
Biru membersihkan lapak singkongnya, sudah 2 hari tidak digunakan untuk berjualan. Suasana selepas gerimis membuat jalanan sepi, tapi Biru tidak peduli dan tetap berjualan. Nina datang membawa box berisi barang dagangan. Setelah selesai membersihakan, Biru dan Nina menata singkong beserta alat-alat yang digunakan untuk menggoreng.
“Gimana cara bayar biaya rumah sakitnya Mita ya Bi?” Nina menghela nafas panjang.
“Kalau malam ini dapat 10 juga Nin, pasti kita bayar” Urai Biru sambil tertawa, seharian otaknya berfikir keras bagaimana bisa mendapatkan uang untuk membayar biaya rumah sakit, mau hutang ke Pak Aldo juga sudah tidak
memungkinkan, yang ada bisa-bisa dia malah mati sebelum bilang pinjam uang.
“Kejual semua plus gerobaknya saja tidak mungkin dapat” Nina menggerutu.
“Berdoa saja jualan kita laris manis biar setidaknya kita bisa mencicil biaya rumah sakit Mita” Biru memungkasi percakapan tentang Mita.
Terdengar derap kaki mendekati gerobak mereka, Biru bersiap menyambut, mulutnya menganga melihat siapa yang datang menghampiri. Bukan pelanggan yang menginginkan singkong gorengnya.
“Siapa Bi?” Nina baru saja kembali dari belakang, ikut tekejut melihat orang yang datang. Aldo dan anak buahnya datang menghampiri gerobak dagangan Nina dan Biru. Musibah tambahan yang datang tidak tepat waktu sama
sekali.
“Mampus kita Bi” Nina berbisik di telinga Biru, lalu memandang Aldo sambil tersenyum yang dimanis-maniskan, berharap Aldo bersikap lunak. Aldo yang berdandan khas pakai topi koboy memandang Biru dan Nina dengan tatapan bengis, tangan kirinya memainkan kumisnya.
“Kalau datang untuk berhutang, kalian bersikap manis, kalau ditagih tidak pernah menggubris” Aldo menggebrak gerobak mereka. Nina berjingkat, begitu juga dengan Biru. Kali ini tidak ada cowok berjas hitam dan dada bidang
yang bisa digunakannya untuk menyembunyikan diri. Biru menepuk dahinya, mengapa ingatannya melayang kepada Langit si cowok sombong itu.
“Beri kami waktu Pak, kami belum punya uang, kami baru dapat musibah, teman kami masuk rumah sakit beberapa hari lalu” Biru mencoba melobi. Tapi tatapan mata Aldo masih saja melotot seolah mau copot. Biru semakin bergidik, Nina memegang lengan Biru ketakutan.
“Aku tunggu sampai besok sore, kalau kalian tidak melunasi hutang-hutang kalian. Maka kalian berdua harus mau bekerja sama dengan usaha kita!!” Gertak Aldo.
“U…usaha apa Pak?” Tanya Nina, suaranya semakin terdengar bergetar.
__ADS_1
“Usaha yang sangat menghasilkan” ujar Aldo lalu semua anak buahnya tertawa terbahak-bahak.
“Besok aku lunasi semua hutangnya, jangan ganggu kami atau mencoba memaksa kami untuk pekerjaan kotormu” Biru mencoba terlihat berani, kali ini suaranya tegas dan sorotan matanya tidak menunjukkan rasa takut.
Aldo dan anak buahnya semakin keras tertawa, masih memainkan kumisnya dengan tangan kirinya, tangan kanan Aldo mencoba memegang dagu Biru. Sebelum sampai menyentuhnya, Biru menepis tangan Aldo dengan cepat.
“Kalian pasti sangat menghasilkan” Aldo tertawa lalu berbalik, memberikan kode anak buahnya untuk kembali.
Selepas Aldo dan anak buahnya pergi meninggalkan mereka, Nina terduduk lemas di lantai sambil memegang kepalanya, Biru memberikannya air minum supaya Nina lebih tenang.
***
“Ternyata, aku bisa menemukan si Kuning” Suara cowok yang ada di depan gerobak memaksa Biru dan Nina mendongak ke arah sumber suara.
