
Dua pasukan kini sedang saling berhadapan di sebuah padang rumput di luar kota Tanjung.
Dharma dan teman-temannya berdiri tegap di atas kudanya masing-masing. Sementara di seberangnya, pasukan istana juga telah mempersiapkan diri untuk sebuah pertempuran.
“Izinkan aku untuk menjumpai mereka Tuan.” Kata Pay kepada Dharma.
“Berhati-hatilah Tuan Pay.” Kata Dharma memberikan pesan ketika mempersilahkan Pay untuk maju.
Pay lantas perlahan mengenderai kudanya menuju ke depan gelanggang dengan mengibarkan bendera putih. Dua orang berkuda dari pasukan kerajaan kemudian datang menghampiri.
“Selamat siang Tuan-Tuan.” Kata Pay kepada mereka setelah mereka saling berhadapan.
“Selamat siang juga Tuan Pay.” Kata salah seorang dari mereka.
“Coba merasa buah durian, hamba bertanya bagaimanakah kabar Tuan?” Pay memulai percakapan.
“Layar tercabik di tengah muara, kabar kami baik bagaimana pula dengan yang bertanya?” Jawab salah satu dari mereka.
“Tembikar tercabik akar delima, kabar hamba juga baik terima kasih telah bertanya.” Kata Pay melanjutkan.
“Anak dara menenun kapas, adakah hal yang ingin di bahas?” Salah satu dari mereka kemudian bertanya.
“Hulubalang Ayar, Hulubalang Rojak, apakah hamba sekarang telah menjadi musuh bagi kalian?” Tanya Pay kepada mereka berdua.
“Anda sekarang telah menjadi musuh bagi kerajaan.”Jawab Hulubalang Rojak.
“Menjadi musuh bagi kerajaan itu benar. Itu adalah pilihanku. Hanya saja pertanyaanku adalah, adakah hamba sekarang menjadi musuh bagi Tuan-Tuan?”
“Tidak secara pribadi Tuan.” Hulubalang Ayar menjawab.
“Kami hanya mengikuti perintah.” Kata Hulubalang Rojak menambahkan.
“Kalian tau, aku juga dulu sama seperti kalian, hidup dengan menjalankan perintah. Namun seiring waktu, aku merasakan bahwa Kerajaan ini di jalankan tidak dengan semestinya. Tuan-Tuan pasti juga merasakan hal yang sama sepertiku. Karena aku yakin kita pernah memiliki sumpah yang sama saat dahulu memutuskan untuk menjadi prajurit kerajaan.” Kata Pay.
Kedua Hulubalang itu diam dan mendengarkan.
__ADS_1
“Ada nurani yang harus di ikuti. Dan aku telah memilih. Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak adalah dua orang yang menyebabkan kerajaan Samasta ini semakin terpuruk. Rakyat semakin susah untuk mendapat keadilan. Tempat mereka mencari makan bahkan semakin hilang karena kedatangan tuan tanah yang tiba-tiba saja datang entah dari mana. Dengarkanlah, mereka menjerit. Sementara para pembesar istana seperti menutup mata dan telinga dengan keadaan ini, mereka sepertinya hanya mendengarkan para pembisik dan penjilat kekuasaan.” Kata Pay menjelaskan.
“Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak adalah orang yang sangat berkuasa. Dan mereka berdua juga sangat digdaya.” Hulubalang Ayar mencoba memberikan alasan.
“Benar. Saat ini mereka berdua sedang berkuasa. Namun kekuasaan mereka di landasi oleh genangan darah para prajurit dan keluarga kerajaan sebelumnya. Kudeta yang mereka lakukan adalah hal terkutuk lainnya yang membuatku semakin merasa yakin bahwa aku telah berada di jalur yang benar.” Kata Pay lagi.
Hulubalang Rojak dan Hulubalang Ayar saling berpandangan.
“Aku menawarkan kepada kalian. Kita tidak harus saling bertempur saat ini. Bergabunglah bersama kami. Di sana ada keturunan terakhir dari keluarga Angkasa. Dia lah yang seharusnya melanjutkan tahta kerajaan. Aku sangat berkeyakinan, jika dia yang mengendalikan kerajaan Samasta, keadilan dan kemakmuran serta kejayaan kerajaan Samasta akan bisa kembali lagi seperti dahulu. Rakyat juga sepertinya mendukung usaha yang kami lakukan ini.” Kata Pay sambil menunjuk ke arah barisannya.
“Bagaimana jika gagal?” Tanya Hulubalang Ayar.
“Setidaknya kita telah mencoba. Tapi aku sangat yakin jika Tuan-Tuan bersedia bergabung bersama kami, bahkan Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak tak akan bisa menghentikan kita.” Kata Pay.
Kedua Hulubalang Itu nampaknya seperti sedang berfikir keras, ketika dari sisi pasukan kerajaan datang dua orang pengendara kuda lainnya dan mendekati mereka bertiga.
Mereka adalah Hulubalang Aleh dan Hulubalang Ijun.
