Legenda Pendekar Jenius

Legenda Pendekar Jenius
BAB 37 - Elemen Khusus


__ADS_3

Di kediaman istana, Lin Chen saat ini sedang berjalan menuju ke tempat latihan dimana Jing Shan telah menunggunya disana, namun hal yang tak terduga terjadi dimana Lin Chen tiba tiba berpapasan dengan Jing Ling yang saat ini sudah normal kembali.


"Tuan putri, anda darimana?" Tanya Lin Chen membuat Jing Ling menghirup udara banyak banyak dan menghembuskannya.


"Ada apa kamu mencariku?" Tanya Jing Ling yang sudah mengontrol dirinya.


"Syukurlah kalau dia sudah tidak seperti tadi," bathin Lin Chen menatap mata Jing Ling membuat Jing Ling tiba tiba memerah merona namun masih tetap bisa mengendalikan dirinya.


"Aku mencarimu karena ayahmu menyuruhku untuk mengajakmu ke tempat latihan," ucap Lin Chen kepada Jing Ling.


"Baiklah," ucap Jing Ling tanpa banyak basa basi langsung meng iyakan perkataan Lin Chen.


"Biasanya anak ini cerewet, kenapa bisa menjadi lebih dewasa seperti ini?" Bathin Lin Chen yang tidak mau terlalu memikirkannya dan melanjutkan berjalan menuju ke tempat latihan.


Didalam perjalanan, Jing Ling hanya diam terus sambil memandangi punggung Lin Chen dari belakang, entah apa yang membuat Jing Ling seperti itu sangat aneh menatap seseorang dari belakang dengan sangat lama.


"Padahal aku hanya meminta maaf, kenapa aku yang merasa seperti ini?" Bathin Jing Ling yang sudah mampu mengendalikan dirinya.


"Lin Chen," ucap Jing Ling membuat Lin Chen menghentikan langkahnya.


"Ada apa tuan putri?" Tanya Lin Chen penasaran.


"Anu jangan panggil aku tuan putri, panggil saja aku Jing Ling atau LingLing," ucap Jing Ling kepada Lin Chen.


"Baiklah LingLing, apa yang ingin kamu katakan kepadaku?" Tanya Lin Chen.


"Menurutmu cinta itu seperti apa?" Tanya Jing Ling kepada Lin Chen membuat ekspresi Lin Chen menjadi bingung karena pertanyaan itu aneh.


"Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu? Apakah kamu jatuh cinta kepada seseorang?" Ucap Lin Chen kepada Jing Ling.


"Tidak tidak, maaf seharusnya aku tidak menanyakan hal yang tidak perlu seperti ini," ucap Jing Ling yang merasa bersalah karena menanyakan hal yang sepertinya tidak disukai oleh Lin Chen.


"Hmm cinta yah? Saat kamu merasa nyaman berada di dekat orang itu berarti itu namanya cinta, cinta tidak bisa digambarkan seperti apa itu karena cinta sejatinya adalah sebuah kata yang tercipta karena memang asal usul cinta adalah kenyamanan, kasih sayang, aman, dan apapun yang menbuatmu bahagia adalah rasa cinta," ucap Lin Chen menjelaskan kepada Jing Ling.

__ADS_1


"Tapi ada seseorang yang mengatakan bahwa cinta itu menyakitkan, apakah itu benar Lin Chen?" Tanya Jing Ling penasaran.


"Rasa cinta memang menimbulkan kebencian, terlalu mencintai dan berlebihan itu salah karena ujung ujungnya rasa sakit dan timbullah rasa kebencian." Ucap Lin Chen menjelaskan.


"Jadi seperti itu, terima kasih banyak telah menjawab pertanyaanku," ucap Jing Ling berterima kasih kepada Lin Chen karena memberikan pencerahan apa itu cinta kepada Jing Ling.


"Tidak perlu berterima kasih, aku akan menjawab pertanyaan dengan pengetahuanku," ucap Lin Chen kemudian mereka berjalan menuju ke tempat latihan.


"Baik."


Selang beberapa menit akhirnya Lin Chen dan Jing Ling sampai di tempat latihan dimana Jing Shan sudah menunggunya.


"Ho kalian terlihat seperti akur? Apa yang terjadi kali ini? Haha," ucap Jing Shan melihat keakuran antara Lin Chen dan Jing Ling.


"Ayah, ada apa ayah memanggil Ling'er kesini?" Tanya Jing Ling kepada ayahnya.


"Aku ingin kamu membantu Lin Chen berlatih agar Lin Chen dapat menguasai sepenuhnya energi alamnya," ucap Jing Shan.


