
Pukul 03.00 pagi, Biru terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa sangat pusing. Dipegangnya dengan erat tangannya sambil mencoba bangun untuk mengambil air minum yang tadi malam dia letakkan di meja samping ranjangnya.
Kepalanya sangat berat dia rasakan, barang-barang yang ada di kamar seolah berputas. Biru mengembalikan gelas berisi air ke meja, bersiap kembali berbaring, dia rapatkan lagi selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang terasa
sangat kedinginan. Kali ini tubuhnya menggigil, Biru meringkuk untuk mengurangi rasa dinginnya. Tangannya meraba dahi, terasa panas, tapi dia merasa sangat kedinginan. Biru mencoba kembali tidur dengan tubuh meringkuk dan menahan pusing di kepalanya.
Langit membuka matanya sesaat mendengar alarm berbunyi dari HPnya. Dia menoleh, jam 05.00. Setelah menyelesaikan aktivitas paginya, dia bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor.
Sambil bersiap, biasanya dia akan mendengar derap kaki Biru yang sedang keluar masuk dari kamarnya, pagi ini dia tidak mendengarnya.
“Apa dia kesiangan lagi?” gumamnya, tangannya mengambil HP di atas meja dan mengirimkan pesan untuk Demian agar menyiapkan sarapan untuknya di kantor.
Langit bersiap untuk berangkat ke kantor, setelah keluar kamar dia langsung menuju dapur. Tidak ada tanda-tanda jika Biru berada di sana, dilihatnya sekeliling rumah, mungkin saja Biru sedang membersihkan taman belakang. Tidak ada, taman belakang sepi. Piring bekas makannya tadi malam juga masih berserakan di atas meja makan. Menandakan jika Biru memang belum bangun.
Langit berinisiatif untuk mengetuk pintu Biru, dia kembali lagi menuju arah kamar. Setelah berada di depan pintu kamar Biru, dia mengetuk pintu beberapa kali. Tidak ada jawaban.
“Apa dia sedang mandi? Aku masuk apa enggak ya? Kalau sampai masuk, dan dia sedang apa-apa di dalam, bisa-bisa pagiku akan dapat sarapan marah-marah dari dia” Langit ragu. Dia melangkah kembali untuk berangkat, tapi
berhenti lagi dan kembali ke depan pintu kamar Biru. Mengetuknya sekali lagi, dan tidak ada jawaban.
Tangan Langit memegang gagang pintu dan membukanya, dilihatnya Biru masih mreringkuk di atas ranjang dengan tubuh diselimuti rapat. Didekatinya Biru, dilihatnya seksama, gadis itu tertidur pulas, tapi wajahnya sangat pucat.
Perlahan tangannya memegang dahi Biru, terasa panas. Langit berjingkat, karena dahinya sangat panas.
Langit membangunkan Biru dengan perlahan, namun Biru tak bereaksi. Langit keluar kamar dan mencari obat penurun panas di kotak obat.
“Sial, aku lupa mengisi obat-obatan” Langit kembali lagi ke kamar Biru sambil membawa thermometer pengukur suhu. Langit menekan tombol pengukur suhu di dekat dahi Biru, terlihat angka hingga 40 derajat celcius. Dengan
buru-buru Langit meletakkan alat pengukur suhu tersebut di ranjang. Langit mengangkat Biru dan membopongnya keluar, dia membopong serta selimutnya yang menyelimuti Biru.
Langit membuka pintu mobil dengan susah payah karena sambil membopong Biru, dia semakin panik karena Biru sama sekali tidak bereaksi. Langit berhasil membaringkan Biru ke dalam mobil di bangku kedua. Langit membenahi selimut Biru sebelum duduk di bangku kemudi.
__ADS_1
Langit mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah sakit, dia khawatir jika terjadi sesuatu dengan Biru. Sesekali dia melihat ke arah Biru, gadis itu nampak pucat. Perjalanan terasa lama, apalagi harus menemui
beberapa lampu merah. Langit semakin panik, Biru mengigau mengucapkan beberapa kalimat, dia tidak mendengarnya dengan pasti apa yang Biru ucapkan.
“Tenang, kita akan segera sampai di rumah sakit” Langit memegang dahi Biru, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah jalan.
