
“Ijaahhh…” Opa Hanim memekik ketika melihat Ijah terjatuh, Ia melemparkan pisau panjangnya ke arah prajurit yang menyerang Ijah tersebut. Lemparannya mengenai tepat menembus perut prajurit itu.
Opa Hanim mencoba menghampiri tubuh Ijah ketika sebuah sabetan pedang yang tak bisa lagi ia hindari datang secara cepat dan menebas lehernya.
JRESSSSSS
Opa Hanim terduduk. Darah segar segera menyembur dari pangkal lehernya. Sebuah tombak juga di lemparkan ke tubuh Opah Hanim dan menancap tepat di dadanya.
Tak lama kemudian ia jatuh roboh ke tanah. Opa Hanim tewas seketika dengan luka menganga di pangkal lehernya dan juga tombak yang masih menancap di tubuhnya.
Semua prajurit yang masih berdiri terus mengamati sambil tetap waspada memandang tubuh Opa Hanim yang terdiam di genangan darah.
“Periksa semua tempat. Pastikan tak ada yang hidup, lalu bakar tempat ini. Kita kembali ke kota, bawa yang terluka. Resimen satu tetap di sini dan pastikan semua telah aman” Sebuah perintah lagi-lagi datang kepada para prajurit.
Bergegas para prajurit itu mengikuti instruksi yang datang. Mereka yang tinggal adalah resimen satu yang mendapat perintah untuk membakar padepokan dan mayat-mayat yang ada di dalamnya. Sementara yang lainnya meninggalkan tempat itu. Para prajurit yang terlihat terluka juga memaksakan diri agar bisa tetap berdiri kemudian mengikuti rombongan prajurit yang pergi.
Jumlah mereka yang tinggal hanya tersisa lima belas orang. Segera mereka mengumpulkan semua mayat-mayat dan menumpuknya di beranda rumah. Ketika salah satu prajurit itu menghampiri Ijah, dia sempat berfikir sejenak sebelum akhirnya memanggil teman-temannya.
“Hei, yang ini sepertinya belum mati” Kata prajurit yang melihat Ijah tersebut.
Segera beberapa temannya datang menghampiri dan memeriksa.
“Benar, dia hanya pingsan” Kata yang lainnya setelah memeriksa denyut nadi Ijah.
“Kita bunuh saja dia?” Yang satunya juga berkata.
“Tunggu dulu…” Sergah prajurit yang pertama melihat Ijah.
“Apa yang di tunggu? Kau lihat bagaimana tadi dia bertarung? Dia hanya akan menyusahkan saja saat nanti sudah siuman” Prajurit yang lainnya mengingatkan karena merasa khawatir.
“Sebentar…”
“Apa lagi?”
“Berikan aku tali”
“Untuk apa?”
__ADS_1
“Berikan saja”
Prajurit itu lantas mengikat tangan dan kaki Ijah kemudian menyeretnya masuk menuju ke dalam rumah.
“Apa yang akan kau lakukan?” Teriak salah seorang prajurit itu.
“Kalian tunggu saja aku selesai” Prajurit itu tersenyum sambil terus menyeret tubuh Ijah.
Prajurit itu kemudian memindahkan ikatan tangan Ijah kepada tiang-tiang rumah serta memindahkan juga ikatan kakinya.
Dengan tergesa, prajurit itu lantas memotong pakaian Ijah dan melepaskan semuanya. Kini Ijah telah tanpa pakaian terbaring tak berdaya di depan prajurit tersebut.
Usia Ijah masih sangat belia saat itu.
Dengan sangat bernafsu lantas prajurit itu menggagahi Ijah.
“Aghhhh...” Ijah siuman dari pingsannya dengan setengah menjerit ketika dirinya tengah di gagahi.
“Ah … ah … kau diam saja manisss” Kata prajurit itu sambil tetap meneruskan aksinya.
“Apa ini? Aghh … berhenti keparat. Apa yang kau lakukan?” Ijah geram sembari merasakan perih di kewanitaanya, tapi ia tak bisa bergerak.
Ijah menatapnya dengan penuh amarah.
“Ternyata aku beruntung. Kau masih perawan. Ha … ha … ha….” Kata prajurit itu tertawa puas lalu bangkit dan meninggalkan Ijah begitu saja.
