Langit Biru Love Story

Langit Biru Love Story
Part 15


__ADS_3

Biru bergegas mempercepat tarikan gas motornya, langit semakin terlihat gelap. Dia lupa tidak membawa jas hujan di dalam jok motornya. Tidak memprediksi jika mendung begitu gelap dan akan turun hujan. Gerimis kecil mulai


turun, Biru semakin mempercepat laju motornya, jiwa pembalapnya keluar menyusuri jalan menuju rumah Langit.  Namun hujan mulai turun dengan derasnya kali ini, Biru menepikan motornya di dekat halte. Lalu dia berlari untuk berteduh, ada beberapa orang yang berteduh juga di sana. Biru berdiri bersama beberapa orang, tangannya bersedekap menahan dingin. Selain tidak membawa jas hujan, dia juga tidak memakai jaket, hanya mengenakan kaos lengan panjang baginya cukup.


Langit masih saja gelap setelah sekitar 15 menit dia berteduh, ada beberapa orang yang memutuskan naik bus, ada pula yang memesan taksi online untuk segera sampai di rumah tanpa harus terkena air hujan. Biru melirik jam


tangannya, sudah hampir maghrib. Jika menunggu hujan reda, sepertinya dia akan sampai berjam-jam lamanya di sana. Akhirnya Biru memutuskan untuk pulang meskipun hujan masih sangat deras.


Biru menembus derasnya hujan dan genangan air yang ada di jalan raya, jarak pandang hanya beberapa meter karena air hujan sangat deras. Biru sudah basah kuyup terkena hujan. Beberapa kali dia mengusap wajahnya untuk


menepis air hujan. Harusnya dia pulang lebih awal, karena keasyikan ngobrol dengan Nina dan Mita, dia lupa jika hari gelap karena mendung.


10 menit kemudian Biru sampai di rumah Langit, Biru menuntun motor menuju garasi, dilihatnya garasi, belum ada tanda-tanda kedatangan Langit. Karena mobil yang ada di garasi hanya satu. Mobil yang biasanya dikendarai Langit belum ada.


Biru mengibaskan tangannya sebelum masuk rumah, berharap air mengalir yang ada dari bajunya tidak terlalu mengotori lantai rumah saat dia masuk. Dikira sudah cukup, dan dia merasa sudah sangat kedinginan, Biru masuk rumah sambil menyalakan lampu rumah di setiap ruang yang dia lewati.


Selepas mandi dan menjalankan shalat, Biru kembali masuk ke dalam ruang-ruang yang masih gelap untuk menyalakan lampu. Dia masih mengenakan mukena, enggan dia lepaskan karena dia merasa kedinginan.


“Sudah jam segini mengapa dia belum kembali? Apa dia lembur lagi? Atau dia tidak berani pulang karena hujan?” Biru mengintip di balik jendela, hujan masih saja turun dengan lebatnya.

__ADS_1


Biru melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar, setelah sampai di depan pintu kamarnya dia tidak segera masuk. Dia menoleh ke arah pintu kamar Langit, sejenak dia berfikir lalu memutuskan masuk ke dalam kamar Langit untuk mengerjakan sesuatu. Dia ingin tidurnya tidak terganggu lagi dengan kedatangan Langit yang tiba-tiba menguasai ranjangnya. Dia tidak sanggup harus berbagi ranjang dengan langit.


***


Hampir pukul 23.00, Langit baru tiba di rumah. Dia kembali lembur malam ini, banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan malam ini juga. Langit bergegas keluar dari mobil dan membuka pintu. Tanpa menoleh ke segala arah,


Langit segera memegang gagang pintu dan mendorongnya, Dia melewati dapur, seperti biasa dia melirik ke arah meja makan.


Langit meletakkan tas kerjanya di atas kursi, lalu melepaskan jas dan melonggarkan kancing kemeja di area pergelangan tangannya, lalu mencuci tangannya. Mendekati meja makan, dia mengirup aroma makanan yang lezat.


