Langit Biru Love Story

Langit Biru Love Story
Part 13


__ADS_3

Langit berkeliling dari ruangan satu ke ruang lainnya untuk menyalakan lampu, suasana sepi. Beberapa kali dia menengok area dapur, tidak ada tanda-tanda keberadaan Biru. Beberapa kali dia mengetuk pintu kamar Biru, tidak ada jawaban.


“Kemana dia?”


Langit keluar rumah dan berada di teras, hari hampir malam, dan Biru belum kelihatan juga. Dia jadi khawatir karena tadi pagi dia bilang tidak akan pergi kemana-mana.


“Apa dia tidur ya?” Langit kembali masuk ke dalam rumah dan mengetuk pintu kamar Biru, masih tidak ada jawaban. Langit membuka perlahan pintu kamar Biru, ternyata kosong. Langit kembali lagi ke teras.


Pandanganya tertuju pada pagar rumahnya, Langit menyipitkan matanya, memastikan jika yang dilihatnya adalah Biru. Begitu mulai mendekat, benar saja jika itu Biru.


“Hei dari mana saja?” Langit melihat wajah Biru penuh dengan peluh. Biru menghempaskan dirinya di atas kursi teras. Langit mengikutinya sambil berdiri dan memperhatikan Biru mengatur nafasnya. Biru memijat kakinya, baru


kali ini dia berjalan sejauh itu.


“Ambilkan aku air tolong”


Tanpa bertanya, Langit berlari masuk ke dalam menuju dapur dan mengambilkan segelas air minum untuk Biru. Langit kembali keluar dan menyerahkan segelas air, hanya dalam hitungan detik, segelas air itu tandas. Biru meletakkan gelas kosong di meja sampingnya.


“Terima kasih” ucap Biru, kini nafasnya tidak lagi memburu, dia sudah bisa mengatur nafasnya.


“Dari mana saja? Kamu habis dikejar anjing? Maling?”


“Aku kecopetan”


“Apa?”


“Kenapa? Tidak pernah mendengar orang kecopetan?” Biru berdiri dan melangkah masuk ke dalam, dia ingin mandi dan tidur, kakinya terasa sangat pegal.


“Kamu naik ojek kan?” Langit membuntuti Biru hingga Biru sudah ada di depan kamarnya.


“Aku naik angkot, dari tadi aplikasi error, aku nggak bisa naik ojek online. Sudah aku capek, aku mau mandi dan tidur”


Biru menutup pintu tepat di depan wajah Langit, benar-benar hanya berjarak beberapa centi di ujung hidungnya.

__ADS_1


***


Biru melempar tas kosongnya ke sembarang tempat, dan segera masuk kamar mandi. Dengan terkena guyuran air maka akan mengurangi rasa lelahnya. Hampir satu jam dia berjalan dari pasar hingga rumah Langit. Sebenarnya dia berniat untuk naik angkot dan membayar saat dia sampai di rumah, tapi sialnya lagi, tidak ada angkot lewat satupun.


Niat hati ingin berbelanja bahan masakan yang sekiranya akan dimasak malam ini dan besok, apa daya semua tidak terlaksana. Dompet dan HP raib, sekarang Biru bingung harus bagaimana. Perutnya terasa lapar, Biru beringsut dari ranjang dan melangkah keluar kamar menuju dapur. Membuka rak dapur, hanya ada mie instan. Biru mengambil satu bungkus, Biru beralih membuka kulkas dan mengambil telur.


Dengan cekatan Biru menyalakan kompor dan memulai membuat mie instan, hanya 10 menit makanannya sudah siap. Biru duduk di kursi ujung meja makan, tempat yang biasa dia tempati saat makan, baik saat sendirian atau saat makan dengan Langit.


Langit menghampiri Biru yang sedang makan mie instan, dilihat mangkok mienya Biru sejenak, sudah hampir tandas. Biru sengaja tidak mengalihkan pandangannya pada Langit, dia konsentrasi untuk menghabiskan mienya.


“Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kamu sudah terlihat tidak secapek tadi, bisa kan jawab pertanyaanku?” Langit duduk di kursinya.


Biru melahap suapan terkahir tangannya mengambil gelas berisi air dan meneguknya, sesaat kemudian dia mencuci mangkok bekas makannya.


