Langit Biru Love Story

Langit Biru Love Story
Part 5


__ADS_3

Langit tertawa menang, harusnya ini bukan hal penting yang perlu diklarifikasi. Tapi dia heran, mengapa dia rela jauh-jauh ke rumah sakit sepagi ini hanya ingin membuktikan jika dia bukan pacar dari Mita kepada cewek aneh itu?


“Tak apa, tak apa sedikit mencuil harga diri, asal dia tahu kalau aku bukan penipu” Langit merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci mobilnya, tak sengaja kunci mobil itu jatuh ke lantai. Langit mengambilnya, di dekat kuncinya jatuh ada kartu nama yang sangat dia kenal. Langit mengambilnya juga, itu adalah kartu nama yang diberikan Demian kepada Biru kemarin.


“Hei tunggu” teriak Biru, Langit menoleh ke belakang. Selepas Langit keluar ruangan, Biru menghentikan sejenak perdebatan dengan Mita dan segera menyusul Langit yang dia yakini menuju parkir. Dan tebakan itu benar.


“Apa lagi kuning?” Langit memanggilnya dengan panggilan kuning.


“Sudah kubilang, aku nggak peduli kamu mau panggil aku dengan apapun, asal kamu tahu, aku tidak mau tanda tangan dan proyek kamu akan gagal” Biru mengancam, Langit tersenyum, dia sama sekali tidak takut dengan ancaman gadis aneh itu.


“Kamu minta berapa?” Tanya Langit “Atau kamu minta mobil?” imbuh Langit. Mereka berbicara berhadapan, Biru agak mendongak saat berbicara dengan Langit, karena postur mereka memang berbeda.


“Aku nggak peduli, karena itu bukan menyangkut aku saja, tapi semua orang yang menghuni gedung itu. Paham?”


“Mereka sudah setuju, tinggal kamu saja” Langit menegaskan. Belum sempat Biru menjawab, dilihatnya sekilas Pak Aldo, si rentenir yang tempo hari selalu menyuruh anak buahnya menguntitnya. Baru saja Pak Aldo keluar dari mobil dan sedianya akan masuk ke dalam rumah sakit.


Biru panik, akhirnya dia menarik jas Langit dan bersembunyi di dada Langit. Kepalanya terbenam di jas Langit, jantung Biru berdegup kencang. Dia berdoa komat kamit agar Pak Aldo tidak melihatnya sekarang.


Langit terkejut dengan apa yang dilakukan gadis aneh terhadapnya, mencoba menarik kembali jasnya, tapi cengkraman Biru semakin kuat. Akhirnya Langit menyerah dan membiarkan gadis itu bersikap aneh.


“Kamu diam saja, please…diam saja” pinta Biru. Parfum wangi yang memenuhi rongga hidungnya terasa menenangkan, Biru memejamkan matanya. Sejenak dia lupa kalau sedang bersembunyi dari Pak Aldo si rentenir.


“Apakah dia sudah pergi?” bisik Biru.


“Siapa?” Tanya Langit tak kalah berbisik, dia terjebak dalam drama Biru. Lalu dia mengusap dahinya, heran dengan apa yang dia lakukan.


“Itu laki-laki bertopi koboy” Bisik Biru lagi.


Langit melirik orang yang dimaksud, dan melihatnya sudah menghilang dari pandangan. “Sudah” jawab Langit dengan volume suara kembali normal. Tangannya mendorong Biru untuk keluar dari kurungan jasnya.

__ADS_1


Biru melepas cengkraman tangannya dari jas Langit lalu merapikan rambutnya yang agak berantakan. Langit juga merapikan jasnya yang terlihat agak kusut karena cengkraman dari Biru yang kuat.


“Kenapa selalu sial, harusnya aku nggak berada di tempat seperti ini” ujar Langit.


“Terima kasih” Biru mengucap kata itu perlahan. “Kamu menyelamatkanku pagi ini, kalau saja aku ketahuan, pasti si rentenir itu akan berbuat seenaknya demi uangnya kembali”


“Dia yang tadi? Kamu berhutang padanya?” Langit tersenyum licik, ada senjata yang bisa dia pakai.