Cacing di perutnya memberontak, ingin segera dia makan menikmati makanan yang tersaji di meja makanan. Seperti biasanya, saat lembur di kantor, dia sudah tidak ingat untuk makan malam. Yang ada di pikirannya hanya kerja dan kerja dan ingin segera menyelesaikannya.


Beruntungnya dia, tanpa memberitahu jika dia akan lembur, Biru sudah menyiapkan makan malam untuknya. Baik juga gadis itu, pikirnya. Meskipun tingkahnya yang garang, hatinya baik mau menyiapkan makanan untuknya.


air minum yang ada di dispenser.


Langit meletakkan sendok di atas piring, makanan sudah tandas. Dia lupa mengambil air minum sebelum makan. Dia berdiri berbalik, Betapa terkejutnya melihat apa yang ada di depannya, jantunya berdetak dengan cepat,


matanya melotot melihatnya. Gelas yang di tangannya hampir saja jatuh ke lantai.

__ADS_1


Biru tak kalah terkejut melihat Langit terkejut, dia tidak bermaksud mengejutkan Langit. Nafas mereka sama-sama memburu.


“Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?” Tanya Langit, dia mengatur nafasnya. Melihat Biru dengan mukena membuatnya ingin pingsan, tidak ada derap langkah yang dia dengar sebelumnya, tiba-tiba sosok Biru dengan mukena putih ada di depan matanya saat dia berbalik.


“Maaf, aku nggak sengaja, aku diam-diam jalan agar tidak mengagetkanmu” Biru merasa bersalah. Dia tahu jika Langit suka terkejut dengan keadaan seperti ini, terlebih suasana setelah hujan seperti ini.


“Lain kali kamu bisa bicara, panggil nama atau memberikan kode apa gitu, untung aku nggak pingsan” Langit sedikit kesal. Biru beringsut memberikan tempat kepada Langit untuk mengambil air minum.


“Iya maaf” Biru mengulangi permintaan maafnya. “Oya, aku mau tidur lagi, dan jangan ganggu aku lagi, jangan masuk kamarku sembarangan” Biru memperingatkan.


“Hei” Langit sedikit berteriak, Biru sudah pergi meninggalkannya tanpa mempedulikan teriakannya. Langit meletakkan gelas di meja makan, mengambil tas dan jasnya lalu pergi ke kamar untuk istirahat.


Langit melepaskan bajunya, meskipun cuaca sedang dingin, dia memutuskan untuk mandi agar bisa tidur dengan keadaan bersih, hal tersebut menunjang kenyamanan tidurnya. Agak parno juga tidur dengan keadaan seperti ini. Sesaat sebelum masuk kamar mandi, Langit memperhatikan sebuah benda yang ada di meja samping kamarnya. Ada sound system kecil yang tertata di sana. Langit mengambil secarik kertas dan membaca tulisan tangan tersebut.


Jangan menganggu tidurku, jika kamu takut, kamu mendengarkan lagu di sini.


Langit menyimpan kertas tersebut di laci meja di bawah sound system, tersungging senyum di sudut bibirnya. Dia segera masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Setelah mandi, Langit mengganti baju dengan piyama. Direbahkan tubuhnya di atas ranjang, tangannya meraih tombol on pada pemutar musik yang sudah dia setel dengan volume tidak terlalu keras. Didengarkannya musik yang berirama kalem, dia memejamkan mata sambil merapatkan selimut. Dia berkonsentrasi mendengarkan musik, tak berapa lama dia tertidur dengan lelapnya.

__ADS_1


Obat tidur ampuh yang tidak pernah dia fikirkan sebelumnya, jika cuaca sedang hujan dan tengah malam belum tidur juga, pikiran-pikiran negatif Langit muncul menganggu kenyamanannya. Ada hal yang membuatnya seperti itu,


hingga kini dia belum berhasil mengikis rasa traumanya. Hingga akhirnya Biru membuat tidurnya lebih nyaman kali ini, dia tidak merasa takut walau harus tidur sendirian.


__ADS_2