
Mita dan Nina buru-buru masuk ruang perawatan Biru setelah memastikan bahwa mereka tepat berada di depan kamar nomer 303. Untung saja tadi pagi Mita menelpon Biru untuk sekedar berbasa basi, namun yang mengangkat
telpon bukanlah Biru, Langit memberi tahu jika Biru sakit dan di rawat di rumah sakit.
Nina dan Mita segera menghampiri Biru yang masih tertidur pulas, Nina meletakkan tasnya di sofa. Mita duduk di kursi samping ranjang, tangannya mengelus tangan Biru.
“Dia tidak apa-apa kan Nin?” Mita prihatin, seolah dia melihat Biru sedang koma.
“Dia demam” Nina meletakkan punggung tangannya di dahi Biru. “Anak ini, jarang-jarang dia sakit, sekalinya sakit kenapa harus masuk rumah sakit” gerutu Nina.
Biru membuka matanya, beberapa kali dia memejamkan matanya dan kembali membukanya. Kepalanya masih terasa berat. Dilihatnya samar-samar, dia berada di tempat yang bukan kamarnya. Samar-samar pula dia melihat Nina dan Mita ada di sampingnya.
“Bi…kamu sudah bangun?” tanya Mita pelan, takut jika suaranya akan mengagetkan Biru.
“Aku di mana?” tanya Biru, pandangannya sudah mulai terang sekarang, dia mengangkat tangan kanannya yang terdapat selang infus.
“Di rumah sakit, kamu mau minum?” tanya Nina sambil menyodorkan air minum segelas. Mita membantu membangunkan Biru untuk minum. Setelah meneguk beberapa tegukan air, Mita mengembalikan posisi Biru seperti semua, berbaring.
“Kok aku bisa kesini, seingatku tadi malam aku tidur di kamar” Biru masih bingung, tangan kirinya memijat kepalanya.
“Kamu sakit, pak Langit yang bilang, untung tadi pagi aku menelponmu, dia yang jawab dan bilang kamu dibawa kesini” sahut Mita.
“Apa dia sudah berangkat ke kantor sekarang?” tanya Biru.
Nina dan Mita mengangkat bahu, mereka tidak melihat langit sejak kedatangan mereka ke rumah sakit ini.
“Kamu mau makan?” tanya Nina menawarkan makanan yang ada di piring. Biru menggeleng pelan, tidak ada selera makan. Lidahnya terasa pahit, Biru memejamkan matanya. Mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Dia hanya ingat saat dia kembali dari dapur, melepas mukenanya lalu tidur. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa, hanya rasa sakit di tubuhnya yang dia rasakan. Begitu bangun, dia sudah berada di ruangan ini, ditemani oleh Nina
dan Mita.
__ADS_1
“Eh gara-gara aku sakit, kalian malah di sini, nanti malam kan grand opening butik kalian” Biru menatap Nina dan Mita bergantian. Nina nampak berfikir, bagaimana caranya mereka tetap berada di acara nanti malam, sementara
Biru tidak ada yang menjaga.
“Kalian pergi saja nanti, aku tidak apa-apa”
“Salah satu dari kita biar tetap di sini” Nina memutuskan, Biru mengibaskan tangan kirinya tanda tidak setuju. Dia tidak ingin momen penting karir Nina dan Mita saat pembukaan butiknya berlalu begitu saja.
“Tidak usah, pergilah, aku baik-baik saja, ada perawat di sini”
“Nanti biar aku menelpon Pak Langit deh, selepas pulang kantor biar langsung kesini” Mita tersenyum, akan dengan senang hati menelponkan Langit untuk Biru.
“Tidak usah, urusan dia di kantor banyak, dan itu lebih penting daripada menungguku di sini, lagian aku baik-baik saja, pasti besok sudah bisa pulang” Biru menghibur diri dan meyakinkan Nina serta Mita.
“Iya deh Bi, kita pergi nanti, tapi kamu jangan khawatir. Besok kita akan kesini lagi, entah aku atau Mita yang gentian kesini” Nina menengahi, Biru lega.
“Sekarang kamu makan dulu” Mita membawa piring dan bersiap menyuapi Biru, Biru mengangguk meskipun sedikit dia mau makan.
***
kamar Tania dan Biru hanya berjarak 2 kamar. Langit menoleh ke pintu tempat Biru dirawat, kemudian beralih kembali ke pintu kamar Tania.
