
Dharma telah tewas di tangan Tok Gakgak.
“Tak ada lagi yang memimpin kalian. Aku akan menawarkan sesuatu kepada kalian jika ...,” kata Raja Sangkamudian yang belum menyelesaikan kalimatnya telah terlebih dahulu di terjang oleh Bas.
CIAAATTT
SHET SHETT
Bas menyerang Raja Sangkamudian dengan penuh amarah menggunakan pedangnya. Zul dan Ijah kemudian ikut bergabung dalam pertarungan itu.
Zul melayangkan tongkatnya bergantian dengan kelebatan pisau yang di lakukan oleh Ijah.
TAKK
CRING
Suara tongkat dan dentingan pisau terdengar ketika serangan mereka dapat tertangkis oleh Raja Sangkamudian.
Sementara di dekat mereka, Pay dan Tok Gakgak masih bertarung sengit. Tok Alang yang melihat Pay bertarung sendirian melawan Tok Gakgak, memutuskan untuk ikut membantu Pay.
Tok Alang meraih pedangnya dan langsung memburu Tok Gakgak.
TING TING TING
Tok Gakgak terlihat terkejut mendapat serangan dari Tok Alang, namun masih bisa menangkis dan menghindar.
“Brengsek kalian ...,” Tok Gakgak terdengar geram.
Pay lalu menebaskan pedangnya bergantian dengan Tok Alang menyerang Tok Gakgak. Tok Gakgak agak terdesak mendapat serengan mereka berdua. Ia hanya bisa bertahan mendapatkan serangan itu.
***
Bas, Zul dan Ijah juga masih terlihat bertarung sengit menghadapi Raja Sangkamudian.
Walau sendirian, Raja Sangkamudian merupakan seorang pesilat yang mumpuni. Ia tak gentar menghadapi serangan tiga orang sekaligus.
Begitu juga halnya dengan Tok Gakgak. Menghadapi serangan Pay dan juga Tok Alang, Tok Gakgak masih terlihat mampu mengimbangi.
Pertarungan di selasar istana itu semakin terlihat sengit. Kelebatan pedang, pisau dan tongkat saling memburu untuk membunuh lawannya masing-masing.
Tok Alang terlihat masuk ke jangkauan Tok Gakgak dengan tusukan pedangnya ketika Tok Gakgak melompat berputar dan hendak menebaskan pedangnya kearah tubuh Tok Alang. Namun dengan cepat, Pay masuk dan melindungi Tok Alang dari sabetan pedang Tok Gakgak.
TING
Pay menggeser tubuhnya ke samping ketika Tok Gakgak mendaratkan kakinya di lantai, lalu Pay dengan gerakan cepat menebaskan dua kali pedangnya ke arah tubuh Tok Gakgak.
SHET SHETT
ARGHHHHH
Dada dan perut Tok Gakgak koyak terkena sabetan pedang Pay. Tok Gakgak terkejut dan terhuyung. Kesempatan itu kemudian di gunakan Tok Alang untuk menyudahi pertarungan mereka.
Dengan cepat Tok Alang menghujamkan pedangnya dan berhasil menusuk lambung Tok Gakgak hingga menembus ke belakang tubuhnya.
HEKKKKKKK
Tok Gakgak terduduk di lantai. Pay tak ingin lagi berlama-lama, dengan satu ayunan pedangnya, kepala Tok Gakgak akhirnya terpisah dari badannya. Tok Gakgak tewas seketika dengan kepala terpenggal.
Tak jauh dari tempat pertarungan Pay berserta Tok Alang yang telah berhasil menyudahi perlawanan Tok Gakgak, Raja Sangkamudian terlihat mulai kelelahan menghadapi serangan yang di lakukan oleh Bas, Ijah dan Zul.
Dia terdesak. Walau Raja Sangkamudian masih mampu menangkis setiap serangan pedang dan pisau, namun berkali-kali tendangan Bas dan hantaman tongkat dari Zul berhasil mendarat di tubuhnya.
BUG BUG
Raja Sangkamudian semakin kewalahan.
TAK TAK TAK
Tiga kali serangan tongkat yang di layangkan Zul berhasil ia tangkis. Namun sebuah ayunan pedang dari Bas terlambat ia antisipasi.
JREESSSSSS
__ADS_1
Darah menyembur dari perut sebelah kiri Raja Sangkamudian. Ia tersandar di tiang sambil memegangi perutnya yang terluka.
