LATE IN LOVE

LATE IN LOVE
Ep. 8 Aku Ingin Penerus — Erlan


__ADS_3

Sudah dua hari aku tidak bertemu dengan gadis yang telah menikah denganku, asistenku selalu datang menyuruhku untuk menemui gadis itu. Tapi, aku tidak punya keberanian, entah pergi kemana keberanian yang ku miliki, mengapa keberanian itu malah tidak ada untuk saat ini, aku merasa malu pada gadis itu.


Ibu lagi-lagi menuntutku agar bersikap baik pada gadis itu. Aku seperti bagaikan bonek, hatiku pada orang lain tapi tubuhku di miliki orang lain. Entah apa yang harus aku lakukan.


"Ayo kembali..." kataku.


Pakaian yang telah ku pakai selama dua hari ini masih tengah ku pakai, orang-orang yang melihatku mungkin beranggapan jika aku tidak waras.


Suasana rumah begitu hening ketika aku sampai, aku langsung berlari ke lantai dua mencari gadis itu.


Brak


Aku membuka paksa pintu kamar yang tengah di tempatinya itu.


Ku lihat diirnya tengah di sisir oleh asisten rumah tangga, aku tidak tahu siapa namanya. Dengan pakaian yang acak-acakan, aku mendekat ke arahnya.


Wajahnya menatapku dengan saksama, dia mungkin mengenali pakaian yang tengah ku gunakan. Dia duduk diam tanpa berkomentar tentang kedatanganku yang begitu berantakan.


"Aku ingin berbicara dengannya empat mata," kataku mengisyaratkan agar para asisten itu untuk keluar dan memberikan kami berdua privasi.


Dia melihatku yang tengah berdiiri depannya sambil menegadah ke atas, karena dirinya tidak tinggi, cukup di katakan begitu mungil. Aku tidak tahu apa yang di pikirkan gadis itu, ada rasa kasihan di dalam hatiku ketika melihatnya.


"Mari kita membuat kontrak," kataku padanya.


Matanya membulat karena perkataan yang baru saja aku katakan. Ya, dia pasti akan terkejut, semua orang akan terkejut, di masa-masa ini sudah di tuntut membuat kontrak.


Aku tidak tahu, apakah dia membenciku, ataukah apa yang dia pikirkan tentangku. Yang terbaik untuk diriku dan dirinya adalah sebuah kontrak saat ini.


Ku tuntun dia untuk duduk di sofa,


Aku mulai menulis beberapa perjanjian di dalam kontrak itu. Sesekali aku mencuri pandang melihatnya, dia tampak tenang, namun sinar di bola matanya tampak begitu redup, tidak ada sinar di dalamnya.


Wajahnya lagi-lagi membuatku bergedup. Wajahnya begitu cantik, bahkan tanpa make up. Entah ada yang salah dengan hatiku saat ini, hatiku tiba-tiba berdegup, ketika melihat wajahnya yang polos itu.


“Aku tak ingin menikah denganmu, yang ingin aku nikahi adalah kakakmu. Tapi, akupun tidak ingin malu, karena dia kabur,” kataku dengan dingin. “Apa kau tahu mengapa aku ingin menikahi kakakmu? Balas dendam,” aku jujur tentang mengapa aku ingin menikah dengan kakaknya.


Walaupun saat aku mengatakan tujuanku dia terkejut, mungkin dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Sepertinya kau tidak tahu apa-apa. Karena itu, aku tidak ingin menyakitimu. Maka mari kita jalani pernikahan ini sebaik-baiknya. Aku mengajukan beberapa point penting dalam pernikahan ini. Pertama, kau akan tetap menjadi istri sahku, sampai aku menemukan kakakmu,”

__ADS_1


Dia masih saja diam, bahkan tidak berbicara sama sekali ketika aku datang sejak tadi. Entah dia takut atau dia memang seperti ini, tidak berbicara panjang lebar.


“Kedua, apapun yang terjadi. Kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing,”


Dia lagi-lagi tidak membantah tentang point yang aku sampaikan.


“Ketiga, aku butuh penerus,”


Mungkin dia menganggapku, aku tengah memanfaatkannya, karena yang ku butuhkan dari dirinya hanyalah penerus.


“Point terakhir yang tidak perlu aku tulis. Tidak boleh ada yang jatuh cinta,”


Tak ada reaksi sama sekali, seakan sikap diamnya itu pertanda setuju pada semua yang ku katakan.


"Aku mengajukan beberapa hal," katanya tiba-tiba dengan suara lembut.


Dia biasanya agak diam, tiba-tiba membuka suara, adalah sebuah keajaiban menurutku. Selama ini, aku hanya mendengar beberapa patah dengannya, mungkin bisa ku hitung dengan jariku sendiri.


