LEGENDA LIMA PECUNDANG

LEGENDA LIMA PECUNDANG
Bag. 2, Bab. Pemanah, ch.1


__ADS_3

“Berapa orang kekuatan prajurit istana Tuan Pay?” Tanya Dharma.


“Sekitar tiga ribu orang prajurit di tambah enam ratus orang prajurit pilihan Tuan, juga dua ratus pemanah yang sangat terlatih yang berada di bawah komando langsung Sangkamudian Tuan” Jawab Pay.


“Sepertinya kita masih belum sebanding dengan kekuatan mereka” Kata Dharma.


“Bersama kita ada seratus tiga puluh prajurit pilihan di tambah seratus lima puluh prajurit regular. Benar kekuatan kita saat ini belum sebanding. Tapi aku merasa, aku masih bisa mempengaruhi para Hulubalang agar berpihak kepada kita” Pay memberikan dorongan.


“Bagaimana caranya?” Tanya Dharma.


“Aku memiliki rencana Tuan. Seandainya para Hulubalang itu bisa keluar dari istana, aku bisa memanfaatkan situasi. Para Hulubalang itu adalah teman-temanku. Aku sangat tau dan mengerti suasana kebathinan mereka. Sepertinya kita tidak harus bertempur menghadapi mereka. Kita akan mendapat keuntungan dari mereka. Sedang untuk para prajurit regular, mereka sangat menaruh rasa hormat kepada divisi prajurit pilihan itu. Kita harus mencari cara agar Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak mengerahkan para Hulubalang beserta prajurit yang di komandoi mereka itu keluar istana”


“Sepertinya kita harus unjuk kekuatan jika begitu”


“Aku rasa juga begitu Tuan. Tapi tentunya tidak sekarang”


“Kau benar Tuan Pay”


“Salah satu kelemahan yang masih membuatku berfikir adalah, kita tak memiliki orang-orang yang ahli dalam memanah Tuan. Hanya Tuan seorang di sini yang ahli dalam hal itu”


“Iya, kau benar”


“Tapi aku bisa menyarankan sebuah tempat yang di huni oleh para pemburu. Mereka adalah ahli panah. Tuan juga adalah seorang yang ahli memanah. Aku cukup yakin, jika kita meminta bantuan mereka, dan mereka bersedia, kemungkinan keberhasilan tujuan kita akan semakin terbuka. Aku mengenal beberapa dari mereka”


“Di mana mereka?”


“Di suatu tempat di daerah timur. Aku pernah bertugas berjaga di sana. Dari sini mungkin akan butuh empat hari perjalanan berkuda Tuan”


“Kita bisa menyiapkan orang untuk kesana”


“Tidak Tuan, sebaik hanya Tuan dan aku yang pergi kesana. Semakin sedikit yang pergi, maka semakin cepat kita bisa sampai”


“Apakah menurutmu begitu?”


“Iya, menurutku itu yang terbaik”


“Baiklah”


Dharma lantas memanggil Tok Alang dan Bas untuk bergabung dalam pembicaraan. Setelah menjelaskan rinciannya, nampaknya semua sepakat.


“Selama kepergian kami, aku harap kau dan Tok Alang yang bertanggung jawab di sini” Kata Dharma kepada Bas.


“Baik Tuan. Aku akan memastikan semuanya akan baik-baik saja di sini” Jawab Bas.


***


Keesokan harinya, ketika matahari belum terbit untuk menyinari, Pay dan Dharma telah memacu kuda mereka membelah hutan.


Mereka berdua menuju ke sebuah tempat di mana para pemburu tinggal. Mereka adalah orang-orang dengan keahlian memanah yang tak di ragukan lagi kemampuannya.


Pay dan Dharma memacu kencang kudanya.

__ADS_1


Ketika malam tiba, mereka berdua beristirahat di hutan yang tersembunyi. Mereka tak ingin bertemu pasukan kerajaan. Kemudian berangkat lagi ketika fajar bahkan belum terlihat.


Pada malam hari kedua, Pay dan Dharma beristirahat di tepian hutan. Tempat itu sepertinya cukup dekat dengan pemukiman penduduk. Karena mereka bisa melihat ada cahaya di kejauhan.


“Kita bermalam di sini saja” Kata Dharma sambil menyembunyikan kedua kuda mereka.


“Sepertinya iya. Ini cukup dekat dengan penduduk. Di sana ada cahaya” Jawab Pay.


“Sepertinya riuh sekali di sana. Apakah sedang berlangsung festival?” Tanya Dharma.


“Mungkin saja. Tapi sebaiknya kita istirahat saja” Jawab Pay lagi yang mengambil posisi tidurnya.


Namun Dharma terus memandang ke arah api yang sepertinya makin membesar. Dia merasa curiga. Nalurinya berkata ada yang tak beres sedang terjadi di sana.


“Tuan Pay”


“Iya Tuan”


“Sepertinya itu bukan api festival. Lihatlah, cahaya api itu semakin membesar” Dharma kemudian berdiri.


“Tuan benar. Itu bukan festival. Sepertinya itu adalah sesuatu yang sengaja di bakar” Jawab Pay yang kemudian ikut berdiri.