Ijah tau apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Ia teringat ucapan Opa Hanim jika menyerah. Inilah yang di maksud oleh gurunya tersebut. Ijah sedang menatap dirinya yang kini tanpa sehelai benang.
Ijah berusaha mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Di mana Opa Hanim? Saat terakhir ia mengingat, dalam pertarungan hanya tersisa dirinya dan Opa Hanim. Apakah Opa Hanim telah tewas? Ijah berusaha keras untuk mengingat.
Ijah berlinang air mata. Ia mencoba berontak. Tapi ikatan di tangan dan kakinya sungguh sangat kuat. Ia tak berdaya meronta.
Sementara di luar, prajurit yang tadi menggagahi Ijah memberitahukan kepada teman-temannya. Beberapa dari mereka tertarik dan masuk untuk melihat Ijah.
Ijah masih terbaring dengan tangan dan kaki yang terikat di tiang.Tubuhnya masih tetap telanjang. Empat orang prajurit datang menghampiri. Sorot mata mereka menyiratkan tatapan syahwat.
“ Ha … ha … ha … ha ….” Para prajurit itu tiba-tiba tertawa bersamaan.
__ADS_1
Ijah menatap mereka dengan tatapan penuh amarah namun juga di sertai rasa panik. Ia sesaat lupa bahwa ia sedang tak berdaya.
Ke empat prajurit itu kemudian menjamah tubuh telanjangnya. Ijah tiba-tiba menjadi takut ketika salah seorang dari mereka kemudian melepaskan pakaian bawah yang dia kenakan kemudian berjongkok di bawah Ijah.
Terasa sangat perih ketika ada sesuatu yang berulang kali memaksa masuk ke dalam dirinya.
“Arghhhhh….” Ijah terpekik sebelum akhirnya kembali pingsan.
Para prajurit itu hanya tertawa dan terus melanjutkan aksi bejadnya walau tanpa kesadaran Ijah.
Hari itu, tubuh Ijah bagai mainan bagi kelima belas prajurit kerajaan yang yang mendapat perintah untuk tinggal dan membakar padepokan Opa Hanim beserta mayat-mayat di dalamnya.
***
Asap membumbung tinggi ketika kereta kuda yang membawa Ijah di dalamnya dan lima belas prajurit kerajaan meninggalkan sisa padepokan yang sengaja di bakar.
Mereka berjalan beriringan menuju kota guna menyusul teman-teman mereka yang telah berangkat sehari sebelumnya.
Saat tengah hari, para prajurit itu memutuskan untuk beristirahat di sebuah tempat yang berada di tepian aliran sungai.
Mereka tampak sedang menyantap bekal yang di bawa. Setelah makan dan minum, salah seorang prajurit itu berjalan mendekati kereta kuda di mana Ijah berada di dalamnya.
Di dalam kereta kuda, Ijah tampak masih pingsan. Tubuhnya hanya di tutupi selembar kain. Sebelum melakukan perjalanan, para prajurit ini memang dengan sengaja membius Ijah. Mereka tak ingin mengambil resiko karena tau kemampuan bertarung Ijah yang cukup menakutkan bagi mereka.
Hari kemarin, kelima belas prajurit itu telah secara bergantian mencicipi tubuh Ijah. Bahkan ada di antara mereka yang melakukannya hingga berkali-kali. Hingga melewati malam.
Sebenarnya sebagian dari mereka memberikan usul agar sebelum melakukan perjalanan, Ijah sebaiknya di bunuh saja agar tak menjadi masalah bagi mereka. Namun kebanyakkan para prajurit itu merasa enggan karena merasakan masih bersyahwat terhadap Ijah dan ingin mengulanginya lagi.
Prajurit yang mendatangi Ijah tersebut kemudian menarik tubuh Ijah dari dalam kereta kuda dan membaringkannya di tanah. Dia hendak mengulangi kesenangannya kembali.
Sesaat prajurit itu membelai tubuh telanjang Ijah, hingga kemudian ia melepaskan pakaian bawahnya. Teman-temannya yang melihat hanya saling berbisik sambil sepertinya mengundi giliran. Tiga orang dari mereka lantas berdiri dan mendekat.
Ketika kesenangan prajurit itu akan di mulai, tiba-tiba…
SHEPPP
Sebuah anak panah melesat dan menembus leher prajurit itu.
__ADS_1
Prajurit itu roboh seketika.