LEGENDA LIMA PECUNDANG

LEGENDA LIMA PECUNDANG
Bag. 4, Bab. Zul, ch. 1


__ADS_3

Seorang laki-laki dengan perawakan gemuk nampak sedang duduk dengan mengatur pernafasannya. Dia sedang sangat berkonsentrasi dengan pelatihannya. Matanya terpejam dan hembusan nafasnya sedang sangat teratur ketika tiba-tiba sebuah ayunan tongkat melayang ke tubuhnya.


WUUUSSSHHH


Dengan reflek Zul menghindarkan tubuhnya dari terkena sabetan tongkat itu. Dia melompat ringan ke samping, lalu meraih tongkat yang berada di sisinya dan mengayunkannya kebelakang.


TAKKKKKK TAKKKKK TAKKKKKKK


Suara dentingan terdengar ketika kedua tongkat yang di layangkan itu saling beradu.


Zul membalikkan badan lalu melayangkan serangan tongkatnya ke depan.


TAKKKKKKK


Lagi suara tongkat yang saling beradu kembali terdengar.


BUGGGG


Suara hantaman kaki yang tepat mengenai perut Zul membuatnya terhuyung ke belakang.


“Argghhh…” Zul mengerang kesakitan.


“Ha … ha … ha … setelah sekian lama, kau masih belum juga bisa berkonsentrasi secara penuh Bodoh.” Suara dari sang pemilik serangan itu terdengar terkekeh.


“Aku masih belum siap Tok.” Zul bangkit sambil memegang perutnya yang masih kesakitan.


“Kapan kau akan siap? Sudah terlalu lama aku mengajarimu Bodoh.” Seorang laki-laki berusia sepuh mendekati Zul dan membantunya untuk kembali duduk.


Laki-laki sepuh itu adalah Tok Anai. Dia adalah guru dan juga orang tua yang telah merawat dan membesarkan Zul dari bayi.


Dahulu Zul adalah bayi yang di buang keluarganya.


Di suatu malam, Tok Anai mendengar suara tangisan bayi yang di letakkan di depan pintu rumahnya. Saat keluar ia tak menemukan seorangpun di sana, kecuali sesosok bayi mungil yang terus saja menangis.


Tok Anai merasa kasihan, lalu ia mengambil bayi tersebut dan memberikan nama Zul kepadanya. Kebetulan Tok Anai hidup sendirian. Dengan kesabaran dan kasih sayang akhirnya Tok Anai merawat dan membesarkan bayi malang tersebut.


Namun, walau Tok Anai memberikan nama Zul kepadanya, tapi ia selalu memanggil Zul dengan panggilan Bodoh. Itu adalah panggilan sayang dari orang tua kepada sang anak. Begitu Tok Anai pernah menjelaskan kepada Zul.


Saat ini, Zul berusia dua puluh satu tahun. Tok Anai pun sangat berharap kelak Zul akan menjadi seseorang yang berguna bagi kehidupan masyarakat.


Tok Anai mengajarkan semua ilmu yang ia ketahui kepada Zul. Walau terkadang masih sembrono, Zul cukup bisa menangkap apa yang di berikan.


Secara keseluruhan Tok Anai telah mengajarkan kemampuan ilmu tenaga dalam yang ia kuasai. Beberapa jurus pemainan tongkat juga telah ia wariskan kepada Zul.


“Ha … ha … ha … dasar Bodoh. Tapi harus aku akui kalau kau semakin hebat.” Tok Anai memuji Zul.

__ADS_1


“Apanya yang hebat Tok?” Jawab Zul yang masih menahan sakit di perutnya.


“Yah, setidaknya ilmu tenaga dalammu sudah hampir sempurna.” Kata Tok Anai lagi.


“Tapi permainan tongkatku masih payah.” Jawab Zul sambil meraih tongkat yang ada di sampingnya.


WUUSHHHHH


TAKKKKKKK


Cepat gerakkan keduanya beradu tongkat.


“Ha … ha … ha … hei Bodoh. Kau itu bukan payah dalam permainan tongkat. Tapi kau hanya kurang percaya diri.” Tok Anai tertawa sambil meninggalkan Zul sendirian.


Zul hanya memandangi punggung orang tua yang telah merawat dan membesarkannya itu. Dia tau jika sebenarnya ia adalah anak yang di buang keluarganya. Hingga hari ini, Zul tak pernah tau siapa keluarganya dan kenapa ia tak di inginkan.


Terkadang muncul perasaan sedih menghampiri saat Zul mengenang nasibnya. Tapi Tok Anai selalu datang menghibur dan menengkan dirinya.


