Langit Biru Love Story

Langit Biru Love Story
Part 8


__ADS_3

Mita menenteng kebaya yang akan dikenakan Biru sebentar lagi untuk akad nikah, dia mengerjakannya dalam waktu singkat, 2 hari saja. Sampai-sampai dia kurang tidur, tapi hasilnya tidak mengecewakan. Kebaya warna putih itu nampak sederhana, tapi indah. Mita menggantungkan baju tersebut di belakang pintu kamar.


Sementara Nina sibuk merias Biru, bakat terpendam yang dimiliki Nina ternyata tidak sembarangan, Biru nampak berbeda dari biasanya. Bermodal alat rias seadanya, tapi Biru nampak cantik.


Setelah selesai make up, Mita memakaikan kebaya hasil buatannya untuk Biru. Dia nampak puas dengan hasil karyanya. Kebaya itu semakin cantik terlihat saat Biru memakainya.


“Cantik banget sih ini” Mita memuji kebayanya, Biru cemberut. “Kamu juga Bi” Mita meralat.


“Kalian punya bakat, lebih baik berkolaborasi saja buat bisnis yang ada hubungannya dengan bakat kalian. Jangan melulu tentang singkong” Biru menyeringai. Mita masih sibuk membenahi kebaya yang dipakai Biru. Nina


menghampiri mereka, mendekatkan pandangan ke wajah Biru. Memastikan jika hasil make up nya terlihat bagus saat sesi foro nanti.


“Hidungku gatal Nin” jari Biru siap menggaruk hidung, dengan cepat Nina menepis tangan Biru.


“Jangan, nanti make up mu cemong” Nina memarahi Biru, Biru nurut saja dan akhirnya hanya menggerak gerakkan hidungnya sekenanya.


“Nggak nyangka banget kalau hari ini kamu mau nikah Bi” Mita menyahut, Biru sudah duduk di kursi depan cermin menunggu jam akad nikah.


“Nikah apaan…aku saja biasa saja” Biru menghela nafas, bayangannya tentang penikahan impian berlalu begitu saja. Menikah dengan orang yang dia cintai, menikah dengan cara yang romantis. Semua buyar begitu saja. Dan setelah ini dengan jelas dia akan menjadi janda. Biru menatap cermin dengan pandangan nanar.


“Bi…masih ada kesempatan jika kamu mau mundur dengan semua ini” Nina memegang pundak Biru dari belakang. Biru memejamkan mata dan mengambil nafas dalam-dalam, tangannya memegang tangan Nina.


“Tidak Nin, aku sudah ada di sini, jadi aku tidak boleh mundur” Biru meyakinkan. Seburuk apapun yang akan terjadi ke depannya, Biru sudah siap dengan segala resikonya.


“Aku percaya ini bukan hanya kebetulan semata, ini takdir yang harus kamu jalani Bi. Dan percayalah jika takdir itu tidak ada yang buruk, karena sudah diatur” Jiwa bijaksana Nina keluar, Biru merasa teduh mendengar Nina.


“Makasih Nin” Biru berdiri dari kursinya lalu memeluk Nina erat.

__ADS_1


Akad nikah akan dilaksanakan sebentar lagi, Mita dan Nina buru-buru merapikan barang-barang bekas make up yang berserakan di sudut kamar. Setelah mendandani Biru, mereka juga ikut berdandan.


***


Sementara di kamar lain, Demian membetulkan dasi Langit agar terlihat lebih rapi. Langit nampak gagah seperti biasa, dia memakai jas warna putih.  Persis seperti pengantin sungguhan.


“Aku kaget saat kamu memutuskan dia yang akan menjadi istrimu” Demian selesai membetulkan dasi Langit.


“Rencana itu datang begitu saja saat melihat dia datang ke kantor, dia tidak terlalu buruk kan? Gadis aneh yang keras kepala itu”.


“Ya…dia manis, semoga saja tidak akan merepotkanmu suatu saat nanti” Demian tersenyum.


“Dia sudah ada di genggamanku, hanya setahun, selanjutnya biar ini menjadi kenangan”


“Jangan sampai Tania tahu” Demian mengingatkan.


“Itu tugas kamu, jangan sampai hari ini bocor ke media” Langit memperingatkan balik ke Demian. Kalau sampai hal ini bocor ke media, maka semua akan runyam. Ini adalah salah satu alasan mengapa pernikahan dilakukan


 ***


Ceklek….


