
Seratusan mayat nampak bergelimpangan di sebuah padang rumput. Enam orang yang masih berdiri di tempat itu terlihat seperti sedang membahas sesuatu.
“Ini sudah di mulai” Seseorang berperawakkan gemuk dan pendek tapi sangat lincah memulai percakapan.
Laki-laki itu bernama Zul, berusia dua puluhan tahun. Dia adalah seorang petarung dan mahir dalam pertarungan dengan menggunakan tongkat yang terbuang dari keluarganya. Hidupnya pernah memiliki cerita yang kelam hingga kemudian ia berakhir pada kelompoknya yang sekarang.
“Benar, tak ada jalan untuk mundur sekarang” Seorang laki-laki lainnya menyahut sembari mengusap pedangnya yang berlumuran darah.
Dia adalah Pay, berusia sekitar empat puluh tahun. Seorang ahli pedang dan bekas hulubalang satuan elit pasukan kerajaan yang membelot karena menentang perintah dari atasannya yang lebih tinggi.
“Kita akan kerjakan ini semua sesuai rencana” Satu-satunya perempuan di kelompok itu menimpali. Pakaian dan wajahnya nampak penuh dengan noda darah.
Perempuan itu bernama Ijah. Berusia masih sangat belia, belum berumur dua puluh tahun.
Dia ahli dalam pertarungan tangan kosong dan lihai dalam permainan pisau namun juga penuh siasat. Dahulu dia adalah gadis desa seperti kebanyakkan. Yang membedakannya mungkin hanyalah soal dirinya yang setelah menjadi yatim piatu, kemudian ia di rawat dan di besarkan di sebuah padepokan silat. Sebuah peristiwa tragis membuatnya terluka, dendam dan marah. Berkali-kali di perkosa pernah ia alami, sebelum akhirnya ia bangkit dan menemukan jati dirinya.
“Ha … ha … ha … cuih“ Seorang pria tua tertawa terbahak sambil meludahi mayat-mayat para prajurit yang berada di bawah kakinya.
Laki-laki tua berumur lima puluh tahun itu bernama Tok Alang. Ahli nujum dan pengobatan serta tenaga dalam. Keluarganya telah habis di bantai pada saat pemeriksaan dan pembersihan orang-orang yang di curigai sebagai mata-mata oleh prajurit kerajaan. Dia memang sedikit gila.
“Kalian semuanya benar. Peristiwa hari ini adalah permulaan dan pemanasan. Kita harus segera kembali ke tempat persembunyian dan merencanakan strategi berikutnya” Dia adalah laki-laki yang paling tampan di kelompok tersebut.
Namanya Bas, ahli strategi dan siasat perang, juga ahli dalam seni bela diri dengan segala jenis senjata. Masih berusia dua puluhan tahun. Dia adalah bangsawan yang terusir. Seluruh keluarganya menjadi tumbal dari keserakahan raja yang sedang berkuasa sekarang.
SUITT SUIITTT
Sebuah suittan terdengar di antara mereka.
Tak lama kemudian dari balik pepohonan muncul sepuluh orang menghampiri.
“Ambil semua senjata dan emas yang mereka bawa” Seorang lainnya memberikan perintah kepada sepuluh orang yang datang tersebut.
Bergegas kesepuluh orang itu memungut satu persatu pedang dan tombak yang berserakkan di antara mayat para prajurit yang telah tewas.
Beberapa lainnya menuju ke kereta kuda yang tampak terguling di belakang padang. Setelah selesai mereka semua berkumpul.
“Sebaiknya kita memang harus segera kembali sekarang” Seorang laki-laki yang masih muda berusia dua puluhan tahun itu menyahuti teman-temannya sembari melompat ke atas kuda tunggangannya.
Laki-laki itu bernama Dharmangkasa. Dia adalah pemimpin dari kelompok tersebut.
Dharmangkasa selain ahli penggunaan pedang, dia juga mahir dalam hal memanah.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan tempat tersebut, Dharmangkasa melemparkan stempel besar yang bertuliskan nama Angkasa sebagai tanda resmi yang di tinggalkan.
