
"Entah kamu tahu atau tidak, aku sebenarnya mencintaimu"
- Anyuna Viandra -
.
.
Waktu sudah menunjukan pukul 05.30am, sinar matahari remang-remang menyinari bumi tempatku tengah berpijak itu. Aku membuka penutup jendela kamar, agar sinar matahari pagi hari masuk ke dalam ruangan itu.
Aku melangkahkan kaki keluar kamar, sebelum aku turun ke lantai bawa, aku harus melewati kamar Erlan. Benar, aku tidak tidur seranjang dengannya. Miris bukan? Hehe. Aku menertawakan diriku sendiri.
Aku membuka pintu kamar itu, ku lihat dia masih tertidur, selimutnya tersingkap. Ku langkahkan kakiku ke arahnya, dan memperbaiki selimut yang di gunakannya.
Wajahnya masih saja tampan, saat tertidur. Aku tidak bisa, membuat hatiku tidak berdegup ketika wajahnya itu. Wajahnya terlihat polos seperti seorang bayi yang tengah tertidur. Sayangnya, tidak pernah ku lihat wajah itu ketika aku berhadapan dengannya saat dia bersamaku.
Ini adalah hari, terakhir aku cuti kerja. Aku menyiapkan air hangat untuknya, serta menaruh lilin aroma terapi di dekat buthtub ataupun shower, dan peralatan mandi lainnya kemudian aku turun ke lantai bawa
Terlihat beberapa maid tengah membersihkan lantai mengunakan alat penyedot debu otomatis. Hm, tidak mengherankan untuk ukuran Masion megah seperti ini memiliki alat canggih yang membantu asisten rumah tangga agar pekerjaan cepat selesai dengan mudah.
Aku membuka kulkas melihat persediaan makanan yang ingin ku masak hari ini.
“Aku ingin memasakkan sarapan untuknya,” kataku pada Bella yang sedari tadi mengekoriku.
“Tuan tidak pernah sarapan pagi,” kata Bella membuat mengeritkan dahiku.
“Benarkah?”
Pertanyaan bodoh, padahal ku tahu jika Bella telah lama bekerja di sini.
“Dia harus menjaga pola makannya,” kataku sambil memakai celemek berwarna pink.
“Tapi Nyonya...”
“Tidak apa-apa,” kataku sambil mengambil bahan makanan untuk ku masak.
Sungguh pemandangan yang membuatku kagum, semua bahan makanan di sini lengkap. Ya, aku masih terkagum-kagum padahal aku sudah melihatnya sejak pertama kali masuk ke Masion ini.
Tidak membutuhkan waktu lama untukku memasak semua makanan. Ya, tidak masalah berapa jenis makanan yang aku masak, karena aku telah terbiasa memasak saat di rumah Ayah dan Ibu.
Dengan membawa nampan berisi dengan makanan yang telah ku masak, aku naik ke lantai atas. Ku lihat pintu kamar Erlan terbuka.
“Apa aku tidak menutup pintu kamarnya saat aku keluar tadi?” gumamku dalam hati.
Ku langkahkan kakiku, masuk. Ku lihat Erlan tak ada di kasurnya, aku meletakkan makanan yang ku bawa di atas meja. Ketika membalikkan badan ku lihat pria itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk berwarna putih, terlihat mengoda tubuhnya tanpa pakaian. Dada bidang, serta perutnya yang sixpack membuat hatiku berdegup kencang.
Aku menundukkan wajah. Ini adalah pertama kali ku lihat seorang pria seperti itu, biasanya ku lihat hanya dalam drama yang ku nonton.
“Em. Aku membawakanmu sarapan,”
Aku terbata-bata karena gugup melihatnya.
“Aku...”
“Kau harus menjaga pola makanmu, mulai dari sekarang kau harus sarapan,”
Tanpa sengaja aku meninggikan ucapanku padanya, dan menyelanya.
__ADS_1
“Aku tahu, kau tidak suka sarapan. Tapi biarkan aku melakukan tugasku sebagai seorang istri. Menyiapkan keperluanmu,”
Aku masih menundukan wajahku, aku tak ingin dia tahu jika wajahku memerah.
Terdengar langkah kakinya menuju ke arahku.
“Aku akan ke lantai bawah,” kataku ingin menghindar darinya.
Grep!
Tanganku di raihnya dengan cepat.
“Bukannya kau mengatakan jika ingin menunaikan tugas seorang istri?”
“Iya. Tugasku, mengatarkan sarapanmu,” kataku dengan tergagap.
“Tapi...”
Wajahnya begitu dekat. “Aku ingin yang lain...” katanya lagi.
Oh Tuhan! Hatiku berdegup sangat kencang. Suaranya membuatku...
“Aku ingin sarapan denganmu,” katanya.
“Ahaha... Iya. Aku akan menemanimu sarapan,” kataku sambil cengegesan.
“Bukan itu,” katanya sambil memegang daguku. Membuat wajahku menengadah melihat kearahnya. “Sarapan pagi ini, aku ingin tubuhmu,” katanya.
