
“Siapa namamu tadi?”
“Pay.”
“Baiklah Tuan Pay, kita akan lihat bagaimana kemampuan dirimu ….”
HUP HUP
Dua orang dari mereka meloncat dari rumah panggung itu dan menyerang Pay. Pay menghindar ke belakang.
“Tunggu … aku hanya ingin bicara…” Pay mencoba menjelaskan.
CIAT CIATT CIATTT
Kedua orang tersebut tak merperdulikan penjelasan Pay. Bergantian kedua orang tersebut terus menyerang Pay dengan tangan kosong. Pay menghindar dan menangkis pukulan dan tendangan yang di layangkan.
Akhirnya Pay juga harus melakukan serangan.
Cepat ia ke belakang sebentar kemudian berputar memberikan tendangan kepada salah seorang penyerangnya. Tendangannya tertangkis. Sebuah pukulan mengarah ke wajahnya. Dia menghindar ke bawah.
BUG BUG
Dua pukulan bertubi-tubi mengenai dadanya. Dia terdesak ke belakang. Kakinya terangkat ke atas ketika salah satu penyerangnya melompat tinggi dan hendak menghujamkan pukulannya.
BUG
Tendangan Pay berhasil mendarat ke perut orang itu hingga terjatuh. Pay mundur ke belakang dengan sikap bertahan.
“Aku pernah mendengar tentangmu.” Tiba-tiba salah satunya berkata.
“Apa yang pernah kau dengar tentangku?” Tanya Pay.
“Hulubalang Pay. Pembasmi penyamun dan pengacau kerajaan. Apakah sekarang kau datang hendak menumpas kami?” Katanya lagi.
“Lihatlah, aku telah melepaskan pakaian prajuritku. Aku bukan lagi seorang Hulubalang.” Pay berkata.
“Di mana kehormatanmu?”
“Buat apa sebuah kehormatan jika tak mampu menghentikan ketidak adilan?”
“Siapa yang tidak adil?”
“Tentu saja yang berkuasa.”
“Apakah kau orang yang adil?”
“Aku tak tau. Tapi aku benci melihat orang di aniaya.”
__ADS_1
“Apakah kau sedang teraniaya?”
“Tidak. Tapi hatiku iya.”
“Kenapa?”
“Aku mendapat perintah untuk membasmi pemberontakan di sini.”
“Tak ada pemberontakan di sini. LIhatlah, bahkan tak ada pasukan bersama kami.”
“Aku tau itu sekarang. Aku telah mendapatkan perintah palsu.”
“Perintah dari Tok Gakgak?”
“Ya. Kau mengenalnya?”
“Tidak mengenalnya. Tapi tau sepak terjangnya, tentu saja semua orang tau.”
“Benarkah masih ada keturunan Angkasa di sini? Karena yang ku dengar sebelumnya, mereka telah di habisi semuanya.”
“Untuk apa kau bertanya tentang keturunan Angkasa?”
“Jika benar masih ada, aku akan membersamainya mengambil tahta. Aku akan bersedia menjadi pengikutnya. Tapi aku harus bertemu dia dahulu, apakah dia orang yang adil sebagaimana penguasa sebelumnya, atau sama saja dengan Raja yang sekarang.”
“Ha … ha … ha … mengambil tahta? Kau adalah seorang Hulubalang yang lawak, ha … ha … ha … kau adalah orang yang berbahaya.”
“Apakah sebegitu pengecutnya keturunan Angkasa untuk mengambil haknya?”
“Aku membawanya. Mereka ada di bawah. Mereka akan mengikuti perintahku. Kita bisa membuat rencana untuk mengambil alih kekuasaan.”
“Bahkan dengan prajurit yang Tuan bawa itu, tak akan cukup untuk menyerbu istana.”
“Di bawah ada seratus tiga puluh orang prajurit pilihan. Di tambah seratus lima puluh prajurit regular. Itu sudah langkah awal untuk membangun kekuatan tentara.”
“Ha … ha … ha … aku melihat ada sesuatu dari orang ini.” Tiba-tiba pria yang masih berada di atas rumah panggung itu ikut berkata.
Ketiganya menoleh ke arah orang itu. Itu adalah orang tua berusia sekitar lima puluhan tahun.
“Apakah para prajurit di bawah tak akan menyerbu kemari?”
“Tidak akan. Aku bersumpah demi leluhurku.”
“Kita bicara di atas.”
Mereka bertiga kemudian menapaki rumah panggung tersebut dan masuk ke dalamnya.
