
Seorang perempuan kecil nampak sedang berjalan sambil membawa kendi berisi air. Dia mengambil air dari sungai untuk di bawah ke tempat tinggalnya.
Perempuan kecil itu bernama Ijah. Dia adalah yatim piatu yang tinggal di sebuah padepokan silat. Sejak berusia empat tahun ia telah tinggal di sana. Kini usia Ijah telah memasuki angka tiga belas.
Dia adalah gadis kecil berwajah manis. Tubuhnya yang mungil terlihat sangat ringkih ketika ia menjunjung kendi berisi air yang ia letakkan di atas kepalanya. Rambutnya yang panjang selalu tergelung ke atas kepala.
Ibu Ijah telah meninggal dunia saat melahirkan dirinya. Ayahnya juga menyusul sang Ibu empat tahun kemudian karena sebuah demam. Sebelumnya mereka tinggal di sebelah padepokkan silat yang sekarang menjadi tempat tinggalnya.
Ijah telah di rawat dan di besarkan oleh pemilik padepokkan tersebut. Seorang perempuan tua berusia lima puluhan tahun bernama Opa Hanim. Melalui Opa Hanim, Ijah telah di gembleng kemampuan seni ilmu bela diri walau di usianya yang masih belia. Walau terkadang keras, namun Opa Hanim sangat menyayangi Ijah.
Opa Hanim adalah perempuan yang tidak menikah. Seumur hidupnya ia adalah perempuan lajang. Ia juga adalah seorang yang ahli seni bela diri. Walau di padepokannya tak banyak murid yang ia terima karena Opa Hanim memang sengaja membatasi jumlah murid yang ingin belajar bela diri kepadanya. Hanya ada sepuluh orang yang belajar di padepokannya, termasuk Ijah.
Opa Hanim sebenarnya bukanlah perempuan yang tak menarik. Di masa mudanya, ia adalah perempuan cantik yang menarik minat banyak laki-laki. Hingga kemudian ia bertemu dengan Hang Diman, laki-laki yang ayahnya adalah pemilik padepokan yang sekarang ia jalankan.
Ia sempat di lamar oleh kekasihnya dan hampir melakukan prosesi pernikahan di padepokan silat tersebut.
Pada saat itu, padepokan ayah Hang Diman ini memiliki pesaing utama dalam hal mengajarkan seni ilmu bela diri. Mereka adalah Padepokan silat cakar siluman.
Sebelum Hang Diman melamar Opa Hanim, putra dari pemilik padepokan cakar siluman, bernama Nang Mena, telah terlebih dahulu memiliki hasrat untuk meminang Opa Hanim, namun di tolak karena beberapa alasan.
Hal ini menyebabkan sakit hati dari pemilik padepokan cakar siluman. Dan sakit hati itu berujung pada penyerangan padepokan silat yang di miliki ayah Hang Diman ketika acara prosesi pernikahan Opa Hanim akan di mulai.
Sebelum penyerangan itu terjadi, Opa Hanim telah menjalani hubungan asmara dengan Hang Diman selama dua tahun lamanya. Pada saat menjalin hubungan itu, Opa Hanim banyak di ajarkan tentang ilmu seni bela diri. Opa Hanim adalah perempuan yang pintar, dia cepat menangkap pelajaran yang di berikan oleh Hang Diman maupun oleh ayahnya. Terutama dalam seni pertarungan menggunakan senjata tajam ringan.
Setelah dua tahun, Opa Hanim telah menguasai semua jurus andalan di padepokan silat tersebut.
Kini saatnya jalinan asmara Opa Hanim dan Hang Diman akan di ikrarkan. Ketika semua proses itu sedang berlangsung, tiba-tiba serombongan orang mendobrak masuk dan secara membabi buta membantai setiap orang yang ada di padepokan tersebut.
Mendapat serangan yang mendadak tersebut, mereka yang ada di situ langsung panik dan melawan tanpa persiapan. Begitu pula Hang Diman dan ayahnya yang langsung meraih pedang mereka masing-masing lantas menghambur ke arah para penyerang yang berjumlah dua puluhan orang.
Awalnya pertarungan seperti tak terlihat berimbang karena serangan mendadak tersebut. Satu persatu para murid dan beberapa orang yang hadir di situ jatuh ke tanah menggelepar tak bernyawa setelah tertebas sabetan pedang dari para penyerang.
Setelah Hang Diman dan ayahnya ikut turun menghadang, situasi perlahan mulai berbalik. Satu persatu para penyerang juga roboh bersimbah darah terkena sabetan pedang Hang Diman dan ayahnya.
