
“Kami adalah prajurit….”
BRAAKKKKKK
Belum sempat prajurit itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sebuah tongkat kayu telah melayang dan menghantam kepalanya hingga ia tersungkur tak bernyawa di atas lantai.
Prajurit yang lainnya sesaat terkesiap dengan situasi tersebut, ketika dengan cepat ayunan-ayunan tongkat berikutnya melayang dan menghantam wajah dan kepala para prajurit itu.
PLAAAKKK PLAAAKK PLAAAKKK
BRUUGGGGGG
Beberapa prajurit itu langsung bertumbangan ke lantai. Ternyata Zul sudah kehilangan kesabaran. Ia meraih tongkat sapu yang ada di dekatnya dan memukulkannya kepada para prajurit itu.
Naas, tidak semua prajurit berhasil ia robohkan. Seorang prajurit lainnya yang lolos dari serangan Zul segera mencabut pedangnya dan menyerang Zul.
HIAATTTT
Sebuah tebasan pedang menuju ke arah tubuh Zul, ia menghindar ringan lalu memukulkan tongkat yang ia pegang ke tubuh prajurit itu.
BRAAKKKK
Tubuh prajurit itu hingga terhempas menabrak dinding kedai dan terlempar keluar ke jalan yang tergenang air. Hal ini menjadikannya menarik perhatian para prajurit lainnya yang berada di ujung jalan.
Mereka segera menuju ke tempat di mana Zul sedang berada.
Zul segera menghampiri Amei dan Babah Atung.
“Mari kita pergi.” Ajak Zul kepada mereka berdua.
“Amei, Lu ikutlah abang ini, di sini sudah tak aman laa.” Kata Babah Atung kepada Amei.
“Tidak Bah, Amei tidak bisa meninggalkan Babah sendirian.” Amei menangis memeluk Babah Atung.
“Lu pelgi duluan, nanti lu bisa mati kalau di sini, Babah menyusul.” Babah Atung meminta kepada Amei.
“Mari kita pergi, mereka mulai datang.” Ajak Zul sambil menarik tangan Amei.
Bersamaan dengan itu, dua orang prajurit masuk ke dalam kedai. Zul cepat melemparkan tongkat yang ada di tangannya.
JUSSSSHHHHH
Tongkat itu tepat menancap ke batang leher salah seorang prajurit yang masuk hingga membuatnya terjengkang ke belakang.
HUUFTTT
Dengan gerakkan yang cepat, Zul melepaskan pegangan tangannya dari Amei dan melayangkan tendangan ke wajah prajurit yang lainnya.
BUUUGGGG
Tendangannya tepat mengenai wajah prajurit itu yang membuatnya sempoyongan. Zul lantas melayangkan tendangannya yang kedua.
BAAAGGGGG
Prajurit itu terlempar keluar kedai. Zul kembali menghampiri Babah Atung dan Amei.
“Kita harus pergi sekarang.” Kata Zul menarik tangan Amei.
Amei dan Babah Atung bangkit dan mengikuti Zul yang memberikan jalan.
ZEPPP ZEPPP
Dua anak panah melesat menembus punggung Babah Atung.
BRUUGGGG
Babah Atung terjerembab ke lantai.
__ADS_1
“Babaaaaahhhh…..” Amei menjerit dan berusaha menangkap tubuh Babah Atung.
ZEEPPP ZEEPPP ZEEPPP
ZEEPPP ZEEPPP ZEEPPP
Puluhan anak panah melesat memenuhi ruangan kedai. Zul bergerak cepat meraih kain lebar dan mengibas-ngibaskannya di depan tubuhnya guna melindungi mereka berdua dari serbuan anak panah yang di lepaskan.
“Larilah ke belakang.” Perintah Zul kepada Amei.
Amei menurut dan berlari menuju ke belakang rumah. Zul mengikutinya dengan siaga.
Belakang rumah Amei adalah sebuah sungai besar. Saat itu airnya sedang meluap di karenakan hujan yang baru saja turun.
“Lompat Mei.” Kata Zul sembari menarik tangan Amei untuk terjun ke sungai.
Mereka berdua akhirnya menceburkan diri ke dalam sungai demi menghindari kejaran para prajurit kerajaan yang bertambah banyak.
Zul masih sempat melihat beberapa prajurit melepaskan anak panahnya ke arah mereka.
Beruntung bagi mereka berdua, karena tidak ada satu anak panahpun yang tepat sasaran.
Setelah cukup jauh dari jangkauan para prajurit itu, Zul dengan susah payah berusaha berenang dan meraih tubuh Amei yang terombang ambing terikut arus sungai yang deras.
Akhirnya, setelah melalui perjuangan yang melelahkan, Zul berhasil menggapai tubuh Amei dan menariknya ke pinggiran sungai.
Zul meraih rerumputan yang tumbuh liar di sepanjang aliran sungai hingga akhirnya ia berhasil naik ke tepian dan membopong tubuh Amei untuk naik ke atas.
“Uhuk … uhuk …” Amei terbatuk ketika di baringkan di atas tanah.
Zul segera memiringkan tubuh Amei agar air sungai yang tadi sempat tertelan dapat di muntahkan.
Amei masih terbatuk ketika ia memuntahkan air sungai dari mulutnya.
Tiba-tiba Amei menangis sesegukkan. Ia teringat Babah Atung.
Amei kemudian memeluk Zul dan menumpahkan tangisnya di sana. Zul membiarkannya sesaat untuk memberikan kesempatan kepada Amei meluapkan kesedihannya.
Setelah cukup lama, Zul akhirnya mendorong tubuh Amei agar sedikit menjauh dari tubuhnya.
“Kita harus pergi sekarang. Para prajurit itu pasti sedang mencari kita sekarang.” Ucap Zul.
