Langit Biru Love Story

Langit Biru Love Story
Part 2


__ADS_3

Berbagai persiapan di kantor pusat sudah terlihat sejak kemarin, petugas kebersihan dan penataan ruang bekerja sangat keras untuk membuat kantor terlihat lebih baik daripada biasanya. Kasak kusuk dari beberapa karyawan mulai terdengar sejak mereka datang menginjakkan kaki di pagi ini.


“Aku mulai dandan dari jam 5 tadi” Ujar seorang karyawan wanita sambil menatap wajahnya di cermin kecil yang di bawa.


“Oh ya? Aku bahkan tidak sempat berdandan karena bayiku rewel pagi ini” Ujar karyawan di sebelahnya.


“Apa Bos kita yang baru benar-benar sekejam yang diceritakan orang-orang?” Tanya wanita pertama tadi, tangannya masih sibuk memegang cermin kecil.


“Tidak tahu, tapi info yang aku dengar demikian, kamu tahu? Mengapa dia pulang dari luar negeri?” Tanya lawan bicara, wanita itu menggeleng. “Dia pulang karena merasa kecewa dengan kinerja beberapa pimpinan di sini, dia ingin membangun bisnis baru, tapi para pimpinan tidak berhasil melobi sebuah gedung”


“Hanya itu?” Tanya wanita tadi.


“Begitulah, maka kamu bisa menyimpulkan. Jika kita tidak benar-benar bekerja dengan baik, bisa-bisa tamatlah riwayat kita”


Semua karyawan berjajar rapi siap menyambut kedatangan Pimpinan tertinggi, pewaris perusahaan Gala Group. Tak berselang lama, datangnya seorang pria muda, berpostur tinggi, berpakaian rapi menggunakan jas berwarna hitam. Dikawal oleh beberapa orang. Semua karyawan sejenak menundukkan kepala untuk memberikan


hormat penyambutan. Dan Presdir muda pun memasuki ruangan untuk melakukan rapat dengan beberapa pimpinan.


“Hah…hanya sekejap, persiapannya begitu melelahkan” Ujar karyawan wanita tadi sambil memijat punggungnya.


“Tapi dia sangat tampan” Ujar wanita di sebelahnya sambil tersenyum, pipinya bersemu merah.


***


“Saya sudah mendengar laporan dari sekertaris saya, Demian. Bahwa pembebasan gedung ABC belum juga beres hingga kemarin, hal ini bisa mengancam berlangsungnya proyek besar kita. Maka dari itu saya harus pulang dan


membereskan masalah kecil ini. Baik, hanya itu yang saya sampaikan. Silahkan anda semua bisa kembali bekerja, saya harap kalian anda sekalian bekerja keras” ujarnya sambil duduk menatap satu per satu orang yang ada di depannya. Demian, sekertarisnya berdiri di sampingnya.


Semua orang keluar dari ruangan tersebut, tinggalah dia dan Demian.


“Hanya begini saja tidak bisa” Ujarnya mengeluh. Terpampang di mejanya, tulisan nama yang terukir dalam kaca berbentuk segi panjang. “Langit Gala Mahendra”.


“Sabar lah Bro” ujar Demian, mereka sudah saling akrab meskipun Langit sudah sangat lama tinggal di luar negeri, mereka berteman sejak SMA.


“Bagaimana bisa sabar, mereka harusnya bisa, tapi tidak berhasil juga, hingga kemarin aku melihat sendiri lokasinya dan menemui seseorang.


“Hah?” Demian duduk di depan meja Langit, dia tidak percaya Langit bergerak secepat itu.

__ADS_1


“Iya, dan ternyata tidak serumit itu, hanya ada satu orang saja yang tidak mau pindah dari tempat itu. Mereka bertahan dan bahkan tidak mau diberi kompensasi”


“Aku nggak pernah dengar itu Bro”


“Aku nggak mau tahu, kerahkan orang datang kesana dan pastikan mereka menandatangi untuk segera pindah dari gedung tersebut. Kalau tidak, investasi kita akan berantakan” Langit menatap Demian tajam.


“Siap Bos” Demian mencatat perintah lalu keluar ruangan dan meminta beberapa orang terpercaya untuk melakukan lobi dengan orang yang dimaksud. “Oh ya, kapan kamu datang? Seperti hantu saja, datang tiba-tiba”


“Kemarin pagi”


“Harusnya kamu bilang, aku bisa jemput kamu. Dan bagaimana kalau setelah ini kita minum kopi sejenak, biar kamu jadi makin akrab dengan kota yang sudah beberapa tahun kamu tinggalkan ini” Demian menawarkan.