“T-t-tunggu dulu ...,” kata Raja Sangkamudian ketika ia melihat Bas mendekat dengan pedang terhunus.
“Biarkan aku bicara sebentar,” lanjut Raja Sangkamudian tersengal.
Pay dan Tok Alang yang telah menyudahi pertarungan mereka, ikut mendekat ke arah Raja Sangkamudian meninggalkan tubuh tanpa kepala Tok Gakgak yang terbujur tergenang darah di belakang mereka.
Raja Sangkamudian kini di kelilingi oleh lima orang yang penuh amarah.
Pay, Tok Alang, Bas, Ijah dan Zul semakin mendekat.
“Setelah ini apa yang akan kalian lakukan? Lihatlah Dharmangkasa sudah mati. Kalian tak lagi memiliki pemimpin. Jika kalian mau bekerja sama denganku …,”
CRESSSSS
AARGGHHHHH
Raja Sangkamudian belum menyelesaikan ucapannya ketika Ijah dengan cepat menggorok leher sang Raja lalim tersebut dengan pisaunya dari belakang. Darah segera menyembur dari luka yang di torehkan Ijah di leher Sang Raja.
Raja Sangkamudian langsung ambruk menggelepar meregang nyawa.
“Dia terlalu banyak bicara,” ucap Ijah sambil mengelap pisau ke kainnya.
Keempat temannya hanya bisa menatap Ijah tanpa ada yang bersuara.
Bas kemudian beralih menghampiri jasad Dharma yang tergeletak di lantai. Dia terlihat sangat bersedih dengan kematian Dharma.
“Haaaaaaa ...,” suara Bas melengking.
Yang lain kemudian mengikuti untuk mendekat dan mencoba menenangkannya.
“Sekarang bagaimana?” Tanya Zul.
“Entahlah,” jawab Pay.
“Hentikan dahulu pertempuran yang masih ada di luar,” kata Bas.
“Berhentilaaahhhh…” Pay berseru kepada semuanya.
Hingga tiga kali Pay mengulangi kalimatnya sebelum akhirnya mereka semua berhenti untuk saling bertarung.
“Ketahuilah, bahwa Sangkamudian dan Tok Gakgak telah binasa. Sebaiknya letakan senjata kalian semua. Semuanya. Ini sudah selesai,” kata Pay melanjutkan.
Empat Hulubalang kemudian mendekati Pay.
“Bagaimana Tuan?” Hulubalang Ayar bertanya kepada Pay.
“Ini sudah selesai. Dua orang itu telah mati. Tak perlu lagi di teruskan. Bisakah Tuan Ayar memimpin orang-orang kita untuk melucuti semua senjata yang ada? Ini sudah selesai,” kata Pay.
“Baiklah Tuan.”
Pay dan Tok Alang kembali untuk menjumpai tiga teman mereka. Ketiganya masih berada di sisi jasad Dharma.
“Kita sudah selesai. Raja telah berhasil kita bunuh. Sekarang apa lagi?” Ijah bertanya.
“Aku pun tak tau. Tuan Dharma menjadi korban dari perjuangan ini.” Bas menjawab dengan rasa sesal.
“Lantas bagaimana sekarang?” Tanya Zul.
“Kita hanya merencanakan untuk membunuh Sangkamudian dan Tok Gakgak, tapi kita melupakan rencana tentang bagaimana jika satu-satunya orang yang akan kita berikan tahtanya tiba-tiba harus meninggalkan kita,” kata Pay bersedih.
“Kerajaan sekarang tanpa pemimpin. Tahta juga tak ada yang memiliki. Dan itu tak boleh terjadi,” kata Tok Alang menimpali.
“Sekarang bagaimana?” Tanya Bas mengulang pertanyaan yang sudah-sudah.
“Entahlah,” jawab Pay.
Empat Hulubalang, Ijun, Ayar, Rojak dan Aleh mendatangi mereka berlima untuk memberitahukan situasi. Namun ketika mereka melihat mayat Dharma, keempatnya terdiam.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Hulubalang Aleh.
__ADS_1
“Kami lengah, sehingga menyebabkan ini terjadi,” jawab Pay dengan nada sedih.
“Lantas bagaimana selanjutnya? Orang yang di harapkan untuk bertahta telah tiada. Tidak mungkin kerajaan di biarkan kosong tanpa ada yang memerintah,” kata Hulubalang Ayar lagi.
