
Ibu kota kerajaan Samasta begitu lengang hari itu. Para penduduk tak ada yang melakukan aktivitas apapun. Beberapa dari mereka bahkan telah mengungsi keluar wilayah ibu kota. Mereka tau, bahwa pertempuran perebutan kekuasaan akan segera terjadi. Dan tentu saja mereka tak ingin menjadi bagian dari korban jiwa akibat salah sasaran.
Derap langkah para pasukan Dharma menggema ketika memasuki tanah ibu kota. Tak ada prajurit kerajaan yang berjaga. Semua seakan telah di biarkan kosong.
Pasukan Dharma berhenti ketika tinggal berjarak dua ratus meter dari pintu benteng kerajaan.
Benteng itu terlihat sepi. Tak terlihat prajurit yang bersiap akan menghadapi penyerangan. Dharma lantas mengirimkan lima puluh pasukannya untuk mendekati benteng. Pasukan utama mengikuti dari belakang.
SHEPP SHEEPP SHEEPP
Tiba-tiba puluhan anak panah berterbangan di udara menuju ke arah pasukan Dharma. Beberapa puluh dari mereka berguguran.
“Berhentiiii….” Dharma memerintahkan pasukannya untuk berhenti bergerak.
Kini di atas benteng terlihat ratusan pemanah yang bersiap membidik mereka. Dharma meminta pasukannya untuk mundur dari jangkauan para pemanah.
“Jangan di teruskan dulu Tuan.” Pay mendekat dari atas kuda untuk memberitahukan kepada Dharma.
“Mereka sepertinya menginginkan pertarungan di dalam benteng,” kata Dharma.
“Benar Tuan, tapi kita tak bisa mendekat,” Pay berkata lagi.
“Para pemburu itu, bagaimana khabarnya?” Dharma bertanya.
“Kita belum tau,” Pay menjawab.
Bas yang sedari tadi berada di sisi samping lantas mendekati mereka.
“Kita gunakan saja strategi pengepungan, walau akan memakan waktu, namun akan ada saatnya mereka harus mencari logistik dan keluar benteng,” kata Bas.
“Benar Tuan Bas, hanya ada tiga pintu keluar dan masuk di benteng itu. Kita tempatkan orang-orang kita untuk menjaganya,” kata Pay lagi.
“Perintahkan pasukan untuk mendirikan kemah di sini. Kita akan kepung tempat ini hingga mereka keluar,“ perintah Dharma.
Pasukan Dharma kemudian mendirikan tenda di depan tiga pintu yang berada di benteng istana. Mereka berusaha menahan pasukan Sangkamudian dan Tok Gakgak hingga mereka akan kehabisan persediaan bekal makanan.
***
“Bagaimana sekarang Tok Gakgak?” Raja Sangkamudian bertanya kepada Kepala Hulubalang Tok Gakgak ketika mengetahui bahwa mereka telah terkepung pasukan Dharma.
“Kita akan bertahan di sini Tuan. Mereka tak akan bisa menembus benteng istana,” jawab Tok Gakgak.
“Bagaimana persediaan makanan kita?” tanya Raja Sangkamudian.
“Cukup untuk empat bulan. Kita telah mempersiapkan segalanya.”
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu.”
“Yang penting pasukan pemanah harus selalu siap dalam kondisi apapun. Kita akan berikan mereka pelayanan yang terbaik Tuan, agar mereka selalu siap dalam kondisi apapun untuk bertempur.”
“Jangan lengah, kita tak ingin kecolongan lagi seperti para pengecut-pengecut yang berkhianat itu.”
“Baik Tuan.”
***
Telah satu bulan lamanya pengepungan itu di lakukan terhadap benteng istana. Kedua pasukan masih dalam posisinya masing-masing.
Namun di masing-masing barisan kelompok pasukan itu, sesungguhnya mulai ada rasa yang menggelayuti.
Di dalam benteng, dua Hulubalang yang tersisa sejatinya ingin menggabungkan diri dengan keempat temannya yang telah terlebih dahulu manggabungkan diri. Mereka menunggu moment yang pas.
Namun perintah dari Raja Sangkamudian kepada para pemanah yang selalu siap sedia di posisinya adalah untuk membunuh sIapapun orang yang berani mendekati pintu benteng istana, baik dari dalam terlebih lagi dari luar.
Sementara dari sisi pasukan Dharma, sebagian pasukannya mulai merasa ragu atas keputusan Dharma yang mengepung tempat tersebut. Mereka yang datang juga tanpa persiapan logistik yang memadai. Perbekalan mereka hanya mengandalkan pemberian dari rakyat ketika mereka berjalan menuju ibu kota.