Langit membuka pintu mobil dan keluar, kemudia membuka pintu mobil lagi untuk mengeluarkan Biru. Dibopongnya Biru hingga sampai di ruang gawat darurat.
“Tolong suster” Langit meletakkan Biru di ranjang, suster mendekati Biru dan mengecek suhu tubuhnya, kali ini naik menjadi 41 derajat. Langit mengusap peluh yang ada di dahinya, sementara suster sibuk memasang infus di punggung tangan Biri sebelah kanan.
“Sejak kapan demam pak?” tanya suster.
“Ehm…tidak tahu sus, mungkin tadi malam” jawabnya.
“Anda siapa pak?”
“Suaminya” jawab Langit lagi, suster tersebut menatapnya dengan heran, jika benar Langit suaminya, mengapa Langit tidak tahu sejak kapan Biru mengalami demam.
“Baik pak, silahkan memilih kamar rawat inap dan tanda tangan di sini” suster menyerahkan selembar kertas berisi persetujuan untuk rawat inap. “Istri Bapak harus rawat inap pak, karena demamnya sangat tinggi, nanti akan tahu hasilnya sakit apa setelah hasil lab selesai keluar”
“Iya sus, terima kasih” Langit memilih kamar VVIP untuk perawatan Biru, dia menandatangani kertas tersebut dan kembali menyerahkan kepada perawat. Sambil menunggu Biru dibawa ke ruang perawatan, Langit duduk di kursi
samping ranjang Biru. Gadis itu masih kelihatan pucat dan masih lelap tertidur.
***
Baru saja Biru dipindahkan ke ruang perawatan, Langit mengikuti perawat yang membawa Biru ke dalam ruang perawatan. Setelahnya perawat pamit untuk keluar, Langit duduk di sofa ruang perawatan.
Baru saja tangannya akan mengambil HP yang ada di saku jasnya, tiba-tiba HPnya berdering. Panggilan dari Demian, kebetulan dia juga akan melakukan panggilan untuk Demian. Dia lupa belum bilang jika hari ini tidak bisa masuk kantor. Dia berniat untuk membatalkan semua agenda hari ini. Dia masih khawatir dengan keadaan Biru.
“Hallo” jawab Langit.
__ADS_1
“Kamu di mana?” tanya Demian.
“Batalkan semua jadwal hari ini, aku ada urusan mendadak”
“Kenapa? Berikan alasanmu sebelum aku bilang kepada klien” Demian tidak puas dengan hanya mendengar Langit ada urusan mendadak.
“Biru sakit, aku lagi di rumah sakit sekarang” Langit melihat ke arah Biru berbaring, dia mendekatinya, tangannya memegang dahi Biru. Demamnya sudah agak menurun dibandingkan tadi.
“Sakit? Sakit apa? Apa perlu aku kesana mendampingi kamu?” tanya Demian.
“Nggak usah, kamu di kantor saja, jika ada yang penting banget baru kamu kabari aku”
“Baik, oh ya…ini penting juga sepertinya buat kamu”
“Aku bilang batalkan semua jadwal hari ini” Langit mengulangi perintahnya.
“Tania” Demian menyebut nama tersebut, Langit dengan seksama mendengarnya. ‘Tania ada di rumah sakit juga”
“Apa? Kenapa dia?” tanya Langit gugup, baru saja tadi pagi dikagetkan dengan keadaan Biru, sekarang dia mendengar lagi jika Tania, orang yang dicintainya di rumah sakit juga.
“Dia ada di Indonesia sekarang, ada kecelakaan kecil”
“Di rumah sakit mana?’ Langit memotong pembicaraan Demian.
“Rumah Sakit Kasih” jawab Demian, sesaat setelah mendengar nama rumah sakit tersebut, Langit menutup pembicaraan dan segera keluar dari kamar perawatan Biru.
Langit berlari menuju ruang informasi dan menanyakan kamar Tania ke resepsionis, resepsionis perempuan tersebut memberi tahu kamar yang digunakan untuk merawat Tania. Langit berlari menuju kamar yang dimaksud.
__ADS_1
Ketika penulis kembali ke idealisme, saya hanya menulis. Jika suka, maka bacalah. Jika enggan, jangan seolah ingin tapi tak ingin. Siapapun anda yang membaca, terima kasih... ^^