__ADS_1
Kini mereka tau bahwa para penyerang itu adalah berasal dari padepokan cakar siluman. Karena Nang Mena dan ayahnya berada di barisan para penyerang. Kini mereka saling berhadap-hadapan.
CIAATTT
Nang Mena menerjang Hang Diman tanpa basa basi sembari menghunuskan pedangnya. Ia sepertinya begitu sangat dendam terhadap Hang Diman.
TING TING TING
Pedang keduanya saling beradu dan saling menebas.
TING TING
SHEPPPP SHEPPP
Pertarungan sengit terjadi. Sementara di tempat yang sama ayah keduanya juga saling berhadapan dan saling menyerang.
Murid-murid dari kedua padepokan juga saling baku hantam dan saling bunuh.
Keadaan sangat kacau saat itu. Opa Hanim yang masih mengenakan kebaya pengantin lantas merobek kebayanya dengan pisau panjang kemudian ikut menerjang ke kerumunan para penyerang.
CRES CRESSS CRESSSSS
Beberapa tubuh para penyerang roboh ke tanah. Wajah Opa Hanim sekarang berwarna merah terciprat darah.
“Ahkkkkk….” Terdengar jeritan tertahan. Itu adalah suara ayah Hang Diman yang tenggorokkannya tertusuk pedang dari lawan tandingnya.
“Ayah…” Hang Diman memekik memanggil ayahnya. Dia teralihkan dari pertarungannya.
CREESSSS CREEESSSSSSS
Dua tebasan pedang dari Nang Mena berhasil mendarat ke perut Hang Diman. Ia sempoyongan.
Hang Diman terhuyung ke belakang.Cepat Opa Hanim melemparkan dua buah pisau ke arah Nang Mena yang di lihatnya akan menyerang kembali calon suaminya tersebut sambil berlari melompat ke arah mereka.
__ADS_1
Satu pisau yang ia lempar berhasil di tangkis Nang Mena, namun satu pisau lagi menghujam tepat di dadanya.
Nang Mena masih memegang pisau yang tertancap di dadanya ketika tiba-tiba tusukkan-tusukkan pisau panjang dari Opa Hanim bertubi-tubi menusuk perut dan lehernya.
CRUS CRUSS CRUSSSS
Nang Mena tersungkur ke tanah meregang nyawa.
Begitu pula halnya Hang Diman. Ia telah roboh bersimbah darah. Opa Hanim memeluk kekasihnya tersebut. Ia meraih tubuh sang kekasih yang sudah tak bernyawa.
“Haaaaaaaa…..” Opa Hanim berteriak keras dan pilu.
Sementara itu, ayah Nang Mena nampak berjalan tertatih ke arahnya setelah sebelumnya ia menggorok batang leher ayah kekasihnya.
Tatapan Opa Hanim di penuhi amarah. Ketika telah dekat, dengan cepat pisau panjang Opa Hanim di layangkan ke arah perut ayah Nang Mena. Gerakkan itu sempat tertangkis, namun tidak dengan jurus berikutnya.
CRUUSSSSSS
“Arghhhhhh….”
Pisau panjang itu menembus pangkal batang leher ayah Nang Mena hingga menembus ke kepala belakangnya.
Laki-laki tua itu roboh. Dari pangkal lehernya memuncrat darah segar. Dia menggelepar sejenak sebelum nyawanya tercabut meninggalkan badannya.
Suasana mendadak sepi. Hening. Tak ada yang tersisa dari para penyerang itu kecuali bau anyir darah yang menggenang. Semuanya mati menemui ajalnya.
Sementara dari padepokan Hang Diman hanya menyisakan empat orang termasuk Opa Hanim.
Mayat-mayat bergelimpangan di halaman padepokan malam itu. Beberapa tewas dengan saling bertindih.
Air mata Opa Hanim jatuh membasahi pipinya ketika ia bersama para murid yang selamat mengangkat dan mengumpulkan mayat-mayat dari orang yang mereka kasihi untuk kemudian di kuburkan secara layak.
Sementara mayat-mayat para penyerang, termasuk jasad Nang Mena dan ayahnya, mereka hanyutkan di sungai.
__ADS_1
Sejak saat itu, Opa Hanim telah menutup pintu hatinya untuk laki-laki lain dan berjanji akan tetap meneruskan padepokan silat tersebut, agar jurus-jurus yang telah di pelajarinya tak kehilangan jejak di dunia persilatan.