
Aku terlalu naif, menahan segala perasaan yang tengah ku rasakan. Bahkan begitu bodohnya berpura-pura baik-baik saja. Bersandiwara seakan aku tidak mengetahui apa yang tengah terjadi.
— Anyuna Viandra —
.
.
Memikirkan kejadian yang semalam, dan tadi pagi rasanya membuatku kurang tenang. Tanpa sadar aku hampir menabrak seseorang, dan membuat dahiku menjadi terluka.
Pria itu tidak berbicara apapun, saat aku bertanya tentang dirinya. Rasa perih di dahiku masih belum hilang.
"Tuan belum juga pulang..." kata Bella, saat menyambutku.
Aku mengeritkan kening, karena ku tahu dia berada di mana saat ini. Sebelum pulang, ku lihat mobilnya tengah terpakir cantik di parkiran bawah tanah.
Waktu menunjukan pukul delapan malam Aku memakai celemek dan mulai untuk aktifitas seorang istri, memasak makan malam untuknya. Setelah selesai, aku pergi menyiapkan keperluan mandi miliknya.
Rasanya apa yang aku pikirkan, membuat tubuhku begitu lelah sehingga aku memutuskan untuk mandi dan tidur setelah selesai menyiapkan segala keperluannya.
Cincin pernikahanku ku lepaskan, dan ku taruh di tempatnya semula, rasanya percuma mengunakannya saat ini. Bahkan seorang Erlan tidak mengakui di depan orang lain sebagai istrinya.
.
.
Air di bak mandi masih sama seperti semalam, sepertinya di tidak pulang. Ya, pastinya dia tidak pulang, karena marah padaku. Gadis yang aku singgung adalah kekasihnya.
Hatiku sungguh, merasa aneh hingga air mata menetes di pipiku.
Bunga yang ku taman di halaman belakang mulai tumbuh segar, seakan dia ingin menghiburku. Aku duduk sambil menyerup secangkir kopi panas sebelum berangkat kerja.
Beberapa asisten rumah, memandangiku penuh rasa iba, aku tahu apa yang tengah mereka ingin katakan padaku. Namun aku tetap menjawab pertanyaan secara tidak langsung itu dengan senyuman.
Pagi ini pun masih sama, aku melakukan hal yang sama. Memasak, dan menyiapkan air hangatnya untuk mandi, tidak lupa aku menyiapkan pakaian miliknya.
Dihargai atau tidak, aku hanya bisa mengikuti kata hatiku saja, Karena tugas seorang istri untuk suami adalah wajib.
Sebuah mobil menjemputku, pria yang di rumah sakit yang saat ini menjadi temanku. Rion.
"Tuan yang menyuruhku untuk mengantar dan menjemputmu mulai sekarang,"
__ADS_1
Aku hanya terdiam tidak menjawab, dan langsung masuk ke dalam mobil bersebelahan dengan Rion.
"Nona, soal yang kemarin..."
"Panggil namaku saja, saat kita hanya berdua, mulai sekarang kau adalah temanku," kataku sambil fokus membaca buku kedokteran yang baru saja ku beli.
"Apa kau sudah tahu tentang tuan..."
"Kau yang di pekerjakan olehnya kan, kau harus menuruti apa yang dia katakan, benar tidak?" tanyaku.
"Iya," jawab Rion dengan singkat.
"Sebagai temanku, ada beberpa hal yang tidak bisa kau katakan pada tuanmu. Termasuk, jika aku sudah mengetahui tentang keberadaan gadis itu," kataku sambil tersenyum.
"Apa kau..."
"Aku terlalu menyukai segala hal tentangnya, menikah dengannya adalah sebuah keberuntungan untukku," kataku.
"Apa kau juga tahu tentang mengapa kakak nona pergi sebelum hari pernikahan?" tanya Rion padaku.
"Aku hanya menebak, jika kakak juga mengetahui tentang kehadiran Clara," kataku.
Rion menatapku sejenak.
Kini aku mengetahui kenapa kakak pergi dan menyuruhku untuk mengantikannya. Rasanya hatiku semakin terluka, ada ribuan pisau yang tengah menyayat serta terasa mengelitik di saat yang bersamaan.
Aku terdiam, mencerna segalanya. Kemudian ku hempaskan dengan sangat kasar nafasku, ingin melepaskan segala beban yang di dalam hatiku.