“Bi….malaikat datang” Nina tersenyum meringis sambil menyenggol lengan Biru, Biru berdiri berhadapan dengan Langit dan gerobak berada di tengah-tengah mereka. Langit tersenyum, malam ini dia datang tanpa mengenakan
jas hitam yang rapi. Penampilannya tak kalah memukai walau hanya mengenakan setelan celanan jeans dan kaos warna putih pendek.
“Kenapa datang kesini?”
“Untuk melakukan kerja sama dengan kamu” Langit mendekatkan wajahnya ke wajah Biru.
“Aku tidak mau” Biru masih berkeras.
“Kutunggu besok di kantor” lalu Langit meninggalkan mereka berdua tanpa berbicara apa-apa lagi.
***
Langit dan Demian sedang berdiskusi serius di dalam ruangan Langit. Langit begitu yakin jika gadis aneh yang dia temuai semalam akan datang menemuinya ke kantor hari ini. Setidaknya urusan yang awalnya dirasa sepele itu
__ADS_1
akan segera berakhir, dan proyek besar akan segera berjalan sesuai rencananya.
“Kamu yakin?” Tanya Demian, dia tidak yakin jika gadis itu akan datang kesini. Bagi Demian, gadis itu keras kepala dan berbeda dari para penghuni gedung tua tersebut, bahkan dia tidak tergiur sama sekali dengan tawaran kompensasi.
“Jangan meremehkan diplomasi Langit” Langit tertawa sinis. Kali ini dia sangat yakin gadis aneh akan datang dan menyetujui negosiasinya.
“Kamu sudah tahu kalau Nyonya akan kembali ke Singapura minggu depan?” tanya Demian, Nyonya yang dimaksud adalah Ibu tiri Langit. Sejak Ayahnya meninggal, segala tampuk perusahaan dia yang menjalankan.
“Iya aku tahu, bahkan Mama lebih licin dari belut, gila nggak sih?”
“Maksud kamu?” Demian mengernyit.
“Berdasarkan wasiat Bokap, Aku bisa menjadi pemilik Gala Group seutuhnya jika aku menikah di usia 25 tahun. Dan itu harus, aku yakin Nyokap yang mengatur semua ini sebelum Bokap meninggal” Langit menatap jendela luar.
“Tidak ada yang sulit buat Langit Gala Mahendra” Demian yakin jika temannya itu pasti banyak yang menyukai. “Tania Bro” Demian menyebut nama Tania, Tania adalah pacar Langit yang sedang melanjutkan pendidikan di luar negeri.
“Mengapa aku sebut nyokap licin? Nyokap tahu aku pacaran dengan Tania,umurku saat itu 20 tahun kala itu nyokap tahu juga kalau Tania bukan dari golongan orang yang mampu. Lalu nyokap merencakanan memberikan beasiswa ke luar negeri dari sekolah yayasan Gala Group. Dan untuk lulus dari sana, kamu butuh waktu setidaknya 6 tahun. Coba hitung umurku sudah berapa?”
Demian menghitung dengan jari, saat ini usia Langit sudah 25 tahun. Sementara Tania masih kurang setahun untuk lulus dari sekolahnya.
“Kamu nggak bisa nikah sama Tania” Demian memberikan kesimpulan.
“Iya, nyokap memang hebat dalam mempersiapkan sesuatu, aku saja tidak menyangka”
“Kamu bisa memilih model gadis seperti apa yang kamu inginkan, jangan khawatir. Menikahlah pura-pura, dan nantinya kamu akan tetap bersama Tania. Tepat setahun kalian menikah, kalian cerai dan kamu bisa menikah dengan Tania” Demian memberikan ide, Langit menatap Demian. Bukan ide yang buruk baginya, tapi bagaimana mencari gadis yang seperti itu?.
“Kamu kan baru belum pernah keluar selama di sini, bagaimana kalau malam ini kita pergi dan melancarkan apa rencana kamu, ingat Bro, usia 25 mu sebentar lagi, akan aku perkenalkan dengan gadis-gadis cantik buat kamu” Imbuh Demian.
“Apa tidak terlihat seperti penjahat kalau seperti itu?” Langit mempertimbangan image, bagaimanapun dia masih punya hati nurani.
__ADS_1
“Uang yang bicara Bro”
Suasana hening, Langit memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan. Demian pamit keluar untuk menyelesaikan pekerjaannya.