
“Kau mengerti maksudku Tok Gakgak?”
“Hamba mengerti Tuan.”
“Kita harus mengambil alih pimpinan pasukan. Para prajurit ini sudah terlalu lama di manja oleh komandan mereka.”
“Hamba akan laksanakan Tuan.”
“Jangan kecewakan aku lagi. Seperti masa lalu, kini kembali hanya kita berdua.”
***
Tok Gakgak memanggil kedua Hulubalang yang tersisa untuk menghadap.
“Hulubalang Jay, Hulubalang Asan, kalian berdua tau kenapa aku memanggil kalian berdua kemari?”
“Berikan kami petunjuk Tuan,” kata kedua Hulubalang itu bersamaan.
Tok Gakgak berjalan mendekati mereka berdua dan memutarinya. Keduanya masih berlutut dengan sikap hormat.
“Kalian adalah Hulubalang yang tersisa untuk menjaga istana ini.” Tok Gakgak berhenti di belakang mereka. Lalu dengan secepat kilat ia mencabut pedangnya.
CRES CREESSS
Dengan dua kali tebasan, pedang Tok Gakgak memenggal batang leher kedua Hulubalang malang itu. Seketika keduanya ambruk meregang nyawa tanpa sempat melakukan perlawanan.
“Dan sepertinya aku telah kehilangan kepercayaan kepada kalian berdua,” Tok Gakgak berkata sembari mengusap mata pedangnya yang membasah terkena noda darah.
“Sepertinya mengandalkan diri sendiri itu jauh lebih baik,” kata Tok Gakgak lagi kepada kedua jasad Hulubalang malang tersebut.
“Aku sendiri yang akan memimpin semua pasukan yang tersisa untuk melawan para pengkhianat itu."
***
“Mulai hari ini, aku sendiri yang akan memimpin kalian semua.” Terdengar suara menggelegar Tok Gakgak di depan seluruh prajurit.
“Jay dan juga Asan ternyata telah melakukan persekongkolan dengan para pengkhianat-pengkhianat itu. Jadi, siapapun di antara kalian yang berkhianat, maka aku akan pastikan kepala kalian akan aku lepaskan dari tempatnya semula.” Tok Gakgak terdengar mengancam para prajuritnya.
Raja Sangkamudian kemudian maju ke depan dan ikut berkata.
“Jangan jadi pengecut. Ikutilah perintah Raja dan Panglimamu. Jika kalian patuh dan taat, maka aku akan memastikan kemenangan akan selalu berada di pihak kita.”
“Kami akan patuh dan taat Tuan,” jawab para prajurit itu serentak.
***
“Kita lakukan serangan malam ini,” kata Raja Sangkamudian kepada Tok Gakgak.
“Benar Tuan, kita kejutkan pasukan mereka yang di pintu depan dan sisi samping benteng. Hamba akan persiapkan mereka,” kata Tok Gakgak.
“Kita akan kejutkan mereka. Sudah satu bulan mereka di sana, mereka tentu tak akan mengira jika kita akan menyerang. Kita lakukan saat menjelang dini hari.” Raja Sangkamudian memberikan perintah.
“Baik Tuan.”
***
__ADS_1
Menjelang dini hari itu, api terlihat membakar beberapa tenda yang di jadikan kemah oleh pasukan Dharmangkasa.
Serangan yang di lakukan secara mendadak oleh Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak dengan mengerahkan pasukan pemanahnya berhasil membunuh beberapa puluh pasukan Dharmangkasa dan melukai beberapa lainnya.
“Mereka menyerang.”
Dharma dan yang lainnya segera bangkit ketika beberapa prajurit memberitahukan perihal serangan tersebut.
Dharma, Bas, Pay , Tok Alang, Zul dan Ijah saat itu sedang berada di kemah bagian belakang yang jaraknya cukup jauh dari serangan yang di lakukan.
Bergegas mereka semua segera menuju ke kemah yang di jadikan barisan terdepan. Tapi saat mereka sampai, serangan itu telah usai.
Para penyerang mereka juga telah masuk kembali ke dalam benteng istana.
Di depan mereka kini yang terlihat adalah beberapa tenda yang terbakar dan prajurit-prajurit tewas maupun terluka.
Mereka semua memandang keadaan ini dengan nafas yang tertahan.
***
“Serangan kita berhasil Tuan," kata Tok Gakgak kepada Raja Sangkamudian.
“Benar Tok Gakgak. Setelah ini kita lihat, apa yang akan di lakukan oleh para pecundang-pecundang itu.”
***
Suara riuh para prajurit menggema di dalam benteng ketika ratusan anak panah menghujani mereka dari luar. Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak bergegas keluar melihat situasi.
“Apa yang terjadi?” Raja Sangkamudian bertanya seolah tak percaya.