Cup!
Tangannya menarik pinggangku agar semakin mendekat kearahnya.
Tanpa paksaan, aku memejamkan mata menikmati ciuman pagi yang di berikan oleh suamiku ini. “Aku siap melepaskannya hari ini,” kataku membatin.
“Bukankah kita pernah berciuman sebelumnya? Mengapa begitu kikuk? Aku suamimu, kau istriku. Wajar bukan melakukannya,” katanya menatapku dengan sangat dalam.
Bukan seperti itu, aku hanya takut membuat kesalahan. Aduh, aku berpikir aneh.
Tanpa ragu, aku mulai mengalungkan tanganku di lehernya. Wajahnya begitu tampan, aku seperti akan mati membeku melihat wajah tampan itu.
Dia mulai mencium bibirku kembali, begitu pelan. Mungkin dia tak ingin aku ketakutan jika dia menciumku dengan buas. Rasa hangat kini mulai mengalir, mendesir di aliran darahku, kemudian menuju dasar hatiku. Semakin berdegup hatiku. Aku rasa, pria di hadapanku ini mendengar detak jantungku.
Tubuhku seperti tengah di aliri ratusan volt listrik, ketika hembusan nafas pria yang menciumku menjadi hangat dan makin menjadi liar menciumku.
“Nggh,” aku melenguh.
Dia melepaskan ciumannya, dan mengendongku menuju ranjangnya berukuran big size. Pandangannya penuh dengan gairah, nafasnya tersengal-sengal.
“Bisa kita mulai?” tanyanya sambil membisik di telingaku.
Tubuhku bergetar hebat, ketika dia berbisik lembut di telingaku. Hari ini, aku benar-benar menjadi seorang istri yang memberikan mahkotaku pada pria ini.
Dengan lembut pria itu, mengelus pipiku, kemudian turun ke leher jenjangku. Tanpa sadar aku melenguh, membuat bibirku terbuka.
Cup!
Pria itu memasukkan menenggelamkan lidah ke dalam rongah mulutku, kemudian bermain di sana bersama dengan lidahku. Kini lidah kami berdua saling berpangutan.
__ADS_1
Sesekali di lepaskannya ciumannya, memberikanku jeda mengambil nafas banyak-banyak.
Tangannya membelai tubuh bagian belakangku, dia mencari resleting gaun santai yang aku gunakan itu.
Sret!
Suara resleting gaunku terdengar.
Ciumannya turun ke leherku membuatku melenguh, beberapa kecupan kuat, pastinya meninggalkan bekas di sana.
Satu per satu, pakaian yang ku gunakan telah terlepas, pakaian yang membuat penghalang aktifitas yang kami lakukan. Kecuali celana dalam yang ku gunakan.
“Ogh!” aku melenguh ketika dia menyentuh gumpalan kenyal di dadaku.
Kini, dia telah bermain di situ. Tangannya mulai bermain di sebelah gumpalan kenyal itu, sedangkan lidahnya bermain di sebelahnya lagi. Tubuhku beberapa kali mengeliat, ketika mendapatkan sentuhan seperti. Darahku berdesir mendapatkan sentuhan itu untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Permainannya mulai turun ke bagian perut datarku, sensasi yang tidak bisa ku gambarkan membuatku menggeliat seperti cacing, namun membuatnya ketagihan. Lidahnya bermain-main di area pusarku.
Aku merasakan jika aku berada melayang-layang, seperti kupu-kupu.
Tangannya mengusap bagian dalam pahaku. Kini jarinya bermain dibagian bawa.
“Em!”
Aku mendongkakkan wajahku, ketika salah satu jemari miliknya masuk mengesek area itu dan bermain di sana.
“Ugh!”
Aku menahan suaraku, agar tidak keluar.
“Aku...”
“Mendesahlah,” katanya.
Aku menjepit jarinya. “Oh!” suaraku tertahan.
Tubuhku bergetar hebat, nafasku tersegal-sengal. Tubuh melemas, bagaimana tidak ini adalah lonjakan pertama dalam hidupku.
Dia menghentikan aktifitasnya sejenak, kemudian menatapku dengan tatapan sayu dan mengecup pelan dahiku.
“Aku tidak akan membuatnya sakit,” katanya sambil mencium dahiku lagi.
Tatapan matanya begitu tulus, tatapan mata yang tidak pernah ku lihat sama sekali sebelumnya. Seakan dia tidak ingin menyakitiku.
“Akh... Sakit...” Pria itu berusaha menerobos pertahananku, yang menghalaginya.
Nafas kami tersengal-sengal, dan bersahut-sahutan. Membuatnya tiba-tiba kembali menindihku. Tubuhku begitu lelah, tapi begitu pasrah seakan akupun menyukai hal itu.
Aku memakai pakaianku, kemudian mencium dahinya. Untung saja, dia tengah tertidur. Aku menyelimutinya, kemudian membawa keluar makanan yang tadi ku bawa untuknya.
.
.
.
To be continued
__ADS_1