“Kita kemana?” Tanya Amei.
“Kita pulang ke tempatku dulu. Rumahku ada di tepian sawah dan hutan di sana. Kita kesana sekarang.” Ajak Zul.
Amei hanya diam lalu berdiri mengikut langkah Zul. Mereka berjalan secara waspada dari balik pepohonan agar tak berjumpa prajurit kerajaan yang mungkin saja bisa bertemu karena mereka tau sedang di cari.
Hari telah gelap ketika mereka menyusuri pematang sawah yang menuju ke kediaman Zul.
Tapi dari kejauhan, Zul melihat kobaran api telah membakar rumahnya.
“Tok Anai” Zul sedikit berteriak, dan menarik tangan Amei untuk mengikutinya berlari.
Zul terkejut ketika telah sampai di rumahnya. Rumahnya kini sedang terbakar hebat. Api telah melahap semua bangunan yang ada.
“Toookkkk……” Zul berteriak di depan rumah yang terbakar.
“Tok Anaaiiiii…..” Dia terus berteriak dan berusaha mencari keberadaan Tok Anai.
Zul meninggalkan Amei di belakang punggungnya ketika satu teriakan mengejutkan dirinya.
“Aaaaaaa……” Amei berteriak keras.
“Ameiii…” Zul bergegas menghampiri.
Tiba-tiba berkelebatan anak panah menuju dirinya. Ia menghindari dan menangkis anak panah-anak panah tersebut.
__ADS_1
Di depannya kini terlihat puluhan prajurit kerajaan perlahan merangsek mendekat sambil terus menghujaninya dengan anak panah.
Zul berlindung di balik tumpukkan kayu.
CRESSSSS CRESSSSSS CREESSSSSS
CIAT CIATT CIAAATTTT
Tiba-tiba para prajurit itu seperti panik. Sesuatu telah menyerang mereka. Zul melihat dua orang dari sisi kiri dan kanan membabi buta menebas tubuh para prajurit yang mulai kocar kacir itu.
Zul lantas keluar dari tempatnya bersembunyi. Dengan dua buah kayu di tangannya, dia bergerak cepat menghantam kepala setiap prajurit yang ada di depannya.
PAAKKK PAAKKKK PAAKKKKK
Satu persatu para prajurit itu tewas berguguran di hantam kayu yang di pegang Zul. Sementara dua orang yang membantunya juga telah berhasil menghabisi banyak prajurit lainnya.
Mayat-mayat para prajurit tersebut bergelimpangan memenuhi halaman rumah Tok Anai yang sudah habis terbakar.
Beberapa orang prajurit yang kehilangan nyali memutuskan lari dari pertempuran. Salah seorang yang menolongnya itu kemudian mengambil busur dan anak panah yang berserakkan di tanah.
Dengan cepat ia membidik satu persatu para prajurit itu yang mencoba melarikan diri hingga tak menyisakan satupun yang masih berdiri.
Zul memandang ke sekeliling. Hanya ada mereka bertiga yang kini tegak berdiri. Sementara mayat-mayat memenuhi halaman.
“Amei..” Bergegas Zul menuju ke tempat Amei di mana terakhir kali ia melihatnya terkena anak panah.
Zul terduduk lemas melihat Amei telah tak bernyawa dengan bersimbah darah. Ia berteriak keras.
“Aaaaaaaaaaa……”
Kedua orang yang tadi membantunya, kini menghampiri. Salah satu dari mereka memegang pundak Zul tanpa berkata apapun.
“Tok Anai…” Zul meninggalkan tubuh Amei dan berusaha mencari keberadaan Tok Anai.
Di samping halaman rumah, Zul menemukan tubuh Tok Anai telah tercabik pedang beserta lusinan anak panah yang menancap di sekujur tubuhnya. Di sekitar jasad Tok Anai juga bergelimpangan tubuh-tubuh para prajurit kerajaan. Zul kembali terduduk lemas.
Kedua orang yang tadi menolongnya mengikuti Zul.
“Apakah dia ayahmu?” Tanya salah seorang dari mereka.
“Iya.” Jawab Zul dengan dada bergemuruh.
“Dan perempuan yang di sana?” Tanyanya lagi.
“Aku harusnya menikahi dia.” Jawab Zul.
“Sebaiknya kita kuburkan mereka berdua, setelah ini, lebih banyak prajurit yang akan datang kemari.” Kata yang lainnya menimpali.
“Siapa kalian?” Tanya Zul dengan tatapan yang masih di sertai air mata.
“Aku Dharma, dan dia bernama Pay, kami ikut bersedih atas kehilanganmu.” Kata orang yang mengenalkan diri bernama Dharma tersebut.
“Aku akan melakukan perhitungan kepada para prajurit itu.” Kata Zul dengan penuh amarah.
“Ikutlah bersama kami, saatnya akan segera tiba untuk pembalasan dendammu.” Orang yang di perkenalkan bernama Pay itu ikut berkata.
“Ikut kemana?” Tanya Zul lagi.
“Kita kuburkan kedua orang yang kau kasihi itu dahulu. Setelahnya, jika kau bersedia ikut bersama kami, aku akan menjelaskannya kepadamu.” Kata Dharma.
“Baiklah.”
Ketiganya lalu bangkit dan mengangkat tubuh Tok Anai kemudian mendekatkannya kepada Jasad Amei.
Mereka lantas membawa kedua jasad tersebut menuju ke belakang rumah lalu menguburkannya di sana.
Zul memutuskan untuk mengikuti kedua orang asing tersebut. Dia tau, para prajurit kerajaan akan datang mencari dirinya. Dan dia tak akan mampu bertahan menghadapi mereka sendirian.
__ADS_1