Legenda Pendekar Jenius

Legenda Pendekar Jenius
BAB 35 - Wajah Memerah


__ADS_3

Setelah menjelaskan tentang barang yang ada di dalam cincin penyimpanan Lin Chen, Jing Shan kemudian memberitahukan kepada Lin Chen bahwa besok Lin Chen akan melanjutkan latihannya karena hari sudah gelap.


"Beristirahatlah, tapi istirahat ini sangat berbeda," ucap Jing Shan kepada Lin Chen.


"Maksud paman?" Tanya Lin Chen kebingungan.


"Kamu harus duduk dan menelan pill penyempurnaan pondasi kultivasi, dan kamu harus menyerap semua energi yang ada didalam pill itu dan menyebarkannya ke seluruh tubuhmu, aku yakin kamu pasti mengerti," ucap Jing Shan kepada Lin Chen.


"Baik paman Shan," ucap Lin Chen kemudian berpergian bersama Jing Shan meninggalkan tempat latihan.


Malam pun tiba, Lin Chen kemudian mengambil posisi kultivasi di dalam kamarnya sembari melakukan apa yang dikatakan oleh Jing Shan tadi yaitu menelan pill penyempurnaan pondasi.


Lin Chen pun menelannya dan fokus untuk menyerap energi yang ada di dalam pill itu lalu menyebarkan ke seluruh pondasi di dalam tubuhnya.


"Ternyata tidak begitu sulit dan aku langsung memahaminya dengan cepat," ucap Lin Chen kemudian fokus menyempurnakan pondasi tingkat kultivasinya.


Tak lama kemudian, seluruh otot dan sel sel dari tubuh Lin Chen seperti menyeimbangkan dan beregenerasi menjadi lebih sempurna dan lebih kuat.


Mulai dari darah, otot, tulang, dan seluruh pondasi tubuh Lin Chen mulai menyeimbangkan dan menyempurnakan tingkat kultivasinya agar tidak terjadi kesalahan yang dapat membuat tubuh Lin Chen cedera.


Didalam kultivasi sumber kekuatan masuk dan penopangnya adalah tubuh seseorang semakin kut dan besar kekuatan yang masuk maka harus semakin kuat pula dan seimbang tubuh itu harus menampung kekuatan besar itu, ini seperti sebuah gelas yang diisi oleh lahar panas, apabila lahar panas itu masuk maka gelas itu pecah maka dari itulah gelas itu harus di tingkatkan menjadi gelas yang kuat dan harus sama seimbang dengan kekuatan lahar panas tersebut.


Lin Chen fokus dan terasa di dalam tubuhnya seperti terjadinya sebuah peningkatan karena merasakan ada sesuatu yang meledak ledak bagaikan tubuhnya seperti adonan yang dibentuk menjadi sebuah bentuk yang lebih sempurna.


Setelah beberapa menit akhirnya Lin Chen menyelesaikan memnyeimbangkan pondasi dimana tingkatan kultivasinya sekarang adalah Tingkat Penyempurnaan Qi bintang 1.


"Akhirnya aku merasakan tubuhku sudah terbiasa dengan kekuatan besar ini, seperti aku telah menyatu dan kekuatan itu adalah diriku sendiri," ucap Lin Chen yang sudah terbiasa dengan kekuatannya karena memang itu hasil dari penyempurnaan pondasi kultivasi tubuh.


Setelah Lin Chen menyelesaikan pondasinya, Lin Chen kemudian pergi membersihkan tubuhnya dan berencana untuk istirahat malam itu.


Namun saat Lin Chen mau beristirahat, tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.

__ADS_1


"Siapa?"


"Ini aku Jing Ling," ucap Jing Ling dengan nada lembut.


"Kenapa tiba tiba anak itu lembut, biasanya seperti kucing galak saat bertemu, apa yang terjadi?" Bathin Lin Chen kemudian membukakan pintu kamarnya.


"Ada perlu apa kamu kemari?" Tanya Lin Chen melihat Jing Ling yang tangannya ke belakang dan kakinya menyilang dan wajahnya memerah.


"Apa yang terjadi dengan anak ini?" Bathin Lin Chen melihat Jing Ling menjadi wanita feminim tidak seperti biasanya yang sering marah marah tidak jelas.


"Anu.." wajah Jing Ling memerah merona dan malu malu mengungkapkan sesuatu.


