Langit Biru Love Story

Langit Biru Love Story
Part 11


__ADS_3

“Huwaaaaaa” Langit berteriak sambil menutup mata dengan kedua tangannya. Biru juga ikut berteriak mendengar teriakan Langit yang begitu keras. Sadar akan situasi yang sebenarnya, Biru menurunkan selimut yang ada di


atas kepalanya, Langit masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Ada apa? Sudah kubilang, jangan pakai kolor doank” Biru kesal. Langit tidak peduli lalu masuk ke kamar Biru dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang Biru.


“Heh kamu ngapain ke kamarku? Keluar sana, aku mau tidur” teriak Biru seketika melihat Langit meringkuk di atas ranjanganya.


“Aku mau tidur di sini” Langit tidak peduli.


“Gila ya kamu…kamu kan punya kamar sendiri, ngapain tidur di sini. Keluar nggak?!!” Biru memegang kaki Langit yang jenjang lalu berusaha menariknya.


“Aku mau tidur di sini, kamu tidur di kursi sana” perintah Langit seenaknya.


“Apa? Benar-benar ini cowok, keterlaluan. Kalau begitu aku yang tidur di kamar lain saja” Biru bersiap pergi meninggalkan kamarnya, Langit bangun dan menarik tangan Biru.


“Aku nggak mau tidur sendiran, kamu tahu nggak semalam aku nggak bisa tidur sampai pagi, lalu sekarang ditambah hujan begini, aku benar-benar nggak bisa tidur” Langit masih memegang tangan Biru.


Biru tertawa melihat wajah langit yang lucu, tidak biasanya cowok sombong itu berekspresi seperti itu. “Kamu takut? Takut apa? Hantu? Hujan? Petir? Atau apa?” rentetan pertanyaan itu dilontarkan Biru. Langit melepaskan tangan Biru dan kembali berbaring.


“Rumah ini sudah lama kosong, apalagi hujan begini, malah makin horror. Kalau di apartement aku sudah biasa, kalau di sini aku harus adaptasi lagi” teriak Langit, dia sebal harus menceritakan kelemahannya pada Biru.


“Lalu aku harus tidur di kursi itu?” Biru menunjuk kursi yang ada di dekat jendela, kamar ini tidak ada sofa panjang yang bisa dia gunakan untuk tidur.

__ADS_1


“Kamu bisa tidur di sini” Langit menepuk kasur, tepat di depan dia berbaring.


“Apaaa?” Biru memekik keras, Langit sudah memejamkan mata seolah tidak peduli dengan teriakan Biru. Biru mendengus kesal lalu duduk di kursi dekat jendela sambil merapatkan selimut ke tubuhnya, matanya sudah ngantuk. Terpaksa dia tertidur di kursi sambil meletakkan kepalanya di atas meja.


Tengah malam Biru terbangun, memegangi punggungnya yang terasa sangat pegal karena tidur dengan keadaan duduk.


“Kalau begini caranya bisa-bisa aku sakit punggung nih, apa boleh buat” Biru menyeret kakinya lalu tidur di sebelah Langit yang terlihat sangat nyenyak. Tak lupa Biru meletakkan bantal guling untuk menyekat mereka berdua.


Terasa sangat aneh saat dia harus tidur berdua dengan seorang laki-laki, biasanya dia tidur dengan Nina dan menghabiskan malam dengan cerita-cerita yang kadang tidak penting. Tapi rasa kantuk dan pegal di punggung mengalahkan rasa anehnya, akhirnya dia tertidur pulas.


***


Saat Biru bangun, Langit sudah tidak ada di sampingnya, mungkin sekarang dia sudah berangkat kerja. Biru keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk mengambil minum. Ada tulisan di meja dapur dan juga uang.


Biru kembali ke kamarnya dan mandi, dia tidak terbiasa memasak sebelum mandi. Setelah selesai mandi, Biru kembali ke dapur dan memasak makanan untuknya sendiri.


