
"Takdir ini, apakah bisa aku jalanani? Walaupun aku tahu dia memiliki kekasih di belakangku, tapi aku masih memendam perasaan ini,"
— Anyuna Viandra —
.
.
Sapaan demi sapaan diberikan untukku. Tidak ada yang tahu tentang pernikahanku, Karena itu tidak ada ucapan selamat. Aku pun tidak ingin memamerkan tentang pernikahanku, karena suatu saat pernikahan itu akan berakhir, tentu, pernikahan itu hanyalah pernikahan kontrak.
"Kau benar-benar sudah sembuh?" tanya seorang Kristal padaku.
Kristal adalah dokter dan aku adalah junior yang berada di bawah pengawasannya.
"Aku dengar kau sakit," kata Kritsal.
"Ya, sudah baikkan kok," kataku.
"Hari ini, begitu banyak pasien yang datang. Kita akan sangat sibuk, mohon kerja samanya ya dokter Anyuna," kata Kristal dengan sedikit bercanda. "Pasien kita ini baru saja masuk," kata Kristal sambil mengambil data informasi pasien dari mejanya.
Seorang pria tengah berdiri tidak jauh dari tempatku, pria itu pun seorang dokter. Bola matanya menggambarkan keceriaan, sekaligus dengan keseganan melihat ke arahku.
Sebuah ruangan VIP, adalah tujuan kami.
"Pagi Nona Clara..." sapa Kristal.
Langkah kakiku terhenti melihat sosok gadis itu. Gadis yang semalam datang ke rumah. Ku tepiskan segala apa yang tengah terpikir olehku, hari ini aku adalah dokternya.
"Nona Clara, tekanan darah anda cukup rendah," kataku sambil membaca informasi yang tertulis di dalam hasil pemeriksaan.
"Aku sangat menyarankan untuk beberapa hari ini di lakukan perawatan di rumah sakit," kataku lagi sambil melihat ke arahnya.
Sebuah parfum maskulin tercium dari arah belakangku, parfum yang tidak asing bagiku. Rion—pria yang melihatku tadi membelalakkan matanya.
"Direktur...." kata Rion terbata-bata.
Aku membalikan badanku melihat ke arah belakang dan melihat Erlan ada di sana, sambil membawa sebucket bunga.
"Sepertinya Nona, kedatangan tamu..." kataku pura-pura tidak mengenal Erlan.
"I... i... iya," kata Clara dengan terbata-bata.
"Apa dia pacar anda?" tanyaku seketika, membuat semua orang yang berada di ruangan itu terkejut karena pertanyaan yang baru saja aku katakan.
Kristal pun terkejut, karena dia tahu aku tidak akan bertanya hal-hal seperti itu.
"Bu... bu... bukan..." jawab Clara dengan terbata-bata.
__ADS_1
Tsk. Mereka tenggah bersandiwara di hadapanku.
Erlan hanya terdiam tidak menjawab, dia hanya menatap dingin ke arahku. Dia mungkin masih marah karena kejadian semalam, mungkin dia tengah marah karena pertanyaanku.
"Maaf, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu. Jika dia kekasih Nona, aku ingin mengatakan beberapa hal. Kondisi tubuh Nona Clara saat ini sangat buruk, dan mudah drop kapanpun, jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tida penting. Aku sebagai dokter yang tengah menangani Nona Clara, menyarankan untuk tidak bercinta untuk beberapa saat," kataku dengan spontan. "Besok aku akan kembali memeriksa Nona, tolong jaga kondisi tubuh anda. Kami permisi," kataku sambil pergi meninggalkan Clara dan Erlan yang masih terdiam.
Kristal meraih tanganku, membuat langkah kakiku terhenti.
"Aku tidak tahu jika kau sudah dewasa seperti ini," kata Kristal sambil mengelus kepalaku.
Aku menepis tangan Kristal agar tidak menyentuh kepalaku.
"Aku sudah dewasa, aku bukan anak kecil," kataku.
"Aku akan mentraktirmu makan di kantin bagaimana?" tanya Kristal.
"Baiklah..."
Kristal cukup baik, begitu ramah padaku, pastinya dia begitu baik padaku. Mungkin dia adalah sahabat terbaik yang di kirimkan oleh Tuhan padaku, agar aku tidak terlalu terluka.
Senyuman persahabatan, tidak terlalu buruk untuk menyembunyikan luka.
Ruang kantin begitu ramai, beberapa orang tengah duduk sambil menikmati makan siangnya. Tiba-tiba aku memikirkan tentang apa yang akan terjadi saat aku pulang nanti. Aku sudah membuat seorang Erlan marah, dengan kata-kataku yang menyinggungnya secara tidak langsung.
