LEGENDA LIMA PECUNDANG

LEGENDA LIMA PECUNDANG
Bag. 19


__ADS_3

“Dharma dan Bas telah berhasil masuk ke dalam benteng,” kata Pay kepada Ijah dan Tok Alang.


“Kita susul mereka,” Ijah berkata.


Saat itu pasukan yang bersama mereka terlihat sedang berusaha untuk mendobrak gerbang belakang benteng. Namun sepertinya mereka cukup kesulitan karena pintu itu terasa sangat kokoh.


“Tidak … tidak … kita harus tetap di sini. Jangan tinggalkan penjagaan.” kata Pay lagi.


“Cuih … aku sudah tidak sabar untuk menghajar mereka, cuih …” Tok Alang terlihat geram.


“Bersabarlah Tok Alang. Saatnya akan segera tiba,” kata Pay mencoba menangkan.


***


Bas maju merangsek ke dalam pertempuran bersama ratusan prajurit di belakangnya. Dia menebaskan pedangnya kepada para prajurit istana yang mencoba menghadangnya. Bas tau bahwa dia harus berada di sisi Dharma agar bisa melindungi calon Rajanya.


Bas melihat Dharma sedang berada di tengah-tengah pertarungan. Dia mencoba untuk mendekatinya. Beberapa prajurit istana yang mencoba menghadangnya roboh terkena sabetan pedang dari Bas.


Kini Bas dan Dharma telah bersisian di tengah pertempuran. Bersama-sama mereka terus merangsek maju dan memukul prajurit istana yang sepertinya mulai terdesak.


“Pintu belakang sepertinya belum berhasil terbuka,” kata Dharma kepada Bas.


“Sepertinya begitu,” jawab Bas.


“Pergilah ke sana dan buka pintu itu.” Perintah Dharma.


“Tapi Tuan…”


“Pergilah, aku baik-baik saja.”


Bas segera berlalu dari sisi Dharma. Ia berputar ke belakang istana untuk mencoba membuka pintu belakang benteng yang berada di sana.


“Bantu aku,” kata Bas ketika dengan sedikit berlari berpapasan dengan Zul yang saat itu tengah asyik menghantamkan tongkat kayunya kepada para prajurit istana.


“Kemana?” Tanya Zul.


“Membuka gerbang belakang.”


BUG BUG


Zul menghantamkan tongkatnya ke kepala prajurit yang datang dari belakangnya sambil berputar. Kemudian dengan gesit ia berlari menyusul Bas yang telah mendahuluinya menuju ke belakang halaman istana.


Tak ada penjagaan di sana. Sepertinya semua prajurit istana di arahkan untuk bertarung di halaman depan.


***


“Tinggalkan dua ratus orang di sini. Tetap jaga pintu ini jangan sampai ada yang melewatinya.” Bas berkata kepada Pay ketika ia dan Zul berhasil membuka pintu tersebut.


Pay kemudian memerintahkan pasukan di belakangnya seperti yang di katakan oleh Bas. Sementara sisanya ikut masuk bersama mereka.


Kini Bas, Pay, Ijah, Zul dan Tok Alang bersama ratusan orang pasukannya berlari maju untuk masuk ke dalam pertempuran.


***


Wajah dan pakaian Tok Gakgak telah basah oleh darah, Tak terhitung jumlah nyawa pasukan Dharma yang telah tewas di tangannya dalam pertempuran itu.


CIATT CIAATTT


TING TING


JRES JRESSS


Tok Gakgak dengan lincah memainkan dua pedang di tangannya menangkis dan membalas setiap serangan yang datang.

__ADS_1


Sementara di belakangnya, Raja Sangkamudian juga dengan cekatan menghabisi pasukan yang mencoba menyerang dirinya. Mayat-mayat pasukan Dharma terlihat berserakan saling bertindih di sekitar mereka.


“Mereka terlalu banyak Tuan. Mundurlah ke dalam istana.” Tok Gakgak memberikan sarannya kepada Raja Sangkamudian.


Raja Sangkamudian mengikuti apa yang di katakana Tok Gakgak. Dia perlahan mundur dari arena pertempuran. Tok Gakgak melindunginya dari setiap usaha penyerangan.


Dharma melihat keberadaan Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak. Dia mencoba mengejar dan mendekati keduanya sambil membelah hadangan para pengawal istana.


Dharma berputar dan berlari dengan berpijakan pada lantai bawah istana Samasta dan melompat ke atasnya.


HUP HUP


TING TING TING


Suara dentingan pedang terdengar saling beradu.


HAP


SHET SHETT


TING TING


Dharma mencoba menyerang dengan pedangnya. Namun berhasil di tangkis.


Kini Dharma telah berhadap-hadapan dengan Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak di selasar istana.


“Pemimpin pemberontak tenyata …”


HUP


SHET


TING TING


“Bocah sialan.” Terdengar Raja Sangkamudian mengumpat sesaat ia mulai meyerang Dharma.