Di dalam rumah mereka membicarakan semua hal. Sepertinya Pay cukup percaya. Begitu pula dengan ketiga orang tersebut.
__ADS_1
Pay seperti menemukan hasratnya kembali. Dia dengan seksama mendengarkan cerita dari ketiga orang yang seharusnya ia bunuh. Pay telah memastikan diri untuk mengikuti mereka.
Ketiga orang tersebut di perkenalkan sebagai Dharmangkasa, Bas dan Tok Alang. Mereka telah bersama sejak satu tahun terakhir.
Mereka selalu menjauh dari keramaian.
Namun rencana klaim tahta kerajaan baru di mulai sejak kedatangan Pay kepada mereka. Tiba-tiba mereka bersemangat.
“Ini mungkin adalah takdir.” Kata orang yang bernama Bas.
“Entahlah.” Jawab Dharma.
“Ha … ha … ha … bukankah aku pernah mengatakan ini berbulan-bulan lalu?” Tok Alang berkata dengan terkekeh.
“Ini butuh persiapan yang matang.” Kata Bas lagi.
“Bagaimana menurutmu Tuan Pay?” Tanya Dharma kepada Pay.
“Aku sangat yakin ini berhasil. Setidaknya kita mencoba.” Jawab Pay.
“Ha … ha … ha … tentu saja akan berhasil, cuih…” Kata Tok Alang lagi menimpali.
Mereka berempat berbincang tentang strategi dan lebih mengenalkan diri. Banyak kesamaan dari diri mereka.
Keesokan harinya Pay turun dari bukit. Sesampainya di kemah, ia memerintahkan semua prajurit untuk berkumpul.
“Hari ini aku akan memberikan pengumuman kepada kalian. Tidak ada pasukan di sana. Tidak ada pemberontakan yang terjadi. Kita mendapat perintah dengan keterangan palsu. Ini adalah misi pembantaian. Pemusnahan nama Angkasa dari muka bumi untuk selamanya. Di sana ada penyandang nama Angkasa terakhir. Dia harusnya yang berhak meneruskan tahta kerajaan. Bukan Raja jahat yang sekarang. Aku akan berjuang kembali kepada hati nurani. Melawan kejahatan dan ketidak adilan. Aku akan membantu nama Angkasa mengambil kembali tahtanya agar rakyat kerajaan Samasta ini dapat kembali hidup tenang dan damai. Tak ada pembunuhan dan perampasan harta kekayaan secara paksa. Jika kalian bersedia, ikutlah bersamaku. Bersama-sama kita akan mengggulingkan kejahatan yang telah berlangsung lama. Bergabunglah dengan bendera kebenaran yang akan kita kibarkan.” Pay berkata dengan bersemangat.
Para prajurit sepertinya mulai bimbang dan terpecah.
“Aku tau resikonya. Kematian adalah harga yang harus di hadapi. Tapi aku pastikan kepada kalian, jika kalian menolak bergabung kepada kami dan memilih kembali ke ibu kota, Raja pun juga akan memenggal kepala kalian. Kalian sudah tau itu. Tapi semua keputusan ada di tangan kalian. Ikut bergabung bersamaku untuk menggulingkan Raja dzalim yang sekarang atau tetap menutup mata dengan keadaan yang terjadi terhadap rakyat dan saudara-saudara kita.”
Pay lantas kembali ke tendanya. Dia menunggu respon dari prajuritnya. Tak berapa lama, sepuluh prajurit datang menghadap.
“Mohon ampun Tuan, mohon izin untuk bicara.” Kata salah seorang prajurit.
“Bicaralah.” Jawab Pay.
“Kami akan ikut Tuan. Kemana pun tuan melangkah, kami semua akan turut serta.”
“Baiklah, kalian sudah memutuskan. Masa depan kerajaan ini akan lebih baik jika di jalankan oleh orang yang baik pula. Kalian perintahkan semuanya untuk membersihkan tenda. Tunggu perintah dariku selanjutnya.” Kata Pay kepada para prajurit itu.
“Baik Tuan.” Jawab mereka serentak.
Pay lantas kembali ke atas bukit dan memberikan kabar tentang kesediaan para prajurit.
Hari itu juga, Dharma, Bas, Tok alang dan Pay beserta para prajurit yang berubah haluan bergerak masuk lebih jauh ke dalam hutan.
__ADS_1
Mereka harus merencanakan semuanya dengan matang. Dan saat merencanakan semua itu, mereka harus memiliki tempat persembunyian yang aman dan strategis.
Penyusunan kekuatan akan di mulai setelah hari ini.