
Ketika kesenangan prajurit itu akan di mulai, tiba-tiba…
SHEPPP
Sebuah anak panah melesat dan menembus leher prajurit itu.
“Arghhhh….” Prajurit itu langsung tewas seketika. Teman-temannya yang lain mendadak panik.
SHEPP SHEEPP SHEEPPP
Beberapa anak panah menghujam tubuh para prajurit itu. Seketika mereka bergelimpangan ke tanah tak bernyawa.
HUP CIAT CIAATTT
Sebuah serangan mendadak yang di lakukan oleh dua orang tak di kenal mengacaukan kesiapan rombongan prajurit yang sedang kebingungan itu. Kilatan pedang nampak melayang dan menebas ke tubuh para prajurit. Mereka bahkan tak sempat melakukan perlawanan yang berarti.
CRESS CREESSSSS
AGHHHHH
Para prajurit itu roboh bersimbah darah.
PAKK PAKK PAKKK
Sementara penyerang satunya yang bertubuh agak gemuk, dengan lihai mengayunkan tongkat kayu menghantam dengan keras kepala para prajurit yang tersisa.
BRUK BRUK BRUK
Sisa prajurit yang lainnya juga tersungkur dengan kepala nyaris pecah.
Beberapa tombak jaraknya, terlihat dua orang prajurit yang selamat dari serangan berlari dengan cepat untuk menjauh.
“Hendak di biarkan saja?” Kata laki-laki yang bertubuh gemuk itu kepada temannya.
“Biarkan saja” Jawab temannya.
“Haaa … aku juga enggan mengejar” Laki-laki ini bernama Zul.
Kemudian tiba-tiba…
SHEPP SHEEPP
Dua anak panah melesat menuju dua orang prajurit yang mencoba melarikan diri tersebut.
BRUGGG
Keduanya lantas jatuh secara bersamaan.
Pria lainnya keluar dari balik pohon sambil mengunyah tebu dan menggantungkan busurnya ke pundak.
“Sudah selesai.” Katanya kepada dua temannya.
Mereka bertiga adalah Dharma, Pay dan Zul.
Tiga orang yang sepertinya sedang dalam perjalanan dan kebetulan melintas di tempat itu. Bagi mereka, dimana pun mereka melihat kedzaliman,terutama yang di lakukan oleh prajurit istana, maka hadir mereka adalah untuk menghukum mereka yang bersalah.
Setelah mereka memeriksa dan memastikan tak ada lagi para prajurit itu yang masih bernyawa, lantas mereka mendekati Ijah. Pay lantas mengambil kain dan menutupkan ke tubuh Ijah.
“Dia masih pingsan.” Kata Pay.
__ADS_1
“Sebaiknya kita bawa dulu dia menjauh dari sini.” Kata Dharma juga.
“Kemana?” Tanya Zul.
“Ke istana, ha … ha … ha …” Jawab Dharma bercanda.
“Aku serius.” Kata Zul lagi.
“Kita bawa saja dulu dia. Yang penting jauh dari sini.” Dharma memberikan saran lagi.
“Baik Tuan.” Pay mengiyakan.
“Kalian bergegaslah, aku akan membawa satu kuda itu untuk bersama kita, sepertinya kita akan memerlukannya” Kata Dharma kemudian melepaskan kuda yang terkait di kereta lalu membawanya.
Tubuh Ijah kemudian di bopong oleh Pay.
Mereka bertiga kemudian bergegas pergi menjauhi tempat tersebut, meninggalkan mayat-mayat para prajurit yang berserakan.
***
“Aghhh …” Ijah mulai siuman.
“Hei … tenanglah” Dharma mendekati Ijah dan menahan tubuhnya agar tak bangkit.
“Dimana aku?” Ijah masih belum sepenuhnnya siuman.
“Jangan banyak berkata dulu. Kau masih belum pulih” Kata Dharma lagi.
Ijah menatap ke sekeliling. Dia terperanjat ketika mendapati tiga laki-laki asing di dekatnya.
“Siapa kalian? Di mana ini?” Ijah panik. Dia bangkit ketika kemudian ia menyadari saat kain yang menutup tubuhnya jatuh ke bawah.
Cepat Ijah meraih kembali kain itu dan menutup tubuhnya.
“Tetap di situ. Apa yang terjadi?” Ijah berusaha keras mengingat.
“Minum dulu.” Pay menawarkan air minum kepada Ijah.
“Siapa kalian? Jawab!!” Ijah membentak mereka.
“Aku Dharma, ini Tuan Pay, dan dia bernama Zul” Kata Dharma memperkenalkan diri.