Dari pendopo istana, mereka berdua melihat pasukan pemanah mereka seperti kewalahan menghadapi pemanah-pemanah yang berada di luar benteng istana. Terlihat satu persatu mereka berjatuhan dari atas benteng terkena anak panah yang di lesatkan dari luar benteng.
“Dari mana mereka mendapatkan pasukan pemanah?” Raja Sangkamudian terlihat gusar.
“Hamba juga tidak tau Tuan.” Tok Gakgak menjawab dengan agak gugup.
“Kenapa kita bisa tidak tau jika mereka ternyata memiliki pasukan pemanah?”
Terlihat Raja Sangkamudian semakin cemas.
Tok Gakgak diam.
“Sepertinya sudah saatnya kita lakukan pertempuran dengan mereka,” kata Raja Sangkamudian kepada Tok Gakgak.
“Benar Tuan. Kita lakukan sekarang,” jawab Tok Gakgak.
“Bagaimana strateginya?”
Tok Gakgak kemudian memberikan sarannya kepada Raja Sangkamudian. Setelah berfikir sejenak, Raja Sangkamudian kemudian mengangguk dan memberikan persetujuannya.
Tok Gakgak kemudian memerintahkan seluruh prajuritnya untuk mundur termasuk para pemanah yang tersisa. Mereka sepertinya akan membiarkan pasukan Dharma untuk mendobrak masuk ke dalam benteng.
***
BUG BUG BUG
__ADS_1
Berulang-ulang mereka menghantamkan balok kayu besar itu ke pintu benteng. Hingga akhirnya, hantaman balok kayu itu berhasil memecah pintu tersebut.
BRAAKKKKK
Pintu benteng itu terpecah. Seketika Dharma dan Bas beserta pasukannya berhamburan masuk ke dalam benteng dengan masing-masing menghunuskan pedang dan tombaknya.
HAAAAAAAA
Suara-suara pasukan Dharma terdengar menggema ketika berhasil masuk ke dalam benteng. Namun tak ada sambutan di sana.
Tak ada prajurit yang bersiap menanti serangan. Hanya ada beberapa lusin mayat yang tergeletak sembarangan.
Dharma dan Bas mendadak bingung.
“Kemana mereka?” Seru Bas.
“Aku akan melihat ke istana. Bas kau bawa beberapa orang dan buka gerbang depan.” Perintah Dharma yang kemudian di ikuti oleh pasukan yang bersamanya.
Sementara Bas dan beberapa orang pasukannya kemudian menuju gerbang depan benteng untuk membukanya.
Pasukan Dharma kemudian melintasi halaman istana yang cukup luas ketika tiba-tiba dari arah depan melesat puluhan anak panah menghujani mereka.
SHEPP SHEEPP SHEEPPP
Beberapa prajurit jatuh terkena anak panah-anak panah itu.
ARGHHHHH
Dharma yang berada di barisan terdepan beberapa kali berhasil menepis anak panah yang datang dengan pedangnya. Namun ia dan pasukannya terus berlari menerobos hujanan anak panah tersebut.
Jarak mereka kini hanya tersisa beberapa tombak lagi ketika dari atas dan dari bawah panggung istana, Tok Gakgak bersama Raja Sangkamudian berserta prajurit-prajuritnya berhamburan keluar untuk menyambut serangan yang datang kepada mereka.
SERAAANGGG
TING TING TING
Suara pedang dan tombak terdengar saling beradu memekakan gendang telinga. Riuh suara para prajurit saling bersahutan untuk bertempur dan saling bunuh.
AAARGGHHHH
Korban jiwa dari kedua belah pihak tak lagi bisa di elakan. Tubuh-tubuh para prajurit itu satu persatu mulai berjatuhan meregang nyawa ketika tertebas pedang atau tertusuk tombak.
Dharma terlihat dengan pedangnya lincah bergerak menghabisi prajurit-prajurit istana yang mencoba untuk menghadangnya. Baju dan wajahnya terlihat merah terciprat darah.
Begitu pula Tok Gakgak dan Raja Sangkamudian yang dengan lihai melompat dan berputar mengayunkan kedua pedangnya untuk memberikan ajal kepada siapa saja pasukan Dharma yang berada di dekatnya.
Berpuluh tubuh prajurit dari kedua belah pihak tergeletak tak bernyawa di halaman istana kerajaan Samasta.
Sementara Bas yang telah berhasil membuka pintu gerbang depan, kini bersama Zul dan ratusan orang pasukan lainnya ikut masuk dan bergabung dalam penyerangan.
Dua ribu orang lebih kini berada di halaman istana kerajaan Samasta untuk bertempur dan saling bunuh.
Suara dentingan senjata di sertai pekik teriak gemuruh semangat terdengar saling bersahutan dengan jerit kesakitan para prajurit yang meregang nyawa.
Hari itu kekerasan berbumbu tinta darah kembali mewarnai sejarah kerajaan Samasta.
__ADS_1