
“Tuan Des….” Pay menyapa seseorang yang berada di atas kuda.
“Tuan Pay, maaf kami terlambat. Tak mudah meyakinkan semua orang untuk bersedia datang kemari.” Orang yang di sapa Tuan Des itu berkata kepada Pay.
“Tak mengapa Tuan Des, kehadiran Tuan sangat kami nantikan,” kata Pay lagi.
“Tuan Dharma,” Des menyapa Dharma yang berada di sebelah Pay.
“Tuan Des, senang bertemu dengan Tuan,” jawab Dharma.
“Ah … semoga kedatangan kami belum benar-benar terlambat Tuan.”
“Tidak Tuan, marilah kita bersitirahat dahulu di kemah.”
“Tak payah lah Tuan, biarkan aku bersama orang-orangku beristirahat saja di sini. Kami sudah terbiasa seperti ini.”
“Kami sangat menghargai kehadiran Tuan dan orang-orang Tuan.”
“Hanya ada seratus orang beserta lima puluh ribu anak panah Tuan. Tuan tunjuklah ke arah mana anak panah ini nantinya akan di lesatkan, sisanya biarkan kami yang berkerja.”
Dharma dan Pay lantas membawa Des menuju ke arah benteng. Mereka berdua kemudian menjelaskan situasinya kepada Des. Des hanya mengangguk dan sepertinya mengerti.
“Tugas kami adalah untuk menghentikan para pemanah itu bukan?”
“Benar Tuan.”
“Baiklah Tuan, kami akan mulai sekarang juga. Ini akan lebih mudah di lakukan siang hari. Persoalan mendobrak dan menerobos masuk ke dalam benteng, semuanya adalah urusan Tuan-Tuan.”
“Terserah menurut Tuan saja. Tapi jika memang Tuan akan lakukan sekarang, biarkan aku menyiapkan orang-orangku terlebih dahulu.”
“Berapa orang kekuatan pemanah mereka?”
“Dua ratus orang Tuan.”
“Baiklah, sepertinya kami akan lakukan sekarang saja.”
Des kemudian kembali menemui orang-orangnya. Setelah memberikan pengarahan sebentar, orang-orang Des kemudian membelah kelompok menjadi dua.
“Apakah ini sisa dari serangan mereka?” Des bertanya saat ia melihat sisa-sisa tenda yang terbakar.
“Benar Tuan,” Jawab Dharma.
“Aku melihat yang Tuan lakukan ini adalah strategi pengepungan. Sudah berapa lama mereka terkepung?”
“Sudah satu bulan ini Tuan.”
“Baiklah, jika Tuan berkenan dengan pendapatku, teruskan pengepungan ini beberapa saat lagi. Nanti Tuan akan tau jika sudah saatnya untuk memaksa masuk.”
“Kami sangat berterima kasih atas kebaikan Tuan. Tentu saja aku akan mendengarkan.”
__ADS_1
***
Des dan orang-orangnya yang telah membagi dua kelompok bersiap di barisan terdepan. Mereka membuat penghalang dari kayu sebagai pelindung diri dari kemungkinan serangan para pemanah yang berada di atas benteng di atas kepala mereka.
Perlahan mereka mulai mendekati benteng itu. Kini jarak mereka berada dalam jangkauan pemanah, sehingga mereka harus selalu waspada.
SHEPP SHEEPPP
Beberapa anak panah di layangkan kepada mereka, namun kali ini hanya mengenai penghalang kayu. Begitu pula dengan percobaan berikutnya, tetap hanya mengenai sasaran yang sama.
Para pemanah yang menjaga benteng itu sepertinya berhenti mencoba dan hanya mengamati.
Orang-orang Des kini telah berada di posisinya. Kini para prajurit itu juga berada dalam jangkauan para pemanah yang kini telah bersiap di bawah mereka, namun kondisi ini belum di sadari mereka.
Pintu depan dan samping kini berada dalam penjagaan para pemanah dengan dukungan para prajurit beberapa tombak jauhnya di belakang mereka. Sementara pintu belakang benteng istana tetap di jaga oleh pasukan Dharma agar tak ada yang lepas dari pantauan.
SHEEPPP SHEEPPP
Dua buah anak panah di lepaskan Des dan mengenai dua prajurit yang berjaga di atas benteng.
AAGHHHH
BUUGGGG
Dua prajurit itu terjerembab ke bawah.
Lima kepala prajurit terlihat melongok keluar untuk melihat yang terjadi.
BUG BUG BUG
Terdengar tubuh para prajurit yang terkena panah itu berjatuhan ke bawah.
Suasana tampak sepi. Tak terlihat ada yang mencoba mengintip dari atas benteng. Des memberikan aba-abanya untuk bersiap.
