
Menikahinya adalah takdir. Termasuk kisah di dalam pernikahan. Sakit, Duka, dan merana, harus ku tanggung semuanya.
— Anyuna Viandra —
.
.
Aku merilekskan tubuhku sambil berendam air hangat di dalam buthtub, mungkin jika berendam air hangat di campur dengan garam akan meredakan rasa remuk karena aktivitas sarapan seorang Erlan..
Ku lilitkan handuk di tubuhku, sambil melihat pantulan diriku yang samar-samar cermin. Begitu terlihat jelas, bekas ciuman seorang Candra menjadi tanda paling seksi dalam hidupku.
Beberapa pakaian terlihat di atas kasur ketika aku keluar dari dalam kamar mandi. Mungkin Bella telah menyiapkannya untukku. Semua pakaian dengan label bermerek, pastinya aku tak tahu berapa harganya. Bagiku, pakaian tersebut begitu mewah untuk kupakai sehari-hari.
Tanpa sadar waktu telah berlalu, matahari beberapa jam lagi akan segera bersembunyi dan menyinari belahan bumi lainnya. Aku masih santai membaca buku di atas ayunan yang terdapat di taman belakang. Aku suka taman ini, penuh dengan bunga. Pastinya aku bisa melihat sungai yang terletak di belakang Masion ini.
Aku tak tahu, seberapa kayanya Seorang Erlan. Hingga memiliki halaman rumah serta Masion yang begitu megah.
Hawa dingin mulai terasa di kulitku. Membuatku memilih untuk kembali masuk ke dalam.
“Aku kasihan pada Nyonya Anyuna,”
Sebuah suara terdengar dari balik dinding. Aku memilih tetap diam dan mendengarkan apa yang mereka katakan. Aku ingin tahu, ghibahan apa yang mereka bahas sampai menyebut namaku.
“Mungkin Nyonya Anyuna tidak tahu menahu soal Mak Lampir itu,”
“Dia menikah dengan Tuan tanpa tahu siapa Tuan sebenarnya, apalagi Tuan memiliki kekasih, si Clara Arion,”
Hatiku rasanya di hujam seribu kali dengan bebatuan.
Namanya Clara, aku ingin tahu seperti apa rupa gadis itu. Sampai dia bisa memikat seorang Erlan.
Namanya seperti tidak asing di dengar.
Aku masih setia melakukan aktifitas mendengarkan mereka. Mungkin bahan ghibahan tak selalu salah. Ck.
“Aku suka Nyonya kita yang baru. Tidak seperti wanita itu, suka memarahi serta memukul kita. Padahal hanya kekasih Tuan,”
“Aku heran, mengapa Tuan begitu menyukainya? Apa dia pakai semacam sihir atau ilmu pelet yang membuat Tuan selalu terpikat padanya,”
__ADS_1
Aku tertawa kecil. Setidaknya mereka membicarakan hal baik tentangku.
Baru selangkah aku akan meninggalkan tempat itu.
“Wanita itu pernah hamil, sayangnya keguguran. Karena kecelakaan. Dia tidak bisa menikah dengan Tuan karena dia tidak bisa memberikan Tuan anak,”
Deg!
"Keguguran?"
Aku tak bisa berkata-kata, ketika mengetahui kenyataan itu. Akupun teringat pada satu point dalam perjanjian jika dia ingin memiliki penerus. Mengapa aku memikirkannya, sedangkan aku bahkan belum tentu di pikirkan olehnya.
"Ayolah, Anyuna. Bersyukurlah, jangan berharap lebih untuk memiliki hatinya. Menikahinya itu adalah sebuah keberuntungan untukmu," ucap Anyuna membatin.
Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur empuk milikku. Mengeluarkan buku diary dari bawah bantal. Aku selalu menuangkan segalanya di dalam buku harian ini. Setelah menulis rasanya agak lega. Ku lihat ponsel milikku, tidak ada satupun pesan darinya.
Pria itu belum juga kembali, dia sangat sibuk untuk urusan pekerjaannya. Wajahnya masih mengapung di pikiranku, Aku tidak bisa menghilangkan wajahnya yang tampan itu di alam bawah sadarku.
Biasanya sore seperti ini, aku tengah membuat makanan untuk mereka di rumah. Walaupun aku hanyalah seorang anak angkat di keluarga itu, aku bersyukur mereka bisa merawatku hingga dewasa.
.
.
Hujan di luar sana, telah menyentuh tanah, menyirami tumbuhan yang hampir layu. Kata mereka, berdoa di kala hujan akan di kabulkan oleh pencipta semesta, benarkah demikian? Jika benar-benar di kabulkan aku ingin setidaknya pria itu bisa mencintaiku.
