LEGENDA LIMA PECUNDANG

LEGENDA LIMA PECUNDANG
Bag. 7, Bab. Ijah, ch. 2


__ADS_3

“Alirkan semua kekuatanmu di ujung pisau itu Ijah.” Terdengar suara parau Opa Hanim seperti sedang memberi pengarahan.


Ijah tengah berlatih jurus menggunakan senjata tajam. Sama seperti Opa Hanim, Ijah adalah murid yang cepat menangkap setiap pelajaran yang di berikan. Ia telah menguasai berbagai macam jurus yang telah di berikan.


Utamanya adalah jurus-jurus dengan tangan kosong dan senjata tajam kecil.


Ijah telah giat berlatih sepanjang malam dan siang. Hingga dua tahun berikutnya ia semakin lihai menggunakan jurus-jurus yang di berikan.


***


Seorang pria paruh baya datang tergopoh dan tertatih ke pintu padepokan. Tubuhnya terluka dengan beberapa luka tebasan pedang. Dia adalah Jan Sangsa, seorang kepala dusun yang wilayahnya masih mencakupi padepokan milik Opa Hanim.


Jan Sangsa adalah salah satu dari empat orang yang selamat dari peristiwa penyerangan yang terjadi saat proses pernikahan Opa Hanim akan di langsungkan berpuluh tahun lalu.


Dari empat orang yang selamat dari peristiwa itu, saat ini hanya Opa Hanim dan Jan Sangsa yang masih tersisa. Sementara dua yang lainnya telah mendahului mereka dengan kematian.


Opa Hanim bergegas menyongsong tubuh teman lamanya yang terluka itu.


“Apa yang terjadi” Opa Hanim bertanya.


“Pr-pra-prajurit kerajaan datang ke-ke-ke dussunnn kita.” Jan Sangsa menjawab dengan terbata sambil memegangi perutnya.


“Apa gerangan yang mereka inginkan?” Tanya Opa Hanim lagi.


“Mereka mengatakan aku membelot pada kerajaan.” Jawab Jan Sangsa.


“Membelot bagaimana?” Opa Hanim terperanjat.


“Aku tak tau. Mereka mengatakan itu dan langsung hendak membunuhku. Aku melawan sebisa mungkin, uhuk … uhukk” Dengan terbata Jan Sangsa menjawab pertanyaan Opa Hanim.


“Berapa banyak mereka?” Opa Hanim mulai waspada.


“Entahlah, jumlahnya mungkin seratusan.” Jan Sangsa sepertinya semakin melemah.


“Mari kita masuk dahulu, kita obati lukamu


” Kata Opa Hanim sambil memapah tubuh sahabatnya itu.


“Hei, apakah di sini ternyata rumah para pembangkang?” Sebuah suara menghentikan langkah Opa Hanim. Itu adalah dari prajurit yang mulai berdatangan dan mengepung padepokan.


“Tuan, jangan Tuan salah faham. Tak ada pembangkang di sini.” Opa Hanim mencoba berbicara kepada prajurit itu.


“Serahkan kepala dusun itu, dia adalah pendukung pembelot kerajaan.” Teriak prajurit tersebut.


“Tuan, aku mengenal orang ini seumur hidupku. Aku tau dia tak mungkin berani membelot dari kerajaan.” Opa Hanim mencoba memberikan penjelasan.


“Apakah kau juga melindungi para pembelot, hah?” Bentak prajurit itu.


“Tidak tuan, tidak…”


ZHEP ZHEPP


Tiba-tiba dari arah samping melesat dua buah anak panah menuju ke tubuh Opa Hanim.


Reflek ia menepis dua anak panah tersebut dengan menggunakan pisau panjang yang selalu berada di balik punggungnya.


“Tunggu tuan…” Opa Hanim berharap mendapat kesempatan.

__ADS_1


“Ratakan tempat ini. Seraaaanggg………”


Sebuah perintah menggema. Serentak para prajurit yang telah mengepung padepokan itu merangsek maju dan mencoba menyerang.


ZHEPP ZHEEPPP


ZHEPP HEEPPPP


Beberapa anak panah juga melesat ke arah Opa Hanim.


Cepat Opa Hanim menarik tubuh Jan Sangsa dan segera menutup pintu dan meletakkan pasak kayu di tengah pintu. Kini ia dan mereka yang di dalam padepokan benar-benar terkepung tanpa ada jalan keluar.


Opa Hanim terkejut mendapati tiga buah anak panah menancap di punggung dan belakang leher Jan Sangsa.


Jan Sangsa tewas saat itu juga.


Bergemeretak gigi Opa Hanim menyadari kenyataan yang akan segera terjadi.


Opa Hanim memanggil semua muridnya dan meminta mereka untuk bersiap.


“Menyerah bukan pilihan. Menyerah kepada mereka, itu sama saja dengan menyambut penderitaan. Mereka tak akan membiarkan kita hidup. Mari kita songsong maut dengan kepala tegak” Opa Hanim memberikan kata-kata kepada para muridnya dengan dada bergemuruh.


“Carilah kesempatan kalian. Jika kalian masih bisa hidup setelah hari ini, ingatlah tentang apa yang pernah aku ajarkan” Dia melanjutkan kata-kata terakhirnya.