Mereka menunggu sesaat sebelum Des memerintahkan orang-orangnya untuk melepaskan masing-masing lima kali anak panah secara berturut yang di arahkan melewati benteng dan menghujani halaman istana.
SHEEPPP SHEEPPP
ARGGGHHHH
Kali ini terdengar keriuhan dari dalam benteng. Sepertinya dua ratusan anak panah yang di lepaskan, beberapa di antaranya menemui sasaran.
Des dan orang-orangnya terus mengamati dari balik kayu setiap pergerakan di atas benteng. Belum ada tanda-tanda dari para pemanah yang berjaga di atas benteng untuk melakukan serangan balasan.
“Mari kita gunakan api, kita coba kirimkan lima ratus anak panah api kepada mereka,” Kata Des kepada orang-orangnya.
Beberapa dari mereka kemudian melesatkan anak panah ke arah benteng secara bertubi-tubi, sebelum akhirnya di susul pula oleh anak panah yang ujungnya telah di bakar.
ZHEEPPP ZHEEPPP ZHEEPPP
__ADS_1
Ratusan anak panah yang terbakar kini melintasi benteng dan langsung menuju apapun yang berada di baliknya.
Asap kini terlihat membumbung dari dalam benteng istana. Rencana Des nampaknya berhasil. Kini para pemanah istana terlihat tanpa koordinasi melakukan serangan balasan.
Mereka mencoba memanah secara sembarangan ke arah di mana orang-orang Des bersembunyi untuk bertahan.
Ketika mereka melakukan serangan balasan tersebut, dari sisi samping orang-orang Des yang sedari tadi hanya mengamati dari balik tenda yang nyaris habis terbakar, perlahan maju sembari melepaskan anak panah mereka ke atas benteng.
Para prajurit yang berada di sisi depan benteng terlihat terpecah konsentrasi. Mereka mulai membalas melepaskan anak panah ke sisi samping.
Kesempatan ini kemudian di pergunakan Des dan kelompok yang di pimpinnya untuk juga ikut menyerang.
Hal ini tentu saja menjadikan mereka sasaran empuk bagi para pemanah yang berada di bawah. Meraka dapat melihat dengan leluasa sasarannya.
ZHEEPP ZHEEPP
ZHEEPP ZHEEPP
Anak panah saling berterbangan ke atas dan ke bawah benteng. Mereka saling menghujani anak panah.
***
Melihat kekuatan para pemanah sekarang sepenuhnya teralihkan di pintu depan benteng istana, kemudian Dharma meminta kepada Pay dan Ijah untuk melakukan serangan ke pintu belakang dengan cara mendobrak.
Sementara Dharma dan Bas akan mencoba mendobrak pintu samping benteng.
Seribu orang kemudian beralih ke pintu samping mengikuti Dharma dan Bas, sementara lima ratus orang lainnya mengikuti Pay, Tok Alang dan Ijah berputar ke belakang benteng istana untuk bergabung dengan pasukan yang telah berjaga di sana sedari awal.
Sementara Zul dan sisa pasukannya tetap bersiap memperhatikan gerbang depan.
Sedang Des dan orang-orangnya masih terus menghujankan anak panah mereka ke atas benteng. Mereka tak memberi kesempatan kepada para pemanah Istana untuk sekedar melakukan bidikan anak panahnya ke bawah, karena setiap kali kepala mereka terlihat muncul di atas balik benteng, orang-orang Des yang memang sangat piawai dalam memanah langsung membidik dan melesatkan anak panahnya.
Hingga kemudian dari atas benteng terlihat seperti tak ada lagi perlawanan dari para pemanah istana. Mereka tak lagi terlihat membalas melepaskan anak panahnya.
Di sisi samping, Dharma dan Bas beserta para pasukannya kemudian mendobrak pintu samping benteng dengan menggunakan balok kayu besar yang telah di persiapkan.
BUG BUG BUG
Berulang-ulang mereka menghantamkan balok kayu besar itu ke pintu benteng. Hingga akhirnya, hantaman balok kayu itu berhasil membelah pintu tersebut.
BRAAKKKKK
Pintu benteng itu terpecah. Seketika Dharma dan Bas beserta pasukannya berhamburan masuk ke dalam benteng dengan masing-masing menghunuskan pedang dan tombaknya.
HAAAAAAAA
Suara-suara pasukan Dharma terdengar menggema ketika berhasil masuk ke dalam benteng. Namun tak ada sambutan di sana.
Tak ada prajurit yang bersiap menanti serangan. Hanya ada beberapa lusin mayat yang tergeletak sembarangan.
__ADS_1
Dharma dan Bas mendadak bingung.
“Kemana mereka?” Seru Bas.