Dharma yang melihat itu di kejauhan segera memacu kudanya untuk bergabung bersama mereka yang ada di sana. Dia khawatir dengan keselamatan Pay.
Kini mereka berenam seperti membuat lingkaran dengan tetap berada di atas kudanya masing-masing.
“Selamat siang Tuan-Tuan.” Dharma memberikan salamnya kepada mereka.
Para Hulubalang yang telah berkumpul itu memandang ke arah Dharma.
“Selamat siang juga Tuan.” Jawab salah satu Hulubalang yang bernama Ijun.
“Tuan Pay.” Kata Hulubalang Aleh dan Hulubalang Ijun secara bersamaan.
“ Hulubalang Aleh, Hulubalang Ijun.” Pay mengangguk dan balas menyapa mereka.
“Siapakah Tuan?” Hulubalang Rojak bertanya kepada Dharma.
“Hamba Dharma, hamba tiada bermaksud untuk mengganggu Tuan-Tuan sekalian.”
__ADS_1
“jadi anda adalah Tuan Dharmangkasa? Hmmm … Nama anda akhir-akhir ini selalu berdengung di setiap dinding istana.” Kata Hulubalang Ijun.
“Maafkan hamba atas ketidak nyamanan yang di timbulkan.” Kata Dharma lagi.
“Nama anda telah membuat Raja Sangkamudian dan kepala Hulubalang Tok Gakgak juga pembesar istana lainnya menjadi tak nyenyak tidurnya.” Hulubalang Aleh menimpali pembicaraan.
“Sekali lagi maafkan hamba atas situasinya Tuan-Tuan.” Kata Dharma mencoba menarik simpati keempat Hulubalang tersebut.
Keempat Hulubalang itu sepertinya mulai menaruh rasa hormat kepada Dharma.
“Tuan-Tuan, kedua prajurit kita banyak yang saling mengenal, jangan biarkan mereka untuk saling bunuh. Jika Tuan-Tuan menolak bergabung bersama kami, aku harap alangkah baiknya jika Tuan-Tuan membawa pasukan yang di bawa untuk kembali ke istana. Kita akan bertemu kembali di sana.” Pay sepertinya memberikan kembali penawarannya.
Keempat Hulubalang itu semakin di landa keraguan dan saling berpandangan. Mereka sepertinya semakin ragu antara menjalankan perintah atau mengikuti bisikan hati nurani.
Mereka sadar, apa yang di katakan Pay adalah benar. Kerajaan Samasta sedang sakit karena para pemimpinnya, dan di hadapan mereka sekarang telah berdiri sosok yang sepertinya cukup bijaksana dan akan mampu membawa perubahan.
“Para prajurit itu semuanya mengikuti perintah Tuan-Tuan. Di sini Tuan-Tuan adalah pemimpin mereka. Jika Tuan-Tuan bergabung bersama kami, tentu mereka juga akan mengikuti. Dan tentu saja hamba dan juga Tuan Dharma akan sangat menghargai dan berterima kasih kepada Tuan-Tuan sekalian. Marilah bersama kami Tuan, kita letakan kembali keadilan dan kebenaran ke dalam istana.” Kata Pay melanjutkan.
“Kami melakukan ini bukan untuk diri kami sendiri Tuan. Kami melakukannya semata-mata demi rakyat yang banyak terdzalimi. Kami ingin keadilan dan kebenaran kembali tegak di kerajaan Samasta ini Tuan.” Dharma ikut memberikan pandangannya.
Keempat Hulubalang istana itu mulai menemukan titik temu dari pertemuan itu.
Setelah melalui pembicaraan dan diskusi yang panjang, akhirnya para Hulubalang itu bersedia bergabung ke dalam kelompok Dharmangkasa.
Kedua kelompok prajurit yang sebelumnya saling berhadapan, kini saling berpelukan ketika mereka membaur menjadi satu. Hal itu menyebabkan pemandangan yang sangat mengharukan bagi Dharma dan semuanya.
Hari itu tak ada satu tetes darahpun yang tertumpah. Kota Tanjung menjadi saksi sebuah penaklukan yang tanpa di sertai pertumpahan darah.
Kini kelompok Dharmangkasa menggenapi jumlah pemimpinnya menjadi sepuluh orang dengan kekuatan prajurit hampir tiga ribu orang. Mereka kini melanjutkan perjalanan menuju ke ibu kota meninggalkan Kota Tanjung dengan suka cita.
Sepanjang perjalanan, iring-iringan prajurit itu mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari berbagai rakyat yang mereka lalui di sepanjang jalan. Mereka di elu-elukan dan juga banyak mendapat buah tangan dari rakyat untuk perbekalan.
Dua hari lagi mereka akan sampai ke ibu kota dan istana. Derap langkah kaki para prajurit itu seakan berirama kemenangan.
Kini sepertinya hanya tinggal menunggu waktu kekuasaan Sangkamudian dan Tok Gakgak akan segera berakhir.
__ADS_1