
Hamparan hutan hijau mengelilingi Gunung batu yang kasar. Berlumut dan berlumpur. Pohon-pohon tinggi menjulang di sekeliling. Berkabut seperti malam yang hujan. Tempat yang jauh dari pusat pusat kota. Tempat yang sudah lama tidak terdengar. Tempat yang sudah tidak terjamah lagi. Baik itu manusia atau pun hewan. Hanya sesekali kicauan burung mengema di sana. Itu pun burung burung yang melakukan perjalanan panjang. Burung burung yang berlintas di udara. Bahkan hewan malam tidak berani bergentayangan di sana. Sunyi senyap bagai hutan mati. Hanya semersak daun-daun yang tersapu angin. Gunung itu benar-benar ditinggalkan. Hanya batu kerikil kecil yang menghampar. Tidak pernah lari, menemani hingga hari kiamat.
Kesendirian itu bukan tanpa sebab. Sebuah peteka pernah terjadi di sana. sebuah peristiwa yang lama, yang mengguncang satu negeri. Sebuah Eksperimen gila yang di lakukan oleh seorang Dokter. Menjadikan tempat itu ditakuti oleh siapa pun. Bahkan untuk menyebut nama dari gunung itu saja sudah menjadi kutukan. Namun seseorang yang tidak percaya itu pernah mencoba. Mendekatkan diri pada gunung yang sudah terkutuk. Mendatanginya di hari yang di kira baik. Namun lagi petaka itu terjadi. Seseorang itu harus meregang nyawa. Kembali dengan nama yang tidak terkubur jasad. Hanya sebagai cerita dongeng untuk anak. Hanya sebagai tanda pengantar tidur betapa berbahayanya gunung itu. Gunung itu bernama gunung Beton.
Sebuah peristiwa yang mengguncang negeri itu terjadi pada lubang gelap. Menganga lebar layak buaya yang berjemur di siang hari. Diam membisu untuk waktu yang lama. Kesunyian yang banyak menyimpan derita. Lembab dan berlumut. Tetes air jatuh terartur membasah batu. Menggenang di kubangan kecil untuk permandian seekor semut. Kerikil kecil menghampar di mulut gua. tanah menguning dan berpasir gelap.
Gua itu sangatlah dalam. Layaknya labirin yang memusingkan kepala di perut gunung. Lentara api tua masih tertanam bagus di dinding gua. Hanya perlu diminyaki dan di salut api. Hanya perlu sedikit perhatian. Maka semuanya masihlah bisa berguna.
Gua itu sudah lama habis masa kepopulerannya. Sudah habis masa indah yang pernah tercipta. Sempat menjadi berita utama dalam sebauh Koran. Pernah menjadi topic nomor satu di kerajaan Mawar. Pernah membuat sang Raja bangga memilikinya. Namun semua itu sirna ketika Si dokter harapan Raja menjadi gila. Membuat tempat itu kacau. Dengan mengundang para pemberontak bangsa datang kesana. Menjadikan tempat itu berkumpulnya para penjahat, perampok, dan pembunuh. Hal ini menyulut bara yang padam. Dokter mangira raja hanyalah simbol yang tidak berguna. Hanya logo yang menunjukan bahwa dirinya adala raja. Namun si dokter tidak tahu, sebab itu bara di hati raja membara dan bahkan menyala dengan terang.
Kemarahan sang raja pun menjadi besar. Merasa terhina oleh kelakuan si dokter. Dan dari situ Dokter Gila tercipta. Rumor yang mengatakan Dokter sudah tidak waras. Melakukan hal terlarang. Melakukan Eksperimen kepada manusia. Namun Dokter Gila bagaikan badai yang tak bisa di hentikan. Bermula dari sebuah kelinci berakhir dengan seorang manusia. Begitulah hidup yang mengahkirnya pastilah seorang manusia.
Sang raja pun marah besar memerintahkan seorang Jendral untuk membinasakan tempat itu. Seseorang yang menjalankan tugas itu adalah Jendral Junart Jun Sang Mata Elang. Sudah puluhan kali peperangan yang Jendral lakoni, dan semuanya menang dengan telak. Itu semua berkat pengamatan yang luar biasa. Itulah mengapa ia di gelari Sang Mata Elang. Dan yang paling menguntungkan Jendral Junart adalah letak Benteng Elang Putih masih satu dataran dengan Gunung Beton. Yaitu terletak di dataran Polin. Hanya memerlukan waktu 5 hari perjalan.
Peristiwa aneh terjadi. Belum sempat pasukan Benteng Elang Putih beraksi untuk menangkap para penjahat itu. Semuanya telah sirna. Menghilang bagai embun di pagi hari. Semua perkakas yang mereka miliki masihlah tertinggal. Tidak ada tanda si Dokter Gila melarikan diri. Semua pakaian dan makanan masih ada. Bahkan ketika mereka tiba. Sebuah panci masih terbakar di atas api. Sup hangat masih mendidih setengah panci. Mangkuk mangkuk berjatuhan di tanah yang lembab. Bahkan tanda-tanda pertempuran pun tidak terjadi. Semuanya membingungkan. Hingga sang Jendral memutuskan untuk menulusuri setiap sudut gua gelap. Setiap hutan yang di kira tempat mereka bersembunyi.
