
“Kita telah sampai” Kata Pay kepada Dharma.
Mereka bertiga melompat turun dari kudanya masing-masing kemudian menambatkannya kepada sebatang pohon.
Dusun itu nampak sepi. Tak terlihat seorang pun di luar. Pay, Dharma beserta laki-laki yang di tolong mereka itu berjalan perlahan mendekati sebuah rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Pay mengetuk pintu rumah tersebut.
TOK TOK TOK
Sepi. Tak ada jawaban.
“Tunggulah di sini” Kata Pay kepada Dharma dan juga kepada laki-laki itu.
Pay kemudian memutari rumah tersebut. Di belakang rumah tersebut adalah jalan yang terhubung langsung dengan hutan.
“Tuan Pay” Seorang pria bertubuh kurus tinggi memanggil nama Pay dari balik pepohonan.
“Ah, Tuan Des, hamba kira tak akan menemukan Tuan di sini” Jawab Pay yang menyongsong orang yang di panggilnya Des tersebut.
Mereka berpelukan sejenak.
“Apa hal yang membawa Tuan Pay kembali kemari?” Tanya Des.
“Hamba ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting kepada Tuan” Jawab Pay.
“Hmmm … sangat penting. Mari kita bicara di dalam” Ajak Des kepada Pay.
Mereka kemudian berjalan beriringan dan masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.
“Duduklah Tuan” Kata Des mmpersilahkan Pay untuk mengambil tempatnya.
“Terima kasih” Jawab Pay.
“Apa yang hendak Tuan bicarakan?” Kata Des kepada Pay.
Pay kemudian menceritakan maksud dan tujuannya. Des mendengarkan dengan seksama.
“Benarkah yang engkau katakan itu Tuan Pay?”
“Tuan sudah mengenalku sekian lama. Tuan tau bagaimana hamba bukan?”
“Iya … iya … tapi aku harus jujur kepada Tuan. Aku tak bisa memutuskan sendiri, Aku harus bertanya kepada orang-orangku terlebih dahulu, jika Tuan Pay tidak keberatan”
“Hamba tak akan memaksa. Tuan Des ambillah waktu yang di perlukan bersama orang-orang Tuan. Tapi kami akan segera bergerak. Ketika saat itu tiba, hamba berharap Tuan telah berada di barisan kami”
“Aku mengenal Tuan Pay sebagai orang yang baik. Tapi ini adalah sesuatu yang besar. Berikan kami waktu”
“Baik Tuan Des. Hamba sangat menghargai sambutan Tuan. Dan hamba ingin memperkenalkan Tuan kepada seseorang”
“Mereka yang di luar itu?”
“Iya”
“Aku sudah melihat mereka”
“Yang di luar itu, salah satunya menyandang nama Angkasa di belakang namanya. Maukah Tuan menjumpainya walau sejenak?”
“Baiklah Tuan Pay”
Mereka berdua kemudian keluar dari rumah dan menemui Dharma beserta Zul yang berdiri di tambatan kuda.
“Mohon maaf atas sambutan kami yang tak layak ini Tuan” Kata Des ketika telah sampai.
__ADS_1
Mereka kemudian saling bersalaman.
“Tuan Pay telah menjelaskan maksud dan tujuannya kenapa datang kemari. Dan hamba juga telah menjelaskan apa yang bisa kami lakukan nantinya kepada Tuan Pay”
“Tak mengapa Tuan. Sebelumnya terima kasih dan hormatku setinggi-tingginya atas pengertian yang Tuan berikan kepada kami” Kata Dharma kepada Des.
“Maksud dan tujuan telah di sampaikan. Dan mohon maaf kami tak bisa menjamu Tuan-Tuan karena musim berburu belum datang waktunya” Des berkata demikian.
“Sekali terima kasih Tuan Des. Kami mohon undur diri dari tempat yang penuh kebaikan ini. Bukan bermaksud tak ingin berlama-lama, namun ada hajat yang harus di tunaikan” Kata Pay kepada Des.
“Hati-hatilah dalam perjalanan. Semoga dalam pertemuan berikutnya, kita semua berada di dalam aula untuk memberikan hormat kepada raja yang sah” Des tersenyum, Pay mengerti.
Mereka bertiga kemudian menaiki kuda masing-masing dan memacunya meninggalkan dusun para pemanah itu.
Dalam perjalanan kembali, Dharma bertanya kepada Pay.
“Begitu saja?” Tanya Dharma.
“Iya Tuan, memang hanya begitu saja” Jawab Pay.
“Aku tak mengerti. Lantas apakah mereka bersedia bersama kita Tuan Pay?”
“Mereka sepertinya bersedia”
“Apakah orang itu yang mengatakannya?”
