Legenda Pendekar Jenius

Legenda Pendekar Jenius
BAB 36 - Apa Itu Cinta?


__ADS_3

Lin Chen yang masuk ke dalam ruangan makan itu rerkejut melihat Jing Ling memanggil namanya dengan sebuah nada yang keras.


"Apa yang terjadi? Ada apa dengan Jing Ling?" Bathin Lin Chen diam dan berjalan menuju meja makan.


"Paman, apa yang terjadi dengan Jing Ling?" Tanya Lin Chen penasaran.


"Entahlah, dia sepertinya kelelahan dan seperti ada masalah namun dia tidak mengatakan apapun selain menyebutkan namamu," ucap Jing Shan kepada Lin Chen.


"Benar, apa yang terjadi antara kamu dengan Ling'er?" Tanya Jing Huang penasaran.


"Semalam..." Lin Chen menjelaskan bahwa Jing Ling semalam hanya masuk dan meminta maaf lalu kabur, bahkan Lin Chen merasa aneh dengan tindakan Jing Ling.


"Hahaha ternyata seperti itu," ucap Jing Huang tertawa manis melihat tingkah dari Jing Ling yang sudah ditebak.


"Memang anak kita sudah dewasa, sudah sepantasnya memiliki perasaan seperti itu benar kan sayang?" Ucap Jing Shan tersenyum bersama istrinya menatap Jing Ling yang wajahnya memerah merona.


"Ibu! Ayah! Hentikan! Ak..aku masih harus fokus dalam berlatih dan meningkatkan kekuatanku!" Ucap Jing Ling yang terbata bata karena masih malu.


"Haha benarkah? Tapi aku merasa kamu," ucap Jing Shan membuat Jing Ling berdiri dan berlari keluar.


"Aku mau pergi berlatih!" Ucap Jing Ling berlari keluar karena tidak bisa menahan rasa malunya dihadapan orang tuanya.


Lin Chen yang melihat tindakan itu hany menggelengkan kepalanya sebab aneh juga rasanya jika wanita yang umurnya puluhan tahun bertingkah seperti remaja.


"Apakah kamu bingung dengan sikap anakku nak Chen?" Ucap Jing Huang kepada Lin Chen.


"Benar bibi Huang, padahal Elf umurnya panjang dan pastinya umur Jing Ling sudah puluhan?" Ucap Lin Chen penasaran.


"Nak Chen, memang benar umurnya sudah puluhan bukan, tapi ratusan tahun, akan tetapi sikap dan karakternya masih kekanak kananakan karena masih belum mengetahui dunia luar, apalagi sifat dan karakter akan terbentuk jika seseorang akan dilepaskan dari sangkarnya dan melihat luasnya dunia, dan seperti kasusnya Ling'er yang sifatnya masih seperti remaja karena baru merasakan perasaan menggebu gebu karena datangnya orang asing dan pengalaman baru didalam hidupnya saat ini," ucap Jing Huang menjelaskan.


Akhirnya Lin Chen pun mengerti dengan perkataan Jing Huang, memang benar wilayah seperti suku Elf disini terbilang hanya satu wilayah dan pastinya dalam wilayah ini terbilang aman dan tidak bahaya seperti dunia luar.


"Nak Chen, maka dari itulah kami mohon kepadamu, tolong ambillah warisan penguasa dan jadilah pewarisnya menjadi penguasa baru kami," ucap Jing Shan sangat berharap kepada Lin Chen.

__ADS_1


"Benar nak Chen, kami sangat ingin pergi melihat dunia luas lagi, melihat dunia atas lagi. Kami tidak bisa bertahan di tempat ini terus menerus seperti kami dipenjara. Bukan kami tidak mau, tapi ini memang tugas kami," ucap Jing Huang begitu penuh pengharapan kepada Lin Chen.


Lin Chen termenung sejenak dan memikirkan bahwa tidak ada salahnya menjadi pewarisnya, karena jika Lin Chen bertambah kuat pastinya Lin Chen dapat melindungi orang orang yang disayangi.


"Nanti aku akan memikirkannya paman bibi," ucap Lin Chen kemudian makan di meja makan itu. Jing Shan dan Jing Huang pun tidak melanjutkan pembahasan itu dan makan bersama Lin Chen.


Di tempat hutan yang luas, Jing Ling berlatih memanah dengan sangat serius ditemani oleh Jing Lu sahabatnya dari kecil.


Jing Ling berlatih dengan sangat keras tidak seperti biasanya, bahkan Jing Lu pun sangat terkejut dan kewalahan karena Jing Ling berlatih tidak seperti biasanya.


"Panah dewa angin!"


Jing Ling kemudian mengeluarkan sebuah jurus melancarkan sebuah anak panah dimana panah yang melesat membentuk seekor naga yang mengaum menuju ke arah Jing Lu.


