LEGENDA LIMA PECUNDANG

LEGENDA LIMA PECUNDANG
Bag. 13, Bab. Pay, ch. 3


__ADS_3

“Bodoh!!!”


CREESSSS


Tok Gakgak nampak marah saat menggorok leher seorang prajurit yang berlutut di hadapannya. Prajurit itu jatuh dan menggelapar sesaat sebelum akhirnya benar-benar tewas.


Tiga orang prajurit lainnya terlihat ketakutan dan tertunduk sambil tetap berlutut di hadapan Tok Gakgak.


Raja Sangkamudian juga berada di sana. Dia juga terlihat marah dan gelisah.


“Panggil Hulubalang Pay.” Perintah Tok Gakgak kepada pengawalnya.


Dua orang pengawal segera berlalu dan memanggil Hulubalang Pay.


Hulubalang Pay tiba untuk menghadap ketika saat itu Tok Gakgak sedang menyembelih tiga orang prajurit lainnya. Sesaat ketiganya menggelepar di genangan darah mereka sendiri sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


“Mereka adalah prajurit bodoh. Mereka telah gagal menjalankan tugas yang di berikan.” Kata Tok Gakgak yang melihat kedatangan Hulubalang Pay.


Hulubalang Pay berlutut dan menundukkan kepala saat tiba di depan Tok Gakgak dan Raja Sangkamudian. Matanya sempat menangkap gambar ketika satu prajurit yang masih terlihat menggelapar di hujam tombak. Tubuh prajurit itu lantas diam tak bergerak.


Hulubalang Pay tetap menundukkan kepalanya. Dadanya bergemuruh.


“Ada tugas untukmu.” Raja Sangkamudian berkata kepada Hulubalang Pay.


Ini adalah pertama kalinya Pay berhadapan langsung kepada Sang Raja. Sebelumnya dia hanya pernah melihat dari kejauhan. Tugas mengawal Raja dan keluarganya tak pernah di berikan untuknya. Hulubalang Pay lebih sering mendapat tugas dari Tok Gakgak untuk menyelesaikan kekacauan di wilayah luar istana.


“Baik Tuan.” Jawab Hulubalang Pay.


“Di daerah utara, telah terjadi pemberontakan. Dharmangkasa dan keluarganya telah menyusun kekuatan untuk melakukan aksi kekerasan pada kerajaan yang sah.” Raja Sangkamudian menjelaskan.


Hulubalang Pay mendengarkan. Dia seperti tak asing mendengar nama Angkasa yang di sebutkan. Bukankah itu adalah nama Marga yang berkuasa sebelumnya? Kekuasaan mereka berakhir setelah di kudeta oleh Sangkamudian.


“Di utara masih tersisa beberapa prajurit pilihan. Mereka sebelumnya di komandoi oleh Hulubalang Niol. Menurut informasi, Hulubalang Niol telah tewas dalam pertempuran. Sisa pasukannya masih berada di sana dan akan bergabung dengan pasukanmu. Mereka akan ikut dalam perintahmu.” Kata Tok Gakgak kepada Hulubalang Pay.


“Baik Tuan.” Jawab Pay dengan sikap hormat.


“Ingat, jangan gagal. Tak ada tempat bagi orang yang gagal di kerajaan ini. Bunuh semua keluarga Angkasa. Bunuh semua yang menghalangi.” Tok Gakgak menegaskan.


“Baik Tuan.” Jawab Hulubalang Pay.


***


Hulubalang Pay dan seratus orang prajuritnya, di tambah seratus lima puluh prajurit regular berjalan menuju ke utara. Mereka siap mengemban misi pemadaman pemberontakan.


Iring-iringan seratus ekor kuda dengan tiga kereta kuda, di tambah seratus lima puluh prajurit yang berjalan kaki membuat jalanan di penuhi debu.


Butuh dua hari ketika mereka sampai kepada sebuah bukit di mana keluarga Angkasa terakhir bersembunyi.


Sisa prajurit pilihan yang selamat yang masih berada di kaki bukit menyambut kedatangan Hulubalang Pay. Mereka hanya tersisa tiga puluh orang.


Hanya ada satu jalan masuk menuju atas bukit itu yang mereka ketahui. Banyak jurang dan sungai beraliran deras yang tak mungkin untuk di lalui.


Hulubalang Pay memanggil beberapa prajurit yang sebelumnya selamat dari penyerangan yang mereka lakukan.


“Berapa orang kekuatan mereka?” Tanya Hulubalang Pay.

__ADS_1


Lima orang prajurit yang di panggil saling berpandangan. Mereka diam.


“Kenapa kalian diam? Jawab!!!” Bentak Hulubalang Pay.


“T-te-tersisa tiga orang Tuan.” Jawab salah satu dari mereka tergagap.


“Apa?? Tiga orang???” Hulubalang Pay terperanjat seakan tak percaya.


“Be-be-benar Tuan. Sebelumnya ada sepuluh orang di sana. Sisanya berhasil kami bunuh, kini sepertinya hanya tinggal tiga orang itu.” Jawab prajurit itu lagi.


“Aku di beritahu bahwa itu adalah pasukan yang akan menyerang kerajaan.” Kata Hulubalang Pay kemudian.


