
“Kumpulkan semua mayat-mayat itu.” Seorang laki-laki memberi perintah kepada para prajurit kerajaan dari atas kudanya.
Laki-laki itu adalah Pay, Seorang Hulubalang istana. Dia adalah salah seorang pemimpin pasukan pilihan istana. Dia dan pasukannya tak pernah gagal dalam menjalankan tugas yang di berikan.
Hari itu, dia baru saja berhasil menjalankan sebuah tugas untuk membasmi para penyamun yang sering beraksi menghadang para pedagang yang melintas untuk berniaga ke ibu kota.
***
“Para penyamun di jalur selatan yang menghubungkan pesisir selatan dengan ibu kota semakin hari semakin berani. Mereka terus saja mengacau. Banyak pedagang yang takut untuk melintas di sana.” Seorang laki-laki dengan kumis tebal sedang berbicara kepada Pay.
“Benar Tuan. Hamba juga telah mendengarnya.” Pay menyimak dengan kepala hormat.
“Raja sangat tidak senang dengan situasi ini. Seharusnya kedatangan para pedagang-pedagang itu bisa menambah upeti-upeti bagi kerajaan.” Laki-laki berkumis tebal itu adalah kepala Hulubalang istana. Dia bernama Tok Gakgak.
Di istana Samasta sendiri terdapat delapan Hulubalang. Kedelapan Hulubalang ini di komandoi oleh seorang kepala Hulubalang yang mendapat perintah langsung dari Sang Raja.
Setiap Hulubalang mengomandoi seratus orang prajurit pilihan yang sangat terlatih. Tugas dari para prajurit pilihan ini adalah menjaga istana dari serangan luar. Juga mengamankan keluarga Raja. Sesekali mereka juga di tugaskan secara khusus untuk menjalankan misi yang tak bisa di lakukan oleh para prajurit biasa.
Dahulu pernah terjadi pengambil alihan tahta kerajaan secara kudeta. Seorang bangsawan lainnya, bernama Sangkamudian telah melakukan pemberontakkan kepada Raja yang berkuasa. Saat itu, Raja yang berkuasa adalah Raja Shamangkasa.
Sangkamudian dengan di bantu oleh Tok Gakgak berhasil menggulingkan Raja Shamangkasa yang telah berkuasa selama tiga puluh tahun lamanya. Dinasti Angkasa sendiri telah berkuasa selama lebih dari empat generasi di kerajaan Samasta.
Atas peran Tok Gakgak yang menguasai seluruh komando prajurit, Sangkamudian akhirnya dengan cukup mudah menggulingkan kekuasaan Raja Shamangkasa.
Raja Shamangkasa tak berkutik melawan pengkudeta karena pasukan yang harusnya menjaga serta mengamankan benteng serta istana ikut membelot atas perintah Tok Gakgak dan Sangkamudian.
Perlawanan Sang Raja terhadap Kudeta itu hanya berlangsung tidak lebih dari satu hari karena sebelumnya rencana tersebut telah di buat dengan sangat matang dan penuh perhitungan.
Raja Shamangkasa terbunuh dalam pertarungan yang tak berimbang. Pedang Tok Gakgak akhirnya yang mengakhiri hidup Sang Raja secara tragis. Dia tewas di depan para pasukan yang seharusnya ada untuk menjaganya.
Setelah kudeta kekuasaan berhasil, atas bisikan Tok Gakgak, akhirnya Sangkamudian yang telah di angkat menjadi raja yang baru memberikan titah pertamanya.
“Bersihkan semua orang yang menyandang nama Angkasa di belakang namanya dari wilayah kerajaan Samasta, habisi mereka semua.” Sebuah perintah yang menjadikan awal terror bagi rakyat kerajaan Samasta.
Sejak titah di gaungkan, berpuluh laki-laki dan perempuan yang di anggap menyandang nama Angkasa meregang nyawa di tangan para algojo kerajaan.
Tua dan muda, bahkan bayi sekalipun jika terindikasi memiliki garis keturunan dari nenek moyang Angkasa, maka bisa di pastikan akan segera berakhir hidupnya.
Sangkamudian bertahta dengan menyebarkan terror, dan Tok Gakgak adalah pengeksekusi terror yang sangat baik. Imbalannya adalah sekarang Tok Gakgak bahkan bisa berkuasa selayaknya Raja. Sangkamudian adalah Raja yang bertahta, namun Tok Gakgak sesungguhnya adalah orang yang menjalankan kerajaan.
Seluruh prajurit sangat takut akan kekuasaan Tok Gakgak karena ia tak akan segan untuk memenggal kepala setiap prajurit yang membangkang ataupun yang berbuat salah.
Saat kudeta terjadi, posisi Pay adalah komandan pasukan reguler yang menjaga sepuluh dusun yang berada di wilayah terluar kerajaan. Saat kudeta terjadi, bahkan Pay dan para prajurit lainnya serta para penduduk dusun tak mengetahui hal tersebut.