"Sialan! Apa yang terjadi dengan LingLing?" Bathin Jing Lu sangat penasaran karena luapan emosi dari Jing Ling terasa dari serangannya.


Jing Lu menangkis serangan dari Jing Ling menggunakan kekuatannya namun terlempar karena perbedaan kekuatannya dengan Jing Ling lumayan besar.


"Tuan putri tenangkan diri anda!" Ucap Jing Lu berusaha menenangkan Jing Ling namun Jing Ling masih berada di kondisi yang emosional.


"Gawat! Kenapa LingLing seperti ini?!" Bathin Jing Lu menghindari anak panah itu dengan skill pedangnya.


Seketika itu juga tebasan pedang dari Jing Lu terhempas seperti serangan angin melayang seperti tornado mengacaukan hujan panah dari Jing Ling.


"Ini terlalu banyak!" Bathin Jing Lu berusaha menghindari semua serangan dari Jing Ling.


Namun saat Jing Lu berusaha menahan serangan dari Jing Ling, tiba tiba serangan itu menghilang dan berhenti seperti tidak terjadi apa apa.


"Hufft.." Jing Lu melihat Jing Ling berlutut lalu terbaring di rumput tempatnya berdiri.


Jing Lu kemudian berlari dan menghampirinya karena penasaran apa yang telah terjadi dengannya saat ini.


"Tuan putri.." ucap Jing Lu melihat Jing Ling menangis.

__ADS_1


"Aaaa hiss kenapa ibu dan ayah selalu menertawaiku," ucap Jing Ling menangis.


"Tuan putri.. apa yang terjadi dengan anda?" Tanya Jing Lu penasaran.


"Hiss apa yang salah denganku? Apakah ada yang aneh denganku? Aaa hiss," ucap Jing Lu menangis.


"Tuan putri, apa yang terjadi dengan anda?" Tanya Jing Lu yang masih belum di respon oleh Jing Ling.


"Apakah kamu pernah merasakan ada yang aneh saat menatap mata lawan jenismu?" Tanya Jing Ling kepada Jing Lu.


"Perasaan aneh? Apakah jantung berdetak begitu kendang serta kita tidak bisa tertidur memikirkan hal itu?" Jawab Jing Lu menbuat Jing Ling merasa bahwa Jing Lu tahu sesuatu.


"Benar benar! Kamu menatap matanya dan kamu merasa aneh seperti dalam jantungmu ingin meledak dan selalu tebayang bayang dengan mata itu," ucap Jing Ling menjelaskan.


"Dari yang aku tahu, itu adalah perasaan cinta pandangan pertama," ucap Jing Lu kepada Jing Ling membuat Jing Ling wajahnya memerah.


"Seperti itu rasa cintaku kepadamu LingLing.." bathin Jing Lu yang merasakan perasaan yang ditanam dan dipendam selama ini kepada Jing Ling.


"Cinta yah..." ucap Jing Ling menatap langit namun tiba tiba di langit tiba tiba muncul bayang bayang wajah dan mata dari Lin Chen dengan senyuman manisnya.


"Apakah kamu pernah merasakan cinta Jing Lu?" Tanya Jing Ling kepada Jing Lu.


"Iya itu benar dan aku sekarang mencintaimu, tapi aku tidak bisa mengungkapkannya kepadamu LingLing," bathin Jing Lu tersenyum kepada Jing Lu.


"Entahlah semua orang mengatakan cinta itu adalah hal yang luar biasa tapi dibalik itu semua ada kesakitan yang luar biasa," ucap Jing Lu membuat Jing Ling penasaran.


"Kesakitan? Maksud kamu?" Tanya Jing Ling.


"Contohnya tuan putri membantu seseorang dengan penuh rasa ikhlas akan tetapi orang itu hanya memanfaatkan tuan putri, pasti rasanya sakit. Begitulah penggambaran cinta menurutku," ucap Jing Lu menjelaskan.


"Tapi bagaimana jika memang keduanya saling cinta? Dan tidak ada namanya saling memanfaatkan kan?" Ucap Jing Ling.


"Entahlah tuan putri, anda sendiri lah yang harus menentukan siapa cinta dan bagaimana cinta anda sebenarnya," ucap Jing Lu tersenyum namun merasa agak menyakitkan dalam hatinya karena sebenarnya Jing Lu sudah sangat cinta kepada Jing Ling akan tetapi tidak berani bahkan tidak pantas untuk mengungkapkannya.

__ADS_1


"Terima kasih Jing Lu, kamu adalah sahabatku, kalau begitu aku akan kembali dulu," ucap Jing Ling bangkit dan berdiri lalu pergi meninggalkan Jing Lu sendirian.


__ADS_2