
Setelah melakukan shalat subuh dan mandi, Biru bergegas menuju dapur untuk memasak, tentu untuknya sendiri. Sebelumnya Biru membuka tudung saji, makanan yang dia hidangkan tadi malam sudah tidak tersisa, hanya piring
kotor yang masih ada di atas meja tersebut. Tulisan tangan darinya juga tidak ada, Biru mencarinya hingga tempat sampah sapur, tidak ada tanda-tanda tulisan tersebut dibuang.
“Kamu cari apa?” cepat masak sana! Aku nitip sekalian” ucapan Langit mengagetkannya, Biru kembali ke meja makan dan mengambil piring kotor bekas semalam lalu mencucinya. Langit membuka kulkas, mengambil botol air
minum, menuangkannya ke dalam gelas lalu meminumnya. Kemudian dia duduk di ujung kursi meja makan.
Biru membuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan yang akan dimasak. Hari ini hari minggu, Langit tidak pergi ke kantor.
“Terima kasih makanannya…dan ucapannya”
“Kamu tidak memanaskannya?” Biru mulai memotong sayuran.
“Kamu fikir aku bisa melakukannya? Perut sudah lapar, ngantuk, capek, ngapain dipanaskan juga” Langit merapikan rambutnya dengan jari, terlalu pagi dia bangun sehingga beberapa kali dia terlihat menguap. “Harusnya aku memberi tahu kalau lembur, tapi jahatnya kamu, kenapa kamu tidak memberikanku nomer HPmu?”
Biru berhenti sejenak dari aktivitasnya memotong sayuran, mengalihkan pandangannya ke arah Langit sekarang.
“Heeeeiii…..mengapa kamu melanggar peraturan lagi?” Biru berteriak melihat Langit duduk bersila di atas kursi. Langit memakai celana kolornya lagi.
“Apaan sih? Lagian celana doang, yang penting aku pakai baju, atau kamu pengennya aku nggak pakai celana sekalian?” Langit tersenyum konyol. Biru kembali lagi ke aktivitas memotong sayuran. “Kamu ingat ulang tahunku, terima kasih” Langit mengulangi percakapannya yang tadi tidak dibalas oleh Biru.
“Jangan percaya diri, jangan berfikir aku perhatian hanya dengan mengucapkan selamat ulang tahun, aku ingat karena sebelum menikah kamu mengatakannya” Biru agak tercekat saat mengatakan kata “menikah”.
“Aku lahir sempurna, jadi aku tidak butuh berjuang untuk percaya diri, semua tumbuh alami dalam diriku” Langit membanggakan dirinya, wajahnya konyol saat mengatakannya, tapi Biru tidak ingin melihatnya, dia masih sibuk
__ADS_1
melanjutkan memasaknya. “Kamu tidak kemana-mana hari minggu?”
“Aku mau melanjutkan bersih-bersih rumah” Biru meletakkan lauk yang sudah matang ke atas meja makan, Langit mencium aroma tempe goreng yang enak. Tangan kanannya dengan gesit mencomot tempe yang masih hangat dan segera memasukkan ke mulutnya.
“Apa kamu perlu pembantu rumah tangga? Nanti aku bisa mencarikan untukmu”
“Tidak perlu, aku masih bisa”
“Ah nampaknya kamu lebih senang berduaan denganku di rumah sebesar ini” Langit tertawa, rupanya tidaklah buruk mempunyai teman di rumah, ada hal yang membuatnya tertawa. Biru kesal, harusnya minggu begini lebih baik Langit tidur saja dan tidak merecokinya di dapur.
Biru meletakkan 2 piring nasi, dan sayur sop ke atas meja, lalu dia duduk di meja ujung. Langit mengirup aroma masakan Biru. Selain ada teman untuk diajak bercanda, ternyata keberadaan Biru membuatnya lebih mudah mengisi perutnya tanpa harus selalu memesan makanan di luar.
“Bagaimana kalau kita pindah ke apartemen saja?” Ucap Langit di sela-sela makannya. “Karena rumah ini cukup luas, kau tidak mau kalau kamu sampai kewalahan mengurus rumah ini, bagaimana?”
“Aku nggak mau”
Biru tertawa mendengar alasan Langit, “Kamu kenapa? Takut hantu atau apa?”