Pintu terbuka, Nyonya Ma masuk kamar Langit. Demian pamit untuk keluar dan memberikan mereka kesempatan untuk berbicara empat mata.


Nyonya Ma berdiri di depan Langit, melihat putra yang dari usia 4 tahun sudah bersama dia, dia yang membesarkan Langit, kini laki-laki itu akan menikah.


“Kamu sudah besar dan kamu sudah menentukan pilihan, kali ini Mama tidak bisa melakukan apapun” Ujar Nyonya Ma sambil memegang tangan kanan Langit. “Mama harap kamu tidak main-main kali ini” Nyonya Ma menatap mata

__ADS_1


Langit dengan tajam, ucapannya mengandung ancaman. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Langit.


“Mama, terima kasih karena Mama sudah mau menjaga dan merawatku hingga detik ini, aku yakin pilihanku kali ini tidak akan salah. Dan aku ingin Mama Tahu, Aku tidak pernah mengusir Mama setelah ini, Mama boleh tinggal di sini”


“Tidak, Mama akan tetap tinggal di luar negeri setelah ini, Mama sudah tua, Mama ingin menikmati masa tua Mama dengan tenang di sana. Sekarang saatnya kamu yang meneruskan mendiang Papamu. Jadilah pria yang bertanggung jawab” Nyonya Ma melepaskan pegangan tangannya lalu keluar dari kamar Langit.


***


Hanya ada sekitar 10 orang yang ada di rumah ini sekarang, meja untuk akad nikah sudah siap. Semua serba putih, bunga yang menghiasi meja juga berwarna putih. Diam-diam Langit meminta Demian untuk mendekor ruang sederhana dengan nuansa putih.


Baginya, ini adalah salah satu mimpinya, bisa menikah dengan nuansa serba putih. 2 hari yang lalu dia juga mengutarakan untuk Biru agar mengenakan kebaya dengan warna yang sama. Meskipun awalnya Biru menolak, tapi akhirnya dia menyerah dan menurut dengan apa yang diinginkan Langit.


“Saya terima nikah dan kawinnya Mawar Biru binti Ismail dengan mas kawin seperangkat perhiasan dibayar tunai” Hanya sekali tarikan nafas, Langit dengan lancar mengucapkannya.


“Sah..sah” suara para tamu dan saksi serempak. Biru hanya diam dari tadi, seolah tidak sadar dengan apa yang terjadi saat ini. Benarkah kini dia menjadi istri orang? Benarkah dia menjadi istri dari orang yang baru dikenalnya


seminggu lalu. Biru ingin menepis kenyataan ini, tapi sayangnya ini benar-benar nyata.


Nina dan Mita menikmati hidangan yang tersedia di meja taman, Biru menyusul kemudian setelah melepaskan beberapa atribut yang tadi menghiasi rambutnya. Biru mengambil makanan dan makan dengan lahapnya. Sementara Langit dan Demian duduk di kursi berbeda, Nyonya Ma sudah pamit undur diri setelah akad nikah dilakukan.


“Pelan-pelan saja Bi” Nina mengingatkan, Biru makan dengan lahapnya seperti sudah 3 hari tidak makan.


“Aku stress, biar stressku hilang” Biru menjawab sekenanya. “O ya…Roy kemana kok dia nggak ikut?”


“Roy lagi sakit, nggak bisa kesini, dia titip salam buat kamu, semoga langgeng, sakinah, mawadah warohmah” Ujar Nina sambil terkekeh. Mita ikut tertawa, hingga Langit dan Demian yang sedang mengobrol mengalihkan pandangan ke ketiga gadis itu.


“Gila si Roy” Ujar Biru “Untung saja nggak ikut kesini, kalau sampai ikut kesini, bakalan nggak berhenti dia bicara” Biru bersyukur, Nina tertawa mendengar gerutu Biru. Begitulah Roy dan Biru, selalu saja memperdebatkan hal yang tidak penting saat bertemu.

__ADS_1


Hari sudah hampir sore, Mita dan Nina pamit untuk pulang. Mereka bertiga berpelukan erat, Biru merasa belum siap untuk tinggal di rumah ini sendirian tanpa mereka. Akhirnya Biru melambaikan tangan kepada Nina dan MIta.


“Besok aku ke tempat kalian” teriak Biru di depan pagar. Biru baru masuk ke dalam rumah selepas Nina dan Mita menghilang dari pandangannya setelah naik taksi online.


__ADS_2