LATE IN LOVE

LATE IN LOVE
Ep. 2 Perjanjian — Anyuna


__ADS_3

"Ketika kita menetapkan hati kita pada satu orang, bahkan jika orang itu menyakiti kita terus menerus. Kita akan berusaha agar dia tetap bahagia, walau akhirnya kita yang terluka"


— Anyuna Viandra —


.


.


Aku duduk sambil menyerup secangkir kopi original dengan tambahan satu gula berbentuk dadu kecil di taman belakang sambil menikmati indahnya melihat ikan-ikan di kolam yang tengah berkejar-kejaran satu sama lain.


Dua hari aku telah berada di sini, hanya di temani oleh tiga orang asisten yang mengurusi Masion Super Megah ini. Mereka adalah Areka, Louis, dan Bellain. Sosok Erlan bahkan tak kelihatan batang hidungnya sama sekali sejak aku di antarnya ke Masion ini. Lebih tepatnya di turunkannya di depan pintu gerbang Masion, dan aku harus berjalan kaki sekitar 150meter lagi.


Aku hanya bisa menghela nafasku, setidaknya membuat perasaanku sedikit lebih lega, karena sejak tadi begitu sesak, karena memikirkan sesuatu yang telah aku tahu jawabannya.


“Aku terlalu berharap. Padahal ini adalah keputusanku sendiri,” gumamku sambil kembali menyerup kopi. “Membosankan,” gumamku lagi.


Lagi-lagi aku menghela nafas, bagaimana tidak. Seharusnya ini adalah moment yang paling indah seperti kata teman-temanku, menikmati bulan madu, serta jalan-jalan ke luar negeri pastinya bersama suami. Mungkin, hanya akan menjadi mimpi yang tak bisa ku dapatkan.


Aku tak bisa membohongi perasaanku yang berada di dasar hati kecilku. Jika aku sedikit menyesal mengambil keputusan ini.


Waktu menunjukkan pukul 08.15am, ku ambil inisiatif untuk melakukan aktivitas seperti sebelumnya.


Mengukir senyum, dan berusaha tegar. “Aku hanya menikah, bukan tak bisa melakukan hal lain,” gumamku memberi semangat kepada diriku sendiri. “Aku akan menjadi bodoh, jika aku terus memikirkan hal yang tidak berguna,”


Aku terpaku pada ruang kamar yang masih terhias. Seharusnya di pakai untuk malam pertama, saat pernikahanku. Tapi, nyatanya tidak pernah tersentuh.


“Nyonya,” panggil Bella. “Air hangat sudah siap. Aku akan menyiapkan pakaian yang Nyonya akan gunakan,” katanya lagi sambil memberiku pakaian mandi.


Ku akui, aku tak pernah mendapatkan perhatian seperti ini sebelum aku menikah. Biasanya aku yang menyiapkan semua keperluan kakak. Bahkan sebutan Nyonya terasa begitu menyenangkan, walaupun terkesan Tua bagi diriku yang berumur 20tahunan.


Selama dua hari disini, semuanya terasa menyenangkan. Aku melakukan hal yang aku sukai, menanam bunga, memasak, dan mendengarkan cerita dari para asisten rumah tangga, yang sebelumnya tak bisa ku lakukan saat aku masih tinggal bersama Ayah dan Ibu. Aku tahu, mengapa mereka melakukan hal itu padaku, karena aku tidak pintar seperti Kakak dalam mengurusi perusahaan, sedangkan tamu Ayah selalu membicarakan bisnis.


Kamar mandi yang begitu luas, kini telah terhiasi dengan lilin aroma terapi serta kelopak mawar.


Aku bisa mencium bau susu dari dalam air yang akan aku gunakan mandi tersebut di dalam buthtub.


“Nyonya. Boleh aku masuk?” tanya Bella sambil mengetuk pintu.


“Iya,” jawab singkat sambil memejamkan mata merasakan sensasi nikmatnya merilekskan badan.


“Nyonya besar menelfon,” kata Bella memberikanku telfon.