Walau Tok Anai selalu meanggilnya dengan sebutan Bodoh, tapi Zul tau bahwa sesungguhnya orang tua itu menyayangi dirinya dengan sepenuh hati.


Sejak sepuluh tahun yang lalu, Tok Anai secara serius telah mengajari dan menggembleng kemampuan Zul. Ia bahkan telah menguasai semua jurus tenaga dalam yang di ajarkan.


Satu-satunya yang masih belum secara sempurna ia kuasai adalah jurus permainan tongkat Tok Anai. Walau sebenarnya keseluruhan jurus permainan tongkat tersebut telah di ajarkan kepadanya. Tapi seperti yang di katakana Tok Anai, masalah Zul terletak kepada rasa kepercayaan dirinya.


Zul selalu berucap janji dalam hati bahwa ia akan terus menjaga Tok Anai.


***


Di suatu siang yang di liputi mendung, Zul sedang berada di kota kadipaten. Ia sedang berada di situ karena sebuah permintaan Tok Anai untuk mencarikannya sebungkus garam dan tembakau.


Ketika telah sampai di kedai yang biasa ia singgahi, hujan turun cukup deras. Zul tertahan di kedai itu.


Pemilik kedai adalah seorang keturunan Cina bernama Babah Atung. Babah Atung memiliki seorang putri yang menarik perhatian Zul. Dia bernama Amei.


Ketika berbelanja di kedai Babah Atung, Zul selalu berharap dapat bertemu dengan Amei.


Siang itu harapan Zul terwujud karena Amei yang sedang menjaga kedai. Walau malu-malu Zul mencoba mengajak Amei untuk mengobrol.


Amei juga merupakan gadis yang ramah. Sebelumnya mereka juga sudah saling mengenal karena Zul selalu berbelanja di kedai tersebut. Mereka cukup lama mengobrol hingga tak terasa hujan telah reda.


“Mau Amei jadi istriku?” Zul bertanya kepada Amei.


“Tanyalah sama Babah” Jawab Amei.


“Kok Tanya sama Babah? Amei mau tak jadi istriku?” Zul serius menatap wajah Amei.

__ADS_1


“Isss … apalah Abang ini” Amei tersipu, wajahnya memerah.


Obrolan Zul dengan Amei terhenti dengan kedatangan beberapa orang prajurit kerajaan yang hendak mengambil upeti dari kedai Babah Atung.


Para prajurit itu masuk ke dalam kedai sambil menggebrak dinding. Zul yang melihat itu menepi, sementara Amei langsung masuk ke dalam rumah dan memanggil Babah Atung.


Dengan tergopoh Babah Atung datang menemui para prajurit tersebut.


“haiyya, jangan lusak-lusak balang owe, nanti balang owe tidak bisa di jual.” Kata Babah Atung kepada para prajurit itu.


“Eh, koh, mana anakmu tadi?” Kata salah seorang prajurit itu.


“Sudah Tuan, ini owe bayal upeti buat Laja.” Kata Babah Atung sambil menyerahkan sekantung keping uang.


“Aku bilang, dimana anakmu tadi hah?!” Prajurit itu kini membentak Babah Atung.


“Tolong Tuan, jangan ganggu kami.”


“Kau tak dengar apa kataku?” Prajurit itu lantas meraih wajah Babah Atung dengan telapak tangannya, lalu meremas wajah tua itu.


Zul yang melihat itu terasa mendidih darahnya. Tapi ia mencoba untuk tetap bertahan dengan kesabarannya. Ia tau bahwa yang ia hadapi adalah prajurit kerajaan yang terkenal kejam dan tak kenal ampun.


Tiba-tiba Amei datang dari dalam dan memeluk Babah Atung sambil menangis.


“Sudah Tuan, tolong jangan ganggu kami.” Amei memohon dengan menangis.


“Ha … ha … ha … siapa nama kamu anak cantik?” Kata prajurit itu mendekati Babah Atung dan Amei.


Zul semakin bertambah geram. Dia mencoba mengatur nafasnya.


“A-A-Amei Tuan” Jawab Amei tergagap.


“Kau cukup cantik. Kau mau jadi istriku?” Prajurit itu semakin lancang.


“Ja-ja-jangan Tuan. Tolong tinggalkan kami.” Pinta Amei.


“Kau mau mengatur kami? Kau tidak tau siapa kami hah?” Prajurit itu meraih rambut Amei.


“Jangan … tolong Tuan.” Amei menangis menghiba.


“Kami adalah prajurit…”


BRAAKKKKKK


Belum sempat prajurit itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sebuah tongkat kayu telah melayang dan menghantam kepalanya hingga ia tersungkur tak bernyawa di atas lantai.

__ADS_1


__ADS_2