"Katakan..." kataku.


"Takdir masa depan tidak ada yang tahu... Siapapun yang menyatakan cinta lebih dulu, berhak menceraikan. Kedua, jika kau yang menceraikanku lebih dulu anak yang aku lahirkan aku akan membawanya," katanya padaku.


Hal yang dia ajukkan semuanya tidak menguntungkanku, tapi aku pun harus menyetujui hal itu, karena dia menyetujui semua point yang aku ajukan.


Aku keluar dari dalam kamar itu, menuju ke kamar milikku. Dia seperti sebuah boneka yang cantik, tidak bergeming ketika tidak di butuhkan.


,


,


Karena lelah, aku tidur. Masih dengan pakaian yang sama, merebahkan diriku di kasur empuk. Ketika tersadar, aku pergi untuk membersihkan diriku, sebuah pemandangan yang agak tidak biasa ku lihat. Tidak pernah ada yang melakukan hal ini sebelumnya, bahkan Clara pun tidak seperti gadis ini.


Lilin Aroma terapi terpasang, serta air hangat di buthub, aroma lilin begitu membuatku tenang, dan merefresh otakku, seakan lelahku hilang.


Berbeda dengan hari-hari yang lalu, aku merasakan perbedaan di hari aku pulang.


Saat aku selesai mandi, aku hanya melilitkan handuk di pinggangku, ku lihat dia tengah membawakan sarapan untukku.


“Em. Aku membawakanmu sarapan,” katanya agak terbata-bata.

__ADS_1


"Aku..."


“Kau harus menjaga pola makanmu, mulai dari sekarang kau harus sarapan,” katanyaa tiba-tiba memotong perkataanku, selama ini belum pernah ada yang menyelaku selain Clara dan Ibuku.


Tapi gadis ini begitu berani menyelaku.


“Aku tahu, kau tidak suka sarapan. Tapi biarkan aku melakukan tugasku sebagai seorang istri. Menyiapkan keperluanmu,” katanya membuatku tersenyum.


"Lumayanlah gadis ini, dia tahu diri," ucapku membatin.


Ketika melihat diriku yang setengah telanjang itu, seketika dia menundukan kepala. Hmm, gadis yang cukup aneh menurutku.


Aku bisa menebak, jika pipinya tengah merah merona, melihat tingkahnya seperti itu aku ingin sekali menjahilinya. Aku perlahan mendekat ke arahnya, ku lihat dia salah tingkah dengan diriku yang berjalan ke arahnya.


“Aku akan ke lantai bawah,” katanya dengan nada agak gugup.


Grep!


Aku langsung meraih tangannya, agar tidak pergi. “Bukannya kau mengatakan jika ingin menunaikan tugas seorang istri?” tanyaku sambil melihat ke arahnya.


“Iya. Tugasku, mengatarkan sarapanmu,” katanya dengan tergagap.


“Tapi...” aku mendekatkan wajahku lebih dekat ke arahnya, kemudian berbisik ke telinganya. “Aku ingin yang lain... Aku ingin sarapan denganmu,” kataku dengan nada pelan.


“Ahaha... Iya. Aku akan menemanimu sarapan,”


gadis ini begitu bodoh, atau... dia seakan tidak mengerti dengan kode yang aku berikan.


“Bukan itu,” aku menarik dagunya, agar wajahnya melihat ke arahku. “Sarapan pagi ini, aku ingin tubuhmu,” kataku sambil mencium bibirnya yang kecil.


Dia sedikit memberontak dengan ciuman yang tiba-tiba ku berikan. Aku menarik pinggang ramping miliknya itu, agar lebih dekat.


Hmm. Agak kaku, aku membatin. Mungkinkah karena aku tiba-tiba menciumnya.


“Bukankah kita pernah berciuman sebelumnya? Mengapa begitu kikuk? Aku suamimu, kau istriku. Wajar bukan melakukannya,” kataku sambil kembali menatapnya dengan lembut.


Wajahnya merah merona, ku rasakan wajah panas keluar dari pipinya yang mungil itu. Dia mulai mengalungkan lengannya di leher milikku. Aku sedikit tersenyum, kemudian kembali menciumnya.


Aroma khas tubuhnya begitu menggodaku. Benar-benar mengodaku, bahkan saat itu adalah pagi hari. Ck, aku tidak peduli lagi, entah itu pagi atau bukan.

__ADS_1


Aku agak terkejut, ketika mengetahui jika dirinya masih seorang gadis setelah menikah denganku. Apakah benar-benar masih ada gadis seperti ini? Mempertahankan ke perawanannya untuk seorang suami.


Aku tersenyum lucu, bahkan Clara sejak tidur denganku tidak perawan lagi, karena dia telah memberikannya pada pacarnya sebelumnya.


__ADS_2