“Nyonya besar?”


Aku terkejut, ketika mendengar gadis yang memakai baju maid itu menyebut kata Nyonya besar. Aku berfikir jika itu adalah Ibu yang ingin menanyakan bagaimana kabarku setelah menikah.


“Mertua Nyonya,” kata Bella mengingatkanku.


Nyatanya, kenyataan tidak sesuai dengan apa yang perkirakan.


“Oh, Mami...”


Mami, sebutan yang aku gunakan untuk memanggil Ibu dari Erlan—Mertuaku sendiri.


Diandra Prian, namanya. Suaminya? Cansio Dukrain—Ayah Erlan, sudah meninggal sejak Erlan masih kecil.

__ADS_1


Aku mengambil telfon dari tangan Bella.


“Ma...mi...”


Kata lirih sambil terbata-bata, karena belum terbiasa.


“Hello sayang. Are you oke?”


Suara yang begitu hangat terdengar dari seberang telfon. Air mataku tertahan di pelupuk mata, ada sebuah perasaan yang tidak bisa ku jelaskan kini menjalar di seluruh tubuhku. Tanpa sadar, air mata kini mengalir di pipiku.


“Nyonya anda menangis?” tanya Bella ketika melihat air mataku.


“Ada apa sayang? Aku dengar mereka mengatakan kau sedang menangis,”


Aku menghapus air mataku.


“Aku baik-baik saja,”


“Apa aku menyakiti perasaanmu?”


“Tidak Mami. Hanya saja, Mami adalah orang pertama kali yang menanyakan bagaimana keadaanku, dan itu membuatku bahagia,”


Aku menjawab dengan nada serak-serak basah.


“Mereka mengatakan jika kau akan pergi kerja. Apa kau baik-baik saja bersama dengan anakku?”


“Iya Mami. Erlan adalah laki-laki yang baik,”


Apa yang aku lakukan, aku berbohong pada Mertuaku sendiri dengan mengatakan jika aku baik-baik saja.


Aku hanya terdiam.


“Aku minta maaf Mami,” kataku lirih merenung kesalahanku karena telah berbohong.


“Tidak perlu minta maaf,”


Suara yang begitu hangat, penuh dengan kasih sayang. Aku bisa merasakan tiap kata yang keluar dari bibir wanita yang ku panggil Mertua itu. Aku berandai-andai, jika semua Ibu sepertinya.


“Aku harap kau bisa terus berada di sisi Erlan,”


Sebuah kalimat yang mengakhiri pembicaraan kami. Kalimat penuh makna, jika aku harus tetap mendampingi Putranya.


Aku telah memakai pakaian yang di siapkan oleh Bella sedari tadi. Aroma Vanilla dan Citrus di tubuhku bisa ku cium dengan jelas. Aroma yang ku sukai sejak dulu.


“Nyonya, aku suka wangi tubuhmu. Rasanya begitu membuat tenang,” kata Bella sambil menyisir rambutku.


“Panggil aku dengan namaku, jika kita hanya berdua. Aku tidak terbiasa dengan sebutan Nyonya,” kataku sambil melihat Bella dari pantulan cermin di hadapanku itu.


“Em. Tapi...”


“Ini perintah,” kataku.


Aku tahu, jika dia akan keberatan aku menyuruhnya memanggilku dengan namaku saja.


“Baiklah,” jawabnya dengan singkat.

__ADS_1


Bella menyisirku dengan sangat lembut, seperti aku melakukannya pada kakak dulu. Rasanya menyenangkan di sisir seperti seorang putri, cukup berdiam diri dan tidak melakukan apapun.


Brak


Sebuah suara gebrakan pintu mengejutkanku dan Bella. Suara itu, menggema di ruang kamar tempatku dan Bella berada. Aku melirik ke arah asal suara itu datang.


Sosok yang tidak asing bagiku kini berdiri di depan pintu. Pakaiannya begitu berantakan, ku kenali pakaian itu. Itu adalah pakaian yang dua hari lalu dia gunakan saat pernikahan.


