Langit Biru Love Story

Langit Biru Love Story
Part 7


__ADS_3

Semalam suntuk Biru memikirkan hal apa yang akan dilakukan hari ini, kakinya terasa berat, begitu juga hatinya jika harus datang ke kantor cowok sombong nan menyebalkan itu. Tapi tidak ada pilihan lain, dia merasa terjebak dengan keadaan ini.


Biru turun dari ojek online tepat di halaman sebuah gedung yang menjulang dengan tulisan super besar “GALA GROUP”. Biru memejamkan mata dan menghela nafasnya, mengumpulkan segala mental untuk bertemu dengan cowok itu.


Setelah menunggu di ruang tunggu tamu, Biru diantar oleh resepsionis tepat di depan pintu ruangan Langit. Hanya sekali mengetuk, resepsionis wanita muda tersebut membuka pintu dan menyuruh Biru untuk masuk.


Nampak agak ragu Biru melangkahkan kakinya memasuki ruangan, tak berapa lama wanita muda itu menganggukkan kepala lalu keluar dan menutup pintu. Dilihatnya cowok nyebelin itu sedang berbicara di telpon. Biru masih terdiam sesaat di dekat pintu menunggu hingga Langit selesai berbicara di telpon.


Langit menutup percakapan lalu meletakkan HP di atas meja, matanya berbinar melihat siapa yang datang di ruang kerjanya. Cewek aneh dengan dandanan seadanya saat masuk ruangan pemilik Gala Group. Jelana jeans, kaos


dipadu outer dan sepatu kets, rambut hanya dikuncir sekenanya. Sejenak Langit menatap tampilan Biru dari atas hingga bawah. Gadis itu memang unik, pikirnya.


“Hai…Hijau” kali ini Langit memanggil Biru dengan panggilan hijau. Biru mengehela nafas lalu berjalan mendekat. “Silahkan duduk” Langit mempersilahkan Biru duduk di kursi depan mejanya.


“Senang sekali rasanya pagi ini kedatangan tamu istimewa” Langit meledek, Biru semakin sebal melihat cowok itu. Tapi dia menuruti perintah Langit untuk duduk di kursi yang dimaksud.


“Jangan bertele-tele, aku datang hanya untuk bernegosiasi”


“Negosiasi? Kata yang bagus, oke kita bisa mulai” Langit mengeluarkan lembar untuk ditanda tangani Biru.


“Aku mau uanganya sekarang” Biru langsung ke topik bahasan.


“Nggak sabaran banget jadi cewek, detik ini bisa aku kabulkan” Langit berbicara dengan sombongnya, Biru tidak peduli. Dia hanya ingin uanganya dan segera pergi. Dia tahu, kali ini dia merasa kalah telak, bukan karena tidak


bisa mempertahankan idealismenya, tapi karena keadaan. Hari ini Mita harus keluar rumah sakit, dan hari ini pula dia harus melunasi hutang Aldo. Dia benar-benar butuh uang.


“Tapi ada syarat yang harus kamu penuhi sebelum aku tanda tangan ini” Biru mengangkat lembar kertas persetujuan.


“Sebutkan!” tanpa ragu Langit menyuruh Biru mengatakan apa syarat yang ingin dia ajukan kepadanya.


“Kompensasi buat orang-orang juga harus sama dengan kompensasi yang aku terima” Biru tersenyum sambil meletakkan kertas tersebut di atas meja. Sejenak Langit berfikir tanpa menjawab.

__ADS_1


“Ok, kita deal. Tapi aku juga punya syarat”


“Apa lagi? Bukannya kita sudah deal?” Biru menatap Langit tajam.


“Tenang, kamu jangan marah dulu. Syaratku mudah banget, dan aku bakalan kasih lebih ke kamu, tanpa mengurangi kompensasi untuk yang lainnya. Gimana?” Langit melakukan negosiasi lagi. Biru berfikir sejenak, apa lagi yang akan dilakukan cowok  nyebelin itu terhadapanya. Sudah kepalang basah, Biru ingin tahu hal apalagi yang diinginkan cowok nyebelin itu.


“Apa?”


“Kamu jadi istriku” ujar Langit enteng. Biru tercekat, telinganya masih niomal saat mendengar kata itu.


“Kamu jangan kaget dulu, istri sementara…ehm apa ya namanya, istri kontrak”. Langit menceritakan keadaan yang sedang dia alami, Biru mendengarkan cerita tersebut sambil sesekali mengernyitkan dahi dan memijat kepalanya. Tidak terbayangkan sebelumnya dalam hidupnya jika akan menghadapi situasi seperti ini.