***
Dharmangkasa adalah orang yang menyatukan kelima nama tersebut. Sebelumnya hampir dari mereka semua adalah orang-orang yang tanpa tujuan dalam menjalani kehidupan. Salah satu kesamaan mereka adalah mereka semua memiliki kenangan yang menyakitkan dengan prajurit kerajaan.
Setelah bertemu Dharma, kini mereka telah memiliki hasrat dan tujuan yang sama. Pembalasan dendam dan masa depan.
Dharma adalah orang yang mengklaim tahta kerajaan. Dia adalah penantang raja yang berkuasa sekarang. Ambisinya adalah untuk mengembalikan kejayaan nama dinasti Angkasa yang menjadi marga dari keluarganya. Kini hanya dia sendirian yang menyandang nama itu.
Mereka berenam beserta sepuluh orang lainnya bergegas memacu kuda tunggangan mereka masing-masing menuju ke suatu tempat yang berada di balik rimbunnya hutan.
Persembunyian strategis yang berada di antara dua lereng bukit, sebuah lembah yang nampak selalu tersembunyi dari bisikkan dan pengamatan para pencari informasi yang bekerja untuk kerajaan.
Di tempat persembunyiannya, kedatangan mereka telah di sambut oleh sekitar lima ratusan orang yang telah menantikan mereka dengan penuh harap. Mereka adalah pengikut kelompok Dharma dengan berbagai latar belakang.
Hari itu adalah hari pertama Dharmangkasa melakukan serangan terbuka kepada sekelompok prajurit kerajaan. Namun yang mereka hadapi hari itu hanyalah sekumpulan prajurit regular yang sedang melakukan perjalanan kembali ke kerajaan setelah meminta upeti kepada rakyat sehingga tanpa kesulitan yang berarti mereka berenam dengan mudah menghabisi para prajurit itu.
Kerajaan Samasta adalah sebuah kerajaan yang besar dan kuat. Wilayah kekuasaannya membentang dari ujung ke ujung pulau. Saat ini kerajaan tersebut di pimpin oleh seorang raja bernama Sangkamudian. Dengan di bantu oleh seorang kepala Hulubalang bernama Tok Gakgak.
Raja Sangkamudian adalah seorang raja yang kejam dan tak mengenal ampun kepada siapa saja. Bahkan kepada rakyatnya sendiri. Telah lebih dari seratus purnama raja lalim itu berkuasa tanpa ada yang berani menentangnya.
Kekuasaannya juga di bangun dari pondasi terror dan kudeta yang berdarah-darah. Dia menggulingkan raja sebelumnya, Raja Shamangkasa yang merupakan paman dari Dharmangkasa.
Kini hanya tersisa Dharmangkasa untuk meneruskan keturunan yang menyandang gelar Angkasa. Dharmangkasa tau, semakin lama ia bersembunyi maka akan semakin lama pula ia akan kehilangan haknya untuk mengklaim tahta kerajaan. Dan cepat atau lambat, orang-orang suruhan Sangkamudian pasti akan menemukannya.
Kini Dharmangkasa merasa cukup memiliki kekuatan untuk setidaknya melakukan serangan balik dan mencari simpati kepada rakyat agar perjuangannya dalam mengklaim tahta kerajaan Samasta mendapat dukungan.
Ia tau perjalanannya menuju istana tidaklah mudah. Sangkamudian memiliki orang-orang pilihan yang memiliki kemampuan tarung yang teramat sangat baik. Juga sekumpulan prajurit pilihan yang terlatih yang selalu siap sedia menjaga benteng dan kompleks istana.
Di beberapa kesempatan pasukan pilihan ini juga turun ke medan pertempuran ketika mendapat perintah untuk memadamkan beberapa aksi yang di anggap sebagai pengacau kerajaan. Dan mereka belum pernah gagal menjalankan misi.
Satu-satunya misi yang gagal mereka lakukan adalah ketika Pay dan sertatus orang prajurit pilihan yang di bawah komando Hulubalang Pay memilih untuk membelot karena sebuah misi palsu dan bertentangan dengan hati nurani mereka. Selain seratus orang prajurit pilihan, Pay juga berhasil meyakinkan seratus lima puluh orang prajurit regular untuk bergabung bersama dirinya.