"Jadi seperti itu ceritanya," kataku. "Mengapa dia sangat marah saat itu," kini aku mengerti tentang mengapa dia marah padaku. "Bahkan keluargaku mengetahuinya," kataku menatap tajam ke arah depan.
"Apa bisa membuatnya merasakan kehadiranku sedikit spesial? Aku ingin diriku sedikit spesial di hatinya," kataku membatin.
"Sebagai pengganti kakak pun, aku hanya ingin sedikit spesial di hatinya. Agar setelah aku pergi dri hidupnya aku bisa mengisi hatinya walaupun hanya sedikit saja," kataku lagi-lagi membatin.
Aku bahkan menikah dengannya, tanpa tahu alasan dan semua tentang dirinya aku nekat menawarkan diriku sendiri untuk menikah dengannya.
Mungkin pria yang di sampingku ini merasa aku adalah gadis bodoh menyukai dan menikah dengan pria seperti Erlan. Tapi, cinta tidak memandang apapun di dunia ini, bahkan sekalipun hati ini begitu sakit, aku masih mencintainya. Benarkah aku telah di bodohi oleh cintaku? tapi, aku begitu mencintainya.
.
.
__ADS_1
Aku duduk sambil menikmati makan siangku seperti biasanya, pikiranku entah tengah melayang ke mana, sampai seorang pria yang berstatus suamiku itu telah berada di hadapanku, hingga membuat semua orang yang ada di sekitar kami, memandang dengan tatapan penasaran.
"Sedang memikirkan apa?" tanya Erlan mengejutkanku.
"Ka... kau... sejak kapan di sini..."
"Sudah agak lama. Apa yang kau pikirkan, Sampai kau tidak sadar keberadaanku," kata Erlan.
"Hanya ada sesuatu yang samar-sama melintas di pikiranku," kataku pada Erlan.
"Kenapa dahimu terluka?"
"Oh ini, aku tidak sengaja kejedot pintu," kataku berbohong, aku tidak mungkin mengatakan padanya jika aku hampir saja menambrak seseorang.
"Coba ku lihat," tiba-tiba Erlan mendekat sambil mengusap poni milkku, memperlihatkan luka di dahiku. "Seharusnya jangan meremehkan luka kecil seperti ini," kata Erlan.
Oh Tuhan, pria ini begitu dekat sekali, wajahku terasa panas. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa maluku, pria ini melakukan hal yang dia mau di depan banyak orang. Apa yang akan aku lakukan, mereka akan bergosip tentang aku lagi.
"Aku akan mengobatinya," kata Erlan sambil menarik lenganku untuk pergi dari sana.
Aku mencoba melepaskan tangannya yang tengah menggenggam tangan milikku.
"Erlan... Aku ini seorang dokter, aku bisa mengobati lukaku sendiri," kataku. "Tubuhku, adalah tubuhku, aku yang mengetahui seberapa parahnya lukaku," kataku sambil pergi meninggalkan pria itu di koridor rumah sakit.
"Erlan, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku bisa mengobati diriku sendiri, jika aku sakit. Aku bukan gadis yang sering sakit-sakitan. Jika kau terlalu baik seperti ini, aku akan salah paham padamu," aku mengatakan segala yang aku pikirkan di dalam hatiku.
Benarkah yang ku lalakukan? Aku mengabaikannya? Benarkan? tapi, mengapa hatiku begitu sakit saat mengabaikannya. Benar, aku tengah berpura-pura, menahan rasa sakit di dalam hatiku karena melihatnya.
"Anyuna... berhenti di sana..." teriak Erlan padaku.
Aku tidak menghiraukan tentang pangilannya.
"Anyuna... aku bilang berhenti di sana..." teriak Erlan sekali lagi. "Aku bilang berhenti," katanya lagi sambil meraih tanganku.
Tubuhku di sandarkannya di dinding.
"Kau adalah milikku, tubuhmu adalah milikku, Aku tidak akan membiarkan tubuhmu terluka," kata Pria itu, ada rasa aneh yang meredam amarah dan cemburuku ketika pria itu mengatakan beberapa kata.
Aku hanya terdiam, sambil menundukkan wajahku. Tidak berani lagi, untuk membantah atau pergi dari sana.
"Jadi biarkan aku mengobatinya," kata Erlan.
__ADS_1
Nada suaranya begitu lembut, aku hanya bisa menahan gejolak hatiku yang begitu bahagia. Serasa ada ribuan kupu-kupu yang tengah mengelitik hatiku, wajahku kembali panas dan merah merona karena perkataan dan perilaku Erlan.