2 hari berlalu. Sang Jendral tidak menemukan satu orang pun dari para penjahat itu. Dan Sang Jendral putuskan untuk kembali. Sesaat ketika mereka pulang beberapa dari prajurit juga ikut menghilang satu persatu. Bagai ditelan bumi begitu saja tanpa sebab. Jendral putuskan untuk bertahan di sana untuk beberapa hari untuk mencari tahu. Namun yang terjadi hanya ganguan malam yang tidak pernah berhenti. Semakin lama mereka berada disana, samakin banyak prajurit yang menghilang. Yang pada akhirnya Jendral meyadari sesuatu.
__ADS_1
“Ini tidak masuk akal. harusnya semacam itu tidak ada di dunia ini” kata sang Jendral.
Jendral pun memerintah untuk kembali ke Benteng. Kepulang mereka yang mulanya disambut baik malah berujung dengan kebingung yang penuh tanya bagi masyaratkat Benteng Elang Putih. Zirah bersih tak tergores. Namun sebagian pasukan tidak ada dalam rombongan itu. Bahkan mayat yang biasanya mereka bawa kembali katika mati tidak terlihat. Dan dari sana rumor mulai tersebar. Dongeng mulai mengdengung seluruh negeri.
Setiap pasukan yang bertugas kala itu menjadi pribadi yang berbeda. Dan Sang Jendral hanya berkata Itu adalah Gunung terkutuk.
Ketika rumor itu menyebar. Desa desa kecil yang ada di sekitar mulai membuat pertahanan diri. Membuat sebuah pagar kayu yang cukup menghambat para penjahat berkuda. Cukup menghambat para bandit untuk
bergerak leluasa. Bahkan desa yang cukup kaya mampu membangun tembok batanya sendiri. Dan juga ada yang menyewa para tentara untuk melindungi desa mereka dari ancaman bandit atau mahluk yang bisa membahayakan para penduduk desa.
“Hmm lakukanlah, urusan itu menjadi milikmu sakarang” ucap Jendral yang duduk diam dengan tatapan sendu.
Bersamaan dengan itu para bandit juga mulai merajalela. Entah apa sebabnya, Jendral Junart mulai hilang taringnya. Mulai hilang kepekaan terhadap bandit yang semakin mampu menguasai daratan polin. Para
bandit mulai menjarah desa-desa kecil. Mulai merampas kemerdekan yang dimiliki oleh para desa yang tak berdaya. Semua orang mulai mengira Jendral sudah termakan usia yang sudah sepantasnya untuk mengundurkan diri sebagai Jendral besar. Namun disamping itu seorang Komandan masih bisa menutupi kelalai dari sang Jendral. Berhasil menuntaskan bandit-bandit satu persatu.
“Jendral ijin saya mengambil alih pasukan untuk menumpaskan semua penjahat yang ada di tanah kita” Komandan besar.
__ADS_1
“Lakukan sesukamu” kata Jendral.
“Ayah, mau sampai kau seperti ini”
Jendral hanya diam.
Hingga 10 tahun kemudian Jendral Junart digantikan oleh Putranya sendiri. Pria yang berjasa atas kemerdekaan desa desa kecil. Pria itu bernama Hawert Jun. Seseorang yang hidup dengan visi misi. Bahkan setiba ia menjadi seorang Jendral. Hawert sudah mampu menuntaskan begitu banyak para bandit. Dan pamungkasnya adalah perang Gunung Torton pada 6 tahun kemudian. Hingga membuat seluruh daratan Polin kembali normal. Di kuasai lagi oleh pihak Benteng.
Namun 4 tahun kemudian desas-desus para bandit mulai merajalela lagi. Menyusun kekuatan yang tak kasat mata. Misi balas dendam yang telah lama tersimpan di dada-dada para penjahat. Mulai menyatukan Puzzle
kekuatan yang sudah lama runtuh. Menghidupkan rasa dendam yang memang sudah alami seperti itu. Sebuah rantai yang tidak pernah putus. Sebuah rasa yang harus berbalas.
5 hari lalu para bandit mulai mendatangi gunung terkutuk. Mengunakan rumor yang tersimpan selama 20 tahun. Guna bersembunyi dari mata elang yang selalu mamantau dari balik angkasa. Mengumpulkan kekuatan yang sudah lama tertunda. Lagi penjahat ini kembali pada Gunung yang diselimuti kegelapan.
Di mulut gua yang lembab dan berlumut. Orang-orang berkerja dengan sibuk-sibuknya. Bolak-balik memindahkan peti kayu dari gerobak masuk kedalam gua. Orang-orang ini menggunakan rantai di pergelangan kaki dan tangan mereka. Berjalan di atas kerikil berpasir tanpa mengunakan alas kaki. Bahkan baju mereka sudah basah kerena peluh. Tidak hanya para pekrja ini yang ada disana. Seseorang dengan wajah memerah padam membedakan diri dengan pekerja-pekerja ini.
“HOI, CEPAT” seseorang berteriak. Mata menyala layaknya perkataan yang harus di patuhi. Memandang para pekerja dengan mata penuh kehinaan.“Dasar budak” ucapnya ketus.
__ADS_1