“Mungkinkah itu rumah penduduk yang di bakar?”


“Bisa jadi”


“Sebaiknya kita kesana memeriksa”


“Iya, mari kita periksa, dan tetap bersembunyi”


“Kita terlambat” Kata Dharma setengah berbisik.


“Iya, Tuan benar” Jawab Pay.


“Seharusnya sedari tadi kita kemari” Sesal Dharma.


“Di samping rumah, sepertinya mereka baru saja membantai seorang pria tua” Kata Pay sambil menunjuk ke samping rumah yang terbakar.


“Benar. Dia sempat melawan sepertinya. Lihatlah, beberapa prajurit juga terkapar di dekatnya” Dharma melihat ke arah yang di tunjuk.


“Kita harus bagaimana?” Tanya Pay kemudian.


“Sudah terlambat, kita kembali” Dharma memberikan jawaban.


“Tunggu dulu” Pay menahan lengan Dharma.


“Ada apa?”


“Lihatlah, para prajurit itu sepertinya tengah memasang perangkap. Mereka menjauh dan bersembunyi”


“Tuan Pay benar”

__ADS_1


“Kita tunggu apa yang akan di lakukan para prajurit itu”


Mereka berdua terus memperhatikan situasi ketika kemudian dari arah depan muncul seorang laki-laki dan wanita mendekati rumah yang terbakar itu.


“Tookkkkk…..”


Laki-laki itu sepertinya memanggil seseorang dengan panik dan melepaskan perempuan yang bersamanya itu dari pengawasannya.


“Sial, mereka akan di bunuh” Dharma berbisik gusar.


“Tuan benar. Kita harus membantu mereka” Jawab Pay.


Namun belum sempat Dharma dan Pay menolong, tiba-tiba puluhan anak panah melesat di udara. Sang perempuan nampak tiba-tiba terkapar. Laki-laki itu mencoba menolongnya. Namun ia terdesak dengan hujanan anak panah hingga ia bertahan di balik tumpukan kayu.


Terlihat puluhan prajurit itu mulai menyerbu.


“Sial, sial … Tuan Pay, berputarlah ke arah samping. Kita beri pelajaran prajurit-prajurit brengsek itu” Kata Dharma geram.


“Baik Tuan” Jawab Pay segera melesat meninggalkan Dharma dan berputar mengambil sisi berlainan.


Ketika para prajurit itu semakin mendekat, dengan di barengi kemarahan yang teramat sangat, Dharma kemudian menghunus pedangnya dan menerjang para prajurit tersebut.


CRESSSSS CRESSSSSS CREESSSSSS


CIAT CIATT CIAAATTTT


Para prajurit itu terlihat terkejut dan bingung lalu kemudian berjatuhan akibat serangan mendadak yang di lakukan Dharma. Mereka tak siap dengan serangan tersebut.


Konsentrasi para prajurit itu semakin terpecah ketika sebuah serangan dari sisi yang berlawanan juga datang menyerang mereka.


Itu adalah aksi Pay yang menebaskan pedangnya ke tubuh para prajurit yang semakin kebingungan. Para prajurit satu persatu roboh bersimbah darah terkena sabetan pedang Pay.


Para prajurit yang telah berada di depan, dengan keterkejutannya membalikan arah dan mencoba menyerang Dharma, namun tiba-tiba pukulan-pukulan keras menghantam kepala mereka satu persatu.


PAAKKK PAAKKKK PAAKKKKK


Prajurit-prajurit itu pun berjatuhan dengan kepala nyaris pecah. Laki-laki yang datang bersama perempuan itu ternyata sangat mahir bertarung menggunakan potongan-potongan kayu.


Tak butuh waktu lama bagi mereka bertiga untuk menyelesaikan pertarungan itu.


Puluhan tubuh prajurit yang telah tak bernyawa itu berserakan di halaman rumah.


Dharma melihat beberapa prajurit yang mencoba melarikan diri. Dia lantas memungut sebuah busur dan anak panah yang berserakan di tanah. Dengan cepat ia membidik satu persatu prajurit yang melarikan diri tersebut.


SHEPP SHEEPPPP


Semuanya terjerembab ke tanah ketika anak panah yang di lesatkan Dharma menembus tubuh para prajurit yang melarikan diri itu.


Suasana kemudian lengang. Hanya tersisa tiga orang yang masih tegak berdiri. Dharma dan Pay beserta laki-laki yang di tolongnya.


Tiba-tiba laki-laki itu berteriak memanggil nama sang perempuan. Dharma dan Pay hanya bisa menarik nafas panjang melihat bagaimana laki-laki itu berduka. Mereka berdua ikut larut dalam kesedihan yang di rasakan laki-laki itu.

__ADS_1


Laki-laki itu menangis ketika Dharma dan Pay ikut membantunya untuk menguburkan jasad dua orang yang di kasihinya.


Setelah berkenalan singkat, laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk ikut bersama Dharma dan Pay. Mereka bertiga akan bersama pergi menuju ke kampung para pemburu.


__ADS_2