“Aku tadi ke pasar naik angkot, dan aku kecopetan”


“Kenapa kamu nggak naik mobil saja, di garasi ada mobil, kamu bisa pakai” Ujar Langit enteng.


mobil. Dan itu tidak membantunya, karena dia tidak bisa mengemudi. Langit tertawa mendengar Biru kesal.


“Owh jadi kamu tidak bisa mengendarai mobil? Ah…akhirnya ada hal yang nggak kamu bisa kerjakan juga, aku kira kamu benar-benar pahlawan super” Langit tertawa lagi. “Sudah selesai makan kan? Ganti baju, mari kita keluar”


Langit meninggalkan Biru sebelum mendengar persetujuan dari Biru. Biru menuruti Langit, dia kembali ke kamar untuk berganti baju.


***


Langit dan Biru memasuki sebuah mall, Langit berjalan di depan, Biru mengikutinya tanpa banyak bertanya. Langit memasuki konter HP, Biru membuntuti. Langit memerintahkan salah satu pegawai konter tersebut untuk mengeluarkan produk terbaik yang baru saja diiklankan.


“Ini mas, ini produk yang terbaru dari kami” pegawai tersebut menyerahkan HP keluaran terbaru dengan ramah.


“Aku ambil yang ini, sekalian diisi dengan kartu ya” tanpa memeriksa ulang dan tidak menanyakan harganya, Langit mengeluarkan card creditnya langsung ke kasir. Biru hanya memperhatikan Langit tanpa bertanya, yang dia tahu, HP langit masih bagus dan keluarah terbaru pula.


“Ini mas” Pegawai tersebut menyerahkan HP kepada Langit.

__ADS_1


“HPnya keluarkan saja” Langit meminta pegawai itu untuk mengeluarkan HP dari boxnya.


“Baik mas”


Langit menyerahkan HP tersebut untuk Biru, tapi Biru tidak segera menerima HP tersebut dari uluran tangan Langit.


“HP kamu hilang, nanti aku tidak bisa mencari kemana kamu pergi, ini juga sudah ada kartunya, kamu tinggal pakai. Oh sebentar” Langit menarik lagi uluran tangannya, dia memencet nomer HPnya di HP Biru dan melakukan panggilan. “Sudah masuk, aku akan menyimpan nomermu yang baru”


Biru menerima barang tersebut dengan ragu, “Aku tidak akan bisa membayar hutangku” ucapnya kemudian. Langit berhenti berjalan, kemudian dia menatap Biru lekat.


“Jangan samakan aku dengan lelaki koboymu itu” mendadak Langit teringat dengan Aldo si rentenir. Biru tertawa kecil.


“Terima kasih”


“Ayo kita makan!” Ajak Langit kemudian


“Aku sudah kenyang” teriak Biru, dia berlari kecil untuk mengimbangi langkah kaki Langit.


“Kamu memang tidak berperasaan, dari siang aku belum makan, ada orang makan mie dengan enaknya, tapi sama sekali tidak menawariku” Langit menyindir, Biru kembali tersenyum. “Kamu mau makan apa? Steak?” Langit berhenti sejenak lalu menatap Biru yang berjalan di sampingnya. Biru menggeleng, dia tidak suka makanan yang ditawarkan Langit.


“Kenapa? Atau kamu mau makan yang lainnya?” Langit mengangkat tangan kirinya, melihat jam tangannya. “Ini sudah malam, tentukan kamu mau makan apa? Meskipun kamu bilang kenyang, tapi wajahmu masih kelihatan lapar”.


Biru meraba wajahnya, dari mana Langit bisa menyimpulkan jika dia masih lapar. Pasti cowok itu mengada-ada.


“Cepetan” Langit membuyarkan lamunan Biru.


“Aku mau bakso, sudah lama aku tidak makan bakso” ceplosnya.


“Apa?” Langit hampir tidak percaya. “Baik kita keluar dari sini, mau makan di mana?” tanyanya lagi.


“Di pinggir jalan” ujar Biru enteng.


“Apa?” Langit benar-benar terkejut. Baru kali ini dia akan makan di pinggir jalan. tempat makan pilihan Biru, anehnya dia menurut saja.

__ADS_1


__ADS_2