LATE IN LOVE

LATE IN LOVE
Eps. 7 Satu Gadis Bodoh — Erlan


__ADS_3

Pikiranku agak kacau, gadis itu tiba-tiba menghilang dua hari sebelum acara pernikahan. Tanpa berpikir panjang, aku langsung saja marah besar di rumah itu.


Mereka tidak bisa membuatku berhenti untuk marah, aku membuat keluarga itu perlahan-lahan jatuh ke dalam perangkapku. Aku ingin melihat mereka berlutut memohon pengampunan, karena telah menyebabkan anak yang aku dambakan bersama Clara seketika gugur karena kecelakaan yang di sebabkan gadis yang akan aku nikahi dua hari lagi.


"Bisakah aku menggantikan kakak?" tanya seorang gadis tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruangan itu.


Gadis yang cukup lucu, hadir di saat genting seperti ini. Wajahnya bisa memenuhi telapak tanganku, rambutnya panjang sampai di pinggang tergerai, serta memiliki poni di depan. Parasnya cantik, serta peragai yang lembut, bibir kecilnya berwarna merah muda, serta bola mata yang cantik, di tambah dengan bulu mata yang cukup panjang dan lentik, membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.


Suara lembut yang menawarkan diri untuk menikah denganku, agak gugup dan ketakutan. Mungkin karena sejak tadi dia telah mendengar seluruh pembicaraan yang telah aku katakan.


Sebenarnya, aku tidak tahu, jika keluarga itu memiliki anak gadis yang secantik gadis ini. Bahkan kedua orang tuanya, tidak mirip dengan gadis itu. Anehnya, dia terasa familiar, bahkan hatiku bergedup ketika melihatnya. Mungkin aku terpesona dengan kecantikannya itu hingga membuat hatiku bergedup ketika melihatnya.


"Kau ingin mengantikan kakakmu?" tanyaku sambil menatap ke arahnya.


Pertanyaanku hanya di jawab dengan anggukan, mungkin dia ketakutan untuk menjawab pertanyaanku.


"Baiklah, kau menggantikan kakakmu," kataku dengan nada pelan agar gadis itu tidak ketakutan, kemudian meninggalkan ruangan itu.


Samar-samar, entah itu aroma tubuhnya atau parfum miliknya tercium olehku, begitu tenang dan menghanyutkan. Aku berhenti sejenak, kemudian melangkah jauh pergi dari sana.


.


.


Gelas bir tengah ku goyang-goyangkan, aku setengah mabuk. Gadis yang sudah lama menghilangkan nyawa calon bayiku, pergi entah kemana.


Clara kekasihku sedang ke luar negeri, untuk mengobati kondisinya agar membaik. Aku menikah dengan gadis itu agar aku bisa memberinya hukuman, kini adiknya yang menggantikannya, rasanya aku tidak tega untuk menyakitinya apalagi wajahnya yang lemah lembut.


Andai saja Ibu merestui hubunganku dengan Clara, mungkin dia telah menjadi istriku saat ini. Kini, aku hanya membutuhkan pewaris, dan membiarkan Clara untuk merawatnya.

__ADS_1


Di dalam kamar, telah ku siapkan sebuah gaun pengantin yang ku rancang untuk Clara, jika kelak aku akan menikah dengannya. Apakah mimpi menikahi gadis pujaan hatiku sendiri begitu sulit? Apakah status sosial selalu menjadi tolak ukur untuk menikah? Hanya karena Clara seorang anak yatim piatu, tidak bisa bersanding denganku, aku hanya kecewa pada takdir ini. Aku kecewa pada takdir yang tengah mempermainkanku.


Dan aku harus melakukan apa, pada gadis yang akan menikah denganku? Bahkan namanya pun, aku tidak tahu. Lelucon macam apa ini, takdir. Gadis yang seperti itu ikut terlibat dalam kekacauan ini.


Perasaan ini bercampur aduk, dengan sekuat tenaga ku remas gelas berisi bir yang ada di tanganku, seketika gelas itu hancur, dan darah mengucur di lantai.


