
“Bas, perkenalkan ini Zul dan Ijah, kami berjumpa dengan mereka saat perjalanan ke dusun pemburu itu.” Kata Dharma kepada Bas.
“Selamat datang dan selamat bergabung bersama kami Tuan Zul, Puan Ijah.” Kata Bas menyambut Zul dan Ijah.
“Terima kasih Tuan.” Jawab Zul menyambut salam dari Bas.
Bas tersenyum ketika Ijah mengatupkan kedua ujung jarinya kemudian ia melakukan hal yang sama.
“Kalian berdua ambilah waktu istirahat. Mungkin Tuan Pay berkenan menunjukan tempat untuk beristirahat?” Kata Dharma meminta kesediaan Pay untuk membawa mereka berdua untuk beristirahat.
“Baik Tuan, sepertinya hamba juga akan beristirahat sejenak.” Jawab Pay.
Dharma lantas beralih kepada Bas.
“Maafkan atas keterlambatan kami Bas.” Dharma berkata lagi.
“Tak mengapa Tuan.” Jawab Bas.
“Bagaimana keadaan kita sekarang?” Tanya Dharma lagi.
“Kekuatan kita sekarang bertambah beberapa puluh orang Tuan. Beberapa padepokan silat telah mengirimkan orang-orangnya untuk bergabung bersama kita. Beberapa lainnya telah memberikan utusan kepada kita dan menyatakan dukungannya atas rencana yang akan di laksanakan.” Bas menjelaskan.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Bagaimana dengan dusun pemburu itu Tuan?”
“Aku tidak tau. Tapi Tuan Pay sepertinya memiliki keyakinan bahwa mereka akan bersama kita.”
“Owh … aku percaya dengan Tuan Pay.”
“Aku juga Bas.”
“Tentang kedua orang itu? Bagaimana dengan mereka?”
“Zul dan Ijah? Mereka sepertinya orang-orang yang taguh. Ceritanya cukup panjang Bas. Nanti aku akan menceritakan semuanya padamu.”
“Baiklah Tuan. Aku akan menunggu cerita Tuan.”
“Ha … ha … ha … kau ingin menunggu cerita yang mana duluan Bas? Ijah?”
“Mungkin sebaiknya Tuan istirahatlah dahulu. Tuan terlihat lelah.” Kata Bas sambil berlalu meninggalkan Dharma dengan wajah merona.
***
CRESSSSS … darah menyembur dari leher yang teriris pisau.
Seorang prajurit yang tengah berjaga tewas seketika, ketika Ijah dengan tenang mengiris leher prajurit itu. Dua mayat prajurit lainnya juga terlihat tertelungkup di tanah dengan bersimbah darah.
Pagi itu, ketika matahari belum memberikan sinarnya, Ijah, Pay dan Bas mendapatkan tugas untuk mengeksekusi pos jaga prajurit yang di siagakan untuk memantau kota. Kota di pesisir itu adalah kota pertama yang akan di kuasai oleh kelompok Dharma dan pengikutnya.
Kota itu hanya di jaga oleh dua puluh prajurit biasa. Jadi membunuh mereka adalah perkara mudah bagi mereka bertiga.
Sementara di sebuah padang yang agak keluar dari kota tersebut, rombongan Dharmangkasa terlihat sedang mendirikan kemah. Mereka telah memutuskan untuk membuat kemahnya di tempat itu.
Setelah beberapa waktu mereka bersembunyi dan tak terlihat kini mereka mulai unjuk kekuatan setelah serangan pertama secara resmi telah mereka lakukan terhadap prajurit kerajaan.
Kelompok Dharma yang awalnya hanya berkekuatan dua ratus tiga puluh orang prajurit, seiring waktu telah berkembang menjadi hampir empat kali lipat. Perjuangan mereka ternyata juga mendapat simpati dari kalangan rakyat.
Beberapa puluh padepokan silat yang tersebar di sepanjang pesisir utara telah menggabungkan diri bersama mereka. Kehadiran mereka tentu saja menjadi penyemangat tersendiri bagi Dharma dan kelompoknya.
__ADS_1
Kesewenang-wenangan dan kesombongon Raja Sangkamudian dan kepala Hulubalang kerajaan Tok Gakgak ternyata membuat banyak rakyat akhirnya merasa jenuh dan marah. Mereka akhirnya menemukan momentum dan alasan untuk ikut berpartisipasi dalam menyuarakan kebenaran.
