
PLOK PLOK PLOK
Sebuah tepukan tangan terdengar. Itu adalah Tok Gakgak yang berdiri dari duduknya. Prajurit lainnya yang ikut menyaksikan peristiwa tersebut ikut bertepuk tangan.
“Ha … ha … ha … bagus, bagus sekali … ha … ha … ha … kau sekarang adalah hulubalang Pay” Kata Tok Gakgak sembari menepuk-nepuk pundak Pay.
“Terima kasih Tuan.” Jawab Pay sambil menjongkokkan diri.
“kau beristirahatlah satu pekan ini. Setelahnya kau jumpai aku untuk tugasmu yang baru.” Kata Tok Gakgak sambil berlalu.
“Baik Tuan.” Jawab Pay yang kini telah di promosikan menjadi seorang hulubalang.
Mereka semua kemudian membubarkan diri.
Pay meninggalkan arena tersebut sembari menatap nanar ketika tiga orang prajurit datang untuk mengangkat mayat Jom Maidi yang baru saja tersudahi hidupnya oleh pedang Pay. Dia merasakan sedih.
***
Satu minggu kemudian Pay yang kini telah resmi menjadi seorang Hulubalang datang menghadap Tok Gakgak sesuai perintah.
Di ruangan itu nampak Tok Gakgak duduk di sebuah kursi kayu, sementara di depannya terlihat seratus orang prajurit dengan senjata lengkap ada di depannya.
Pay maju ke depan.
“Hamba menghadap Tuanku.” Kata Hulubalang Pay sambil berjongkok di depan Tok Gakgak.
“Kau sudah siap menerima perintah?!!”
“Siap Tuan.”
“Prajurit-prajurit ini adalah pasukan barumu. Kau yang akan memberi perintah atas mereka. Mereka akan mematuhi semua perintahmu.” Kata Tok Gakgak menjelaskan.
“Kami akan patuh dan setia mengikuti semua perintah dari Hulubalang Pay.” Kata seratus orang prajurit itu serentak sambil memberikan penghormatan kepada Hulubalang Pay.
“Setialah kepadaku dan kepada Raja.” Kata Tok Gakgak kemudian.
“Kami akan setia kepada Tuan dan kepada Raja. Nyawa kami adalah milik Tuan.” Kata Pay beserta para prajurit tersebut secara bersamaan.
Tok Gakgak tersenyum.
***
Telah tujuh bulan lamanya Pay menjadi seorang Hulubalang kerajaan. Tugas utamanya adalah mengkomandoi seratus orang prajurit untuk mengamankan kompleks istana.
Dia juga telah mengenal para Hulubalang yang lain beserta pasukannya. Masing-masing mereka menjalankan tugas yang di berikan.
Terkadang Pay merasa seperti ada yang tidak beres saat sekarang. Hatinya terkadang merasa tak nyaman. Banyak dia mendengar cerita tentang ketidak adilan dari rakyat ketika sekali waktu ia pergi keluar menyamar. Banyak kedzaliman yang di lakukan para prajurit istana.
Melalui cerita hulubalang lainnya, Pay juga telah tau tentang kudeta kekuasaan yang pernah terjadi. Bagaimana kejamnya Raja yang sekarang memerintah. Bagaimana kekuasaan Tok Gakgak dalam mengendalikan segala hal.
Beberapa dari mereka juga merasa tak nyaman, namun juga merasa takut untuk melawan atau sekedar bicara.
Karena taruhannya bukan saja nyawa mereka, tapi juga nyawa para keluarga mereka. Pay juga telah merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Tapi Pay adalah orang yang hidup sendirian. Dia tak memiliki siapa-siapa. Harusnya ini bisa menjadi alasan kuat untuk ia melawan ketidak adilan yang terjadi karena ia hidup tanpa beban.
Namun ketika berhadapan dengan Tok Gakgak dia selalu saja merasa ragu untuk bicara. Benar, dia masih memiliki rasa takut.
Pay selalu merasa bimbang.
***
“Pergilah ke kota hamperak, tumpas para pengacau di sana.” Tok Gakgak memberikan perintah.
“Baik Tuan.” Hulubalang Pay menjawab.
Telah banyak tugas yang di berikan Tok Gakgak kepada Hulubalang Pay. Dan tak pernah sekalipun ia mengecewakan.
Tok Gakgak selalu memberi tugas-tugas khusus kepada Hulubalang Pay karena kemampuannya yang memang bisa di andalkan. Dengan berjalannya waktu, Hulubalang Pay kini seakan menjadi tangan kanan Tok Gakgak.
Bahkan Hulubalang Pay kini bisa memberikan perintah kepada prajurit lain yang tidak berada di bawah komandonya. Dia sekarang sangat di hormati.
“Pergilah ke selatan, bunuh semua penyamun yang sering meresahkan para pedagang yang melintas di sana.” Perintah Tok Gakgak.
“Baik Tuan.” Jawab Hulubalang Pay.