__ADS_1
Sebuah pergantian jaga kemudian mengharuskan Pay untuk kembali ke ibu kota kerajaan. Setiap dua tahun sekali para prajurit memang di rotasi untuk melakukan tugas di pos baru.
Pay dan pasukannya yang berjumlah dua puluh orang datang menghadap Tok Gakgak untuk melapor.
“Aku sudah mendengar banyak tentangmu. Kau adalah prajurit yang baik dan patuh serta bisa di andalkan. Kemampuan bertarungmu juga ku dengar sangat baik. Aku akan terus memantau setiap perkembangan tugasmu.” Kata Tok Gakgak kepada Pay.
“Terima kasih Tuan.” Jawab Pay.
“Sudah berapa lama kau menjadi prajurit?”
“Sudah lebih dari sepuluh tahun Tuan.”
“Jadi komandan?”
“Enam tahun Tuan.”
“Seperti yang ku dengar, kau cukup untuk memenuhi persyaratan.”
“Terima kasih Tuan.”
“Aku sedang membutuhkan seorang Hulubalang. Apakah kau berminat?” Tanya Tok Gakgak.
“Mohon ampun Tuan, hamba merasa tak layak mendapat kehormatan ini.”
Sebuah tendangan mendarat di pipi Pay. Pay terkejut dan sempat terjatuh, namun dengan cepat berjongkok kembali dengan tetap menunjukan sikap hormat.
“Bukan kau yang menentukan. Kau adalah prajurit kerajaan. Ikuti perintah!!” Tok Gakgak sepertinya marah.
“Ampuni hamba Tuan.”
“Jom Maidiiiii…..” Tok Gakgak seperti memanggil nama seseorang.
“Saya Tuan.” Seorang laki-laki dengan tubuh tegap datang menghampiri dengan sambil menunjukkan sikap hormatnya.
“Bunuh dia!!” Tok Gakgak memberikan perintah.
“Baik Tuan.” Jom Maidi menatap tajam ke arah Pay.
“Kau … bunuhlah Jom Maidi jika bisa.” Kata Tok Gakgak kepada Pay.
“Tuan….”
“Siapapun yang menang, aku akan mengangkatnya menjadi Hulubalang.” Jelas Tok Gakgak kemudian menepi dan mengambil tempat duduknya.
__ADS_1
Prajurit-prajurit yang lainnya juga menepi seperti memberi ruang kepada Pay dan Jom Maidi.
Keduanya tau, ini adalah perintah langsung. Membangkang, sama saja dengan merelakan kepalanya untuk berpisah dari badan.
Kini Jom Maidi dan Pay saling berhadapan. Mereka mengambil ancang-ancang. Jom Maidi menarik tombak yang berada di belakangnya. Begitu juga Pay segera menghunuskan pedangnya.
CIAATTT
Jom Maidi mengambil inisiatif untuk memulai. Dia menghujamkan tombaknya ke arah Pay. Pay bergerak ke samping dan menangkis tusukan tombak yang mengarah ke tubuhnya.
TING
Suara pedang dan tombak beradu.
Jom Maidi dengan lincah terus mendesak Pay dengan permainan jurus tombaknya yang berkelesat mencari sasaran. Namun Pay juga bukanlah prajurit kemarin sore. Sebelum menjadi prajurit istana, dia adalah pesilat yang mumpuni.
Pay dengan tangkas masih bisa mengimbangi permainan tombak Jom Maidi.
TING TING TING
Pay mulai menyerang. Dia mengayunkan pedangnya ke arah Jom Maidi. Dengan memutarkan tubuhnya dan menangkis tusukan tombak Jom Maidi, Pay menyabetkan pedangnya ke arah lawan tandingnya.
Keduanya saling mendesak dan menyerang dengan gerakan lincah.
Jom Maidi terlihat masuk ke jangkauan pedang Pay saat ia merasa ingin menyudahi pertarungan tersebut. Jom Maidi masuk dan melayangkan tombaknya ke kepala Pay kemudian mencoba menusukan ke tubuh lawannya.
Pay berhasil menghindari serangan yang di layangkan dan menangkis tusukan tombak tersebut.
TING TING
Kemudian dengan gerakan cepat dan terukur, Pay merendahkan tubuhnya untuk menjauh dari tombak Jom Maidi yang terangkat ke atas dan dengan cepat berhasil menebas perut Jom Maidi.
Jom Maidi terhuyung ke belakang sambil memegang perutnya yang terkena sabetan pedang. Pay bergerak cepat menyusulnya, lalu dengan satu gerakan kilat ia mengambil tempat di belakang punggung Jom Maidi dan tanpa ampun kemudian menggorokan pedangnya ke leher Jom Maidi.
CREESSSSSSSS
Darah segera meluncur dari leher Jom Maidi yang tersembelih.
“Arrgggggg……”
“Maafkan aku Tuan.” Pay dengan lirih membisikan kalimat ke telinga Jom Maidi sambil memeluk tubuhnya yang akan terkulai ke tanah.
Jom Maidi tewas seketika. Dia ambruk bersimbah darah.
__ADS_1