BUG BUG BUG


Suara pintu terdengar berusaha di dobrak dari luar. Mereka yang di dalam bersiap dengan senjata di tangan.


BUG BUG BRUUGGGGG


Pintu berhasil di dobrak. Para prajurit berlomba masuk dan menerjang mereka yang ada di dalam.


Suara teriakan-teriakan menggema di padepokan itu.


Opa Hanim lincah berputar dan menghindar setiap serangan yang datang dari para prajurit. Kedua tangannya bergantian menebaskan pisau panjang ke tubuh para prajurit yang ada di dekatnya.


CRESS CRESSS CREESSSSS


Satu persatu prajurit itu roboh ke tanah. Opa Hanim masih lincah mengayunkan pisau ke para penyerangnya.


Di sisi Opa Hanim, terlihat juga Ijah. Walau tubuhnya mungil, namun dengan dua pisau panjang yang tergenggam erat di tangan, ia seperti menari-nari di atas genangan darah yang mulai membanjiri tempat itu. Darah dari tubuh para prajurit yang mendapati ajal di mata pisau Ijah.


SHEP SHEP SHEPP


CRUS CRUSS CRUSSS


Ijah menebas dan menusuk mereka yang datang dengan seragam yang sama. Entah sudah berapa puluh prajurit yang menggelepar di tanah padepokan saat itu.


Sementara para murid yang lain juga berusaha keras untuk menghalau serbuan para prajurit kerajaan yang sepertinya tak ada habisnya.


TING TING TING


Suara dentingan logam terdengar saling bersahutan di arena pertempuran.


Beberapa murid Opa Hanim terlihat ada yang roboh bersimbah darah tertebas pedang para prajurit. Beberapa yang lainnya juga mengalami hal yang sama, tersungkur ke tanah karena tertusuk tombak.


Penghuni padepokan sepertinya semakin kalah jumlah. Mereka kini terkepung. Hanya tersisa lima orang termasuk Opa Hanim dan Ijah. Wajah dan pakaian mereka tampak basah memerah karena percikkan darah. Mereka mencoba mundur perlahan ke arah rumah.

__ADS_1


“Bunuh mereka semuaaa…..” Sebuah perintah kembali menggema.


WHUSS WHUSS WHUSSSS


Beberapa prajurit melemparkan tombaknya ke arah Opa Hanim dan murid-muridnya. Reflek mereka menepis tombak-tombak yang datang dengan pedang.


TRING TRING TRING


CHIIAATTTT


Beberapa prajurit menerjang Opa Hanim. Namun ujung pisau Opa Hanim lebih dahulu menyambut tubuh mereka.


CRUSS CRUSSS


HAAAAAA


Serentak para prajurit yang mengepung mereka maju dan menghunuskan pedang dan tombaknya.


Pertarungan kembali terjadi. Semakin banyak prajurit yang datang dan menerjang. Tiga murid Opa Hanim kali ini tak mampu bertahan. Tubuh mereka akhirnya roboh terkena sabetan pedang yang di layangkan para prajurit kerajaan. Mereka terkapar bersimbah darah.


Kini hanya tersisa Opa Hanim dan Ijah. Mereka berdua tengah bertarung sekuat tenaga demi melindungi nyawa mereka agar tak terenggut.


SHEPP TING


SHEPP TING


Suara sabetan pedang, pisau dan tombak silih berganti saling menebas dan beradu.


ARGHHHH


Banyak prajurit yang tewas maupun terluka karena tusukan atau irisan pisau Ijah maupun Opa Hanim.


ZHEPPP


Sebuah anak panah tiba-tiba meluncur dan menancap di bahu Opa Hanim. Dia sempat terkejut namun masih melanjutkan pertarungannya.


ZHEPPP


Anak panah kedua datang dan menancap di punggungnya. Opa Hanim agak kehilangan keseimbangan. Ijah yang melihat berusaha mendekat dan membantu menghalau serbuan para prajurit itu yang sepertinya tak berkesudahan.


SHETTTT


Sebuah tombak di lemparkan ke arah mereka berdua. Namun Ijah berhasil menepis tombak tersebut hingga mata tombak patah. Seorang prajurit datang ke arahnya dengan pedang terhunus. Ijah bersiap sambil tetap berusaha melindungi Opa Hanim yang sepertinya mulai goyah.


CIIAATTT


Prajurit itu menyabetkan pedangnya, namun tertangkis oleh Ijah.


TING


Suara pedang dan pisau terdengar beradu.


Dengan cepat Ijah melayangkan tendangan ke tubuh prajurit itu dan mengenai pangkal lengannya yang membuat pedang dalam genggamannya terjatuh. Prajurit itu sepertinya sepertinya akan terjatuh. Ijah mengalihkan perhatiannya ke Opa Hanim.


Ijah sedang mencoba menarik tubuh Opa Hanim ketika sebuah pukulan pangkal tombak menghantam belakang kepalanya. Pukulan yang di layangkan prajurit itu terlihat sangat cepat dan keras.


BUGGGG

__ADS_1


Ijah langsung tersungkur ke tanah. Ia seketika tak sadarkan diri.


__ADS_2