“Tak pernah ada pasukan di sana Tuan. Hanya ada satu keluarga sepertinya.”


“Keluarga Angkasa. Mereka adalah pemilik tahta sebelumnya bukan?” Hulubalang Pay seperti bicara kepada dirinya sendiri.


Para prajurit diam.


“Mereka hebat dalam bertarung?” Tanya Hulubalang Pay kemudian.


“Mereka sangat hebat Tuan, juga hebat dalam berstrategi. Bahkan Hulubalang Niol bukan lawan tanding yang sepadan bagi mereka.” Jawab prajurit itu.


“Hemmm…” Hulubalang Pay mulai berfikir.


Ada sesuatu dari dalam hatinya yang berbisik-bisik.


Dia berjalan ke arah para prajurit yang ikut bersamanya. Sejenak ia memandang mereka yang tengah istirahat.


“Kalian istirahatlah dahulu.” Hulubalang Pay memberikan perintah kepada lima prajurit yang ada di dekatnya.


***


Hulubalang Pay nampak sedang duduk di atas sebuah akar pohon. Dia sepertinya sedang berfikir keras. Ada kegundahan dalam hatinya.


Bukan, dia bukan sedang takut untuk bertarung. Tapi ia mulai mempertanyakan tujuan hidupnya menjadi prajurit istana.


Sejak lama ia tau bahwa Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak adalah penguasa yang lalim. Mereka memperoleh kekuasan dengan menumpahkan darah. Dan mereka mempertahankan kekuasaannya dengan menyebar terror dan ketakutan.


Di atas bukit sana ada garis keturunan Angkasa terakhir. Dia adalah pemilik tahta sesungguhnya. Dahulu kerajaan Samasta adalah kerajaan yang aman dan tentram. Raja menjalankan kekuasaannya dengan adil dan bijaksana. Tak ada pembunuhan yang semena-mena. Tak ada perampasan harta rakyat secara paksa.


Kini setelah kekuasaan keluarga Angkasa di ambil alih secara paksa. Rakyat banyak menderita. Pembunuhan menjadi hal yang biasa. Penyamun dan perompak tumbuh subur di seantero sisi kerajaan.


Hulubalang Pay cukup lama merenung.


“Aku akan bicara dengan mereka yang di sana.” Bathin Hulubalang Pay.


Hulubalang Pay lantas berjalan menemui pasukannya. Dia akan memberikan perintahnya.


“Dengarkan aku kalian semua.” Hulubalang Pay berteriak keras.


Para prajurit yang sedang duduk lantas segera bangkit dan membentuk barisan.


“Dengarkan aku. Kalian semua dirikanlah tenda di sini. Kalian akan beristirahat di sini. Aku akan ke atas bukit itu. Sendirian. Aku akan menemui mereka yang ada di atas bukit. Tunggu satu atau dua hari. Jika selepas itu aku tak kembali kepada kalian. Kalian pergilah. Kalian pergilah kembali ke ibu kota atau kemana pun yang kalian mau. Ingat!! Setelah satu atau dua hari.” Begitu Hulubalang Pay memberikan perintahnya.


“Baik Tuan.” Para prajurit itu menjawab serentak.

__ADS_1


Hulubalang Pay lantas berjalan mendaki bukit sendirian. Perjalanan itu memakan waktu lebih dari setengah hari.


Di sisian bukit akhirnya Hulubalang Pay melihat sebuah rumah panggung yang cukup besar. Halaman rumahnya cukup porak poranda akibat sebah pertempuran yang sengit. Hulubalang Pay melangkah memsuki halaman rumah tersebut.


ZHEEPP ZHEEPP


Dua anak panah di lepaskan dan menancap hanya setengah hasta di depan kaki Hulubalang Pay. Dia berhenti.


“Perkenalkan dirimu.” Teriak suara dari dalam rumah.


Hulubalang Pay lantas melemparkan pedang yang ia bawa dan melepaskan seluruh pakaian prajuritnya. Dia kini hanya memakai celana gombor yang terikat di pinggangnya.


“Namaku Pay. Aku ingin bicara.”


ZHEEPPP


Sebuah anak panah kembali di lepaskan dan kembali menancap tepat di depan kakinya.


Pay tak bergeming.


“Kau pergilah. Menghadaplah kembali kepada Rajamu.” Suara dari dalam kembali terdengar.


“Sangkamudian bukanlah Rajaku.” Jawab Pay.


Tak lama tiga orang keluar dari dalam rumah dengan menghunus senjata masing-masing.


“Apa maumu?” Tanya salah seorang dari mereka.


“Aku ingin bicara.” Jawab Pay.


“Bicaralah.”


“Siapa di antara kalian yang bernama Dharmangkasa?”


“Untuk apa kau bertanya?”


“Aku hanya ingin tau.”


“Untuk apa?”


“Benarkan dia adalah pewaris tahta yang seharusnya?”


“Tidak lagi. Sekarang kau pergilah.”


“Satu lagi."


“Cepat katakan.”


“Aku ingin bergabung bersamanya jika dia ingin mengakhiri kekuasaan Raja yang tak di inginkan rakyat sekarang.”


“Tak ada rencana seperti itu.”


“Maka buatlah.”


“Siapa namamu tadi?”

__ADS_1


“Pay!!”


__ADS_2