Aku memejamkan mataku sejenak, ketika ku bangun ku lihat jam menunjukan pukul sembilan malam.
"Aku lupa membuatkan dia makan malam," ucapku bergegas ke dapur.
Sebuah pemandangan yang tidak mengenakan hati terlihat, seorang gadis duduk sambil menemaninya makan malam. Gadis itu terasa tidak asing, seperti aku mengenalnya. Tapi aku lupa.
Beberapa pelayan agak terkejut karena kedatanganku, di saat kedua orang itu makan. Aku tersenyum santai, kemudian duduk ikut bersama mereka. Pemandangan saat itu agak canggung. Suami, selingkuhan dan istri yang sah.
"Aku tidak tahu jika kita kedatangan tamu, seharusnya memberitahukan padaku, agar aku bisa memasakkan makanan yang banyak," kataku sambil tersenyum.
Di dalam hatiku terasa begitu sakit, apa yang akan di rasakan adalah sebuah ketidakwajaran seorang suami yang membawa wanita lain di hadapannya, di rumahnya.
"Terima kasih, aku berharap bisa menikmati masakan anda. Pak Erlan sering mengatakan jika makanan anda sungguh lezat,"
__ADS_1
"Aku juga mohon bantuannya ya, jika ada gadis yang genit ingin dekat-dekat dengannya tolong di ingatkan, jika dia memiliki istri di rumah," kataku memberikan isyarat kedua orang itu. "Soalnya terkadang wanita tidak bisa membedakan mana suami orang dan pria single," kataku sambil tersenyum penuh kepaksaan.
Aku bisa melihat dari ekspresi kedua pelayan yang tengah berdiri di sana, mengartikan apa yang aku katakan sebagai sebagai peringatan.
"Ahaha... Iya, aku akan mengingatkan Pak Erlan jika ada seorang istri yang menunggunya di rumah," kata gadis itu yang bisa ku tebak gadis itu bernama Clara.
"Dan juga... Tidak baik seorang gadis terpelajar seperti anda datang ke rumah orang yang sudah menikah," kataku membuatnya raut wajahnya berubah, dia ingin marah namun menahan emosinya.
Sedangkan pria yang tengah duduk itu, hanya memasang tatapan wajah dingin, aku tahu tatapan wajah itu, tatapan wajah seakan ingin membunuhku.
"Aku takut, orang-orang di luar sana bergosip yang tidak benar terhadap Nona, dari penampilan anda yang begitu anggun, aku takut anda akan mendapatkan rumor yang tidak baik, karena datang ke tempat kami," kataku sambil menyusun piring kotor.
Senyuman itu begitu terpaksa, seakan dia benar-benar tersinggung dengan apa yang ku katakan.
"Aku akan menyuruh sopir untuk mengantarkan anda pulang," kataku sambil naik ke atas menuju kamarku, kemudian mengunci pintu kamarku.
Aku membalut seluruh tubuhku dengan selimut, menangis sambil menahan suara agar tidak terdengar orang lain. Ingin rasanya menangis sejadi-jadinya, tapi aku tidak bisa menangis di rumah ini. Aku harus sabar dan tegar serta bertahan dengan apa yang akan terjadi ke depannya.
Baru pertama kali melihat gadis itu, rasanya begitu familiar, apakah aku pernah bertemu dengannya ataukah hanya perasaanku saja aku mengenal wajah gadis tu.
.
.
Aku memakai pakaian yang akan ku gunakan untuk kerja. Tidak lupa memasukkan beberapa barang yang aku butuhkan.
Setiap pagi, aku selalu menyempatkan diri untuk untuk menanam bunga di taman belakang. Aku menyukai bunga, karena itu aku menanamnya.
"Aku akan membawa mobil sendiri," kataku sambil mengambil kunci dari sopir pribadi.
Aku sengaja pergi lebih pagi, karena tidak ingin bertemu dengan Erlan, apalagi dengan kejadian semalam. Dia pasti sangat marah.
Sarapan pagi, serta secangkir kopi telah ku sediakan di meja makan. Tidak lupa buah-buahan segar selalu ku taruh di tempat buah, agar dia bisa menikmatinya saat setelah sarapan pagi.
Walaupun pernikahan kami sekedar kontrak, tapi aku ingin melakukan tugasku sebagai seorang istri dengan sempurna, ada yang mengatakan padaku aku akan menjadi seorang istri yang durhaka jika tidak mengurusi suamiku dengan baik.
"Pagi dokter Anyuna..." sapa seorang suster padaku.
"Sepertinya hari ini kita kedatangan banyak pasien ya..." kataku sambil mengunakan jas dokterku. Ya, pekerjaanku adalah dokter, seorang kaos semester akhir.
__ADS_1