***
Sementara di istana Samasta, nampak Raja Sangkamudian dan kepala Hulubalang Tok Gakgak sedang berbicara secara serius.
“Kau sudah mendengar perkembangan situasi di utara bukan?” Raja Sangkamudian membuka percakapan.
“Sudah Tuan.” Jawab Tok Gakgak.
“Seratusan orang prajurit kita telah mereka bantai.” Kata Raja Sangkamudian dengan nada bergetar.
“Stempel keluarga Angkasa telah di tunjukan. Mereka telah memberikan petunjuk yang pasti untuk merebut tahta istana.” Kata Tok Gakgak.
“Keparat-keparat itu akan menerima akibatnya.” Raja Sangkamudian ternampak gusar.
“Benar Tuan hamba. Aku rasa, di beberapa penyerangan yang terjadi terhadap prajurit kita juga di lakukan oleh mereka”
“Hulubalang pengkhianat itu sepertinya ingin mencoba kemampuan kita. Tapi bagaimana mungkin orang pilihanmu bisa berbalik arah memunggungi kita?”
“Aku ceroboh Tuan. Aku pasti akan membunuhnya.” Tok Gakgak sepertinya sangat geram mengingat sosok Hulubalang Pay.
“Berapa saat ini kekuatan mereka?”
“Dari yang ku dengar, mereka kini berjumlah seribu orang Tuan.” Jawab Tok Gakgak.
“Persiapkan prajurit-prajurit kita. Kita harus hentikan mereka secepatnya sebelum kekuatan mereka semakin membesar.”
“Baik Tuan. Aku akan menyiapkan orang-orang terbaik kita.”
“Jangan sampai gagal. Musnahkan mereka semua yang berani menentang kita.”
“Baik Tuan.”
***
“Bangsat. Kalian tau kenapa aku memanggil kalian semua kemari?” Tok Gakgak berkata dengan wajah yang memerah.
Ke enam hulubalang itu hanya diam dengan sikap hormat.
“Keparat Pay telah bergabung dengan pemberontak. Mereka telah mencoba membangun kekuatan untuk menggulingkan tahta kerajaan saat ini.” Tok Gakgak meneruskan.
“Hamba pun telah mendengarnya Tuan.” Salah satu hulubalang itu akhirnya berkata.
“Kita akan secepatnya menghabisi mereka. Aku ingin kepala Pay berada di sini sebelum purnama datang.” Tok Gakgak berbicara dengan tangan terkepal. Ada kegusaran di wajahnya.
“Hulubalang Aleh, Ijun, Rojak dan Ayar, kalian berempat aku perintahkan untuk menghabisi para pemberontak itu secepatnya. Bawalah para prajurit kalian, dan juga aku akan menyertai kalian dengan seribu lima ratus orang prajurit untuk mendukung pertempuran kalian. Jangan beri ampun mereka.” Kata Tok Gakgak.
“Baik Tuan.” Kata keempat orang Hulubalang yang namanya telah di sebutkan.
“Hulubalang Jay dan Asan, kalian tetap di sini menjaga benteng istana beserta seribu lima ratus orang prajurit lainnya. Kita akan pastikan para pemberontak itu akan menyesal.”
“Baik Tuan.” Kata Jay dan Asan bersamaan.
***
“Prajurit kerajaan telah di kerahkan Tuan, mereka sedang melakukan perjalanan menuju kemari. Orang-orang kita yang berada di ibu kota telah memberikan kabar.” Kata Bas kepada Dharma.
Siang itu Dharma, Bas, Pay, Ijah, Zul dan Tok Alang sedang berkumpul di kemah.
__ADS_1
“Berapa kekuatan yang di kirimkan?” Tanya Dharma.
“Menurut informasi sekitar dua ribu orang.” Jawab Bas.
Dharma nampak mengangguk.
“itu adalah lebih dari separuh kekuatan istana. Berapa Hulubalang yang memimpin?” Tanya Pay.
“Empat orang” Jawab Bas.
“Berapa lama lagi mereka akan sampai kemari?” Tanya Dharma.
“Empat hari lagi.” Jawab Bas.
“Maaf Tuan, bolehkah hamba memberikan pendapat?” Kata Pay kepada Dharma.