"Tidak tidak, lebih tepatnya kamu akan menjadi samsaknya dan biarkan dia menyerangmu," ucap Jing Shan membuat Jing Ling mengerutkan keningnya, namun tiba tiba kerutannya tiba tiba hilang dan menyetujui permintaan ayahnya.


"Baiklah ayah, aku akan melakukan apa yng ayah katakan," ucap Jing Ling yang sudah mampu mengontrol dirinya dan lebih dewasa daripada sebelumnya.


"Ternyata kehadiran nak Chen disini membawa perubahan bagi Ling'er, aku sangat bersyukur karena kehadiran Lin Chen mampu membuat perubahan besar dari sifat keegoisan Ling'er menjadi lebih dewasa sesuai dengan umurnya," bathin Jing Shan tersenyum melihat anaknya yang lebih dewasa dan mampu mengontrol dirinya dan emosinya.


"Baiklah nak Chen, sebelum kamu berlatih, aku ingin mengecek tubuhmu terlebih dahulu dan melihat seperti apa elemen khusus yang terdapat di dalam tubuhmu," ucap Jing Shan mengeluarkan sebuah artefak dimana itu merupakan alat pengecek sebuah elemen.


"Apa itu paman Shan?" Tanya Lin Chen penasaran.


"Ini adalah artefak kuno untuk mengecek elemen khusus apa yang ada dalam dirimu," ucap Jing Shan menjelaskan.


"Seperti yang kamu tahu bahwa kami ras Elf memiliki elemen khusus yaitu elemen angin, akan tetapi kami tetap bisa menggunakan elemen umum seperti api, udara, tanah, air dan sebagainya menggunakan qi akan tetapi kekuatannya tidak sekuat dengan elemen khusus yang kami punya," ucap Jing Shan menjelaskan.


"Tapi kan elemen angin itu merupakan elemen umum," ucap Lin Chen penasaran karena elemen angin juga merupakan elemen umum.

__ADS_1


"Kami ras Elf berbeda, kami diberkahi oleh energi alam dan kekuatan elemen angin turun temurun dimana elemen ini dari kekuatan sang dewa angin." Ucap Jing Shan menjelaskan bahwa elemen khusus yang dimilikinya merupakan elemen yang lebih kuat karena berasal dari keturunan sang dewa angin.


"Jadi seperti itu, baiklah aku ingin mencoba melihat elemen khusus apa yang kumiliki," ucap Lin Chen.


"Arahkan tanganku ke artefak ini, dan kamu tidak perlu mengalirinya dengan qi karena artefak ini sudah bisa memindai seseorang," ucap Jing Shan menjelaskan.


"Baik."


Lin Chen kemudian meletakkan tangannya di tempat artefak kuno itu dan mengecek jenis elemen apa yang ada didalam tubuhnya.


Jing Ling juga penasaran dengan Lin Chen seperti apa elemen khusus yang akan dimiliki oleh Lin Chen.


Didalam alam bawah sadar Lin Chen, Lin Chen melihat begitu gelapnya tempatnya saat ini.


Lin Chen tersadar bahwa kegelapan ini pastinya berada di alam bawah sadarnya karena Lin Chen masih bisa bergerak dan berpikir seperti pda umumnya.


Lin Chen tidak bisa melihat apa apa, namun jalanan yang dipijak oleh Lin Chen datar dan tidak ada halangan sama sekali.


"Aku ada dimana?" Ucap Lin Chen namun suaranya bergema seperti didalam goa.


"Halo?" Suaranya selalu bergema seperti didalam goa.


"Bagaimana caranya keluar dari alam bawah sadarku ini?" Bathin Lin Chen yang merasa ada yang aneh.


"Hahahaha." Lin Chen mendengar dari kejauhan ada sebuah suara tawa dari seorang kakek kakek membuat Lin Chen waspada dan mengerutkan keningnya.


"Siapa kamu?!" Ucap Lin Chen mendekat dan terus mendekat ke arah asal suara itu.


Semakin lama Lin Chen berjalan, Lin Chen menemukan sebuah titik warna putih dimana itu adalah sebuah cahaya.


Lin Chen mendekati cahaya kecil itu sedikit demi sedikit perlahan berjalan. Semakin berjalan semakin besar cahanya tersebut.


Hingga akhirnya Lin Chen pun terbebas dari kegelapan dan tampak Lin Chen sudah memasuki cahaya yang sangat terang bahkan matanya pun tidak bisa menahan cahaya itu dan menutupnya sambil berjalan.

__ADS_1


__ADS_2