"Sial," umpatku.


Aku bahkan tidak bisa mengatakan pada Clara apa yang sebenarnya terjadi. Rasanya ingin berhadapan dengan Tuhan dan bertanya takdir apa yang sebenarnya dia rencanakan untukku.


.


.


Suara riuh terdengar di dalam gedung pernikahan, hari ini adalah hari yang di tentukan di dalam undangan. Tidak banyak yang hadir, hanya kerabat serta beberapa teman.


Gaun pengantin, yang ku pilih sembarangan entah kenapa ketika dia yang memakainya menyatu dengan kecantikannya.


Lagi-lagi hatiku berdegup, ketika melihatnya apalagi ketika dia tersenyum. Ribuan bunga tengah mekar di dalam hatiku. Oh Tuhan, aku melupakan Clara karena kecantikan gadis ini.


Ketika janji suci terucap, kini kami telah resmi menjadi suami istri yang sah di saksikan oleh banyak orang.


"Andai, jika Clara yang berdiri di sini. Apakah dia tengah menangis?" gumamku membatin.


Mengapa takdir tidak menyatukan kami berdua, menjadi suami istri, mengapa gadis yang tidak hubungannya dengan kami menjadi korban.


Gadis ini mengapa begitu bodoh menawarkan dirinya menikah denganku, mengapa dia mengorbankan kebahagiannya menikah denganku.


Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan pada gadis ini, perasan dan pikiranku kini bercampur aduk, memikirkan Clara, sedangkan memikirkan tentang nasib gadis ini.

__ADS_1


Mobil pengantin melaju di jalanan menuju Masion milikku. Tidak ada yang mengeluarkan kata-kata, atau memulai percakapan, hening, begitu hening sampai membuatku bosan.


"Turun..." kataku menyuruhnya turun.


Gadis ini begitu penurut, bahkan dia tidak membantah apa yang aku katakan, padahal jarak pintu gerbang dengan Masion agak jauh.


Gaun pengantin yang di pakainya kini menyatu dengan alam, dia berjalan tanpa menegok ke arah belakang. Mungkin dia marah padaku, karena aku membuatnya begitu tidak di hargai di hari pernikahan.


Semua yang terjadi di gedung pernikahan hanyalah palsu yang ku ciptakan. Seketika aku menjadi seorang pria brengsek yang mempermainkan wanita, dan menikah dengan perempuan lain.


"Tu... an..."


"Tempat biasa..." kataku dengan nada dingin.


Pikiran yang sangat kacau, saat ini ku butuhkan adalah alkohol. Clara bahkan belum menghubungiku sama sekali, aku rasa dia telah marah padaku karena keputusankun ini. Kini menjadi serba salah di mata semua orang.


Mabuk mungkin hal baik, untuk tidak mengingat masalah yang tengah terjadi. Aku bisa melihat, jika pria yang menjadi bartender di hadapanku itu mengelengkan kepalanya karena melihat diriku yang begitu sangat tersiksa.


Beberapa wanita yang datang mengodaku, ku usir semuanya. Aku tidak ingin di ganggu oleh gadis murahan yang datang mengoda dengan tubuh mereka.


Sekilas sebuah gambaran terlintas di pikaranku, entah apa itu aku pun tidak ingat lagi.


Malam ini adalah malam pengantin, namun aku meninggalkan mempelai wanita dengan secara tidak sopan seperti tadi. Bagiku malam pengantin biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial sama sekali.


Tapi bagaimana dengan gadis itu? Aku bahkan tidak tahu siapa namanya, entah aku ingin memanggilnya dengan apa. Ck. Aku sungguh tidak pernah terpikirkan untuk mengetahui namanya.


Entah gadis itu mengetahui tentang perbuatan kakaknya, dan orang tuanya. Aku penasaran tentang hal itu, jika dia mengetahui, aku ingin tahu alasannya mengapa dia mengantikan kakaknya menikah denganku.


Aku ingin menelfon ke rumah, tapi aku tidak membawa ponselku. Hari ini aku sungguh sangat menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2