“Persisnya tidak begitu Tuan. Tapi aku mengenal Tuan Des. Aku mengenal gaya dia berbicara”
“Dusun itu terlihat sepi”
“Memang akan selalu terlihat sepi. Mereka lebih sering di dalam hutan”
“Dan laki-laki itu? Apakah dia pemimpin kelompoknya?”
Dharma hanya mengangguk-angguk. Sementara laki-laki yang lainnya, dia hanya mendengarkan dan mengikuti saja di belakang.
Perjalanan masih cukup panjang. Mereka bertiga akhirnya kembali memacu kudanya dengan kencang agar segera bisa berkumpul kembali ke tempat persembunyian.
***
“Lihatlah tempat ini, betapa malangnya” Kata Dharma ketika mereka bertiga sampai ke sebuah bangunan yang nyaris habis terbakar.
“Sepertinya telah terjadi pertarungan yang sengit di sini” Kata Pay.
Mereka masuk untuk memeriksa.
Pemandangan pilu terhampar di tempat itu. Tumpukan mayat yang tidak habis terbakar nampak menghitam. Bau daging terbakar kali ini terasa memualkan indera penciuman.
“Ini pasti ulah prajurit-prajurit kerajaan sialan itu” Kata Dharma lagi.
“Lihatlah jejak roda kereta ini, mereka sepertinya belum lama meninggalkan tempat ini” Kata Pay.
“Kita susul mereka?” Tiba-tiba laki-laki yang mereka tolong itu, yang dari kemarin lebih banyak diam berkata.
“Buat apa Tuan?” Pay balik bertanya.
“Memberi pelajaran kepada mereka mungkin?” Kata laki-laki itu.
Pay memandang Dharma yang sepertinya meminta pendapat.
“Kita susul mereka. Barangkali ada sesuatu yang mereka bawa dan bisa kita selamatkan” Dharma memberikan pendapatnya.
__ADS_1
“Tuan Zul, bisakah engkau tak gegabah saat bertemu prajurit-prajurit itu?” Tanya Pay kepada laki-laki itu.
“Aku pastikan, aku akan ikut perintah Tuan” Jawab laki-laki itu untuk meyakinkan.
“Baiklah”
Mereka bertiga kembali menaiki kuda masing-masing dan memacunya dengan mengikuti jejak kereta kuda yang tertinggal di tanah.
***
“Bangsat mereka” Kata Dharma ketika dia melihat salah seorang prajurit menurunkan seorang perempuan yang tanpa busana dari dalam kereta kuda.
“Kalian berdua bersiaplah. Kita bunuh mereka semua” Kata Dharma lagi.
SHEEPPP
Sebuah anak panah di lesatkan dan tepat mengenai leher prajurit yang hendak memperkosa seorang perempuan yang sepertinya sedang pingsan. Prajurit roboh dan menggelepar di tanah.
SHEPP SHEEPP SHEEPPP
Dharma bertubi-tubi melepaskan anak panahnya ke arah para prajurit itu. Mereka berjatuhan satu persatu.
HUP CIAT CIAATTT
Pay dan laki-laki itu bersamaan menyerang para prajurit itu.
CRESS CREESSSSS
AGHHHHH
Pay menebaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan. Suara teriakan para prajurit yang menyambut ajal terdengar saling bersahutan.
PAKK PAKK PAKKK
BRUK BRUK BRUK
Laki-laki itu mengamuk dengan tongkat kayunya. Beberapa prajurit tak luput dari hantaman tongkatnya hingga kepala mereka nyaris pecah menghamburkan darah.
SHEPP SHEEPP
BRUGGG
Dua prajurit yang mencoba melarikan diri juga tewas di ujung anak panah yang di lesatkan Dharma dari balik pohon.
Mereka bertiga lantas memeriksa untuk memastikan tak ada lagi prajurit itu yang masih bernyawa. Setelah selesai, lantas Pay mendekati perempuan itu dan menutupi tubuh telanjangnya dengan sebuah kain.
“Dia masih pingsan” Kata Pay.
“Sebaiknya kita bawa dulu dia menjauh dari sini” Kata Dharma juga.
“Kemana?” Tanya laki-laki itu.
“Ke istana, ha … ha … ha …” Jawab Dharma bercanda.
“Aku serius” Kata laki-laki itu lagi.
“Kita bawa saja dulu dia. Yang penting jauh dari sini” Dharma memberikan saran lagi.
“Baik Tuan” Pay mengiyakan.
Tubuh perempuan itu kemudian di bopong oleh Pay. Mereka bertiga kemudian bergegas pergi menjauhi tempat tersebut, meninggalkan mayat-mayat para prajurit yang berserakan.
__ADS_1
***