Bebicara beberapa hal dengan Kristal adalah hal baik, tidak ada yang tidak tahu di rumah sakit ini, tentang seorang dokter Kristal yang menyukaiku. Akupun mengetahuinya, namun aku telah menolak cintanya, demi seorang Erlan.
"Mengapa kau mengatakan hal seperti itu?" tanya Kristal padaku tiba-tiba.
Suara riuh dari arah belakang terdengar, sebuah sosok yang tidak asing ku lihat tengah memegang nampan makanan miliknya, dan tengah mengarah ke arahku.
Plup!
Dia duduk di dekat Kristal.
"Di sini kosong bukan?" tanya Erlan.
Aku hanya terdiam tidak menjawab.
"Iya, kosong," jawab Kristal dengan nada agak terpaksa.
Aku duduk santai, sambil menikmati makan siangku.
"Makan ini..." kata Kristal sambil memberikan sayur wortel ke nampan makananku. "Kau baru sembuh, kau banyak makan sayur," kata Kristal memperhatikanku.
Aku sekilas melihat tatapan mata Erlan ke arahku. Tatapan tidak suka, dingin, dan ingin marah.
"Em. Seseorang juga memperhatikanku kok, aku sudah sehat sekarang," kataku sambil cengengesan.
__ADS_1
"Oh iya, bulan depan ada pendaftaran relawan ke Afrika. Apakah kau akan ikut?" tanya Kristal.
"Aku ingin ikut, tapi aku tidak bisa," kataku dengan nada agak menyesal tidak bisa mengikuti kegiatan itu.
"Hmm... Sayang sekali..." kata Kristal lagi.
Aku dan Kristal seakan tidak menganggap keberadaan seorang Erlan direktur yang menjadi sponsor utama rumah sakit itu—karena tidak tahu harus membahas masalah apa dengan seorang Erlan.
"Ehem... Sepertinya aku mengganggu kalian berdua..." kata Erlan.
"Tidak sama sekali, kami hanya tidak tahu ingin membahas tentang apa dengan anda," kata Kristal.
Karisma seorang Erlan begitu mempesona, bahkan di saat santai seperti ini membuat hatiku berdegup, sekaligus sakit di saat yang bersamaan.
"Tuan begitu perhatian pada karyawan anda..." kata Kristal tengah menyinggung pria itu.
"Pft. Bukankah seorang atasan harus memperhatikan karyawannya..."
"Em. Benar, hanya saja aku lihat Tuan begitu spesial perhatian padanya," kata Erlan
Aku menggenggam erat sendok yang tengah ku pegang itu. Bahkan seorang Kristal pun menyadari hal itu.
"Anda terlalu berlebihan... Aku sudah..."
"Sebenarnya tidak berlebihan, jika karyawan anda seribu orang, dan sakit secara bersamaan, anda tidak mungkin akan mengunjungi mereka," kata Kristal seketika membuat atmosfer menjadi dingin.
Kedua orang itu saling berpandangan satu sama lain, rasanya ada kilatan petir yang tengah bertengkar.
"Dokter juga begitu perhatian pada rekan anda,"
"Dia bukan hanya rekan bagiku, dia adalah orang spesial, dan aku tengah mengejarnya," kata Kristal secara terang-terangan. "Semua orang di sini pun tahu, dan melihat sangat jelas jika aku tengah mengejar seorang gadis yang di hadapanku ini," kata Kristal lagi sambil melihat ke arahku.
Semua orang menatap ke arah kami, karena kedua orang di hadapanku itu beradu pendapat.
"Kalian berdua silahkan lanjutkan apa yang tengah kalian lakukan..." kataku sambil pergi meninggalkan kedua orang itu.
Melihat mereka berdua, seperti anak kecil yang tengah bertengkar memperebutkan permen.
Aku meletakkan nampan makanan, dan pergi untuk me-refresh otakku. Sebelum hari pernikahan pria itu telah menyatakan cintanya padaku, namun aku telah menolaknya.
"Anyuna..." sebuah suara tengah memanggilku.
"Kak Kristal... ke... kenapa..."
"Apa aku benar-benar tidak ada di dalam hatimu?"
"Aku sudah menikah..." kataku.
__ADS_1
"Menikah... kapan kau menikah... tapi kau tidak memakai cincin pernikahan..."
"Seminggu yang lalu," kataku. "Aku menikah dengan pria yang tadi duduk di sampingmu," kataku membuat pria yang di hadapanku itu terkejut.