“Kau sudah dua hari tak sadarkan diri. Ini, minumlah dahulu” Pay kembali menawarkan minuman.
Ijah menerima sebuah kantung berisi minuman dari Pay dan langsung meminumnya.
“Uhukkkk….” Ijah terbatuk.
“Perlahanlah … ambil waktu yang kau perlukan” Kata Dharma lagi.
“Opa Hanim….” Ijah teringat akan gurunya.
“Siapa dia?” Tanya Zul.
“Guru di padepokan” Jawab Ijah.
“Padepokan yang telah habis terbakar itu?” Tanya Zul lagi.
Ijah terdiam.
__ADS_1
“Tak ada yang tersisa di sana. Semuanya telah terbakar. Juga mayat-mayat. Ada satu mayat perempuan yang kami jumpai di sana juga dalam kondisi hangus tertimpa oleh mayat yang lainnya” Dharma menjelaskan.
“Sepertinya mereka memang sengaja di bakar. Sayangnya api tak cukup lama membara untuk meleburkan mayat-mayat itu” Timpal Pay.
Ijah mulai berlinang air mata. Hatinya terasa hancur. Perlahan ingatannya mulai kembali.
“Kau istirahatlah. Pakai ini” Kata Dharma sambil meletakkan beberapa pakaian di dekat Ijah.
“Kami bukan orang jahat. Kami akan menjagamu” Kata Pay kemudian.
“Aku lapar. Kapan kita mencari makanan?” Zul menyambung.
Dharma dan Pay bersamaan menatap Zul.
“Aku lapar” Zul menegaskan.
“Kami juga” Kata Dharma dan Pay bersamaan.
Ijah menatap mereka bertiga tak mengerti.
***
Setelah mendapatkan istirahat yang cukup, perlahan keadaan Ijah semakin membaik.
Dengan bantuan tenaga dalam dari Zul, Ijah akhirnya telah benar-benar kembali pulih. Ijah merasa bahwa para penolongnya ini adalah orang yang baik. Terbukti mereka tak pernah berbuat macam-macam kepadanya.
Ijah telah menceritakan semuanya, tentang kejadian bagaimana padepokannya di serang para prajurit istana. Tentang Opa Hanim, tentang bagaimana akhirnya ia kemudian di bawa oleh para prajurit itu.
Ijah menceritakannya dengan berlinang air mata. Dharma, Pay dan Zul mendengarkannya dengan seksama dan ikut merasakan duka yang mendalam.
Dharma juga telah menceritakan tentang dirinya dan juga Pay. Tentang rencana mereka ke depan. Juga menjelaskan singkat tentang Zul yang sebenarnya juga baru mereka temui. Dharma telah memberikan tawarannya untuk bergabung.
Setelah berfikir beberapa saat, Ijah akhirnya memutuskan untuk ikut berjalan bersama mereka. Masih ada harapan baginya menuntaskan rasa sakit yang telah di torehkan.
Penjelasan dari Dharma dan Pay telah cukup untuk meyakinkannya. Ijah kini memandang cakrawala dengan tatapan berbeda.
***
“Kita terlambat beberapa hari dari yang seharusnya.” Dharma membuka percakapannya dengan Pay ketika hari itu mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke tempat persembunyian mereka.
“Benar Tuan, tapi aku rasa keterlambatan kita juga bukanlah hal yang harus di sesali. Lihatlah, setidaknya kita mendapatkan tambahan tenaga bukan?” Kata Pay.
“Zul sepertinya sangat lihai bertarung dengan tongkatnya, dia juga mengerti tentang tenaga dalam.” Kata Dharma memberikan pujiannya.
“Benar Tuan, kita beruntung menemukannya.” Jawab Pay kemudian.
“Bagaimana menurut Tuan tentang Ijah?” Tanya Dharma.
“Dari ceritanya, dia sepertinya juga seorang pesilat Tuan.” Jawab Pay.
“Aku juga merasa begitu. Hanya soal waktu ketika nanti dia akan membuktikannya.” Kata Dharma lagi.
“Sepertinya kita harus bergegas Tuan” Kata Pay mengingatkan.
“Benar, Tuan Pay benar” Jawab Dharma.
Mereka berempat lantas memacu kudanya masing-masing. Zul dan juga Ijah berada di belakang Dharma dan Pay.
***
__ADS_1
Langit terlihat mulai menghitam ketika Dharma dan ketiga lainnya sampai ke tempat persembunyian mereka.
Hari itu kemah mereka terasa lebih ramai dari sebelum di tinggalkan. Dharma dan Pay, beserta Zul dan Ijah sedang berada di kemah ketika Bas datang untuk menyambut dan memberikan informasi terbaru tentang pergerakan mereka.