Sementara itu Langit sampai di kantor dengan wajah lebih segar daripada kemarin, malam ini dia tidur dengan sangat nyenyak. Tapi perutnya terasa sangat lapar, karena pagi ini saat dia bangun dan bersiap berangkat Biru masih tidur.


“Mau sarapan nggak?” Demian menawarkan. “Kalau iya biar aku pesankan ke OB” imbuhnya.


“Iya, pesankan aku satu” Langit masih sibuk mengetik di laptop tanpa mengalihkan pandangannya ke Demian. Demian memesankan makanan melalui telepon kepada OB. Demian menghampiri Langit dan duduk di kursi depan meja Langit.


“Tumben nggak sarapan? Tapi kelihatannya tidurmu nyenyak malam ini”

__ADS_1


“Kamu nggak ada kerjaan apa? Setiap pagi nongkrong di sini sambil ngoceh saja kerjaan kamu” Langit masih sibuk dengan laptopnya.


“Sudah siap, kerjaan aku kan melayani kamu sih Bro. Kalau kamu belum sarapan, kalau kamu butuh apa-apa, makanya kesini nanya. O ya, selamat ulang tahun” Demian mengulurkan tangannya, Langit menatapnya sejenak lalu menyambut uluran tangan Demian. Bahkan dia lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.


Langit beruntung tadi malam dia bisa tertdiur dengan nyenyak, karena hari ini banyak pekerjaan yang harus dibereskan. Mungkin dia akan lembur dan entah bisa pulang jam berapa. Dia sudah terlanjur memesan makanan kepada Biru. Langit megambil HPnya, dia ingin memberi tahu kalau malam ini dia ada lembur di kantor, dia ingin membatalkan makanan yang dia pesan.


Setelah memencet kontak HPnya, dia baru sadar kalau tidak mempunyai nomer HP Biru. Dia letakkan lagi HPnya di dekat laptop. Langit kembali lagi sibuk dengan pekerjaan yang harus diselesaikan, hingga dia lupa tentang nomer HP Biru.


Maghrib sudah berlalu, Biru baru saja menyelesaikan masakan untuk makan malam. Dia melongok jam dinding yang ada di ruang makan.


“Tumben dia belum datang” Gumamnya sambil menata makan malam, Biru duduk menunggu di ujung meja makan. Karena jika mereka kebetulan makan bersama, mereka tidak akan duduk berdekatan. Mereka akan menduduki kursi ujung masing-masing, sehingga jaraknya jauh.


Sudah hampir satu jam Biru menunggu, perutnya sudah lapar. Akhirnya dia memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Membiarkan Langit yang entah tidak ada kabarnya, dia tidak peduli. Setelah makan dia mencuci piringnya dan menutup makanan yang memang sedianya untuk Langit. Jika nanti Langit ingin makan, biar dia sendiri yang memanaskan makanannya.


Tepat jam 12 malam, Mobil Langit memasuki garasi rumahnya. Pekerjaan kantor yang menyita waktunya malam ini membuatnya tidak sempat untuk makan malam di kantor. Langit menutup pintu mobilnya, lalu masuk ke dalam rumah.


Melewati ruang makan, Langit melihat meja makan beserta tudung saji di atasnya. Langit menghentikan langkah lalu mendekati meja makan, dibuka perlahan tudung saji tersebut, ada nasi goreng buatan dan ayam goreng. Langit tersenyum tipis, dilihatnya lagi secarik kertas dengan tulisan, dia yakin jika tulisan tersebut adalah tulisan dari Biru.


Jika masih ingin makan, maka hangatkan sendiri. Selamat ulang tahun!


Lagi-lagi Langit tersenyum membaca pesan Biru, perutnya memang sangat lapar. Dia meletakkan tas di atas meja, membuka dasi dan kancing kemejanya, mencuci tangannya dan menikmati makanan Biru tanpa memanaskannya


lagi.

__ADS_1


__ADS_2