“Tapi jangan harap aku mau tanda tangan” ucap Biru seolah bisa membaca pikiran licik Langit.


“Kita lihat saja nanti, aku sudah terlambat, kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa pergi ke kantor” Langit melambaikan tangan dan berlalu menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka berbicara.


 ***


Biru kembali ke ruang perawatan, Nina sudah berada di kamar sedang menyuapi Mita sarapan. Wajah Biru kusut, bibirnya manyun ke depan.


“Kamu sudah minta maaf ke dia?” Tanya Nina, Biru duduk di ranjang bagian bawah dekat kaki Mita yang sedang berselonjor.


“Kan kamu sudah salah mencurigai orang, kamu bilang dia pacar Mita yang penipu, ternyata bukan, apalagi dia adalah calon Presiden Gala Group, untung kamu tidak sampai dilaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik” Nina menghela nafas. “Bi…tidak buruk juga jika kita pindah dari tempat itu, kita dapat kompensasi juga kan dari dia?” Nina membujuk.


“Maaf ya, gara-gara aku, kalian jadi susah” Mita memandang Nina dan Biru bergantian dengan tatapan mata sendu.


“Sudahlah, tidak udah mencari siapa yang salah, kita harus mencari jalan keluar. Kita juga harus berfikir cari jalan agar bisa membayar biaya rumah sakit Mita”


Biru mendengus, mencoba mempertimbangan apa yang diutarakan Nina. Tapi egonya masih belum bisa jika harus menyerah kepada cowok sombong itu.


“Bi…apa yang kalian bicarakan tadi?” Tanya Nina, tangannya meletakkan piring yang sudah kosong ke meja pasien.


“Iya, kalian bicara apa?”

__ADS_1


“Aku ketemu Aldo si rentenir lintah darat itu” Biru menggaruk kepalanya.


“Jadi kamu nggak ketemu sama Pak Langit? Dan kamu ketemu si rentenir itu?” Mita mempertegas.


“Aman, rentenir nggak lihat wajahku, dan kalian nggak usah tanya gimana caraku untuk tidak terlihat dari dia. Dan aku tadi bicara sama cowok sombong itu”


“Terus…terus?” Nina tidak sabar.


“Apanya sih Nin, ya dia tetep minta aku tanda tangan”


“Dan kamu nggak mau?” tanya Nina


“Dia mau kasih kompensasi lebih, bahkan mobil”.


“Apa?” Suara Nina dan Mita bebarengan.


“Mobil? Ini melebihi apa yang dia janjikan ke aku lho Bi…dia hanya bilang 10 juta kemarin itu” Mita angkat bicara tentang perjanjian dengan Langit tempo hari.


“Kamu gila ya Nin, menendangku hanya dengan uang 10 juta, dan itu juga tidak akan lunas untuk membayar hutang ke lintah darat itu” Biru turun dari ranjang dan keluar meninggalkan Nina dan Mita.


Biru meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumahnya untuk bersiap bekerja. Dilihatnya dengan seksama, tempat tinggal yang dia tinggali sejak lama. Gedung tua yang memang sebenarnya tidak layak huni. Tapi di sana dia tidak sendiran karena setiap ruangan ada penghuni lain, mereka kebanyakan dari orang yang tidak mampu untuk menyewa kontrakan meskipun sederhana. Sama seperti halnya dia, Biru berharap dengan dia tinggal di sini, dia bisa menabung dari uang kerjanya dan menyewa tempat yang layak. Namun setiap kali dia mendapatkan uang, ada saja yang membuat uang tersebut tidak bisa dia gunakan untuk pindah dari tempat tersebut. Kini, dia malah terjebak dalam lingkaran rentenir.


Biru mengunci pintu dan berjalan menyusuri trotoar menuju tempat


kerja. Sudah 2 hari dia bolos kerja, Manda pasti akan bersungut-sungut saat


melihatnya nanti. Tidak ada yang bisa dia suruh dengan cepat untuk mengantar


pesanan ayam goreng ke pelanggan jika dia tidak ada. Biru mempercepat

__ADS_1


langkahnya agar segera sampai di tempatnya bekerja.


__ADS_2