Berita pembelotan Hulubalang Pay dan orang-orangnya menimbulkan kemarahan besar bagi sang Raja dan kepala Hulubalang. Kepala Hulubalang Pay kini bernilai lima ratus keping uang emas.
***
Hari itu adalah hari kemenangan pertama bagi Dharmangkasa dan pengikutnya. Itu adalah serangan resmi pertama yang di lancarkan dengan meninggalkan stempel keluarga Angkasa.
Setelah turun dari kuda masing-masing, mereka berkumpul di sebuah kemah
__ADS_1
.
“Bagaimana menurut kalian?” Dharmangkasa memulai percakapan dengan kelima orang yang berada di hadapannya.
“Ini masih terlalu mudah. Jika Tuan berkehendak, alangkah baiknya jika kita memindahkan tempat kita yang sekarang ke wilayah pesisir utara. Menurut orang yang kita kirim, kita bisa menempati sebuah padang yang terhubung langsung dengan laut. Sementara kita bisa membuat perkemahan di sana. Rakyat di kota itu juga mendukung gerakan kita” Bas memberikan saran.
“Apakah itu akan bisa membuat pertahanan kita menjadi lebih baik?” Tanya Dharma selanjutnya.
“Kita tidak sedang bertahan Tuan. Tapi kita menjaga-jaga jika kemudian pasukan kerajaan melakukan serangan balasan terhadap kita. Mereka tak bisa menyerang kita dari belakang” Jawab Bas yakin.
“kau benar Bas” Kata Dharma lagi.
“Setelah kepindahan kita dari sini, rencana selanjutnya kita mulai dari kota-kota yang ada di pesisir. Aku yakin, melalui sumber yang kita miliki, rakyat juga sudah muak dengan raja lalim itu. Kita akan mendapat banyak dukungan dari rakyat” Bas melanjutkan.
“Aku sependapat denganmu” Ucap Dharma.
“Saat ini kekuatan kita sekitar lima ratus orang terlatih. Kita harus bergerak secepat mungkin menguasai kota-kota yang ada di pesisir hingga terus menuju Ibu kota Kerajaan. Beberapa utusan telah di sebar untuk mendapatkan segala bantuan yang memungkinkan. Beberapa perguruan silat dan padepokan juga telah mengirimkan pesannya kepada kita. Mereka akan berada di pihak kita saat pertempuran itu terjadi” Bas menjelaskan rencananya.
“Bagaimana menurut kalian?” Tanya Dharma pada yang lainnya.
“Tugasku adalah bertarung untuk kemenangan. Soal rencana aku ikut perintah Tuan” Jawab Zul.
“Benar Tuan. Perintahkan kepada kami apa yang harus di perbuat, maka kami akan jalankan dengan nyawa kami sebagai taruhannya” Pay menegaskan jawaban Zul.
“Tok Alang? Ijah?” Tanya Dharma kepada kedua orang tersebut yang masih diam.
“Ha … ha … ha … cuih, aku mencium aroma kemenangan di depan mata Tuan, ha … ha … ha … “ Tok Alang seperti biasa selalu tertawa dan optimis. Mereka sudah faham dengannya.
“Ijah?” Tanya Dharma kepada Ijah.
“Aku butuh mandi sekarang” Jawab Ijah sambil menggaruk-garuk noda darah yang masih menempel di lengannya.
“Baiklah, kita istirahat dulu sekarang. Besok pagi kita mulai lakukan kepindahan kekuatan kita menuju pesisir utara”
“Baik Tuan” Kata mereka berlima serentak.
🍁🍁🍁
Hari masih gelap ketika lembah itu mulai di kosongkan. Iring-iringan ratusan orang itu berjalan secara senyap menuju kota di pesisir utara kerajaan. Mereka tau, tak ada penjagaan yang berarti di kota itu. Mereka akan menguasainya dengan mudah.
Dharmangkasa, Pay, Zul, Ijah, Bas dan Tok Alang berada di barisan terdepan iring-iringan itu. Di atas kudanya, mereka bagai menatap iblis yang akan siap menghadang langkah mereka semua.
__ADS_1
Mereka telah mempersiapkan diri. Pengambil alihan tahta kerajaan Samasta sepertinya akan mengulang sejarah. Sejarah yang di bangun di atas genangan darah.