Mereka juga mulai bosan, karena strategi bertempur yang hanya menunggu. Tak ada perintah yang jelas bagi mereka untuk langkah selanjutnya.
***
“Kita lakukan pemanasan malam ini,” kata Raja Sangkamudian kepada Tok Gakgak.
***
Malam mulai perlahan menjauh pergi. Rembulan juga samar terlihat di atas langit kerajaan Samasta. Dini hari akan segera menyapa.
Lima puluh pasukan pemanah dengan mengendap keluar benteng istana di sisi samping. Begitu pula dengan lima puluh orang lainnya yang mengendap di pintu depan. Mereka berjalan mengendap dalam kegelapan.
Mereka sangat tau, bahwa pasukan Dharma sedang di landa kejenuhan dan rasa bosan. Mereka sedang lengah, dan Raja Sangkamudian tau persis untuk memanfaatkan situasi tersebut.
Ketika semua telah berada dalam posisinya, dalam senyap mereka menyiapkan puluhan anak panah yang di arahkan ke perkemahan pasukan Dharma.
SHEEPP SHEEPP SHEEPP
SHEEPP SHEEPP SHEEPP
Ratusan anak panah secepat kilat memenuhi udara dan meluncur ke perkemahan pasukan Dharma yang sedang dalam kondisi tak siap.
AAARGHHHH
BRUUGGGGG
__ADS_1
Suara riuh langsung terdengar dari perkemahan ketika ratusan anak panah itu menghampiri mereka.
Para pemanah itu tiba-tiba menyalakan api di setiap ujung anak panahnya kemudian melepsakannya kembali ke arah perkemahan.
Tiba-tiba langit dini hari itu mendadak terang benderang oleh ratusan anak panah yang terbakar yang di lepaskan secara bertubi-tubi.
SSHEEPPP SSHEEPPP SSHEEPPP
Tenda-tenda mulai terlihat terbakar. Suara kepanikan mulai terdengar dari arah perkemahan. Para pemanah yang berada di luar, dengan perlahan dan pasti kembali masuk ke dalam benteng.
Dengan teratur mereka segera kembali ke dalam pos mereka masing-masing dan memantau keluar benteng. Nyala api yang makin membesar masih terlihat di luar sana.
Misi mereka mengacaukan para pengepung itu sepertinya berhasil malam itu.
Di depan pintu istana, nampak Raja Sangkamudian dan Tok Gakgak tersenyum puas penuh kemenangan.
“Setidaknya, tikus-tikus itu bisa punya kegiatan malam ini,” kata Raja Sangkamudian.
“He … he … he …” Tok Gakgak hanya terkekeh.
***
Di luar benteng istana, terlihat pasukan Dharma berusaha keras untuk memadamkan api yang membakar. Dua baris kemah terdepan habis terbakar.
Dharma dan Pay, beserta orang-orangnya terlihat Nampak sangat marah dan terpukul atas serangan mendadak tersebut.
Setelah beberapa lama, usaha untuk memadamkan api mulai berhasil. Mereka kemudian mengumpulkan para prajurit yang tewas maupun yang terluka.
“Berikan situasinya,” kata Dharma di dalam kemahnya.
“Empat puluh orang tewas, dan sembilan puluh orang lainnya terluka,” jawab Bas.
“Kita tak bisa lebih lama lagi untuk melakukan pengepungan ini. Ada yang bisa memberikan pendapat?” tanya Dharma kepada mereka yang ada di sana.
“Tapi Tuan, kita juga tak dapat begitu saja menyerang benteng itu. Para pemanah-pemanah itu pasti sudah siap untuk menyambut kita,” Bas memberikan pandangannya.
“Bagaimana menurutmu Tuan Pay?” Dharma bertanya kepada Pay.
Pay sepertinya sedang berfikir keras. Dia masih diam ketika Dharma berucap lagi.
“Para pemburu itu sepertinya tak akan datang Tuan Pay.”
Seorang prajurit tiba-tiba datang menghadap ke pertemuan itu.
“Maaf Tuan. Di ujung jalan, seratusan orang berkuda berkata memiliki janji dengan Tuan," kata prajurit itu.
__ADS_1
“Itu mereka.” Tiba-tiba wajah Pay berseri.
“Kita sambut mereka,” ucap Dharma kemudian melangkah keluar kemah dan di ikuti oleh mereka semua.