
Nina dan Biru terpaksa tidak membuka lapak jualan malam ini, mereka berjaga bergantian. Kali ini Biru yang menjaga Mita, sedangkan Nina pulang untuk mengambil untuk mandi. Biru merogoh sakunya, mencari kartu nama yang diberikan oleh cowok Mita tadi sore. Dicarinya hingga ke saku yang sebelahnya, tidak ditemukan.
“Hah bodoh amat, paling dia penipu, apa yang tidak bisa dilakukan oleh penipu macam dia?” Biru menggumam. Dilihatnya wajah Mita, masih sama, belum ada tanda-tanda akan siuman, tapi denyut jantungnya stabil di monitor.
“Mit…jujur ya aku nggak suka kamu suka bohong, entah itu bohong denganku aku dengan Nina. Kita sahabat sejak lama, aku selalu percaya kamu, tapi kamu bohong. Tapi dalam hati aku sayang kamu Mit. Aku sedih kamu seperti
ini, percayalah, aku akan buat perhitungan ke pacarmu yang penipu itu. Harusnya kamu bilang siapa pacar kamu, kamu kenalkan ke kita, biar kalau ada apa-apa kita bisa bantu kamu. Tapi…tak apa, aku sudah menemukannya. Dan aku akan menuntut keadilan buat kamu” Biru memegang tangan Mita. Mita seperti halnya orang tidur, beberapa kali Biru menguap dan akhirnya telungkup di ranjang tempat Mita berbaring.
Tangan Mita bergerak gerak perlahan, matanya juga perlahan terbuka. Mengamati sekitarnya, infus yang menancap di tangannya, suara monitor jantung di sebelah kirinya. Dan Biru yang tengah tertidur menjaganya.
Biru terbangun saat merasa rambutnya ada yang memegang, perlahan membuka matanya. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Biru mengucek mata dengan punggung tangannya.
“Mita…” Ujar Biru perlahan. “Sebentar aku panggil dokter dulu” Biru bergegas pergi keluar ruangan untuk bertemu dengan suster jaga dan melaporkan jika pasien sudah siuman.
Tak berapa lama perawat datang dan memerika keadaan Mita, Biru meremas tangannya, wajahnya nampak bahagia karena melihat Mita sudah melewati masa kritis.
“Dokter akan kesini nanti memeriksa pasien, sekarang masih ada tindakan operasi, jadi mohon ditunggu” ujar perawat dengan ramah.
“Terima kasih sus” Balas Biru.
“Bi…” Suara Mita terdengar lirih, hingga Biru harus mendekatkan telinganya ke sumber suara.
“Iya Mit, kamu haus? Lapar? Atau ingin apa?” Biru bersemangat.
“Jangan tagih hutangku dulu ya” Ujar Mita. Biru terperanjat mendengar permintaan Mita, ingin rasanya dia menepuk pundak Mita sekeras mungkin. Tapi urung, karena Mita baru saja bertarung dengan maut.
“He dengar ya, kamu jangan bicara macam-macam dulu, aku bersyukur kamu siuman, kamu selamat. Lagian kenapa sih kamu minum racun serangga? Meskipun ini cuma air putih” Biru mengangkat botol air minum kemasan di depannya. “Tapi ini jauh lebih nikmat dibanding dengan racun serangga, ada-ada aja kamu” Biru meneguk air tersebut hingga tandas.
“Aku…”
“Aku sudah tahu masalah kamu dari Nina, hanya gara-gara cowok hidupmu jadi seperti ini, menyedihkan sekali. Tapi tenang, aku akan menghukum pacar kamu yang sialan itu” Biru mengepalkan tangannya dan memasang muka
__ADS_1
bengis.
***
Biru meninggalkan Mita sendirian di kamar perawatan, perutnya keroncongan sepagi ini. Akhirnya dia memutuskan untuk membeli makanan di kantin rumah sakit yang terletak di depan area rumah sakit. Diliriknya jam dinding yang ada di ruang depan rumah sakit, masih jam 6 pagi. Biru beberapa kali menguap.
Setelah memesan makanan dan minuman, Biru duduk tempat agak pinggir, sehingga dia bisa melihat orang lalu lalang di halaman rumah sakit. Seseorang mendekatinya, tidak asing. Cowok tinggi dan berpakaian rapi, berjas hitam lagi. Tapi Biru yakin kalau itu bukan jas yang kemarin dipakai oleh cowok itu. Biru menghentikan aktivitas makannya, cowok itu berdiri di depan meja makan Biru sambil memasukkan tangan kanannya di saku celana.