Aku duduk diam sambil menatap sosok Erlan, yang sulit ku gambarkan bagaimana ekpresinya. Antara marah atau rasa tidak suka, atau rasa benci. Ataukah semua ekpresi itu menyatu dalam dirinya.


Hatiku lagi-lagi berdegup. Bagaimana tidak, melihatnya seperti itu, membuatku berfikir dia begitu seksi. Apa yang sebenarnya terjadi padaku, mengapa hal buruk yang ada pada dirinya, membuatku semakin menyukainya.


Erlan mendekat ke arahku. Hatiku semakin berdegup dengan sangat kencang dan tidak karuan.


“Aku ingin berbicara empat mata dengannya,” kata pria itu menyuruh Bella keluar.


Aku menengadah ke atas melihat wajah Erlan yang telah berdiri di depanku itu. Tatapannya begitu dalam, tajam dan dingin, tidak menghilangkan pesona seorang Erlan yang ku kenal selama ini. Wajah yang biasa hanya ku lihat dari cela jendela kini sangat dekat denganku.


“Mari kita membuat kontrak perjanjian,” katanya dengan tatapan yang sangat serius.


Hm. Dia datang dengan wajah seperti itu, ternyata ingin membuat perjanjian denganku.


Dia menuntunku ke sebuah sofa, yang di depannya terdapat meja kecil. Lagi-lagi perlakuannya membuat hatiku berdegup.


Jujur, sebelum menikah. Aku tidak pernah membiarkan laki-laki manapun menyentuhku.  Ya! Erlan adalah laki-laki pertama yang ku izinkan.


Dia mengeluarkan sebuah kertas dari arah bawa meja, dan mengambil pulpen yang terletak di atas meja. Kemudian menuliskan beberapa kalimat di secarik kertas putih.


“Aku tak ingin menikah denganmu, yang ingin aku nikahi adalah kakakmu. Tapi, akupun tidak ingin malu, karena dia kabur,” kata Erlan dengan dingin. “Apa kau tahu mengapa aku ingin menikahi kakakmu? Balas dendam,” katanya lagi, membuatku begitu terkejut hingga bola mataku membulat karena mendengar hal itu.


Mungkin kakak, telah mengetahui alasan Erlan ingin menikah. Karena itu dia memilih kabur.


“Sepertinya kau tidak tahu apa-apa. Karena itu, aku tidak ingin menyakitimu. Maka mari kita jalani pernikahan ini sebaik-baiknya. Aku mengajukan beberapa point penting dalam pernikahan ini. Pertama, kau akan tetap menjadi istri sahku, sampai aku menemukan kakakmu,”


Apa begitu dendamnya seorang Erlan pada kakak, hingga dia ingin menikahi kakak dan membalaskan dendamnya.


“Kedua, apapun yang terjadi. Kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing,”


Urusan pribadi? Apa itu? Apakah begitu banyak rahasia yang tidak aku ketahui. Hm. Pastinya.


“Ketiga, aku butuh penerus,”


Apakah dia akan mengikatku? Ataukah dia ingin memanfaatkanku? Masa bodoh dengan semua itu. Asal dia bahagia, akan kulakukan.


“Point terakhir yang tidak perlu aku tulis. Tidak boleh ada yang jatuh cinta,”


Deg!


Perkataannya menusuk dasar hatiku sangat dalam. Dia sungguh menolakku mentah-mentah. Dan, aku hanya akan memendam semuanya sendirian.


Semakin aku mengenalnya, aku semakin tak mengerti sosok pria yang pergi meninggalkanku di ruang kamar pengantin ini, sambil membawa secarik kertas perjanjian yang telah aku tanda tangani itu.


Aku memegang erat ujung gaun sepaha yang aku gunakan. Perasaan sakit hati bisa aku rasakan, air mata mengalir di pipiku tanpa sadar. Secepatnya, aku menghapusnya kemudian mengukir senyum seakan aku baik-baik saja.


To be continued 

__ADS_1


__ADS_2