“Silahkan Tuan Pay” Dharma memandang Pay.
“Hamba pasti mengenal keempat orang Hulubalang tersebut. Dengan izin Tuan, alangkah baiknya jika kita menyongsong mereka. Sebaiknya kita juga memperlihatkan kekuatan kita kepada mereka. Jika kita bergerak sekarang, lusa kita akan bisa bertemu mereka di sekitar kota Tanjung, pada saat itu izinkan hamba untuk berbicara kepada Hulubalang-hulubalang itu. Aku sangat yakin mereka cukup gamang dengan situasi saat ini.” Kata Pay menjelaskan.
“Bagaimana menurutmu Bas?” Tanya Dharma kepada Bas.
“Tuan Pay yakin ini akan berhasil?” Tanya Bas.
“Aku tak tau. Tapi aku merasa ini cukup layak untuk di coba. Aku berharap kita tak perlu melakukan pertempuran dan pertumpahan darah terhadap mereka. Tujuan kita adalah meluruskan kembali apa yang telah salah. Dan itu semua berhulu kepada Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak.” Kata Pay.
“Jika pembicaraan tak berhasil, apakah Tuan Pay akan dengan tanpa ragu untuk membunuh para Hulubalang itu? Maaf, bukan aku meragukan kapasitas Tuan, tapi kita harus merasa yakin di posisi mana pijakan kita” Kata Bas.
“Aku mengerti maksudmu Bas, percayalah, aku mengenal para Hulubalang itu. Mereka adalah teman-temanku. Kami pernah makan bersama. Jika pembicaraan ini gagal dan mereka masih tetap memilih berseberangan dengan kita, maka aku akan pastikan kematian mereka akan datang dengan sangat cepat. Tapi jika sebaliknya, mari kita hitung kembali, jika mereka mau berpihak kepada kita, maka itu akan menjadi kekuatan yang melebihi kekuatan istana saat ini. Di istana sendiri, saat ini hanya tersisa kurang dari dua ribu orang prajurit, dan hanya dua ratus orang prajurit pilihan yang tertinggal beserta dua ratus orang pemanah. Tok Gakgak benar-benar ceroboh kali ini.” Pay menjelaskan lebih detail.
“Bagaimana menurut kalian?” Tanya Dharma kepada yang lain.
“Ha … ha … ha … cuih, terserah kalian saja bagaimana, kalian tunjuk mana yang harus di bunuh, maka aku akan bunuh, tunjuk mana yang di biarkan hidup, maka aku tak akan menyentuhnya.” Kata Tok Alang yang memang sedikit gila.
“Bas?” Tanya Dharma.
“Rencana Tuan Pay cukup masuk akal. Jika kita bisa mengambil alih pasukan yang di bawa, menguasai istana hanya tinggal menunggu waktu.” Jawab Bas.
“Zul?”
“Sepertinya sudah saatnya makan siang, aku mendadak lapar” Jawab Zul sambil memandang ke depan tanpa beban.
“Hah, kau benar sialan. Sudah saatnya makan, urusan tahta ini membuatku juga cepat merasa lapar.” Ijah menimpali.
“Baiklah, kita akan melakukannya. Besok kita akan mulai perjalanan untuk menghadang mereka. Sampaikan kepada semuanya. Minta mereka untuk bersiap” Kata Dharma.
“Baik Tuan” Jawab mereka serentak.
***
Keesokan harinya, Dharma dan kelompoknya telah nampak membersihkan lokasi perkemahan yang telah mereka gunakan selama beberapa waktu terakhir.
Debu dari iring-iringan itu terlihat mengangkasa. Mereka telah mempersiapkan diri untuk setiap kemungkinan. Di landasi pandangan yang sama tentang rasa keadilan dan niat untuk menghentikan kedzaliman penguasa, mereka berjalan dengan langkah yang tegap menuju ke kota Tanjung untuk menghadang prajurit kerajaan.
Mereka harus berhasil. Jika gagal, mungkin itu adalah akhir dari upaya pengambil alihan tahta kerajaan. Dharma dan yang lainnya telah menghitung setiap kemungkinan.
Setiap kepala dari rombongan yang berjalan itu di penuhi dengan keyakinan yang meninggi dan dada bergemuruh.
Kota Tanjung akan menentukan bagaimana masa depan gerakan mereka selanjutnya.
__ADS_1