
Selepas dari kantor, Langit langsung pulang ke rumah untuk berganti baju dan akan kembali ke rumah sakit untuk menemani Biru. Di perjalanan menuju rumah sakit, Langit melihat kumpulan pedagang makanan, tempat itu pernah dia singgahi bersama Biru tempo hari. Langit tersenyum dan menepikan mobilnya.
10 menit kemudian Langit sampai di rumah sakit, dia langsung menaiki lift dan menuju kamar Biru. Perlahan dia membuka pintu dna melihat Biru sedang duduk di ranjang menonton televisi. Biru melihat Langit datang sambil
membawa kantong kresek.
“Harusnya nggak usah kesini” Biru protes.
“Kenapa? Kamu nggak suka kalau ada yang menemani?” tanya Langit sambil meletakkan bungkusan tersebut di meja samping ranjang, hidung Biru mencium aroma bakso.
“Aku tadi lewat di penjual bakso yang pernah kita makan dulu itu”
“Ah akhirnya kamu mengakui keberadaan mereka” Biru menyindir.
“Sejak kapan aku bilang tidak mengakui keberadaan mereka?” Langit bersungut-sungut.
“Ah sudahlah, aku mau ke belakang, kebelet pipis” Biru mencoba turun dari ranjang, tangan kirinya mengambil infus yang menggantung.
“Bisa nggak?” Langit ikut membantu. “Sini aku pegangin infusnya, kamu jalan sana”
“Sudah, kamu di sini saja, ngapain mau ikut ke dalam?” Biru membalikkan badannya setelah sampai di depan pintu kamar mandi. Langit menghentikan langkahnya juga, tubuhnya hampir menubruk Biru yang tiba-tiba berhenti dan berbalik badan.
“Hah? Ngapain aku ikut, ini aku pegang infus kamu, kamu masuk sana!” Perintah Langit.
“Sini aku bawa saja infusnya, nanti aku gantung di gantungan kamar mandi” Biru merebut infus dari tangan Langit dan masuk ke dalam kamar mandi.
“Hih dibantuin juga” Langit menggerutu.
Dengan agak kesulitan Biru membuka pintu kamar mandi sambil membawa infus, Langit masih menunggu tepat di depan pintu kamar mandi.
“Eh ngapain masih di sini? Kamu ngintip ya?” teriak Biru.
“Heh…apa untungnya sih ngintip kamu? Sini” Langit mengambil infus Biru dengan santainya, dan berjalan ke arah ranjang. Biru mengikutinya tanpa protes.
Langit mengeluarkan 2 bungkus bakso beserta mangkoknya. Dengan sedikit kerepotan Langit menuangkan bakso ke dalam mangkok.
“Eh kok bawa mangkok?” Biru memperhatikan mangkok yang dipegang Langit, mangkok putih khas abang bakso dengan gambar ayam jago.
__ADS_1
“Aku beli lah”
“Dari abang baksonya?”
“Iya”
Biru tertawa mendengar jawaban Langit tersebut, tidak menyangka jika Langit sampai membeli bakso sekalian mangkoknya.
“Ya mau bagaimana lagi, nanti repot kalau nggak ada mangkok, mau balik pulang ambil malah rugi waktu” Langit sengaja sekalian mangkok dari abang bakso, abang baksonya pun tidak protes mendengar alasan Langit saat dia
megutarakan niatnya membeli mangkok baksonya.
“Ini” Langit meletakkan semangkok bakso di depan Biru yang sedang duduk di ranjang. “Awas kaki, nanti baksonya tumpah” Langit mengingatkan, dia menata mangkok sedemikian rupa, memastikan tidak tumpah dengan ketidakrataan permukaan ranjang.
Selera Biru tergugah dengan aroma bakso yang menusuk hidungnya, tangan kirinya siap menyendok. Sementara Langit duduk di sofa dan menikmati baksonya.
Beberapa kali Biru mencoba, makan dengan tangan kiri agak susah. Akhirnya dia memakai tangan kanan yang diinfus.
“Eh nanti darahmu naik ke selang, sini!” Langit meninggalkan baksonya dan mendekati Biru, meraih sendok beserta mangkok baksonya. Dengan cekatan tangannya menyendok bakso dan kuahnya, mengarahkan ke mulut Biru. Biru
menatap Langit, mulutnya masih tertutup.
“Mau lagi? Itu milikku masih” Langit menawarkan, Biru menggeleng. Tentu saja dia sudah sangat kenyang. “O ya…aku tadi sudah ke agen ART, mulai besok dia sudah bekerja di rumah, jadi kamu tidak perlu capek-capek mengurus
rumah”
“Loh kok?” Biru merasa tidak enak.