Pertempuran dua lawan satu terjadi di selasar istana itu.


Sementara di halaman istana, Bas, Pay, Zul, Ijah dan Tok Alang terlihat telah bergabung dalam pertempuran. Bas terlihat brutal mengayunkan pedangnya ke kiri dan kanan.


Pay juga terlihat begitu anggun dalam bertarung. Gerakannya sangat lembut namun mematikan.


Zul Dan Ijah, mereka saling berdampingan menjaga. Begitu juga halnya dengan Tok Alang.


Mayat-mayat terlihat berserakan di penjuru halaman istana. Genangan darah juga menghiasi tubuh-tubuh yang tak lagi bernyawa.


Sementara mereka yang masih berdiri, tetap bergerak untuk saling membunuh satu sama lainnya. Beberapa dari mereka mungkin juga saling mengenal.


***


“Di mana Dharma?” Pay bertanya kepada Bas ketika mereka saling melihat dalam pertempuran.


“Entahlah,” jawab Bas.


“Dia di atas,” kata Ijah yang datang bersama Zul.


Mereka melihat ke arah yang di tunjuk Ijah. Terlihat Dharma sedang bertarung sengit melawan Tok Gakgak dan Raja Sangkamudian.


“Sial,” kata Pay mengumpat.


“Aku akan kesana.” Bas segera berlari melewati beberapa prajurit yang tengah bertarung.


Di selasar istana, Dharma terlihat mulai kewalahan menghadapi dua orang yang paling bertanggung jawab atas kekacauan di kerajaan Samasta. Beberapa kali ia terlihat mendapatkan tendangan dari Tok Gakgak ataupun Raja Sangkamudian.

__ADS_1


HIATT


SHETT


Ayunan pedang Dharma berkali-kali bisa di hindari oleh Tok Gakgak.


TING TING


Dharma berhasil menangkis serangan pedang yang di layangkan Raja sangkamudian.


Namun dia tak mampu menghindar ketika sabetan pedang berikutnya yang di berikan Tok Gakgak mengarah ke perutnya.


CRESSS


ARGHHH


Dharma tersentak dan terdesak ke belakang. Namun Tok Gakgak tak memberinya kesempatan. Tok Gakgak menghujamkan pedangnya kearah leher Dharma.


CRESSSSS


Darah segera menyembur dari leher Dharma.


Dia terhuyung sesaat sebelum akhirnya dia lunglai dengan lutut menyentuh lantai.


Dharma mencoba memegang bekas tebasan pedang yang berhasil mengenai lehernya untuk menekan lukanya.


Raja Sangkamudian mencoba mendekati Dharma yang sepertinya sudah kehilangan kemampuan untuk melawan. Dia akan memenggal kepala Dharma ketika sebuah serangan cepat tiba-tiba mengarah kearahnya.


TING TING


Raja Sangkamudian berhasil menepis serangan itu. Itu adalah serangan pedang Bas yang terlambat sampai untuk melindungi Dharma.


“Tuan … maafkan aku …” Kata Bas yang menyongsong tubuh Dharma yang nyaris terjerembab ke lantai.


Raja Sangkamudian mundur beberapa langkah menyisi bersebelahan dengan Tok Gakgak ketika serangan berikutnya datang menuju mereka.


CIAATTT


JREESSSS


Sebuah tebasan pedang dari belakang melesat ke sisi Tok Gakgak dan melukai sedikit bahunya. Pay ternyata telah tiba-tiba berada di sana dan bersiap kembali dengan ancang-ancang untuk menyerang.


“Pengkhianaaattt ...”


Tok Gakgak terlihat murka ketika melihat siapa yang menyerangnya. Dia segera mengarahkan pedangnya untuk menyambut serangan Pay berikutnya.


Pay menerjang Tok Gakgak dengan pedangnya, Tok Gakgak menangkis dan membalas serangan.


TING TING TING


Pedang keduanya saling beradu.


Sementara Raja Sangkamudian terlihat akan ikut dalam pertarungan keduanya, ketika dua bilah pisau terlihat melesat menuju dirinya.


SHET SHET


Raja Sangkamudian berhasil menghindari lemparan pisau tersebut. Itu adalah Ijah yang datang bersama Zul. Tok Alang menyusul di belakang mereka.


Bas berdiri dari memeluk tubuh Dharma.


Tubuh Dharma kini tergeletak tak bernyawa di lantai. Wajah Bas terlihat penuh amarah.


Bas, Ijah, Zul dan Tok Alang kini berhadap-hadapan langsung dengan Raja Sangkamudian dengan ancang-ancang segera menyerang, sementara Pay masih terlihat bertarung sengit melawan Tok Gakgak di selasar istana Samasta.

__ADS_1


Semuanya telah bersiap untuk membunuh atau di bunuh.


__ADS_2