“Kita harus mengangkat seseorang untuk memimpin,” Hulubalang Ijun memberikan pendapatnya.
“Siapa yang akan kita angkat untuk memimpin?” Tanya Pay.
“Bagaimana jika Tuan Pay saja yang meneruskan kepemimpinan kerajaan ini?” Usul Bas.
“Tidak Bas. Tidak bisa. Aku mungkin bisa memimpin ribuan prajurit untuk bertempur, tapi aku tak memiliki kemampuan untuk memimpin sebuah kerajaan,” jawab Pay.
“Lantas bagaimana? Tahta kerajaan juga tak mungkin di biarkan kosong berlarut-larut,” kata Hulubalang Rojak.
“Kau saja Bas. Di antara kita, hanya kau yang memiliki darah bangsawan. Kau sudah terbiasa dengan tata cara pemerintahan.” Tiba-tiba Ijah memberikan usulnya.
“Ijah benar. Kau saja Bas yang menggantikan posisi Dharma,” ucap Pay menambahkan.
“Aku setuju.” Tok Alang juga memberikan pendapatnya.
“Iya, aku juga setuju,” kata Zul juga.
“Ini tak seperti yang ku inginkan,” kata Bas.
“Kematian Tuan Dharma juga tak ada dari kita yang menginginkan,” ucap Pay lagi.
“Baiklah jika itu yang kalian inginkan. Tapi aku tak bisa memerintah kerajaan ini sendirian. Kalian harus membantuku,” kata Bas memberikan persetujuan.
“Tentu saja kami akan membantumu Bas,” Kata Pay menjawab.
“Satu lagi, aku harap Ijah untuk selalu berada di sisiku, kau tadi yang mengusulkan bukan?”
Semuanya diam dan memandang Ijah.
“Ijah … kau harus mendampingku memerintah Negri ini. Aku melihat kau akan sangat mampu untuk mengendalikan keadaan di dalam istana nantinya.” kata Bas.
“Kenapa harus aku?” Ijah mendelik.
“Kita sudah setuju. Bas dan Ijah yang akan memimpin kerajaan Samasta ini untuk ke depannya,” kata Pay menegaskan.
“Benar. Ini sudah di sepakati,” kata Zul memberikan tanggapan.
“Ijah dan Bas. Ha … ha … ha … aku tak sabar ingin melihat kalian segera menikah,” kata Tok Alang menimpali dengan tertawa sementara melupakan kesedihan mereka sesaat.
“Ini benar-benar memalukan,” kata Ijah sambil mengalihkan pandangannya menjauhi Bas.
“Jika urusan tahta ini telah selesai, sebaiknya kita bawa jasad Tuan Dharma untuk di kebumikan. Kita juga masih harus menjumpai para prajurit kita dan memberitahukan apa yang terjadi. Juga kita harus segera mengumumkan kepada seluruh rakyat kerajaan Samasta tentang hal ini,” kata Pay mengakhiri pembicaraan.
“Baiklah kita sepakat.”
***
Hari itu kisah tentang perebutan kekuasaan di kerajaan Samasta kembali tercatat dengan tinta darah. Di halaman istana, ratusan tubuh para prajurit terlihat berserakan tak lagi bernyawa. Genangan darah dan bau anyirnya, menyerbak menghiasi penggalan cerita pada generasi berikutnya.
***
Berita kematian Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak menyebar cepat ke seluruh penjuru negri. Penasbihan Bas untuk meneruskan tahta kerajaan Samasta di lakukan secara sederhana di hadapan seluruh prajurit.
Bas meminta Ijah untuk mendampinginya memerintah kerajaan Samasta. Walau terlihat canggung, namun pernikahan mereka tetap berlangsung secara khidmat. Ijah selalu terlihat memegang pisau kecilnya, bahkan di saat malam pertama mereka.
Pay akhirnya bersedia untuk menjadi kepala Hulubalang istana. Sementara Tok Alang dan Zul di angkat sebagai penasehat kerajaan.
Kelima orang yang pernah menjadi pecundang itu, kini akan bahu membahu mengembalikan kejayaan kerajaan Samasta yang sempat tercabik-cabik.
Di tangan kelima pecundang itu, kini masa depan kerajaan Samasta akan segera di mulai.
\=\= TAMAT, untuk event lomba #CeritaNovelFiksiPria ,\=\=
** Sampai jumpa di Bab Bas, Dharma dan Tok Alang **
\=SeeYou ...,
__ADS_1