“Heh…aku ini presdir, tidak mau susah. Apalagi dikata menyiksa orang, kata dokter kamu kecapekan” Langit menjelaskan. “Kalau misal kamu tidak suka dengan masakannya nanti, atau kamu ingin apa kamu bisa melakukannya, tapi biar saja ada ART yang membantumu”
“Iya pak presdir” Biru menegaskan kalimat presdir.
“Istri presdir tidak boleh capek-capek” Langit tersenyum menggoda, mengedipkan matanya. Biru tersenyum masam melihat Langit bertingkah seperti itu. “Sekali-kali kamu pergi ke mana gitu, beli baju, perhiasan, atau apa”
“Bukan tipeku seperti itu” Biru melengos.
“Kamu harus merubahnya, apa artinya diri kamu sebagai istriku?” Langit berbicara dengan nada serius, Biru menatap Langit tajam, beberapa detik kemudian dia menyipitka matanya.
__ADS_1
“Lo hiya, kamu istriku, kamu harus bahagia, jangan sakit seperti ini, nanti apa kata….kata….” Langit mencari alasan. “Kata Demian, dia pasti akan menganggapku sebagai orang yang tidak punya hati memperlakukan orang, kamu harus paham itu” Langit mengangkat telunjuknya sambil mengangguk, lalu berdehem. Mencoba mengeluarkan kharismanya, tapi tidak berhasil. Biru tidak tertarik.
“Hish…sudah sana, aku mau tidur” Biru mengibaskan tangannya menyuruh Langit kembali ke sofa.
“Dasar cewek aneh”
“Apa kamu bilang?”
“Enggak…aku mau mencuci mangkok” Langit berjalan mendekati mangkok bakso yang dia taruh di meja samping ranjang Biru, lalu membawanya ke wastafel dan mencucinya. Biru memperhatikan semua yang dilakukan Langit hingga Langit kembali ke sofa dan sibuk dengan HPnya.
Setelah selesai mencuci mangkok, Langit ingin pergi keluar kamar untuk membeli sesuatu di kantin rumah sakit.
“Mau kemana?” Tanya Biru, matanya membulat.
“Kantin”
“Ikut” Biru menurunkan kakinya dari ranjang, tangannya bersiap mengambil infus.
“Ngapain, sudah kamu mau nitip apa nanti aku belikan”
“Nggak mau, aku ikut, aku pengen keluar, aku bosan” Biru menrengut, Langit menyerah, dia mendekati Biru dan memegang infusnya, mereka keluar bersama dari kamar menuju kantin rumah sakit yang buka 24 jam.
Sesampainya di kantin rumah sakit, Langit membeli beberapa camilan dan buah segar yang tersimpan dalam kulkas transparan.
“Kamu mau?” Langit mendekatkan buah apel warnah merah hampir mengenai wajah Biru, Biru menggeleng, lalu tangannya mengambil jeruk dari dalam kulkas.
“Ini” Biru mengangkat jeruk tersebut sambil tersenyum.
Selepas memilih camilan dan buah yang dirasa cukup, Langit menuju kasir untuk membayarnya. Secara otomatis Biru mengikuti Langit, karena selang infus dibawa Langit.
Seorang cowok memperhatikan Biru dengan seksama, lalu mendekati Biru yang sedang berdiri di samping Langit.
“Biru bukan?” tanya cowok yang tak kalah tinggi dengan Langit, cowok itu tersenyum ke arah Biru. Langit dan Biru kompak menatap cowok tersebut, Biru mencoba mengingat-ingat. Dan hanya sepersekian detik, dia tahu siapa cowok bermata indah yang sedang berdiri di dekatnya. Biru membalas senyuman cowok tersebut dengan manisnya. Hatinya berdegup.
Cowok itu mengulurkan tangannya, Biru menyambut uluran tangan tersebut. Mata indah cowok itu masih sama, hanya dia lebih tinggi dari terakhir kali Biru bertemu dengannya.
Langit memperhatikan kedua orang tersebut, lalu berdehem.
__ADS_1
“Oh ya, kenalin ini saudaraku” Biru asal bicara, Langit melotot ingin protes, tapi Biru langsung menyenggol lengan Langit dengan lengannya. Akhirnya Langit mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri, karena tidak
ingin resiko, maka dia pasrah saat disebut Biru sebagai saudaranya.