“Bagus kamu sadar diri, dan akhirnya datang kesini, ayo ikut aku” Biru menarik tangan Langit yang tadi ada di dalam kantong celana.
“Mbak…mbak…” teriak penjaga kantin memanggil Biru, Biru menghentikan langkahnya.
“Ada apa Mbak? Ini urusan penting” Ujarnya semangat, terlebih lagi perutnya sudah terisi, kantuknya pun hilang.
“Mbak belum bayar mbak” Imbuh penjaga kantin itu. Biru mengerjab, sontak melepaskan tangan Langit. Lalu merogoh saku celananya dan kembali ke meja kasir membayar makanannya. Terlihat dari tempat Biru berdiri, Langit tertawa geli.
“Ayo ikut” Biru kembali menyeret tangan Langit.
“Dengar ya…gadis aneh”
“Biru…namaku Biru”
“Aku nggak peduli, mau namamu Pink, merah, putih, hitam, terserah. Aku kesini hanya memastikan kalau aku bukan pacar teman kamu itu. Aku kenal dia hanya sebagai perantara saja. Jika kamu melihat aku bersama dia tempo hari itu, itu karena aku ada urusan bisnis dengan dia”
Biru mengedipkan matanya, perlahan pegangan tangan langit mengendur dan akhirnya terlepas. Kini mereka tidak saling berhadapan. Biru memijit pergelangan tangannya yang terasa agak sakit.
“Aku hanya ingin tahu keadaan teman kamu dan akan kupastikan jika aku bukan penipu sama seperti apa yang kamu tuduhkan”
“Kalau kamu bukan penipu, kenapa kamu sepagi ini sudah memakai pakaian serapi ini? Jam kantor masih nanti?” Biru masih saja curiga dan mencari alasan kuat bahwa apa yang dia katakan itu benar.
“Hei, jangan sampai rezeki kamu dipatok ayam. Tidak ada yang salah jika harus pagi-pagi mempersiapkan diri pergi ke tempat kerja” jawab Langit.
__ADS_1
Mereka telah sampai di ruang perawatan Mita, Biru membuka pintu. Dilihatnya Mita sudah terbangun dan duduk sambil menonton TV. Keadaan Mita sudah sangat jauh lebih baik dan semua alat sudah mulai dilepas menjelang
subuh, tinggal infus saja yang masih terpasang.
“Lihat dia, untung dia kuat” Biru menunjuk Mita. Mita melihat kedatangan Biru dan Langit dengan sedikit tatapan heran.
“Kalian saling kenal?” Tanya Mita ingin memastikan. Biru menatap Mita lalu Langit, dan kembali menatap Mita.
“Dia pacar kamu kan Mit?” Tanya Biru dengan percaya diri.
“Hah? Pacar?” Mita terkejut. “Maaf Pak” Ujar Mita sambil menunduk malu melihat Langit.
“Tolong jelaskan ke teman kamu ini, bikin repot saja” Langit melipat kedua tangannya di dada. Dia merasa menang.
“Bi…kamu apa-apaan sih? Bukan, dia bukan pacar aku” Mita berbisik lirih sambil melirik Langit. “Hi…maaf ya Pak” Mita kembali meminta maaf.
“Apa maksud kamu? Kamu jangan takut untuk mengakui kalau dia pacar kamu. Kamu harus nuntut dia atas kelakuan dia selama ini” Biru masih saja belum terima dengan pengakuan Mita.
“Bi…dia itu, sebentar…kamu tahu nggak kalau gedung tempat tinggal kamu itu akan segera dibangun jadi pusat bisnis?”
“Lalu?”
“Nah itu dia bos dari segala bos proyek itu” Mita masih sambil berbicara lirih. Langit manggut-manggut dari jarak yang agak jauh dari mereka berdua. Tapi dia paham apa yang dibicarakan Mita pada gadis aneh itu.
“Apaaaaa? Jadi dia yang berniat mengusirku dari tempat itu?” Biru menoleh ke arah Langit. “Dan bahkan dia jauh lebih kejam dari sangkaan penipu yang kualamatkan padanya sebelum ini” Biru menatap Langit dengan mimik wajah marah.
“Eh…tunggu dulu Bi…ada kompensasinya” Mita buru-buru menenangkan.
“Ow jadi kamu lebih memilih dia daripada persahabatan kita, kamu lebih milih uang?” Biru berkacak pinggang.
“Ok kalian silahkan lanjutkan pembahasan hangat kalian, aku pergi dulu. Sekarang sudah jelas” Langit melambaikan tangan ke kedua gadis yang sedang berdebat itu sambil tersenyum bahagia”
__ADS_1