“Tentu…tentu saja tidak, aku tidak takut apapun” Langit tertawa paksa, wajahnya terlihat konyol. Biru menahan tawa yang sebenarnya ingin meledak, teringat peristiwa malam itu, saat Langit tiba-tiba datang ke kamarnya.
“Kamu jangan berfikir yang tidak-tidak!” Langit berteriak. Biru tidak peduli, piringnya sudah kosong, dia membawa piringnya ke cucian piring dan mencucinya. “Hei kenapa kamu diam saja?”
“Kalau kamu mau pindah ke apartemen silahkan, aku juga akan pindah ke kontrakan Nina” Jawab Biru enteng, jika terkabulkan, dia akan senang.
“Dasar kamu, bahkan kamu jauh lebih menakutkan daripada hantu” gumam Langit
__ADS_1
“Nah benar kan kalau kamu takut dengan hantu?” Biru berdiri di samping kursi yang tadi dia duduki sambil melipat tangannya. Langit diam saja sambil memperhatikan Biru, gadis di depannya itu memang sama sekali tidak pernah
terlihat takut dengan apapun.
“Apa kamu tadi malam tidak melihat gadis berambut panjang dan berbaju putih di garasi?” Biru memasang wajah datar saat menanyakan itu kepada Langit. Ekspresi Langit menciut saat mendengar pertanyaan itu.
“Jangan menakutiku” Langit pura-pura cool dan menghilangkan rasa takutnya, tadi malam dia tidak melihat apapun, turun mobil tidak ingin menengok kanan kiri, dia langsung menuju pintu yang tembus ke dapur. Biru tertawa terbahak-bahak lalu meninggalkan Langit yang kali ini merasa kalah.
“Benar kata Demian, dia lebih menakutkan daripada hantu, hantu bakalan minta ampun kalau ketemu sama dia” Langit meninggalkan ruang makan sesaat setelah Biru meninggalkan dapur, Langit pergi ke kamar untuk melanjutkan tidur setelah perutnya kenyang.
Biru masih tertawa-tawa sendiri, tidak menyangka jika cowok sombong yang selalu bilang sempurna itu takut dengan hantu. Tangannya dengan cekatan memotong tanaman hias di depan rumah supaya lebih rapi. Setelahnya dia menyiram semua tanaman dan menyapu daun-daun kering. Terbiasa bekerja keras setiap harinya, aktivitas barunya kini yang hanya tinggal di rumah membuat dia tidak bisa jika hanya diam saja. Sehingga dia rajin membersihkan rumah dan merawat tanaman.
Setelah selesai, Biru segera kembali ke kamar dan mandi. Sebentar lagi dia akan pergi ke pasar sore untuk membeli bahan makanan untuk besok. Kegiatan yang bertolak belakang dengan kegiatan sebelumnya membuat dia merasa seperti Ibu rumah tangga sungguhan.
Beberapa kali Biru memencet aplikasi untuk memesan ojek online, tapi tidak bisa. Sudah hampir 15 menit dia mencoba. Biru keluar pagar dan memutuskan untuk naik angkot saja, tak menunggu lama angkot datang.
Setelah turun dari angkot, Biru merogoh tasnya untuk mengambil dompet. Betapa terkejutnya dia dompet dan HPnya tidak ada. Biru merogoh dompetnya lagi, memastikan. Tidak ditemukan juga. Biru membalik tasnya, dan
nihil. Kedua barang yang dicarinya tidak ada. Dia yakin sudah membawanya, karena sebelum naik angkot dia sibuk memesan ojek di aplikasi lewat HPnya. Biru meraba saku celana dan jaketnya, mungkin saja dia lupa dan menaruhnya di saku. Tapi tidak ditemukan juga, akhirnya dia yakin jika dompet dan HPnya dicopet. Mengingat penumpang di angkot sangat penuh.
“Maaf pak, aku kecopetan” Biru memelas kepada sopir angkot yang menunggunya untuk membayar ongkos.
“Ya Allah neng, ya sudah tidak apa-apa neng”
“Maaf ya pak, terima kasih” Biru sangat berterima kasih, untung saja sopir angkotnya baik.
__ADS_1
Sekarang Biru bingung harus bagaimana, dia sudah ada di depan pasar. Mau masuk ke pasar dia tidak punya uang, mau kembali ke rumah dia harus naik apa? Mau menelpon Langit juga tidak tahu nomernya.