“Kapan kamu berumur 25 tahun?” tanya Biru sedikit ragu, jantungnya berdetak lebih cepat kali ini.


“Seminggu lagi, jadi 3 hari lagi kita harus menikah jika kamu menyetujui perjanjian kita”


Biru tercekat, jantungnya semakin berdegup lebih kencang dari yang tadi. Kepalanya mendadak pusing, mungkin dia sedang bermimpi kali ini. Diam-diam dia mencubit tangannya sendiri, namun terasa sakit. Itu tandanya dia


Impiannya menikah dengan cowok idamannya di tempat yang istimewa mendadak buyar seketika, setelah setahun dia akan menyandang gelar janda. Dan setelah itu hal apa lagi yang akan menerpa hidupnya, dia bergidik membayangkan.


“Jangan terlalu dibuat berat, kita permudah saja, nanti kamu malah stress sendiri” Langit menenangkan. Rencana untuk melakukan pernikahan kontrak dengan gadis aneh itu muncul dengan tiba-tiba. Dia rasa, ini momen yang pas


tanpa harus melibatkan Demian atau lainnya dalam rencananya. Tidaklah buruk jika harus menjadi duda setelah menikah dengan gadis aneh itu, dia nampak manis kalau diperhatikan. Langit tersenyum melihat Biru, Biru agak salah tingkah lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


***


“Apaaaaa?” teriak Nina dan Mita hampir bebarengan saat mendengar Biru menceritakan semuanya kepada mereka perihal pertemuannya dengan Langit hari ini.


“Jangan teriak, kupingku masih normal” Biru memandang kedua sahabatnya itu. Nina dan Mita masih dalam keadaan shock tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “Kamu juga Mit, jangan buat ulah lagi dan menyebabkan kita terlilit hutang lagi” Biru menatap Mita, Mita salah tingkah dan tersenyum lalu memegang tangan Biru.


“Iya aku janji, maaf ya Bi…”

__ADS_1


Mita baru saja keluar rumah sakit, Biru juga baru saja membayar hutangnya pada Aldo. Lunas sudah segala tunggakan hutang mereka, yang harus mereka lakukan sekarang adalah mencari kontrakan yang baru.


“Kalau kamu nikah sama dia berarti kamu nggak butuh tinggal sama kita lagi Bi, biar Nina tinggal di kontrakanku saja” Mita memberikan ide, Nina mengangguk setuju.


“Kalian bicara apa?” Biru bersungut-sungut. “Kenapa kalian bahagia sekali dengan keadaanku yang seperti ini?” Biru merengut.


“Eh ini kesempatan kamu Bi…kesempatan untuk dekat dan buat dia jatuh cinta padamu” ujar Nina.


“Jangan gila ya kalian, yang harus kalian ingat, ini hanyalah kontrak, dan harus diingat juga, dia punya pacar di luar negeri, makanya setahun menikah kita harus pisah sebelum pacarnya tahu dengan keadaan ini”


“Nggak apa-apa lah Bi, siapa tahu kan. Lagian dia cowok yang baik, kalau dia nggak baik, bisa saja kamu kemarin dibawa ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik” Mita menambahi, Nina  mengangguk setuju.


“Betul itu” Nina mengangkat jempolnya.


“Kalian ini benar-benar ingin menjualku ya?” Biru merajuk.


“Enggak lah Bi, kata apa itu menjual, terlalu buruk. Ini adalah peluang, peluang emas yang harus kamu maksimalkan. Paling enggak setelah kontrak selesai, kamu bisa mengubah hidupmu, tidak seperti ini terus” Nina


menjelaskan.


Biru mengusap air matanya, Nina dan Mita kaget. Nina mendekati Biru dan memeluknya, mengusap punggungnya dan membiarkan Biru melanjutkan tangisannya.


“Maafkan kita Bi…kita sayang kamu, tidak ada maksud buruk” Nina menjelaskan. Biru menarik diri dari pelukan Nina, menatap sahabatnya tersebut bergantian. Lalu mereka bertiga berpelukan erat.


“Aku nggak bisa bareng kalian lagi” Ujar Biru masih sesenggukan.


“Kita masih bisa ketemu” Ujar Nina, matanya ikut berkaca-kaca.


“Aku nggak bisa jualan singkong lagi” Tambah Biru.


“Ya Elah Bi…nggak usah kamu fikirin, nanti kita bisa usaha yang baru setelah ini” Nina menambahkan, Mita mengangguk.

__ADS_1


Mereka berpelukan lebih erat lagi, Biru semakin tergugu, air matanya mengalir deras. Segala perasaan campur aduk menjadi satu saat ini, hanya ini yang bisa melegakan hatinya.


__ADS_2