langit menggoda Biru. Biru menghentikan aktifitas makannya dan melotot melihat Langit, Langit nampak menyukai ekspresi Biru. “Kenapa? Kamu takut? Aku tidak berdosa kalau melakukannya” Langit menahan tawa, sedangkan Biru semakin melotot menatapnya.


“Kamu jangan macam-macam!” Biru meletakkan sendok di atas piring dengan sembarangan, sehingga bunyinya keras terdengar. Tangannya menyilang ke dadanya, bergidik rasanya membayangkan Langit akan berbuat cabul padanya.


“Kamu adalah istriku yang sah, sah di mata hukum dan agama, lalu kenapa?”


“Kamu jangan mengingkari perjanjian kita, kamu nggak akan menyentuh, ehm…aku ralat, kita nggak akan saling menyentuh selama dalam masa pernjanjian” Biru mengingatkan.


“Perjanjian itu kan di luar pernikahan, lagian kalau aku melanggarnya tidak masalah” Langit tertawa senang. Biru semakin bergidik, lalu dia berdiri.

__ADS_1


“Mau kemana? Diam di situ, mari kita memperjelas poin perjanjian kita. Kita menikah beneran, jangan anggap menikah kita kontrak. Yang kontrak bukan pernikahan, hanya saja kita memasukkan perjanjian. Kamu paham kan


maksudku?” Langit memperjelas.


“Iya, buat poin per poin, agar jelas batasan kita” Sahut Biru menyetujui usul Langit.


“Kamu boleh pergi dengan teman-teman kamu, begitu juga aku, kita serumah tapi hanya sebatas itu, kita tidak boleh saling mencampuri urusan pribadi masing-masing karena pada dasarnya kita memang sendiri-sendiri,


silahkan mau pulang jam berapapun, tapi kamu harus tetap pulang ke rumah. dan lagi, kamu tidak usah bekerja”


“Ok setuju”


“Dan jangan lupa, teman-teman kamu harus menyimpan rahasia ini, jangan sampai pacarku tahu kalau kita sudah menikah”


“Jangan khawatir, aku bisa jamin itu”


“O ya, karena di sini tidak ada asisten rumah tangga, jadi kalau mau makan atau apa terserah kamu mau ngapain, masak boleh, beli di luar juga boleh, terserah kamu”


Akhirnya malam ini mereka tidur sendiri-sendiri di kamar masing-masing, Biru tertidur dengan lelap karena perutnya kenyang dan juga rasa lelahnya setelah seharian berkegiatan. Sementara Langit tidak bisa tidur karena sesuatu hal, hingga pagi menjelang dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


***


“Kamu sudah bangun?” Langit mengambil air putih segelas lalu meminumnya, Biru menoleh ke arah Langit lalu melanjutkan memasak. “Kamu masak apa?”


“Nasi goreng, kamu mau?” Biru menawarkan, dia takut kalau Langit tidak terbiasa makan makanan rumahan yang biasa seperti masakannya pagi ini.


“Kenapa tidak masak lainnya?”


“Kalau tidak mau ya sudah, aku mau sarapan. Lagian di kulkas tidak ada apa-apa yang bisa aku masak selain membuat ini” Biru menyendok nasi goreng dan bersiap memasukkan ke dalam mulutnya. Langit menarik piring Biru yang berisi penuh nasi goreng, tangan kanannya gesit mengambil sendok lalu mencicipi nasi goreng buatan Biru. Sekali, Langit menyecap rasanya, kedua, ketiga dan seterusnya sampai akhirnya nasi goreng yang ada di depannya tandas.


Biru menopang dagu dengan kedua tangannya, menyaksikan Langit sarapan dengan lahapnya. Langit meletakkan sendok di atas piring kosongnya lalu mengambil minum lagi.

__ADS_1


“Kenapa melihatku seperti itu?” Langit melihat Biru yang masih diam sambil menopang dagu. “Kamu bisa buat lagi setelah ini, aku mau ke kantor” Ujar Langit enteng sambil melangkahkan kaki untuk pergi ke kamarnya kembali.


“Hei…ada satu peraturan lagi, jangan suka pakai kolor sembarangan saat ada di rumah ini!” teriak Biru, Langit berlalu tanpa membalas teriakan Biru.


“Gila, masa setiap hari harus disuguhi dia yang mondar mandir di rumah ini hanya mengenakan celana kolor doank, duh warnanya norak pula, kenapa harus pakai warna hijau stabilo sih? Nggak sekalian saja gambar celananya pakai yang hello kitty” Gumam Biru, Langit sudah berada di kamar, tentu saja tidak mendengar suara Biru.


***


“Mau sarapan apa?” Tanya Demian sesaat setelah berpapasan dengan Langit sebelum Langit masuk ke dalam ruangannya. Biasanya Langit selalu meminta sarapan. Langit membuka pintu ruangan, Demian mengikutinya lalu duduk di kursi depan meja Langit.


“Sarapan nggak?” Demian mengulangi lagi pertanyaannya.


“Nggak usah, aku kenyang, sudah sarapan di rumah”


“Woooois, lupa aku kalau sekarang sudah ada yang ngurus di rumah, dimasakin apa sama istri kamu?” Tanya Demian sedikit meledek. Langit tidak menjawab, dia membuka lembar map yang menumpuk dan menandatanganinya.


“Gimana kantor? Tidak ada kusak kusuk?” Langit ingin memastikan berita pernikahannya tidak bocor ke karyawan.


“Aman, nggak ada yang tahu” Demian meyakinkan. “Eh kenapa kamu memilih tinggal di rumah kamu? Di sana rumahmu terlalu besar, kenapa nggak tinggal di apartemen saja?” Demian penasaran.


“Kamu terlalu ingin tahu saja, apartemen itu akan aku tinggali dengan Tania nantinya. Biarkan sekarang kosong”


“Rumahmu nggak ngeri atau berhantu gitu? Sudah lama rumah itu kosong kan? Apalagi kalau pas hujan turun, makin serem tuh pasti” tanya Demian, Langit berhenti menandatangani arsip lalu menatap Demian.


“Itu yang sedang aku pikirkan Bro, semalaman aku nggak bisa tidur gara-gara mikir jangan-jangan rumah itu berhantu” Langit menggelengkan kepalanya, Demian tertawa terbahak-bahak. Dia tahu sahabatnya itu penakut, dia


memang ganteng, keren, semuanya ada di Langit. Tapi tidak untuk masalah hantu, dia agak parno dengan hal-hal berbau hantu.


“Kamu tidur saja sama Biru, nampaknya hantu akan berfikir ratusan kali untuk bertemu dengan dia” Demian tak berhenti tertawa. “Kenapa nggak ambil pembantu saja, biar ada yang jaga rumah itu?”


“Nggak bisa, nanti kalau ada orang selain kita, aku takut rahasia ini tidak aman” Langit membantah. Benar juga apa yang dikatakan Langit.

__ADS_1


“Jadi mata panda kamu itu karena kamu nggak bisa tidur gegara mikir takut hantu?” tanya Demian sambil menahan tawa. “Aku kira kamu lembur hal yang lain” kali ini suara tawa Demian semakin keras. Langit menatap Demian, ingin rasanya dia menyumpal mulut Demian agar berhenti menertawakannya.


“Jangan ngawur, sudah keluar sana, atau enggak, kamu akan kupecat” Ancam Langit, Demian menurut dan akhirnya keluar dari ruangan Langit.


__ADS_2