"Anu apa?" Tanya Lin Chen penasaran.


"Maaf, masalah kemarin aku selalu marah marah," ucap Jing Ling yang malu malu membuat Lin Chen tertawa.


"Hahaha aku mengira ada yang penting ternyata minta maaf," ucap Lin Chen membuat Jing Lin menggembungkan pipihnya merasa di tertawai oleh Lin Chen.


"Tidak apa apa, wajar jika kamu marah marah seperti itu, karena memang aku adalah orang asing dan memang di posisi dan caramu adalah langkah yang bagus," ucap Lin Chen membuat Jing Ling tersenyum kembali.


"Iya benar, dan kamu tidak perlu khawatir tentang itu," ucap Lin Chen tersenyum lembut ke arah Jing Ling.


Melihat senyuman manis di wajah tampan Lin Chen membuat Jing Ling merasa ada yang aneh dan merasa jantungnya berdetak begitu kencang serta wajahnya memerah.


"Te..terima kasih!" Ucap Jing Ling dengan wajah memerah kemudian berlari dengan cepat seperti malu kepada Lin Chen.


Lin Chen hanya diam dan tidak berekspresi melihat tingkah aneh dari Jing Ling yang tadinya lembut, gugup, malu, dan lari.


"Apa ada yang aneh dari aku?" Bathin Lin Chen memeriksa tubuhnya namun tidak ada yang aneh.


"Sudahlah, lebih baik aku beristirahat," ucap Lin Chen kemudian menutup kamarnya dan berbaring ke kasurnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Di dalam kamar Jing Ling.


Jing Ling saat ini duduk dan nafas terengah engah dan jantung yang berdebar debar.


"Kenapa.. apa.. apa yang terjadi dengan aku.." bathin Jing Ling yang sangat gugup dan merasa aneh menatap mata Lin Chen serta senyuman dari Lin Chen yang begitu manis dan menawan.


"Aku kira dia manusia aneh dan memanfaatkan orang tuaku, ternyata pikiranku salah," bathin Jing Ling yang salah menilai Lin Chen.


"Kenapa juga dia makin tampan bagis seorang manusia, sepertinya dia manusia paling tampan di dunianya," Jing Ling melihat bahwa manusia tidak ada setampan Lin Chen, bahkan ketampanan Lin Chen mampu memikat dan membuat Jing Ling merasa berdebar debar.


"Tidak tidak tidak, aku harus tenangkan diriku," ucap Jing Ling menutup matanya, namun saat menutup matanya tiba tiba Lin Chen muncul didalam kesadarannya.


"Tidak!" Jing Ling bangun dan malam itu tidak tenang tidur hingga pagi karena Lin Chen selalu muncul di pikirannya dan terbayang bayang di kepalanya.


Keesokan paginya..


Jing Ling sangat kelelahan karena didalam pikirannya muncul dan terbayang bayang Lin Chen terus menerus.


Bahkan sampai pagi pun, Jing Ling tidak tertidur karena memikirkan Lin Chen bahkan memikiran saat pertemuan pertamanya dengan Lin Chen.


"Lin Chen... Lin Chen... kenapa kamu selalu muncul di pikiranku.." ucap Jing Ling lusuh badannya membungkuk dan berjalan menuju ke ruangan makan karena dipanggil oleh ibunya.


Saat sampai di meja makan Jing Shan dan Jing Hung terkejut melihat anaknya yang sangat murung dan terlihat lesuh.


"Apa yang terjadi denganmu nak?" Tanya Jing Huang kepada Jing Ling.


"Tidak ada bu," ucap Jing Ling duduk di meja makan dengan sangat sangat seperti orang kelelahan.


"Apa yang kamu pikirkan anakku?" Tanya Jing Shan kepada Jing Ling.


"Sudah sudah, kenapa juga kita harus makan lagi?" Tanya Jing Ling dengan mood yang begitu lusuh.

__ADS_1


"Apakah kamu lupa kalau nak Lin Chen kan masih butuh makan, seharusnya kita harus membuatnya sangat nyaman di tempat ini dan memang kita harus melayaninya sebagaimana ras Elf kepada penguasa," ucap Jing Shan menjelaskan.


"Lin Chen?!!" Ucap Jing Ling teriak mendengar nama Lin Chen.


__ADS_2