“Kita lihat saja nanti, kalau sampai hari ini tidak berhasil juga mendapat tanda tangan, maka aku akan turun tangan sendiri, mungkin mereka akan merasakan bagaimana rasanya dipecat karena tidak becus”


Demian menelan ludahnya, sahabatnya tidak pernah berubah sejak dulu, bengis dan kejam. Tapi baginya, Langit tetaplah sahabat yang baik dan tidak pernah sekalipun berbuat kejam padanya.


 ***


Ceklek…..


“Kenapa? Ada apa?” Tanya Nina penasaran, lalu tangannya mengulurkan segelas air untuk Biru, Biru meneguknya hingga habis.


“Kamu dikejar anak buah Aldo?” Nina menebak, Biru masih diam, nafasnya masih memburu.


“Salah satunya” Akhirnya Biru menjawab.


“Berarti ada salah dua atau ada yang ketiga” Nina menambahkan, baginya, bukan hal baru jika Biru atau dia dikejar anak buah Aldo untuk membayar hutang.


“Gedung ini mau dirobohkan” Biru berujar dengan santai, nada suaranya pelan. Nina mendelik, matanya hampir keluar dari tempatnya.


“Hah? Serius?”


“Iya, dan semua yang pakai gedung ini cuma-cuma sudah tanda tangan persetujuan dan menerima kompensasi meskipun sangat tidak layak. Hanya kita  yang belum”


“Kenapa?”


“Kamu mau nerima kompensasi kecil, bahkan akan habis dipakai untuk

__ADS_1


sewa kontrakan 2 bulan saja? Aku tidak mau tanda tangan, kamu jangan mau” Biru


menggebu gebu.


“Sesedikit itukah kompensasinya Bi?” Nina masih tidak percaya. Biru mengangguk memastikan.


“Karena memang ini bukan gedung kita, hanya saja kita penghuni sini dan penghuni sebelumnya menggunakan gedung ini sudah sangat lama bahkan turun temurun, kita dicampakkan seperti gembel”


“Kita harus bagaimana?” Nina mendadak kehilangan kewarasan.


“Semua salahku Nin, andai uang itu tidak aku pinjamkan untuk Mita”


“Mita?” Nina menepuk dahinya.


“Kenapa lagi dengan dia Nin?” Tanya Biru penasaran melihat mimik wajah Nina berubah panik.


“Sebelum kamu datang, dia telpon aku dan dia menangis cerita kalau dia ditipu pacarnya, semua uang yang dia berikan semua dibawa, pacarnya itu hanya mengaku sebagai orang kaya raya, tapi ternyata menipunya”


“Lalu?”


“Pacarnya bilang kalau akan melamar dan menikahinya akhir tahun ini, ternyata hanya tipuan”


“Coba kamu telpon lagi dia Nin, pasti dia sangat sedih saat ini” Biru memberikan saran, dia ikut cemas dengan keadaan sahabatnya itu. Beberapa kali Nina mencoba menelpon, tidak ada tanggapan dari Mita. Biru juga ikut


menelpon dan meinggalkan pesan, sama saja tidak ada balasan.


Nina dan Biru segera bersiap untuk menemui Nina, mereka takut jika ada yang terjadi dengan Nina. Biru dan Nina memesan taksi online dan meminta sopir untuk melaju dengan cepat. 10 menit berlalu, mereka tiba di depan


kontrakan Nina, Biru berlari dengan cepat meninggalkan Nina yang sedang membayar ongkos taksi.


“Mit, Mita…” Biru mengetok pintu kontrakan Mita sambil terus memanggil nama Mita. Tak ada jawaban dari dalam, Nina sudah berada di samping Biru, tangannya juga ikut mengetok pintu. Biru memegang gagang pintu, ternyata


tidak dikunci. Mereka segera masuk ke dalam kontrakan, di kamar tersebut tidak dilihatnya Mita. Biru dan Nina kalut, mereka melihat kamar mandi.


“Mitaaaa” Biru dan Nina berteriak bebarengan, melihat Mita tergeletak di lantai kamar mandi dengan mulut berbusa.


“Mita bangun Mit” Biru menepuk pipi Mita sambil bercucuran air mata. Nina mengambil HP untuk memanggil ambulans.

__ADS_1


__ADS_2