***
Puluhan mayat Nampak berserakan di tepian hutan. Mereka adalah para penyamun yang sering beraksi melakukan perampokan pada para pedagang yang akan melintas jalur selatan untuk berdagang ke ibu kota atau yang akan kembali pulang setelah berdagang.
Hulubalang Pay menyusun siasat untuk memancing para penyamun keluar. Dia dan para prajuritnya menyamar menjadi pedagang yang akan melintas.
Dengan menggunakan empat kereta kuda mereka berjalan melintasi jalur selatan yang terkenal rawan. Di jalur yang sudah di gambarkan, benar saja mereka kemudian di hadang oleh para penyamun.
HOUUUPPPP
Seorang prajurit yang menyamar sebagai kusir kereta menghentikan laju kudanya ketika telah dekat kepada penghadangnya.
Iring-iringan itu berhenti. Hulubalang Pay yang mengendarai kuda di belakang rombongan lantas maju ke depan untuk menemui para penghadang.
“Selamat siang Tuan.” Kata Hulubalang Pay.
“Berani sekali kalian lewat sini, hah?” Bentak salah seorang penghadang.
“Maaf Tuan, kami hanya ingin melintas untuk melanjutkan berdagang ke ibu kota.” Kata Hulubalang Pay.
“Kalian kembali lah lagi ke tempat kalian. Tinggalkan semua barang-barang kalian di sini.” Seorang penghadang lainnya berkata.
“Jangan Tuan, kami tidak bisa.” Kata Hulubalang Pay lagi.
“Kami adalah penyamun, kalian lihat? Tinggalkan semua barang bawaan kalian, atau kalian akan mati sia-sia, ha … ha … ha …” Kata seorang lainnya lagi sambil tertawa dan menunjuk ke sisi kiri dan kanan hutan.
Bersamaan dengan itu, puluhan laki-laki dengan pedang terhunus keluar dari balik-balik pohon. Mereka berjalan mendekat.
Hulubalang Pay melihat ke sekeliling sebelum kemudian memberikan aba-aba.
“Sekarang!!!” Teriak Hulubalang Pay.
__ADS_1
HAAAAA
Para prajurit yang sebelumnya bersembunyi di dalam kereta kuda segera berhamburan keluar dari dalam. Mereka langsung menerjang para penyamun tersebut.
CIIAATTTTT
Hulubalang Pay juga menerjang orang-orang yang menghadangnya. Dia melompat dari atas kuda dan segera menghunus pedangnya.
Dengan dua gerakan cepat, dua orang penghadangnya segera tewas dengan leher tertebas.
CRESSS CREESSSSSS
Delapan orang temannya yang seperti belum siap dengan yang terjadi sesaat merasa terkejut. Namun Hulubalang Pay tak memberi kesempatan kepada mereka.
SHETT SHEETTT
JRESS JREESSSS
Pedang Hulubalang Pay dengan anggun menari di udara sebelum kemudian berkelebat dan menembus sasarannya.
Empat orang segera menyusul kematian.
HAAA CIAATTT CIIAATTTT
Sisanya kini mulai menyerang Hulubalang Pay. Dia cepat menghindar dan menangkis sabetan pedang yang di layangkan.
TING TING TING
Suara dentuman logam terdengar mengangkasa.
Lantas dengan tiga gerakan berurutan, Hulubalang Pay menebas dan menusukan pedangnya.
JRESSS JREESSS ZHUSSSS
Tiga orang penghadangnya langsung terkapar ke tanah. Tersisa satu orang lagi yang mulai mundur. Mendadak ia berbalik arah kemudian memacu kudanya mencoba melarikan diri.
Hulubalang Pay tak mau diam. Dia lantas mencabut sebuah tombak yang berada di sisi kereta kuda dan melemparkannya ke arah orang yang melarikan diri tersebut.
ZHEEEPPPP
Lemparannya tepat mengenai punggung orang tersebut hingga menembus tubuhnya. Ia terkulai sebelum akhirnya terjatuh dari atas kuda yang sedang berlari.
Hulubalang Pay melihat sekitar. Para prajuritnya juga sepertinya telah selesai membasmi semua para penyamun itu.
Semuanya tewas bergelimpangan. Sementara dari pihak prajurit, tak ada korban jiwa yang terambil. Semuanya masih lengkap dan tegak berdiri, kecuali lima orang yang mendapatkan luka yang tak terlalu parah.
“Kumpulkan semua mayat-mayat itu.” Perintah Hulubalang Pay.
Para prajurit segera melaksanakan perintah.
“Kita tanam mereka di sisi hutan. Kalian buatlah sebuah lubang yang dalam dan besar di sana.” Hulubalang Pay memberikan perintahnya lagi.
Setelah selesai, mereka memasukan mayat-mayat para penyamun itu ke dalam lubang yang telah di buat kemudian menimbunnya kembali dengan tanah.
__ADS_1
Selanjutnya mereka segera meneruskan perjalanan untuk kembali ke ibu kota dengan meninggalkan kuburan tak bertanda yang berisi mayat para penyamun yang selalu meresahkan tersebut.
Hulubalang Pay dan pasukannya kembali sukses menjalankan perintah.