Langit berhenti di depan pintu tersebut sejenak, dia menghela nafas perlahan. Tangannya memegang gagang pintu, perlahan dia membukanya. Dilihatnya Tania sedang duduk sambil memainkan HPnya di atas ranjang, dia belum menyadari kedatangan Langit. Langit menatap gadis itu sejenak, masih sama, rambut panjangnya terurai, wajahnya yang mungil masih terlihat menggemaskan. Langit ingin memeluknya erat saat ini juga.
Beberapa detik kemudian Tania menyadari kehadiran Langit, Langit mendekat ke arahnya. Tania menyambutnya dengan senyuman, begitu juga Langit. Gadis itu duduk sambil menutup kakinya dengan selimut.
“Hai” Langit mengelus rambut Tania dengan lembut.
“Kamu kok tahu kalau aku ada di sini?” Tania tidak menyangka kalau Langit akan datang secepat ini. “Aku tidak ingin kamu tahu kalau aku sakit” rajuknya. Matanya menatap Langit lekat, ada rindu yang dipendam di hatinya.
“Kamu kenapa tidak bilang kalau pulang kesini?” Langit duduk di ranjang Tania.
__ADS_1
“Aku tidak ingin merepotkanmu” kalimat itu yang selalu diucapkan loleh Tania setiap kali Langit memintanya untuk pulang atau sekedar memberikan kabar.
“Lalu mengapa kamu tidak pernah membalas pesan atau mengangkat telponku?” Langit menatap mata indah Tania lekat, gadis itu menundukkan pandangannya. Telponnya berdering sebelum menjawab pertanyaan Langit.
“Hallo….iya…jangan, jangan dibatalkan, nanti malam aku kembali, aku sudah memesan tiketnya” Tania mematikan telponnya.
“Tadi kamu bilang apa?” Tania ingin Langit mengulang pembicaraannya tadi.
“Ah tidak, kamu baik-baik saja kan?”
“Aku baik-baik saja, kemarin sempat terpleset dan ada retak di lengan kiriku, tapi semua baik-baik saja, nanti malam aku akan kembali ke paris, karena aku ada urusan mendadak” jawab Tania. Nyatanya Tania sudah berada di rumah sakit sejak 3 hari yang lalu.
“Secepat itu? Bahkan kamu belum sempat minum kopi bersamaku” Langit mengingatkan janji Tania jika pulang ke Indonesia dia akan mengajak Langit untuk nongkrong minum kopi sepuasnya.
“Kamu bahkan masih ingat janjiku 3 tahun lalu” Tania tersenyum.
“Aku tidak ingin melupakannya, tapi entah kamu” Langit tersenyum getir.
“Aku benar-benar ada urusan mendadak, jadi kita bertemu lain waktu” jawaban Tania membuat Langit sedikit kecewa, 3 tahun tidak bertemu, begitu pulang Tania seolah tidak ingin sama sekali bertemu dengannya. Langit hanya menatap mata gadis itu sambil memegang tangannya, tidak ada protes darinya untuk Tania.
“Oke, jam berapa kamu ke bandara? Biar aku yang antar”
“Jam 7 nanti malam”
“Oke, oh ya terima kasih atas kadonya” Langit menarik lengan jasnya dan memperlihatkan jam tangan kado ulang tahunnya dari Tania.
“Kado?” Tania balik bertanya, dia merasa tidak memberikan kado tersebut untuk Langit, bahkan dia lupa dengan hari ulang tahun Langit beberapa hari yang lalu.
“Iya, ini” Langit memperlihatkan jam tangan tersebut lebih dekat. “Terima kasih, aku suka” Langit tersenyum.
“Oh….itu…iya sama-sama, syukurlah kalau kamu suka” Tania ikut tersenyum, dia mengamati jam tangan yang ditunjukkan Langit, sama sekali dia tidak mengenal jam tangan tersebut.
__ADS_1
Saat ini yang terfikirkan oleh Tania adalah pekerjaannya, Langit tidak mengetahui yang sebenarnya, jika Tania seudah menyelesaikan kuliahnya setahun yang lalu. Karena banyaknya tawaran bekerja di Paris, Tania memilih
untuk bekerja di sana dan tidak ingin kembali ke Indonesia. Dia ingin berkarir di sana, yang menurutnya sangat menjanjikan untuk ke depannya.